Bumi Dan Bintang

Bumi Dan Bintang
Bab 12


__ADS_3

Bumi langsung menelan saliva susah payah. Bagaimana, kalau Bik Sri memberitahukan Bintang bahwa ia baru saja ke luar dari kamar gadis itu dengan mengendap-endap. Bisa-bisa, ia dikira ingin berbuat yang tidak-tidak dengannya. Padahal, hanya ingin tahu apa isi kamar Bintang.


"Bukan apa-apa, kok. Papah udah nungguin." Bumi langsung menyela pembicaraan Bintang. Dari pada masalahnya tambah panjang dan mengakibatkan perdebatan yang tiada usai. Bumi langsung mengalihkan topik pembicaraan.


"Angkatin barang gue." Bumi langsung menatap tajam ke arah Bintang. Gadis ini lupa beneran atau pura-pura lupa. Dia kan masih sakit.


Bintang menatap wajah Bumi yang terlihat tidak bersahabat itu. "Bercanda! Gak usah serius amat kali!" Bintang menarik bibirnya dan langsung melenggang pergi meninggalkan Bumi yang masih terpaku di tempat.


"Gadis aneh!"


Bagaskara sudah selesai memasukkan barang-barang ke mobil. Tinggal menunggu barang Bintang dan langsung berangkat ke Bandung. Perjalanannya mungkin cukup jauh. Jadi, mereka berangkat pagi agar cepat sampai ke tujuan.


Bagaskara awalnya berinisiatif untuk membeli tiket pesawat saja. Akan tetapi, Bumi menolak dan ingin memakai mobil pribadi mereka. Katanya, lebih seru dan berpengalaman menggunakan mobil. Ia juga bosan, setiap ke luar kota pakai pesawat. Bumi ingin ada sensasi yang berbeda dari perjalanan kali ini.


Bagaskara menyetujui permintaan anaknya itu dan langsung memberitahukan kepada supir mereka. Pasti, sangat lelah jika menyupir sendirian. Akhirnya, Bagaskara membawa dua supir agar mereka bisa bergantian. Mereka juga membawa mobil satu lagi yang dikendarai oleh bodyguard kepercayaan Bagaskara. Untuk berjaga-jaga jika ada kendala diperjalanan, pikirnya.


Tiba-tiba, seorang pengendara motor datang dan memasuki gerbang. Ternyata, dia Senja. Gadis itu mendatangi rumah Bumi untuk menjemput sahabat Bintang. Sekalian, ia juga ingin bertemu sang pujaan hati, yaitu Bumi. Sepertinya, ia sudah terlihat sehat karena diperbolehkan pulang ke rumah. Senja benar-benar rindu dengan suara indahnya. Tawa canda yang membuatnya candu. Senyum manisnya yang paling mempesona dan tatapan matanya yang menusuk jantung. Senja benar-benar bisa mati jika kehilangan sosok Bumi.


Senja turun dari motornya dan langsung menyalami Bagaskara. Ia juga ingin terlihat ramah dan cantik di depan papa mertua. Siapa tahu direstui. "Senja, Om. Temen Bintang." Senja tersenyum lebar hingga lesung pipinya terlihat jelas.


"Ouh, temen Bintang. Sekelas, ya?"

__ADS_1


"Iya, Om. Bintangnya ada? Senja mau ngajak ke sekolah bareng. Dia gak izin lagi kan, Om?" Senja sedikit berhati-hati dalam berbicara. Ia takut, bibirnya asal ceplas-ceplos hingga menimbulkan kesalahpahaman. Bisa-bisa, reputasi sebagai calon menantu bakal gagal total.


"Oh, kamu belum tau, ya? Mungkin, Bintang lupa ngasih tau kamu. Hari ini, Om, Bumi sama Bintang bakal ke Bandung. Udah ambil izin ke kepala sekolah kemarin sore. Jadi, Bintang gak sekolah selama satu minggu."


Senja terkejut dan langsung mengeluarkan sifat aslinya. "Yang bener, Om. Senja gak tau, loh. Kirain Bintang bakal sekolah hari ini. Soalnya, Bumi udah sembuh dan boleh dibawa pulang kemarin. Uhh, kalau gitu, mending Senja ikut ke Bandung. Kan, Senja udah kangen berat sama Bumi." Senja mengembuskan napas kesal.


Bagaskara yang mendengar itu dari mulut Senja spontan mengerutkan kening. "Kamu bilang apa tadi?"


