Bumi Dan Bintang

Bumi Dan Bintang
Bab 8


__ADS_3

Bintang pun akhirnya terbangun juga karena suara Senja yang benar-benar merusak mimpi indahnya. Ia langsung tersadar ketika tangannya menggenggam erat tangan Bumi. Spontan gadis itu melepaskannya sambil tersenyum malu.


"Duh, ada Senja lagi. Tadi, liat gak, ya?" tanya Bintang dalam hati. Ia takut sahabatnya jadi salah paham dengan dirinya. Ia tahu betul, bagaimana seorang Senja yang mencintai Bumi melebihi cinta kepada dirinya sendiri.


Tanpa aba-aba, Senja langsung memeluk Bumi sambil menangis tersedu-sedu. "Bumi, gue kangen banget sama lo. Udah dong, sakitnya. Gue gak mau lo kenapa-napa." Bumi sedikit sesak karena ia belum sembuh total. Perutnya masih terasa nyeri jika disenggol sedikit saja. Bagaimanapun, ia baru saja siuman beberapa menit yang lalu.


"Senja, Bumi kesakitan. Lo gak liat dia baru aja bangun?!"


Senja langsung melepas pelukannya dan menatap Bintang yang tengah berekspresi dingin. Gadis itu memang sahabat dekatnya, tapi dia adalah ancaman berat untuk peluang dekat dengan Bumi. Senja lihat dengan mata kepala sendiri, Bintang menggenggam tangan Bumi begitu erat dan malah sebaliknya, Bumi mengelus lembut kepala Bintang tanpa gadis itu sadari. Bagaimana mungkin, senja mau berpositif thinking jika kejadiannya sudah begini.


"Bumi, lo gak keberatan, 'kan?"


Bumi malah kaget mendengar pertanyaan itu dari Senja. Ia pun melihat Bintang yang tengah mengalihkan pandangan dari mereka. Ia pun tersenyum dan mencoba membuat Bintang cemburu, siapa tahu gadis itu memiliki perasaan untuknya. Lihat saja tadi, ia begitu erat menggenggam tangannya.


Bumi tersenyum. "Enggak, aku senang, kok, dipeluk sama kamu."


Bintang spontan membulatkan mata dan menatap Bumi yang tengah tersenyum lebar ke arah Senja. "Kayaknya otaknya kena tembak, deh. Sejak kapan seorang Bumi suka dipeluk sama Senja?" pikirnya yang merasa otak Bumi bermasalah.


"Tuh, kan, Bumi aja gak masalah. Kok lo sewot sih, Bi." Senja semakin merasa ada peluang diantara mereka. Ternyata, Bumi suka dengannya.


Bintang yang merasa dipermalukan langsung mengambil tas ransel yang ada di atas meja. Lagian, ia tidak dibutuhkan lagi. Toh, ada Senja yang merawat lelaki tersebut. "Oke, gue rasa tugas gue udah selesai. Gue pamit! Silahkan bersenang-senang."


Bumi langsung menatap Bintang, panik. "Loh, kok pergi?"


Bintang terkekeh. "Lo kan suka dipeluk Senja." Bumi melotot mendengarnya. Bukan itu maksudnya. Padahal, ia hanya ingin memanas-manasi Bintang saja. Memastikan perasaan gadis itu padanya.


"Surya, daripada jadi nyamuk. Mending ikut gue ke kafe. Gue lagi pengen makan, laper banget jagain bayi sekarat," lanjut Bintang langsung menarik tangan Surya dan bergegas pergi meninggalkan ruangan itu. Menyisakan Senja dan Bumi berdua.


Bumi menatap Senja dan menelan salivanya susah payah. Matilah riwayatnya. Ya, Tuhan, aku ingin pingsan saja, pikirnya. Ia sedang tidak berdaya untuk berhadapan dengan gadis agresif seperti Senja. Tubuhnya sangat lemah.


