
"Gue Bumi, lo suka sama gue? Terserah! Gue gak peduli, itu urusan lo. Gue cuma mau bilang. Berhenti! Atau lo ... bakal sakit hati."
★★★
Bel berbunyi, tanda jam pelajaran akan di mulai beberapa menit lagi. Bumi selaku ketua kelas 12 IPA 1 langsung mengontrol anggota kelasnya agar masuk ke kelas. Hingga beberapa menit kemudian, Bu Eva datang bersama dengan murid laki-laki yang lebih tinggi darinya. Seluruh isi kelas langsung riuh melihat kedatangan lelaki yang bisa dikatakan sangat tampan itu. Bahkan, tidak kalah dengan visual Bumi yang diperebutkan oleh kaum hawa.
Bu Eva tersenyum lebar dengan menyapa muridnya pagi ini. "Selamat pagi anak-anak. Baiklah, kita kedatangan murid baru, silahkan perkenalkan diri kamu."
Lelaki tersebut memulai aksinya, ia tersenyum hingga membuat para hawa teriak histeris. Begitu candu dan sangat manis.
"Gue, Rayyanka Dewa Algara, lo bisa panggil gue, Dewa. Senang bertemu kalian."
Bumi menatap lekat lelaki yang baru saja memperkenalkan diri pada mereka. Tentu saja, ia tidak asing dengan nama itu. Nama yang Bintang sebut saat mereka makan malam kemarin. Apa jangan-jangan? Ah, Bumi harus memastikan sendiri. Ia tidak suka menebak sesuatu yang belum pasti.
"Sumpah demi Dewa Yunani, ini baru asli titisan Dewa!"
Seluruh murid terkhusus kaum wanita begitu ribut membicarakan tentang Dewa. Lelaki yang wajahnya benar-benar seperti artis Korea atau bahkan titisan dewa. Benar-benar spektakuler, jika digabungkan seluruh cogan di sekolah Antariksa. Pasti menjadi rangking pertama perkumpulan para lelaki tampan.
"Halo, tampan, nice to meet you!"
"Gila, idaman banget!"
"Dewa, nama sosmed lo apa?"
Begitu riuh seisi kelas tersebut, seperti kedatangan artis Korea yang nyasar ke sekolah mereka. Benar-benar luar biasa. Kelas itu dipenuhi cogan-cogan yang tidak hanya pintar tapi skill yang luar biasa. Karena terlalu ribut, Bu Eva langsung memukul papan tulis dengan spidol, tentu saja kelas mendadak diam dan kembali fokus seperti semula.
__ADS_1
Kelas ini, memang berbeda dari kelas-kelas lainnya. Bahkan, rata-rata isinya sang juara olimpiade semua. Tidak seperti kelas IPS yang hampir melebihi pasar. Apalagi jika jam kosong. Mungkin mereka akan mengadakan konser besar-besaran, hingga mengalami kerusakan yang amat banyak. Bangku kaki tiga, meja belah dua, sapu tinggal tiang, papan tulis kena tembak dan lain sebagainya. Hal itu, cukup membuat sang guru angkat tangan dengan perilaku mereka yang bukan seperti pelajar, melainkan preman jalanan.
Selama pelajaran berlangsung, Dewa cukup pintar untuk menjawab pertanyaan fisika yang diberikan oleh Bu Eva. Padahal, ia baru hari pertama masuk sekolah, tapi IQ nya sudah membuktikan bahwa Dewa memanglah siswa yang pandai. Sudah pandai, tampan lagi. Jika dilihat dari latar belakang orangtuanya, ia adalah anak dari pengusaha sukses D-Group, tidak heran jika Dewa adalah penerus dari perusahaan D-Group tersebut. Menakjubkan, bukan?
Rayyanka Dewa Algara, seorang anak laki-laki semata wayang dari keluarga Algara. Ia dididik oleh ayahnya untuk tumbuh sebagai lelaki yang tangguh, kuat dan tidak mudah jatuh. Segala cara dilakukan ayahnya, agar Dewa menjadi nomor satu. Ketika masih di bangku SMP, Dewa pun harus pergi ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya.
Tidak sia-sia Algara merawat anak itu, kini ia tumbuh dengan baik dan nyaris sempurna. Sepertinya, Dewa akan menjadi nomor satu dikalangan masyarakat. Bagaimanapun, tidak ada yang boleh menandingi seorang Dewa. Seperti namanya yang berarti agung dan besar.
