Bumi Dan Bintang

Bumi Dan Bintang
Bab 2


__ADS_3

"Halo, Bumi?"


"Mati gue," ucap Bintang dalam hati. Ia langsung memberikan ponsel itu ke pemiliknya.


"Halo? Bumi, kamu udah bilang sama Bintang, 'kan?"


Bumi menatap Bintang sekilas lalu menyunggingkan bibir. Halo, Pah. Iya, aku udah bilang, kok. Tapi, kata Bintang, dia gak--"


Bintang langsung merampas kembali ponsel itu sebelum Bumi mengatakan yang tidak-tidak kepada Om Bagaskara tentang dirinya. "Halo, Om, ini Bintang."


"Bintang, sekarang kamu sama Bumi? Alhamdulillah kalo gitu, Papah tunggu di rumah, ya. Jangan lama-lama, bilang sama Bumi hati-hati bawa kamu, awas aja kalau ada lecet di badan kamu. Papah, bakal nyuruh Bumi tidur di luar."


Bintang terdiam ketika Bagaskara menyebut dirinya Papah untuk Bintang, seakan ia teringat kembali ketika ayahnya yang suka ngomel-ngomel ketika ditelepon. Bintang rindu suara itu. Andaikan waktu dapat terputar, mungkin ia tidak akan mengecewakan sang ayah.


"Halo? Bintang, kamu masih disitu?"


Bumi yang menyadari perubahan sikap Bintang langsung mengambil kembali ponselnya. "Pah, udah, ya. Bumi mau berangkat dulu. Cuacanya tiba-tiba mendung, aku takut kehujanan di jalan."


"Oh, oke. Hati-hati di jalan."


~Telepon terputus~


Bintang masih merenung dalam diamnya. Air yang selama ini tak pernah tumpah, sekuat tenaga ia bendung agar siapapun tidak tahu akan perasaan sedih yang ia tanggung. Akhirnya, pecah perlahan demi perlahan. Bumi tahu, Bintang memang jarang sekali menangis, bahkan ia tidak pernah menampakkan raut sedihnya kepada siapapun. Termasuk dirinya.


"Cengeng!" Bumi bergumam dan langsung menghidupkan motornya. "Ayo naik! Motor lo nanti biar gue yang urus."


Bintang masih enggan untuk mengangkat wajahnya. Biarlah, sekali ini Bumi yang melihatnya. Mungkin memang benar, tidak selamanya batu akan tetap kokoh, ada masanya ia akan rapuh dan hancur. Bintang pun akhirnya dibonceng oleh Bumi menuju rumah tanpa ada penolakan lagi.


Ditengah perjalanan, mereka berhenti di sebuah taman kota yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah. Bintang terkejut dan langsung menundukkan kepalanya. Ia yakin matanya pasti sudah membengkak. Bintang tidak mau, Bumi melihatnya dalam keadaan selemah itu. Harga dirinya bisa hancur sebagai Bintang yang tidak terkalahkan.


"Turun!" titah Bumi sebab Bintang masih berada di atas motor. Sebenarnya, ia sudah tahu apa yang terjadi dengan Bintang sepanjang perjalanan. Isakan tangisnya masih terdengar sayup-sayup, meskipun Bintang sekuat tenaga menyembunyikannya. Jarak mereka sangatlah dekat, bisa dihitung beberapa centi saja. Bahkan, kepala Bintang terkadang terantuk di punggungnya. Bagaimana bisa, ia tidak dengar suara tangisan itu.


"Kok berhenti?" tanya Bintang, masih bingung. Padahal, sebentar lagi mereka sampai di rumah. Kenapa tidak dilanjutkan saja sampai rumah.


"Lo nangis." Bintang membulatkan matanya. Jadi, Bumi tahu kalau ia dari tadi menangis, ia kira Bumi tidak akan mendengar tangisnya, padahal ia bersusah payah agar tidak terdengar di telinga lelaki tersebut.


"Gue gak mau, Papah liat mata lo bengkak, nanti gue yang disalahin," lanjut Bumi dan kemudian berjalan menuju bangku yang tersedia di sana.


Bintang paham, tidak mungkin Bumi akan peduli dengannya. "Gue mau pulang!"


