
Bintang akhirnya sampai di depan ruangan Bumi. Ia pun mendorong pintu dan melihat lelaki tersebut tertidur dengan memegang handphone. Sepertinya, ia sudah menghubungi papanya, pikir Bintang. Saat Bintang Henda pergi dari sana, Bumi langsung memanggil.
"Bintang."
Bintang terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya. Ia kira lelaki itu sedang tertidur, ternyata pura-pura tidur. Cari masalah saja! Bintang kemudian mendekati pria itu.
"Papah bilang, mau ke sini nanti siang, lo temenin gue sampai Papah datang." Bintang melotot mendengar penuturan dari mulut Bumi. Ia langsung melipat kedua tangannya.
"Gak! Males gua."
Lelaki itu menghembuskan napas panjang. Memang harus ekstra sabar menghadapi seorang wanita keras kepala yang tidak menurut ini. Bagaimanapun, ia harus membuat gadis ini membayar atas kejadian yang menimpa dirinya. Gara-gara Bintang, ia jadi tertembak dan hampir mati. Coba saja, ia tidak mendatangi Bintang malam itu. Mungkin, kejadian ini tidak akan terjadi.
"Lo harus bertanggungjawab atas kejadian yang menimpa gue. Ini semua salah lo."
Bintang terdiam saat Bumi mengatakan ini semua adalah kesalahan. Akan tetapi, itu juga salah lelaki itu. Suruh siapa dia ada di sana. Bintang tidak pernah memintanya untuk dijemput.
"Kok, gue? Jelas-jelas lo yang ceroboh. Suruh siapa lo di sana. Gue gak pernah minta. Salah lo sendiri lah."
Bumi melotot tajam menatap gadis itu yang tidak sadar diri. Bintang malah menyalahkan dirinya, padahal jelas Bintang yang salah tidak pulang ke rumah dan mengharuskan dia pergi mencarinya. Kalau saja, papanya tidak menanyakan gadis itu. Mana mungkin ia pergi ke tempat balapan liar yang tidak ada untung baginya. Buang-buang waktu saja.
"Oh, jadi lo nyalahin gue? Oke, gue bakal bilang sama, Papa. Kalau gue, tertembak karena nyari lo malam itu, sebab lo gak pulang karena ikut balapan liar." Bumi mengancam dan langsung mengambil ponselnya ingin menghubungi sang Papa. Ia geregetan dengan sikap Bintang yang tidak mau disalahkan. Sekalian saja ia bongkar semuanya, biar jelas.
__ADS_1
Bintang dengan cekat merampas ponsel dari tangan pria itu dan menyembunyikan di belakang punggung. Bumi tidak tinggal diam dan berusaha merebut kembali, namun sayang perutnya kembali terasa sakit hingga membuatnya meringis. Bintang yang melihat lelaki itu kesakitan langsung membantu Bumi membenarkan tubuhnya agar terbaring seperti semula. Ia terlalu banyak gerak, nanti jahitannya bisa terbuka.
"Lo jahat, Bi." Ucapan itu lolos dari mulut Bumi. Akhirnya, Bintang hanya menghela napas panjang. Ia tau dia yang salah.
"Oke, gue salah. Gue minta maaf. Puas lo?"
Bumi terkekeh dan menatap mata Bintang yang terlihat pasrah. Inilah puncak Bumi memanfaatkan sakitnya agar bisa menaklukkan gadis batu. Ada baiknya juga ia sakit. Siapa sangka akan menjadi raja. Bumi tersenyum penuh kemenangan.
Seorang perawat datang membawa bubur yang terlihat panas. Bumi menatap bubur itu tidak selera. Seumur hidup, ia tidak suka bubur. Apalagi, bubur di rumah sakit yang tidak ada rasanya. Gimana mau makan? Rasanya benar-benar tidak enak.
"Sus, letak saja di meja." Bumi tidak ingin menatap bubur itu, rasanya mau muntah. Perawat tersebut akhirnya ke luar dari ruangan dan membiarkan pasiennya. Kiranya, Bintang pasti menyuapinya, karena ia pacarnya atau mungkin keluarganya.
"Gak! Gue mau makan yang pedes-pedes." Bumi menolak sambil memalingkan wajahnya. Siapa yang mau makan bubur tidak enak itu.
