Bumi Dan Bintang

Bumi Dan Bintang
Bab 10


__ADS_3

"Dewa, kamu sudah tumbuh menjadi pria yang berwibawa dan berwawasan tinggi. Kamu pintar, skill kamu hebat, kamu juga jago dalam olahraga. Papa bangga sama kamu. Apa pun yang kamu mau, pasti Papa berikan. Asalkan--"


Algara menggantungkan ucapannya membuat Dewa penasaran. Apalagi yang diinginkan sang Papa darinya. Cukup banyak Dewa berkorban. Jangan sampai masalah pribadinya pun disangkutkan. Termasuk orang yang dia cintai atau bahkan menikahi orang yang bukan ia suka. Dewa benci harus merelakan akhir kebahagiaannya.


"Apa, Pah?"


Algara tersenyum puas melihat anak kesayangannya. Kemudian, mengajaknya untuk duduk di sofa ruang tamu. Ia ingin lebih dalam beraksi untuk misi kali ini. Jika dirinya dan Dewa berhasil. Puncak D-Group akan tidak terkalahkan lagi.


Dewa semakin mengkhawatirkan dirinya. Papanya benar-benar penggila bisnis. Jika dibandingkan dengan orang gila yang ada di jalanan, mungkin, papanya termasuk gila puncak terparah. Mau melawan pun ia tidak ada kuasa. Apalagi, ia teringat dengan kejadian 12 tahun yang lalu. Mengharuskan Dewa terpisah dengan ibunya akibat perceraian.


Sang ibu yang tidak ingin papanya terjerumus dalam lubang kegelapan. Akhirnya nekat untuk selalu menggagalkan rencana busuk Algara. Oleh karena itu, Algara menceraikan istrinya dan mengambil Dewa untuk ia jadikan alat utama yang akan membantunya menyelesaikan misi.


Sungguh, Dewa tidak mengetahui keberadaan ibunya sekarang. Bahkan, ketika ia berusaha mencari keberadaan sang ibu. Papanya akan marah dan menghukumnya dengan mengurung dirinya di ruang bawah tanah. Sampai pada akhirnya, ia tidak berani lagi mencari tahu keberadaan sang ibu hingga kini.


Dewa dan papanya sampai di ruang tamu dan langsung duduk di sana. Seorang pembantu datang membawakan dua gelas berisikan kopi hitam dan cappucino. Juga sedikit snack ringan untuk cemilan sambil mengobrol.


Algara mengambil sesuatu di dalam jasnya lalu menunjukkan barang itu ke hadapan Dewa. Ternyata sebuah foto gadis kecil yang kini tengah tumbuh menjadi remaja sepertinya. Sontak lelaki itu terkejut bukan main. Apa yang akan papanya lakukan dengan orang yang berada dalam foto itu.


"Kamu ingat, Dewa?" tanya Algara dengan tatapan menyeringai. Dewa bergidik melihat papanya yang seakan haus darah itu.


Dewa mengangguk dengan bibir terbungkam. Algara kembali menyimpan foto itu di dalam jasnya. Kemudian, menyeruput secangkir kopi yang berada di atas meja sambil tersenyum.


"Kamu tau, alasan Papa pindahin kamu ke sekolah Antariksa?"


Dewa yakin, papanya sudah memiliki rencana untuk dirinya. Entah itu baik atau tidak. Intinya, Dewa sangat ketakutan karena gadis yang ada di dalam foto tersebut adalah gadis yang selama ini ia inginkan. Jangan sampai, papanya berbuat yang tidak-tidak dengannya.


"Papa yakin, kamu pasti bisa deketin dia, Dewa."

__ADS_1


Dewa semakin bingung dengan arah pembicaraan ini. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Algara. "Maksudnya, Pa?"


Algara menepuk pundak Dewa dan menatap anaknya itu penuh makna. Tersirat akan sesuatu, seperti sebuah harapan yang ia inginkan dari anaknya. Mungkin, setelah berhasil menjalankan rencana ini, sudah tidak ada lagi yang ia inginkan.


"Kamu pilih, gadis itu dimusnahkan atau kamu yang memilikinya sampai ke akar-akarnya. Termasuk, apa yang dia punya."


Dewa membulatkan mata sempurna. Memusnahkan gadis itu? Yang benar saja, bahkan ia rela mati untuk menyelamatkan dia. "Tidak perlu Papa perintah, Dewa bakal memiliki Bintang!"


***


Dokter Faris datang untuk mengecek keadaan Bumi. Sepertinya, lelaki itu sudah mulai membaik. Masa penyembuhannya sangat cepat dari dugaan. Pada akhirnya, Bumi diperbolehkan pulang, asalkan ia teratur minum obat dan cek up satu minggu sekali.


Bagaskara dan Bintang sangat senang mendengar kabar itu. Akhirnya, Bumi sudah bisa berkumpul kembali di rumah tercinta. Walaupun, ia tidak dapat bergerak banyak, tapi kehadirannya sudah cukup untuk membangun suasana yang menyenangkan.