"Bumi, mau makan? Minum? Apa ... buah? Atau--"


"Stop! Senja, gue mau tidur. Mending lo pulang aja." Bumi menarik selimutnya tanpa menatap Senja sedikitpun. Ia harus menghindari gadis ini, sebelum sesuatu yang lebih parah akan terjadi.


Ekspresi Senja yang tadinya ceria langsung padam seketika. Ia kecewa, kenapa sikap Bumi berubah tiba-tiba. Apa Bumi cuma mau Bintang cemburu dengannya, makanya ia bilang suka pelukan Senja. Kenapa, lo siuman sih. Apa bedanya dirinya dengan Bintang?

__ADS_1


"Permisi." Seorang dokter datang bersama perawat yang selalu mengecek keadaan Bumi.


"Syukurlah, kamu udah siuman. Alina, tolong cek keadaan pasien."


"Baik, Dok." Beberapa menit setelah mengecek, ia pun mencatat hasilnya. "Semua normal, Dok. Hanya saja, sedikit lemah."


Dokter tersebut mengangguk paham. Masa penyembuhan Bumi termasuk paling cepat dari pasien yang lain. "Tidak apa-apa. Wajar kamu masih lemas. Kan, baru bangun dari koma. Nanti juga pasti membaik, asal dijaga makan dan selalu minum obat secara teratur."


Senja tersenyum mendengar penjelasan dokter tentang keadaan laki-laki tersebut. Ia pun bertepuk tangan dan menundukkan kepala. "Terimakasih, Dokter."


"Sudah menjadi tanggung jawab kami. Baiklah, kami tinggal dulu. Nanti, Alina akan membawakan bubur untukmu."


"Baik, Dok."


Bumi menatap Senja yang masih berdiri ditempatnya dengan tatapan dingin. Senja sadar dan langsung mengambil kotak hadiah yang ia beli sebelum pergi ke rumah sakit. Ia memberikannya kepada Bumi.


"Gue mau pergi, kalau lo terima hadiah gue." Lagi-lagi Senja memaksa keadaan. Bumi paling tidak suka dipaksa, apalagi dengan seorang wanita yang egois seperti Senja. Entah kenapa, Senja bersikap seperti ini padanya. Padahal, dengar-dengar dari temannya, Senja adalah gadis yang baik, ceria dan ramah. Tapi, bagi Bumi, dia adalah gadis yang agresif, tidak tahu malu dan pencari masalah. Pastinya menjadi beban keluarga.


"Taruh aja di meja."


Senja akhirnya meletakkan hadiah itu di atas meja dan pergi dari ruangan. Membiarkan Bumi beristirahat dengan tenang, pasti ia sangat lelah. Setelah gadis itu benar-benar pergi, Bumi menghela napas panjang dan mengambil tas miliknya. Pasti, papanya meletakkan barang-barang Bumi di sana.


Di sisi lain, Bintang sedang asik menghabiskan nasi gorengnya ditambah ramen dan hot noodle. Ia suka makan-makanan yang pedas hingga melupakan kejadian yang mengesalkan beberapa menit yang lalu. Surya yang melihat Bintang makan dengan lahap, langsung tertawa saat saus sambal menempel di sudut bibirnya. Comot.


"Santai, Bi. Nanti keselek lo. Celemotan gitu."


Bintang langsung mengayunkan bibirnya. Ia sedang asik menikmati makanan yang super lezat itu. Beberapa hari yang lalu, ia hampir tidak makan dengan benar. Ini semua gara-gara lelaki tidak tahu diri itu. Bisa-bisanya, ia membuat Bintang kesal.


Tiba-tiba, seorang laki-laki datang dan langsung membersihkan sisa makanan yang menempel disudut bibir Bintang dengan sehelai tisu. Mata mereka bertemu cukup lama, hingga Surya berdeham dan Bintang pun sadar.


"Eh, makasih. Gak usah repot-repot. Gue bisa sendiri." Bintang mengambil tisu yang berada di dekatnya dan membersihkan bibirnya dengan kasar.


