
pria itu terus menatapku sambil mengisyaratkanku untuk tetap diam. tak lama dari itu ada segerombolan orang yang berlari disekitar mobil kami sambil mengintip mobil-mobil satu persatu.
"siapa mereka?" tanyaku berbisik.
"wartawan." jawabnya yang seperti bimbang.
orang-orang itu terus mencari dari mobil ke mobil sampai akhirnya mendekati mobil kami.
"kamu sembunyilah dibawah kakiku." kataku berbisik cepat.
"apa maksutmu?" kata pria itu sedikit keras.
"ssttt... pelankan suaramu,, nanti mereka dengar." kataku yang sontak menutupi mulut pria itu.
"ehh.. maaf, tapi kamu sembunyilah disamping bawah kakiku." kataku sambil melihat wartawan itu yang semakin dekat dengan kaca mobilku.
wartawan itu menempelkan tangannya dengan mengintip ke kaca mobil.
"ada apa ya kak?" tanyaku yang tiba-tiba membuka kaca nya.
"ehh,,,, ehmmm saya nyari idol cowok ganteng, tinggi, pakek masker. adek pernah liat nggak tadi dia lari disekitar sini." tanya wartawan itu sambil melihat kursi belakangku.
"ohh,, iya tadi saya liat." kataku yang sontak membuat pria itu mencubit kakiku.
"syukurlah adek liat dimana ya?" tanya wartawan itu bersemangat.
"dia lari kencang ke arah pintu belakang gedung disana!" tunjukku kearah pintu yang ada di parkiran itu yang entah pintu apa.
"ohh gitu ya? makasih ya dek." kata wartawan itu berlari kepintu yang kutunjuk lalu disusul semua wartawan lainnya.
"udah bisa keluar" kataku menutup kaca mobilku lagi.
"hufftt.. hampir aja" kata pria itu duduk dikursi sebelahku.
"lo nyubit gak ngira-ngira kali ya?! sakit banget tau, kalau gwe gak punya hati udah gwe lempar lo ke orang-orang itu." kataku marah sambil mengelus kakiku.
"ohh, im so sorry and thankyou!" kata pria itu mengambil ponselnya disaku celananya.
"lo idol ya? siapa? coba gwe liat muka lo!" kataku sambil ingin membuka maskernya.
"eits apaan sih. ntar juga lo tau!" katanya menarik tanganku.
"cihhh... iya kalo lo masih inget gwe jangan lupa datengin gwe." kataku sambil memasang sabuk pengaman.
"simpen nomor telpon lo di hp gwe!" katanya sambil menjulurkan ponselnya.
"cihhh,, nomor gwe privasi ya! gwe gak mau sembarangan bagi ke orang yang gak dikenal." kataku menatapnya.
"gwe gak mau macam-macam. kasih aja lah! kayak orang penting aja lo." katanya yang sedikit tertawa.
akupun mengambil ponselnya dan memberi catatan.
"apa ini?" katanya melihat catatan itu.
"akun instagram gwe, lo dm aja nanti gwe baca." kataku yang siap menyalakan mobil.
"cihh masih gk mau ngasih nomor ya?". katanya yang terlihat sedikit smirk.
"udah lah lo keluar aja dari sini, gwe mau pulang sebelum terlanjur malam banget." kataku sedikit membentaknya.
"ohhh,, ya ya santai ini aku keluar kok. dasar anak kecil." kata pria itu mengejek.
__ADS_1
"gwe udah besar ya! keluar sekarang." kataku yang semakin kesal.
"ini udah mau keluar!! ih kayak anak baru pms lo!" katanya turun dari mobilku lalu berlari menutupi mukanya dengan hoodie yang dipakainya.
"ngeselin banget sih tu orang" gerutuku menyalakan mobilku lalu menjalankannya.
~sampai rumah~
aku memarkir mobilku, dan siap untuk memasuki rumah. ku lihat tatapan papa dari jendela sangat tajam kearahku.
akupun memasuki rumah dengan ragu-ragu dan mencoba untuk tidak meledak saat ditanya nanti.
"pa, mah aku pulang." kataku saat membuka pintu.
"dari mana kamu jam segini baru pulang?" kata papa menatapku tajam.
"aku baru ketemuan sama kakak." kataku menunduk karna merasa bersalah.
"kamu ketemuan sama kakak kamu? lalu dimana dia?" tanya papaku melihat kebelakangku.
"kakak nggak ikut aku pulang pa!" kataku sedikit takut.
"ohhh, jadi gitu ya kelakuan kakakmu. dulu dia ninggalin negara ini dengan pacar gelapnya itu yang katanya mau jadiin artis sekarang udah jadi artis setelah milih sama pacarnya itu dan tidak mau jenguk orangtuanya sendiri." kata papa semakin meledak.
"bukan gitu pa!" kataku yang memberanikan diri menatap papa.
"bukan gitu?? trus? buktinya dia sampai sekarang masih berhubungan sama cowok-cowok gak jelas. kamu belain dia diajari gak jelas juga sama dia?" kata papaku dengan suara semakin keras.
"bukan gitu pa, bukan!! papa gak pernah tau kejadian sebenarnya, papa selalu mengatakan apa yang papa tau dan nggak pernah mendengarkan penjelasan orang!. aku capek mau kekamar." kataku melangkah pergi.
"Yelvina Alora!! bicara dulu dengan papa!" teriak papaku mencoba menghentikanku.
akupun tetap melangkah menuju kamar dan mengunci pintu kamarku.
aku mencoba memejamkan mataku walaupun dengan keadaan berlinang air mata.