Setelah sampai di rumah, Bumi terlihat mencari seseorang di dalam rumahnya. Kenapa ada pembantu baru, di mana Bik Ani? Karena penasaran, akhirnya Bumi menanyakan keberadaan pembantu lamanya.


Bagaskara terdiam sejenak, ada perasaan menyesal karena tidak mencegah kepergian Bik Ani waktu itu. Ia juga tidak tahu Bik Ani pergi meninggalkan rumah. Hanya tersisa selembar kertas permintaan maaf dari pembantunya itu.


Bintang mengambil surat dari Bik Ani yang masih ia simpan di laci. Lalu, ia berikan kepada Bumi agar lelaki itu membacanya sendiri. Ia malas jika harus menjelaskannya.


"Bik Ani, cuma ninggalin ini. Lo baca sendiri."


Bumi langsung mengambil kertas itu dan membacanya. Begitu merasa bersalahnya Bik Ani atas kejadian yang menimpa dirinya. Bumi langsung menatap papanya, berharap Bagaskara paham akan maksudnya.


"Bumi, lebih baik kamu istirahat. Besok, kita pergi ke Bandung jemput Bik Ani ke kampungnya!"


"Yes!"

__ADS_1


Bumi tersenyum puas, spontan mencubit pipi Bintang hingga membuat gadis itu teriak. Bumi langsung melengos pergi menuju habitatnya. Sudah lama, ia tidak menempati ruangan ternyaman dihidupnya.


Bintang mengelus pipinya yang sedikit memerah. Untung Bumi masih sakit. Jika tidak, ia akan balas dengan ribuan tinjauan di perutnya. Awas saja kalau sudah sembuh total. Bintang tidak akan tinggal diam. Tunggu pembalasannya.


Malam telah tiba, bulan kembali bersinar dengan terangnya. Alunan angin yang berhembus membuat dedaunan menari perlahan. Bintang ikut serta meramaikan langit yang gulita. Bumi berdiri di balkon, menikmati angin yang menyapa wajahnya dengan lembut.


Tidak ada keindahan alam yang lebih baik dari senja. Tapi, hilangnya senja akan digantikan dengan malam yang indah bersamaan Bintang yang menari di angkasa mengeluarkan gemerlip cahaya. Bulan terlihat paling terang saat matahari memantulkan sinarnya. Siapa yang akan melewatkan malam seperti itu.


Bumi akan tetap menyaksikan keindahan itu di sana. Hingga tidak sadar, seseorang datang menghampirinya dan malah ikut menengadahkan kepalanya ke langit.


"Liat apaan, lo?"


Bumi terpelonjak kaget dan langsung menatap pelaku yang kini tengah berada di samping kirinya. "Bintang? Kok lo bisa ke sini."


Benar. Orang itu adalah Bintang. Awalnya, ia disuruh Bagaskara untuk mengecek keadaan Bumi di kamar. Takut kalau lelaki itu membutuhkan sesuatu karena perutnya masih sedikit nyeri jika terlalu banyak bergerak sendiri. Akan tetapi, saat ia mengetuk pintu kamar Bumi berkali-kali, tidak ada jawaban sama sekali. Karena takut ada apa-apa, Bintang langsung membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Gadis itu terkejut saat kamar Bumi ternyata kosong. Namun, kecemasannya berakhir saat melihat jendela balkon terbuka. Ia yakin, Bumi pasti pergi ke balkon tersebut.


"Pintu lo gak ke kunci, ya gue masuklah. Emang kenapa? Gak boleh?" Bintang melipat kedua tangannya di depan dada. Ia mau lihat, semarah apa lelaki ini melihat kenyamanannya diganggu.


"Ini kamar cowok. Seorang cewek gak boleh masuk ke kamar cowok sembarangan!"


Bintang menaikkan sebelah alisnya. "Terserah gue, lah. Gue kan, punya kaki!" Bintang tidak mau kalah dan membuat Bumi semakin geram. Ia pun menarik bibir setelah mendapat ide untuk memberi pelajaran ke gadis nakal ini.


Bumi melangkahkan kaki mendekati gadis tersebut, menghapus jarak mereka sedikit demi sedikit. Bibirnya menyeringai mendapati Bintang yang mundur perlahan hingga mentok ke dinding. Sepertinya, ia berhasil menakuti gadis itu.


Bintang tidak bisa lagi menghindari Bumi. Ia langsung menatap lelaki itu tajam. "Mau ngapain lo?!" Bintang menggertak dan langsung melayangkan sebuah tamparan.


Namun gagal. Lagi-lagi, Bumi mencekal tangan kanan Bintang. Akan tetapi, gadis itu tidak mudah menyerah dan melayangkan kembali tangan kirinya. Tentu saja, Bumi tidak tinggal diam dan mencekalnya dengan tangan kiri pula. Alhasil, Bintang tidak bisa menggerakkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Macam-macam lo, gue banting!"


__ADS_2