"Lo, Dewa, 'kan? Anak baru kelas IPA?"


Dewa tersenyum dan ikut duduk di samping Bintang. "Sepopuler itu gue? Sampai dikenali satu sekolah? Hmm."

__ADS_1


Surya menyunggingkan senyum. Congkak sekali pria ini, pikirnya. "Bukannya lo sendiri yang ngenalin diri di depan umum kemarin?"


Bintang memutar kedua bola matanya. Konyol. Merendahkan diri sendiri. Gak waras.


"Jangan salah paham. Gue ikut tes pemilihan ketua basket untuk pertandingan Minggu depan. Gue kan jago mainnya. Gak kalah sama Bumi."


Mendengar nama itu ia langsung teringat oleh Bagaskara. Ia belumĀ  mengabari kalau Bumi sudah siuman. Bagaimana ini, jika Bagaskara sudah lebih dulu ke rumah sakit lalu Bumi menjelaskan dengan apa yang terjadi tadi. Pasti, Om Bagas bakal marah karena tidak menghubunginya dulu.


"Berarti, lo bakal gantiin Bumi jadi ketua?"


"Kalo gue kepilih. Tapi, gue yakin pasti!"


Tanpa berpikir panjang, Bintang langsung mengambil uang di dalam dompet dan memberikannya kepada Surya. Ia harus bergegas ke rumah sakit duluan, sebelum Bagaskara ke sana.


"Kemana, Bi?" tanya Surya ketika Bintang tiba-tiba pergi meninggalkan sisa makanannya yang belum habis.


"Gue ke rumah sakit. Ada urusan!"


Dewa yang melihat gadis itu lebih memilih ke rumah sakit daripada dirinya langsung berubah moodnya. Ia tidak mau, gadis yang ia incar sejak kecil akan dimiliki orang lain bukan dia. Perjuangannya akan sia-sia selama ini. Pengorbanannya tidak akan ada hasilnya. Ia tidak mau kehilangan sosok Bintang lagi.


Surya menghela napas panjang dan melanjutkan makannya. Padahal, ia belum sempat membicarakan tentang kejadian yang menimpa Bumi Minggu lalu. Sudahlah, mungkin belum waktunya. Ia juga harus menggali info lebih banyak.


"Lo mau pesen?" Dewa menggeleng dan menatap Surya dalam. Hal itu malah membuat Surya bergidik.


"Lo suka, Bintang?" Pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari mulut Dewa. Kenapa menanyakan hal yang seperti itu. Buat Surya terkejut saja.


"Suka. Tapi dulu."


Dewa sudah tebak dari awal, tidak ada sejatinya sahabat antara cowok dan cewek. Pasti diantaranya akan menimbulkan perasaan yang berbeda atau bisa jadi keduanya saling suka. Seperti apa yang ia alami dengan gadis itu. Tampaknya, Bintang memang punya sinar tersendiri. Ia mampu membuat siapapun jatuh cinta. Tapi dirinya? Tidak mudah untuk mengatakan cinta. Apa dia punya hati? Dewa merasa tercurangi kalau begini jadinya.


"Apa sekarang masih sama?" Lagi-lagi Dewa menanyakan itu. Ada apa dengan manusia satu ini. Apa dia juga suka dengan Bintang.


"Entahlah, gue gak ngerti dengan perasaan gue."


Dewa mengerti. Pasti ada satu wanita lagi yang sempat berlabuh di hatinya akhir-akhir ini. Makanya, Surya mengatakan itu. Baiklah, sepertinya bukan masalah besar untuk Dewa. Ia masih dalam pengawasan.

__ADS_1


"Bagus. Lo bukan target gue."


Surya bingung dengan arah pembicaraan Dewa yang mulai agak sedikit aneh. Sepertinya, akan ada sesuatu yang menimpa bagi siapapun yang berani mendekati Bintang. Ia yakin, satu persatu akan dimusnahkan oleh Dewa. Mengerikan sekali, berurusan dengan lelaki seperti dia ini.


__ADS_2