
Di sisi lain, sebelum Bintang bertemu dengan Dewa. Ia sengaja pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam dua hari yang lalu. Namun, karena asik bermain ponsel, ia tidak memperhatikan jalan dan tanpa sengaja menabrak seorang lelaki di depannya. Tentu saja, semua buku yang Bintang bawa langsung jatuh berserakan.
"Aduh, buku-buku gue."
"Eh, sorry. I don't see you."
Bintang langsung membereskan buku-bukunya yang terjatuh tanpa melihat ke depan. Lelaki tersebut dengan sigap membantunya. "Nih, buku lo."
Bintang menatap gelang yang ada di pergelangan tangan lelaki itu. Mirip sekali dengan gelang yang ia punya. Itu, kan, hanya Dewa yang punya, pikirnya. Saat Bintang mengangkat kepalanya, sungguh terkejut bukan main bahwa lelaki di depannya ini benar-benar Rayyanka Dewa Algara, sahabat kecilnya yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.
Dewa tersenyum hingga matanya menyipit. "Ketemu lagi, Bintang."
Deg!
Bintang terdiam sejenak, apa ini? Kenapa jantungnya berdesir hebat. Dewa benar-benar berubah, penampilannya rapi, terlihat dari tatanan rambut dan baju sekolahnya. Tapi, kenapa firasatnya aneh melihat sahabat kecilnya ini. Ia takut?
"Bintang, lo, sakit? Kok, pucat. Gue bawa ke UKS, ya."
Bintang langsung menolak dan menormalkan ekspresinya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, ia harap Dewa tidak terlibat dalam apapun. Tidak mungkin, seorang Dewa berubah menjadi Iblis. Ia tahu betul bagaimana sosok Dewa yang ia kenal sejak kecil. Tempat dan lingkungan tidak seharusnya mengubah sikapnya, 'kan? Mungkin, wajar jika penampilan dan nada bicaranya berbeda. Bintang akui, Dewa benar-benar seratus persen berubah. Drastis.
"Gue mau ke perpus."
"Gue ikut, ya." Dewa menawarkan diri. Yah, Bintang tidak masalah jika lelaki ini ikut dengannya. Yang jadi masalah itu, cewek-cewek yang kagum dengannya pasti akan membuat isu yang tidak jelas. Bintang malas berurusan dengan cabe-cabean. Padahal, baru beberapa menit yang lalu ia berdua dengan Dewa, hampir seluruh siswi yang lewat berbisik membicarakannya. Ah, menyusahkan saja!
"Terserah!" Dewa tersenyum puas.
__ADS_1
Sesampainya di perpustakaan, laki-laki itu menatap sekeliling rak-rak buku yang menjulang tinggi. Tempatnya, nyaman, dingin dan damai. "Ternyata, fasilitas sekolah ini lumayan juga." Bintang tidak menggubris lelaki itu dan hanya fokus pada tujuan utama.
"Eh, ada Mas ganteng," goda penjaga perpustakaan sambil mengedipkan matanya. Dewa hanya tersenyum ramah.
"Ya Allah, kok ciptaan-Mu sempurna banget. Udah ganteng, manis, baik pula. Aaa, idamanku iki," ungkapnya semakin jadi. Dia adalah Bu Anya, janda muda yang ditinggal mati oleh suaminya.
"Mas ganteng, mau baca buku? Silahkan, sampai besok juga gapapa, biar Ibu temenin." Bu Anya semakin genit dan membuat Dewa ilfil dan sedikit bergidik. Wanita jenis apa ini, pikirnya.
Dewa membalas dengan senyum paksa. Ia pun mendapat ide agar guru genit itu berhenti menggodanya. "Buk, saya udah punya pacar. Jadi, pacar saya yang bakal temenin saya baca buku." Bintang terkejut ketika tangan Dewa merangkul pundaknya secara tiba-tiba. Bintang langsung melepas tangan laki-laki itu dan menatapnya tajam.
"Waduh, Ibu terlambat, ya. Padahal, Ibu janda kaya, loh." Bu Anya tampak kecewa.
Dewa malah tertawa kecil, kemudian membisikkan sesuatu di telinga Bintang. "Bi, gue mau baca buku. Lo temenin, ya, sebentar aja."
"Gak!"
Dewa terdiam dan menatap kedua mata Bintang cukup lama. Tatapan yang tajam, seakan menghipnotis sasaran. "Kita masih berteman, bukan?"