"Lo masih sakit, gue gak mau belikan!" Bintang kemudian mengambil mangkuk berisikan bubur putih dan sedikit daun seledri tertabur di atasnya.
Bumi melotot saat Bintang menyodorkan satu sendok ke arah mulutnya. Segera ia menutupnya dengan tangan sekuat tenaga. Namun, apalah daya, tenaga Bintang lebih kuat darinya. Ia benar-benar melemah.
"Kunyah! Disuruh makan aja, susah!" Bumi akhirnya pasrah dan menelan bubur itu. Rasanya benar-benar tidak enak. Hambar dan sedikit pahit akibat lidahnya yang belum berfungsi.
Akhirnya dengan paksaan dari sang Bintang. Bumi pun menghabiskan semangkuk buburnya. Walaupun, ia sudah enek dan ingin muntah. Tapi, ia tetap menelannya karena itu semua adalah perintah Bintang.
__ADS_1
Bagaskara pun datang membawa satu plastik besar yang berisikan makanan ringan dan beraneka macam buah. Itu semua untuk Bumi dan Bintang, ia tahu pasti keduanya kelaparan.
"Papah." Bumi senang melihat kehadiran papanya. Begitupun sebaliknya dan langsung memeluk anaknya.
"Akhirnya kamu bangun juga, Bumi. Anak kesayangan, Papah." Bintang yang melihat keduanya cukup menggemaskan langsung mengulum senyum. Kapan terakhir kali ia berpelukan dengan ayahnya? Bahkan, ia tidak ingat karena keduanya yang sibuk dengan urusan masing-masing. Bintang jadi ingin dipeluk juga.
"Pah, udah, ah. Liat ada Bintang. Dia juga mau kali dipeluk." Bagaskara langsung melepas pelukannya dan menatap Bintang kemudian tersenyum.
"Ya sudah, kalau gitu Bintang ikut juga, dong. Sini, biar Papah peluk."
Bagaskara menarik tangan Bintang dan ikut memeluknya bersama Bumi. Merekapun saling tertawa bahagia dan menikmati rasa kekeluargaan itu. Sangat damai, tentram dan aman.
Bahagia itu, bukan karena kekayaan. Bukan karena mendapat prestasi dan juga bukan karena banyaknya teman. Tapi, kasih sayang diantara orang-orang yang kita cintai dan selalu mendapat kepercayaan mereka itu sudah lebih cukup bahagianya luar biasa. Bisa hidup tenang dan saling menguatkan satu sama lain.
Bintang tidak butuh ayah yang banyak uang. Tidak butuh ayah yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Tidak butuh ayah yang mempunyai bisnis di mana-mana. Ia hanya membutuhkan ayahnya selalu ada untuknya. Selalu memberikan perhatian untuknya dan selalu menjadi nomor satu di kehidupannya. Namun, itu hanyalah mimpi. Sekarang pun, ia tidak bisa berkumpul kembali dengan ayahnya.
Peran orang tua memang sangat penting untuk anak yang sedang menginjak remaja. Dunia luar adalah ancaman terbesar bagi anak-anak yang baru memasuki masa pubertas. Apalagi, jika dibiarkan bebas dan tidak terkendali. Ia akan rusak dengan bebasnya pergaulan diluar sana yang tidak diketahui seperti apa bentuknya. Maka dari itu, sebagai orang tua wajib menjaga anaknya dan selalu memberikan nilai positif. Mengajarkan sesuatu yang baik dan melarang mereka agar tidak melakukan hal-hal yang aneh. Merokok, narkoba, mabuk, judi dan lain-lain yang mampu membuat mereka masuk terjerumus dalam lubang dan tidak akan kembali seperti semula.
Bintang adalah sosok yang menjadi korban kesibukan orangtua karena bisnis yang tidak bisa ditinggalkan. Kekurangan kasih sayang, sehingga membuatnya jauh dari sang ayah. Pergaulan bebas mulai ia telusuri satu persatu, alhasil membuatnya ikut balapan liar dan tawuran yang mampu membuat nyawanya terancam.
Akan tetapi, ia masih terjaga dari minuman keras dan hal-hal bodoh yang dapat merugikan dirinya. Ia tumbuh menjadi gadis kuat seperti ibunya. Pandai menjaga diri dari marabahaya lelaki berhidung belang. Bintang tetaplah bersinar dengan sendirinya tanpa ada bantuan dari orang tua ataupun keluarga.
__ADS_1