Bumi Dan Bintang

Bumi Dan Bintang
Bab 14


__ADS_3

"Woi, lo kenapa gak bilang kalau ke Bandung!"


Surya langsung mengoceh dan malah membuat Bintang tertawa dari seberang sana.


"Sorry, gue lupa. Gimana? Udah beres?"


Surya mendengus kesal. Sampai sekarang pun dia belum mendapat informasi yang lebih mendalam.


"Gue kehilangan jejak Green tadi. Tapi, lo tenang aja. Gue bakal urus ini sebelum lo pulang."


"Oke deh. Gue tunggu."


Telepon terputus.


Bintang tersenyum dan langsung mendapat tatapan dingin dari Bumi. Lelaki itu melepas earphone yang sejak tadi menempel di telinga. Bintang menautkan alis, kenapa dengan lelaki ini. Mata elangnya itu ingin sekali ia colok.


"Apa lo?!" Bintang langsung menyembur. Risih dengan tatapan Bumi.


Bumi memutarkan kedua bola mata lalu mengalihkan pandangan ke luar kaca mobil. "Kepedean," gumamnya yang masih terdengar jelas di telinga Bintang.


Gadis itu langsung mengambil bantal leher dan melempar tepat mengenai kepala Bumi. Tentu saja, Bumi membalas lemparan itu. Hingga akhirnya, mereka saling lempar melempar satu sama lain. Bagaskara yang awalnya tertidur jadi terbangun sebab keributan yang dihasilkan oleh dua makhluk di belakangnya.


"Bumi, Bintang, bisa diam gak? Papah mau tidur, nih. Berisik banget."


Kedua anak itu langsung terdiam sambil menundukkan kepala. Lalu berkata dengan kompak.


"Maaf, Pah."


"Maaf, Om."


Mereka berdua memang berhenti membuat kericuhan. Akan tetapi, acara lempar melempar digantikan dengan saling beradu tatapan tajam. Melihat itu, Bagaskara malah menepuk keningnya sendiri. Makhluk di belakangnya ini memang tidak bisa akur. Sepertinya Tom and Jerry saja.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Bumi langsung turun dari mobil dan menghirup udara segar dari luar. Benar-benar sensasi yang luar biasa, tidak sama dengan di kota. Perdesaan seperti ini lebih nyaman dan udaranya masih asli.

__ADS_1


Bintang tersenyum lebar sambil menatap ke seluruh penjuru. "Om, kira-kira, rumah Bik Ani jauh dari sini gak?"


"Enggak, mau ke rumahnya sekarang? Atau kita cari penginapan dulu?"


"Ke rumah Bik Ani, habis dari sana baru cari penginapan. Lagian, di sini banyak wisata, pasti banyak tempat penginapan yang nyaman," sahut Bumi yang tidak sabar menemui pembantu lamanya dan akan membawanya pulang kembali. Ia tidak mau diurus dengan orang lain selain Bik Ani.


"Oke. Tapi, kita cari makan dulu. Papah laper, nih."


"Yok!"


Mereka berteriak serentak dan langsung melanjutkan perjalanan menuju restauran terdekat. Hingga sampailah di sebuah rumah makan yang letaknya berdekatan dengan minimarket. Bintang langsung meminta izin untuk pergi ke minimarket terlebih dahulu. Ada yang perlu ia beli di sana. Bagaskara pun mengiyakan kemudian melanjutkan langkahnya bersama Bumi.


Bintang sedikit mempercepat langkahnya untuk mencari bahan-bahan yang ia butuhkan. Seperti makanan ringan dan sembako untuk ia berikan kepada Bik Ani di rumahnya nanti. Bintang memang gadis yang suka ngemil. Ia mudah lapar dan harus mempunyai stok makanan di kamar. Jika tidak, ia tidak akan bisa tidur dalam keadaan perut berbunyi. Ia juga gadis yang suka memberi, walaupun sifatnya ganas seperti haus darah. Hatinya mempunyai rasa empati yang tinggi. Apalagi, dengan orang yang sangat ia sayangi. Mungkin, nyawa akan menjadi taruhannya.


Bintang mengecek bahan yang sudah ia ambil. Ternyata, ia melupakan peralatan sabun-sabun. Segera ia mencarinya cepat, takut Bagaskara akan menunggunya lama.


"Huft! Akhirnya, ketemu juga." Bintang menemukan tempat peralatan sabun dan ternyata tempatnya terlalu tinggi. Tubuhnya yang tidak tinggi itu susah payah meraihnya. Ia sampai meloncat-loncat karena tidak sampai. Tiba-tiba, seseorang dari belakang mengambilkan untuknya.


"Kalo butuh pertolongan, bilang aja."