Tentu saja Bintang terkejut mendengar nada bicara Dewa yang berubah. Teringat kembali ketika mereka masih berumur 10 tahun yang lalu. Di mana, Bintang menolak untuk meminjamkan boneka beruangnya. Saat itulah Dewa langsung merebut paksa dan menarik kepala boneka tersebut hingga putus. Ia pun tersenyum lalu berkata, "kamu masih temanku, bukan?"
Bintang menelan saliva dengan susah payah dan pada akhirnya menganggukkan kepalanya. Inilah sifat terburuk lelaki itu yang belum ia tinggalkan. Dewa akhirnya kembali tersenyum lebar dan menarik tangan Bintang menuju tempat duduk yang ada di ujung. Ia memilih salah satu buku dan membacanya dengan seksama. Tentu saja, Bintang bosan harus menunggu pria di depannya ini selesai membaca.
Hingga tanpa sadar, Bintang terlelap dan tertidur pulas di depan Dewa. Ketika ia terbangun, matanya langsung terbuka lebar saat wajah Dewa berada tepat di depan matanya. Ia terkejut dan langsung mengelus dadanya sambil menormalkan napas. Hampir saja jantungan, pikirnya.
"Lo, udah bangun?" Bintang tersadar, berarti sedari tadi Dewa menunggunya sampai bangun. What the? Berapa lama?
__ADS_1
"Eh, sorry, Wa. Gue tertidur, ini jam berapa, gue masih ada kelas." Bintang segera bergegas pergi. Akan tetapi, Dewa hanya tersenyum dan terkekeh.
"Bentar lagi orang pulang," tukasnya santai tanpa merasa berdosa sedikitpun. Bagaimana bisa? Berarti mereka bolos, dong.
"Ini jam berapa?" Dewa tertawa kecil dan menatap pergelangan tangan Bintang. Tentu saja, gadis itu membawa jam tangan, tapi malah menanyakan kepada orang lain.
Bintang berdecak sambil menepuk kepalanya. Ia terkejut ketika jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Berarti, ia tidur hampir 3 jam dan selama itu Dewa menunggunya sambil mengamati wajah pulas saat ia tertidur. Sumpah! Ini memalukan, astogeh, kalau Dewa liat gue ngences atau parahnya ngorok, gimana? Hancur dah, reputasi gua, pikiran Bintang berkecamuk.
"Kok bisa? Penjaga perpustakaannya mana? Dia gak tegur kita?" Bintang rasa ada yang tidak beres, tidak mungkin penjaga perpus membiarkan muridnya tidur di dalam ruangan ini.
Dewa hanya tersenyum kecil. "Udah gue beresin. Kan, gue tampan dan kaya. Mudah bagi seorang Dewa."
Bintang menyipitkan mata. "Hadoy, ada yang gak beres, nih anak. Jangan bilang, penjaga perpusnya disantet lagi. Ah, bodo amatlah, penting gue selamat," ucap Bintang dalam hati.
"Gue mau pulang kalau gitu."
Dewa dengan senang hati menuruti kemauan sahabatnya. "Gue anter lo pulang," pungkasnya dan langsung mendapat tatapan tajam dari Bintang. Dikira ia anak TK, tiap pulang sekolah diantar jemput. Ogah, mending jalan kaki, pikir Bintang. "Sekalian mau ketemu ayah lo," sambung Dewa sambil merangkul pundak gadis itu.
Bintang terdiam dan langsung menjauhkan tubuh Dewa darinya. "Bokap gue udah gak ada. Gue bawa motor, jadi gue bisa pulang sendiri." Nada bicara Bintang langsung dingin dan tidak bersahabat. Sepertinya, Dewa pergi terlalu lama. Sampai ia tidak tahu bahwa sahabat kecilnya telah kehilangan sosok ayah yang sangat ia cintai.
Bintang menuju parkiran motor dan mengirim pesan ke senja agar membawakan tas sekolahnya ke basecamp. Ia akan menuju ke sana sekarang juga. Sudah lama, ia tidak mengunjungi tempat itu. Pasti sangat seru kembali berkumpul bersama anggota lainnya. Akan tetapi, belum sempat Bintang melajukan motornya, seseorang memanggil namanya cukup kuat.
#Bersambung
Hih! Dewa benar-benar menyeramkan. Apa sih, watak aslinya. Bagaimana, ya kehidupan sebelumnya. Penasaran, 'kan?
__ADS_1