Bumi berdecak, kesal. Susah sekali mengatur wanita sekeras Bintang, selalu saja membantah. "Hey, sudahlah, luapkan saja semua masalahmu di sini. Lagian, gak ada orang. Cuma gue, 'kan? Anggap aja gue gak ada. Itu lebih baik untuk lo."


Bintang terdiam sejenak. Benar kata Bumi, ia bisa teriak sekencang mungkin atau bahkan menangis sepuasnya. Tapi, tumben taman itu tidak banyak orang. Yah, dilihat dari cuacanya, siapa juga yang mau ke taman saat mendung begini, lagian hujan pasti bakal turun dalam hitungan detik, pikir bintang.

__ADS_1


Akhirnya, ia memilih turun dari motor dan berdiri menghadap danau yang membelakangi Bumi.


"Ayaahhhh! Bintang kangen sama, Ayaahhh!" teriak Bintang sekuat mungkin bergilir dengan air mata yang mengalir semakin deras. Ia terduduk lemas sambil menunduk. Apa gunanya ia meratapi semua kejadian yang tidak akan terulang kembali. Mau teriak sekuat apapun, rasa bersalahnya tetap tertanam dalam di lubuk hati.


Bumi menengadahkan kepalanya ke langit. "Ada masanya, ketika kita harus merelakan orang yang kita cintai. Bahkan, tanpa kita sadari mereka sudah tidak ada di dunia ini. Memang, takdir Tuhan itu kejam, tapi kita gak bakal tahu, rencana apa yang akan terjadi selanjutnya." Bumi tersenyum getir. Kejadian itu kembali terlintas di pikirannya. Mengharuskan ia terjebak dalam rasa bersalah yang amat dalam. Terperangkap dalam kenangan yang belum bisa ia lupakan.


Bumi menghembuskan napas panjang sambil memejamkan mata. Detik berikutnya, hujan turun perlahan menitikkan air di wajahnya. Ia pun tersenyum dan mulai beranjak untuk menghampiri gadis itu. "Bintang," panggilnya.


"Gue pengen di sini."


"Hujan! Nanti lo sakit."


"Persetan dengan sakit! Gue gak peduli!" Bintang masih tenggelam dalam kesedihannya. Ia masih belum mengikhlaskan kepergian sang ayah. Di tambah lagi, ibunya yang tidak tahu ke mana, bahkan ia hanya melihat wajah sang ibu di sebuah bingkai foto saja. Itu menyedihkan, ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.


"Bintang! Lo nurut sama gue!" tegas Bumi. "Ingat, Papah gue."


"Lo gak ngerti apa yang gue rasain, Mi!"


"Gue ngerti!" bentak Bumi yang sudah habis kesabaran. Ia paham situasinya, makanya ia bawa Bintang ke taman untuk nenangin diri. "Bukan cuma lo! Gue juga pernah ngerasain ditinggal Ibu, Kakak dan orang yang gue cintai dulu. Lo kira, cuma lo doang, hah?!" Bumi berdecih. Ia sadar tidak seharusnya ia membentak gadis itu.


"Arkhh!" Bumi mengacak rambutnya, kesal.


Tanpa sadar Bintang langsung memeluk Bumi erat, sangat erat. Bahkan, detak jantung keduanya saling terdengar. Bumi terkejut bukan main.


"Gue juga."


Mereka saling tersenyum dan mengerti satu sama lain. Dibawah derasnya hujan bersamaan membawa kesedihan mereka. Tidak ada waktu untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Semua itu hanya membuatmu tidak akan pernah berubah. Bangkitlah, dan ubah dirimu seperti yang kau mau.


***


Malam yang sangat indah ditemani bulan purnama yang memancarkan sinarnya, walaupun hanya dari pantulan mentari, tapi ia membuktikan malam itu. Bulan lebih terang dari Bintang. Terlihat paling indah dan selalu dirindukan oleh para makhluk.


Suasana arena balapan sangatlah ramai. Senja yang sudah siap menggantikan posisi Bintang saat itu langsung menuju ke lokasi. Kali ini, lawannya adalah Green Cardeonald, sang raja balapan yang menantang langsung seorang Bintang Aurora.


Tentu saja, saat mengetahui bahwa lawan Green bukanlah gadis yang ia harapkan. Lelaki itu sangat marah dan menghentikan pertandingannya secara sepihak.