Suara ini. Bintang tau ini suara siapa. Ia segera membalikkan badan dan menatap orang yang berada di belakangnya. Ternyata, Dewa. Benar tebakannya. Lelaki itu langsung memberikan barang yang ia ambil tadi.


"Dewa? Lo kok di sini?"


Dewa menautkan alis, heran. Kenapa malah bertanya, dia yang sudah resmi mewarisi perusahaan D-Group sudah tentu akan pergi ke  "Seharusnya gue yang nanya. Lo kok bisa di sini?"


Bintang terdiam. Tidak mungkin ia memberitahu alasannya berada di Bandung saat ini. Tidak ada gunanya juga. "Gue ada urusan, gak ada waktu jelasin panjang lebar ke lo. Permisi."


Gadis itu langsung melengos pergi, tidak ingin berurusan lebih lama lagi dengan Dewa. Ia takut, dia akan lebih lama menahannya. Sebisa mungkin, Bintang harus menjauh dari Dewa. Jangan sampai bertemu kembali dengannya.


Dewa tersenyum lebar lalu mengambil ponselnya. Dia mengetik sesuatu di sana dan kemudian pergi meninggalkan mini market tersebut.


Bagaskara dan Bumi sudah memesan makanan, tapi Bintang belum kunjung datang. Hingga pesanan datang pun Bintang belum kembali juga. Bagaskara jadi khawatir dan hendak menyusul gadis tersebut. Namun, langkahnya dihentikan oleh Bumi.

__ADS_1


"Pah, mau ke mana?" Bumi menarik pergelangan papanya.


"Bintang kok belum nongol juga, ya? Papah takut dia kenapa-napa. Ini kan Bandung, bukan tempat kita."


Bumi mendengus dan menatap Papanya. "Pah, Bintang bukan anak kecil. Lagi belanja mungkin, biasalah cewek-cewek sekarang. Kalau belanja super lama."


Bagaskara kemudian duduk kembali, hitungan detik setelahnya. Bintang datang membawa dua kantong plastik besar. Ia nampak keberatan membuat Bagaskara dan Bumi membelalakkan mata. Mereka terkejut dengan belanjaan Bintang yang tidak tanggung-tanggung lagi.


"Om, bantuin dong, berat tau." Mendengar hal itu, Bumi langsung tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit. Bagaskara langsung menjitak kepala pria itu dan beranjak untuk membantu Bintang.


"Kok gak ditaruh di mobil?" Gadis itu memanyunkan bibirnya. Ternyata, Bintang bisa juga berekspresi imut, dikira beringas terus.


"Dikunci, Om." Bagaskara menepuk keningnya. Dia lupa. Lagian, Bintang tidak memberitahunya kalau ia bakal belanja sebanyak itu.


"Udah, sekarang kamu pesen makan dulu. Pasti capek, 'kan?" Bintang mengangguk dan langsung memesan makanan kesukaannya, yaitu Ayam bakar campur sambal terasi super pedas. Untungnya, menu itu tidak ketinggalan hampir seluruh restauran.


Bumi menatap belanjaan yang dibeli oleh Bintang. Benar-benar banyak, satu plastik besar penuh dengan bermacam-macam jajan. Satunya lagi, penuh dengan peralatan sabun, gula dan lain sebagainya. Gadis ini mau buka toko atau gimana. Bumi geleng-geleng kepala sendiri jadinya.


"Gila lo! Belanja sebanyak ini buat apa?"


Bintang menatap lelaki itu yang kini tengah keheranan melihat belanjaan yang ia beli. "Buat gue! Apa? Sibuk lo!"


Bumi memutar kedua bola matanya. Kemudian melanjutkan makan yang sempat tertunda gara-gara gadis itu. Dasar, manusia serakah, pikirnya.


Beberapa menit mereka menyantap makanan, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan langsung menyapa Bumi dan Bintang.


"Eh, kalian di sini?"


"Uhuk!"


Bintang tersedak dan langsung mengambil minumannya. Kemudian, ia menatap lelaki itu yang sempat bertemu dengannya beberapa menit yang lalu. Kenapa ia menyusul di sini. Benar-benar cari mati. Bersusah payah menjauhi, dia malah mendatanginya.


"Siapa dia?" tanya Bagaskara kepada putranya. Akan tetapi, Bumi malah mengangkat bahu, pura-pura tidak tahu. Melihat jawaban itu, Dewa tersenyum penuh penekanan.

__ADS_1


"Saya, Dewa, Om. Temen kecil Bintang, iya 'kan, Bintang?" Dewa merangkul pundak gadis itu. Bintang sontak terkejut dan hanya membalas senyum kaku.


__ADS_2