Bumi menatap lelaki itu cukup lama hingga Dewa menyadarinya, ia pun tersenyum lebar dan ramah. Bumi menautkan kedua alisnya, heran. Detik berikutnya ia mengalihkan pandangan. Inikah cara ia menebar pesona? Atau hanya sekedar mencari muka agar semua orang tergila-gila dengannya. Tanpa basa-basi, Bumi langsung melenggang pergi melewati Dewa yang tengah menatapnya.
"Dewa, dia itu Bumi, laki-laki paling dingin di sekolah ini. Gue aja gak suka sama sikapnya, angkuh dan arogan. Mentang-mentang ayahnya donatur utama di sekolah ini, dia seakan menjadi raja," celetuk Rasi yang memang sedari awal tidak suka dengan lelaki itu. Ia akan berusaha mendekati Dewa untuk menyingkirkan Bumi. Ia yakin Dewa akan lebih populer darinya.
Dewa menyunggingkan senyum dan menatap Rasi malas. "Gimana, kalau gue yang duluan nyingkirni benalu kayak lo?"
"Ck! Bedebah!"
***
"Bumi, lo udah kenalan sama Dewa, anak baru itu. Kayaknya, dia sejenis dengan lo, deh. Angkuh!" Bumi tidak perduli dan hanya menikmati choco latte miliknya saja.
"Jangan samakan gue," cibirnya. Ia tidak suka, apalagi dengan lelaki itu. Ia punya firasat yang tidak enak melihat kedatangan Dewa yang jauh-jauh pindah dari Amerika. Kenapa tidak selesaikan saja semua pendidikannya diluar negeri. Kenapa harus kembali, disaat pendidikannya tinggal setahun lagi, pikiran Bumi begitu banyak pertanyaan untuk lelaki yang bernama Dewa itu.
Raja menghela napas. Ia tidak perduli dengan Dewa, asalkan Bumi tetap berada bersama mereka. Semua masalah akan selesai. "Pangeran es kami tetep di hati, kok." Raja langsung memeluk pergelangan tangan sahabatnya itu. Spontan Bumi langsung menjitak keningnya.
"Najis! Lepas!"
__ADS_1
Raja langsung cemberut sambil mengusap keningnya yang sakit. "Pangeran Bumi jahatt!" Bumi tetap tidak perduli dengan lelaki itu yang kini tengah merengek di depannya. Kayak bocah aja, pikirnya.
"Mi, lo liat di sana. Itu, bukannya Bintang sama ... anak baru itu, 'kan?" Melody langsung menunjuk ke arah perpustakaan. Di sana ada Bintang yang tengah asik mengobrol dengan Dewa, anak baru.
Bumi melirik sekilas. "Gak peduli!"
Melody terkekeh. "Lo yakin? Nanti nyesel, loh. Keliatannya, mereka deket banget," cetus Melody mencoba menggoda pria es ini. Bagaimana reaksinya melihat gadis yang lumayan dekat akhir-akhir ini sedang bersama laki-laki lain. Masih sanggupkah Bumi menutupi perasaannya?
"Gak usah ngurusin hidup orang!"
Bumi mengingatkan agar Melody tidak membahas tentang Bintang lagi. Akhirnya, gadis itu pun nurut dan melanjutkan aksi makan baksonya.
"Huft! Padahal aku ingin dia menghampiri Bintang," bisik Melody tepat di telinga Raja dan mendapat anggukan dari lelaki tersebut.
Bumi melirik tajam ke arah dua temannya. "Gue denger!" Raja dan Melody langsung terdiam sambil mencubit satu sama lain saling menyalahkan. "Udah! Gue pergi, nih duit, lo bayar."
"Tuh, kan! Salah lo, Bumi jadi pergi!"
"Kok, gue, jelas-jelas lo yang mulai," sergah Raja tidak mau disalahkan.
Akhirnya merekapun adu mulut, sedangkan Bumi pergi ke tempat biasa ia nongkrong. Atap. Daripada sibuk mengurusi hidup orang, mending ia menikmati pemandangan dari atas saja. Itu lebih baik, dari pada pergi ke taman bunga.
#Bersambung ...
Kira-kira siapa Dewa, ya? Apa yang akan dia lakukan di sekolah Bintang. Ayo, ikuti terus cerita menarik selanjutnya. Kamu bakal ketinggalan nanti.
__ADS_1