~jam 08:00~
aku baru terbangun dari tidurku dan mendadak pergi kekamar mandi untuk bersiap ke kampus. untungnya hari ini aku hanya punya kelas siang pukul 10 jadi tidak terlalu buru-buru.
jam 09:00 aku siap berangkat dengan pakaian putih polos ditutupi jaket dan celana jeans serta dilengkapi sepatu putih. aku menggendong tasku dan turun menuju parkiran.
saat diruang keluarga aku melihat papa dan mamah yang sudah berpakaian rapi seperti hendak pergi bekerja.
"pa, mah aku berangkat ngampus." kataku mempercepat langkahku tanpa melihat kearahnya.
"Alora tunggu dulu!" ucap mamah menghentikan langkahku.
"ya mah?" tanyaku menahan emosi didepan papa.
"hari ini kamu gak usah ke kampus. kita ke agensi kakak mu." kata mama tersenyum kearahku sedangkan papa yang diam tak memasang raut apapun.
"kalian aja berdua aku kemarin udah ketemu kakak." kataku melangkahkan kakiku sampai ke depan pintu.
"Alora!" teriak papa yang membuatku terkejut hingga terdiam dengan otomatisnya.
"kamu harus ikut, papa udah minta ijin sama gurumu. keluarga kita harus terlihat romantis didepan masyarakat." kata papa meminum kopinya yang sudah ada di meja sejak tadi.
"masyarakat juga tau keluarga kita kayak apa." kataku memberanikan diri.
"aishhh,, sejak kakakmu pergi keluarga kita jadi bahan pembicaraan orang-orang. sekarang dia udah sukses dan kembali, kita harus membalik opini masyarakat." kata papa serius.
__ADS_1
"baiklah aku ikut tapi kita pisah mobil. okey?" kataku melangkah keluar dari rumah.
hari ini cuaca nya cukup cerah saat aku keluar dari rumah.
"semoga aja lancar!..... langit cerah iringilah situasinya." kataku menatap langit diteras rumah.
kamipun pergi dengan mobil terpisah, aku mengikuti mobil papa dan mamah dengan kecepatan rendah.
kami sampai di Agensi pada pukul set 10 karna letaknya cukup jauh.
~Agensi~
kami turun dan berjalan bersama memasuki gedung itu.
"lepas maskermu!" kata mamah dikupingku lirih.
"nggak mau!" kataku cepat.
"ok sampai ruangan kamu harus lepas!" kata mamah yang berjalan cepat kesamping papa dan meninggalkan ku dibelakang.
sepanjang jalan mengikuti mereka, banyak sekali orang yang melihat kearahku sambil berbisik. menjadi sorotan membuatku harus menundukan kepalaku sepanjang jalan hingga kamipun sampai diruangan yang dituju.
*#Directur room#* yah begitu tulisannya.
kami dipersilahkan duduk didepan seorang pria berjas dan kelihatan bijaksana.
"senang bisa bertemu dengan anda tuan!" kata papaku tersenyum.
"apa lagi saya. saya sangat senang bisa berjumpa dengan orang tua Selca." kata pria itu.
"oh bisa aja anda ini!" kata papaku yang memulai basa-basi.
"Selca sperti tiang berdirinya perusahaan, saat itu perusahaan masih sangat kecil dan hampir tak ada harapan. tapi saat itu Selca dengan mimpinya yang tinggi mengarahkan kami dan berjalan membawa kami dengan sangat susah payah. kami saat itu juga ragu karna dengan situasi kami saat itu serta tidak ada nya penyokong keuangan. tapi tekat Selca membuat kami semua mempercayakan semuanya padanya dan ikut membantu serta menyemangatinya hingga saat ini kamipun berhasil." kata pria itu bercerita dengan senyum yang terlihat sendu karna mengingat masa-masa dulu.
"saya juga bangga dengannya karna perkatannya bukanlah angin kosong." kata papa lagi.
"iya pak,, anda punya anak-anak yang hebat." kata directur itu.
"ok jadi pak maaf,, kakak saya dimana?" tanyaku langsung membuka masker ku.
"ini adeknya Selca? wahh pak anda punya putri yang cantik-cantik." kata pria itu lagi.
"haha,, itu turunan" canda mamah menambahi.
"kakak kamu belum datang, sebentar lagi pasti datang untuk absen dan penyerahan jadwal bulanan." kata pria itu lagi tersenyum.
tak lama kemudian, suara langkah kaki menuju ruangan itu.
"pak Selca sudah datang dan sekarang sedang rapat untuk acara minggu depan dengan Kai." kata orang yang datang tadi
"ohhh,, berarti dia sedang diruang rapat dengan beberapa staff?" tanya pria itu.
"iya pak! saya lanjut kerja pak permisi" kata orang itu melangkah pergi.
"baiklah mari kita tunggu rapat nya diruangan sebelah" kata pria itu berdiri dan melangkah menuju ruangan sebelah yang diikuti aku, papa dan mamah.
ruangan itu ternyata bersebelahan dengan ruang rapat kakak dan terlihat kakak yang sedang serius karna hanya berdinding kaca tetapi tidak bisa mendengar apa yang dirapatkan.
seorang pria yang ku idolaan juga hadir disana disamping kakak sontak membuatku membesarkan mataku dan menahan napasku untuk tidak menjerit.
__ADS_1
"silahkan duduk, ini adalah ruang tunggu. saya akan melihat ke sana untuk mengkonfirmasi beberapa urusan." kata pria itu yang menunduk lalu pergi meninggalkan kita disana.