Green memberontak dan membanting helm full facenya. "Di mana ratu balapan lo itu, hah?!"


Lelaki tersebut turun dari motor. "Pengecut! Bilang aja dia gak berani ngelawan gue!" serunya percaya diri.


"Iya, Bos. Gue yakin, dia takut reputasinya bakal hancur, karena kalah ngelawan lo, Bos," ucap salah satu anggota Greenland.


Karena tidak terima akan ucapan mereka yang meremehkan seorang Bintang. Mars terpancing emosi dan langsung melayangkan tendangan tepat mengenai perut Green hingga ia tersungkur. "Berani lo ngatai Bintang, gue habisi lo!"

__ADS_1


Green terkekeh dan menyunggingkan bibir, ia tidak sabar lagi menunggu. Ketika hendak menyerang balik, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan langsung menahan tendangan Green.


"Emosi gak bakal nyelesaikan masalah. Lo tunggu besok malam, Bintang pasti ngalahin lo!"


Surya setuju akan penuturan lelaki tersebut. "Green, gue kan udah bilang. Bintang lagi gak bisa ikut balapan." Jeda beberapa detik. "Lagian, Senja gak kalah brutal di jalanan. Lo gak bisa ngeremehin dia," lanjutnya dengan cengiran tanpa dosa.


"Hah?" Green terkekeh dan langsung menarik kerah baju Mars, kasar. "Asal lo tau, gue bukan tandingan lo semua. Termasuk, Bintang!"


***


"Uhuk!" Bintang tersedak ketika sedang makan steak bersama Bumi dan Bagaskara. Secepat mungkin Bagaskara mengambil minum untuk Bintang. Gadis itu langsung menghabiskan satu gelas big cola dan melepaskan sendawa.


"Akh, leganya."


Bagaskara yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala, sedangkan Bumi menahan tawanya. "Hati-hati dong, makannya. Sampai tersedak gitu," lirih Bagaskara lalu mengambil tisu untuk Bintang.


Gadis itu hanya garuk-garuk kepala. Malu. Hingga sebuah notifikasi masuk ke ponsel Bintang. Segera ia mengeceknya, ternyata dari Surya.


[Bi, Green batalin balapannya. Katanya, dia cuma mau lo yang tanding sama dia.]


"Apa?!" Tanpa sadar, Bintang berteriak cukup kuat hingga menimbulkan perhatian dari pengunjung restoran tersebut. Ia pun langsung menutup mulutnya dan menatap sekeliling begitupun kedua pria di hadapannya.


"Eh! Maaf-maaf." Bintang menepuk mulutnya beberapa kali. "Nih mulut! Bisa gak? Gak usah heboh, heran dah, punya mulut gak bisa dijaga!" gumamnya pelan.


"Ada apa, Bi?" tanya Bagaskara, cemas.


Bintang kebingungan harus menjawab apa. Tidak mungkin ia harus jujur kalau dirinya meninggalkan arena balapan karena harus dinner bersama Bagaskara. Bisa-bisa, ia tidak akan pernah lagi ikut balapan. "Eh, e-enggak, Om. Terkejut aja, liat Dewa temen aku, pulang ke Indonesia."


"Siapa Dewa?" tanya Bumi spontan.


"Apa sih, gak penting." Bintang gelagapan.


"Gak, gak, jawab dulu. Siapa Dewa?" Bumi menghentikan makannya dan malah menatap Bintang cukup intens. Lelaki mana lagi coba, yang mendekati seorang singa betina seperti Bintang ini.


"Hih, apa sih nih anak. Suka cari ribut aja. Pake banyak tanya lagi," omel Bintang dalam hati.


"Kan, udah dibilang sama Bintang. Dewa itu temennya. Udah sih, gak usah diperpanjang," ujar Bagaskara meredakan perdebatan mereka.


Akhirnya Bintang mengelus dada, sepertinya ia harus cari cara agar dapat balapan melawan Green yang sombong itu. Ia pasti bakal menyesal akan ucapannya karena sudah meremehkan seorang Bintang Aurora.


"Hmm, liat saja nanti!"


#Bersambung ....

__ADS_1


Widih, semakin ke sini semakin penasaran aja sama ceritanya. Bagaimana? Boleh, komen, dong. Ayo kritsannya ditunggu juga.


__ADS_2