Senja kaget dan langsung menyengir kuda hingga terlihat deretan gigi putihnya. "Enggak, Om. Bercanda."


Bagaskara langsung menganggukkan kepala. Dilihat dari arah pembicaraan tadi. Sepertinya, gadis ini menyukai putranya. Atau mungkin, pacar?


Senja menggerutu tidak jelas. Ia seperti tidak dianggap oleh Bintang. Biasanya, Bintang selalu mengabarinya. Apa karena waktu di rumah sakit kemarin. Jadi, Bintang marah padanya. "Dasar Bintang! Kenapa gak kabari gue!" cibirnya dengan tangan berkacak pinggang.


Benar saja. Itu semua ide dari Bagaskara. Lelaki itu menginginkan anaknya memakai baju yang mereka beli kemarin di mall. Jika keduanya tidak ingin memakainya, maka Bagaskara akan menunda keberangkatan mereka sampai mereka menyerah dan akhirnya pasrah.


"Lihatlah, anak-anak Papah. Sangat cantik dan tampan! Senja, kamu lihat mereka, cocok gak?"


Bumi dan Bintang langsung bertatapan. Sangat tajam. Hingga Senja sedikit bergidik dan hanya tersenyum penuh penekanan ke arah Bagaskara. Hatinya sedikit berdenyut. Apa ini yang dinamakan sakit tak berdarah.


"Om, kalau gitu ... Senja berangkat ke sekolah. Takut telat." Bagaskara pun mempersilahkan dan menyuruh bodyguardnya untuk memasukkan barang Bintang. Mereka akhirnya berangkat menuju Bandung pagi ini.

__ADS_1


Senja menancapkan gas motornya. Matanya tiba-tiba mengeluarkan air hingga penglihatannya memburam. Kenapa ia menangis? Senja bukan gadis lemah. Sudahi sedihmu, Senja!


Sepanjang perjalanan menuju sekolah, gadis itu terus menepuk dadanya yang terasa sesak. Ia berusaha untuk menguatkan diri agar tidak tumbang. Walaupun, rasanya benar-benar sakit. Tapi, ia akan tetap tegar dan percaya bahwa takdir Tuhan lebih indah dari ini. Ia hanya perlu bersabar, Bumi akan tetap menjadi miliknya, bukan Bintang.


Selagi masih tidak ada hubungan diantara mereka. Senja tidak perlu khawatir, semua pasti akan baik-baik saja. Ia hanya perlu percaya pada dirinya, bahwa ia akan mendapatkan pria idaman yang diimpikan. Jika perlu, menyingkirkan orang yang dekat dengan Bumi, termasuk Bintang.


***


..."Gue, Raja Langit. Orang yang paling dipercaya oleh Bumi. Gue paling jago yang namanya mata-mata. Jadi, gue harap lo hati-hati."...


...★★★...


Sekolah mengadakan turnamen basket pagi ini. Dikarenakan Bumi yang belum masuk sekolah, Dewa pun siap menjadi pengganti untuknya. Bisa saja, lelaki itu akan merebut posisi Bumi selamanya. Itu cukup mudah, Bumi tidak akan bisa menghentikan dia.


Raja tidak suka dengan kehadiran Dewa di tim basketnya. Ia seakan pandai mengambil hati para siswa karena senyum lebarnya tak berhenti sejak tadi. Walaupun, ia tahu kemampuan Dewa tidak kalah dengan Bumi. Tapi tetap saja, ia tidak mau Bumi digantikan dengan lelaki sepertinya.


Senja duduk di samping Surya sambil menatap kosong ke arah lapangan. Dia masih kepikiran dengan Bumi, lelaki yang selama ini membuat hatinya campur aduk. Bagaimanapun, ia takut Bumi jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Itu lebih menyakitkan dari pada ditinggal mati oleh kekasih.


"Jelek amat muka lo!" Surya terkekeh sambil memberi satu botol minuman kepada gadis itu dan langsung diseruput hingga setengah.


"Tau aje lu!" Senja berdecak kemudian mengalihkan pandangannya ke lapangan. Matanya tertuju pada laki-laki yang tengah menggiring bola basket dengan sangat keren. Tampaknya, ia sangat mahir memainkan peran kapten di Tim B yaitu regu Bumi.

__ADS_1


"Itu bukannya Dewa?" Tiba-tiba Senja menanyakan pria tersebut kepada Surya. Sontak Surya terkekeh dan menatap Senja curiga.


__ADS_2