
"Maafin ibu nak, karna masalah ayahmu.... ibu harus meninggalkanmu dipanti ini, nanti jika usiamu sudah 20 tahun,, pada masa itu ibu dan ayahmu akan menjemputmu. maafin ibu....." suara tangis seorang ibu yang merangkul anaknya dengan wajah samar-samar terlihat.
"oe oe oe oekk!" suara tangisan bayi membuat suasana ricuh.
"cepat! sebelum orang-orang itu datang!" ucap laki-laki disampingnya.
"maafin ibu nak, ibu sangat menyayangimu." ibu itu pun menaruh putrinya dipintu rumah panti itu. Ditengah hujan deras suara bayi menarik perhatian keluarga panti asuhan dan membawanya masuk kedalam. hanya dengan sebuah selimut putih tebal bergambarkan mawar merah dan liontin mawar sebagai tanda anak itu.
"ah!!!, siall" teriakku terbangun dari tidur.
"Yelvin Alora!! kamu tertidur dikelas bapak? setelah kelas selesai kamu bersihin kelas. ini juga pembelajaran untuk kalian semua yang ada disini, jika ada dosen yang menerangkan jangan coba-coba tidur apa lagi membuat suara yang begitu keras. paham?" kata dosen sejarah.
"ya pak!" sahut seluruh mahasiswa dan aku yang menunduk malu.
~selesai kelas~
"gilak lo ya tidur dikelas sejarah?" kata Rahma menatapku.
"salahin mataku yang gak bisa direm. ok?" jawabku mengambil sapu di sudut kelas.
"cepet beresin trus kita ke kantin." ucap Rahma mengambil ponsel ditasnya.
"hmm,," jawabku singkat.
setelah selesai membersihkan kelas kami pun menuju kantin untuk makan siang dan makan dengan menu yang sudah disiapkan. disini, orang yang mempunyai keluarga berkecukupan bisa makan dengan kartu nama keluarga masing-masing sedangkan siswa dengan biaya pemerintah akan makan dengan kartu khusus bantuan pemerintah.
jika kartu sudah discane maka uang makan yang ditarik berasal dari keluarga tersebut sedangkan siswa biaya pemerintah akan digratiskan, tentu saja menu dan porsinya akan sangat berbeda.
"lo pakek kalung dari kakek Santo?" tanya Rahma melirik kalungku.
"iya, gelang lo mana?" tanyaku balik.
__ADS_1
"dengerin ya! baju aku hari ini nggak gaya punk jadi nggak cocok." katanya memakan makanannya.
"oke-oke, nanti ke perpus nggak? ajarin aku materi sejarah tadi ya?" pintaku ke Rahma.
"belajar lagi?" tanyanya sambil mengunyah.
"iya! kamu tahukan nilai sejarah aku lebih buruk dari kamu?" kataku yang juga menyantap makananku.
"tapi hanya sejarah Yev! yang lainnya kamu jauh lebih tinggi. aku dapet B- kamu dapet A+ lo!" ciutnya.
"pokoknya ajarin aku ya keturunan bangsawan?" pintaku lagi dengan raut memelas.
"oke! jangan panggil aku gitu lagi paham?" katanya sedikit kesal.
"haha, siap!" ejekku bercanda.
kakek buyut Rahma adalah keturunan bangsawan. kalau aku tidak salah ingat, kakek dari buyutnya adalah pangeran ke 4 pada abadnya. maka tidak heran kalau sekarang keluarganya bekerja dibidang tersebut. Ayah nya Rahma adalah Jenderal tentara terbaik dikota, kakak laki-lakinya komandan polisi, serta pamannya yang menjabat sebagai menteri politik. tapi yang bikin terkejut adalah Rahmanya sendiri yang tak terlihat dari keluarga itu, kalian tahu?? mereka semua berjasa pada negara dan Rahma yang berpenampilan seperti hendak melawan negara. saat aku menanyakan itu dia hanya berkata 'ini bukan perlawanan, hanya rasa tantangan yang sudah dilakukan' begitulah katanya.
setelah selesai makan kamipun menuju perpustakaan untuk belajar. seperti yang dijanjikan, dia mengajariku sampai aku paham.
"iri apaan? darah itu sudah dari turunan, jadi mau tidak mau pemahamanku sudah melekat. dari kecil sudah diajari sejarah keluarga, kamu gk paham pusingku saat kecil." keluhnya sambil membereskan buku.
"baiklah, sekarang ayo makan es crim! aku traktir karna kamu sudah jadi guru yang sangat baik. lebih baik dari bapak dosen, hahaha!" kataku.
"dia masih keluargaku lo Yev." ucapnya dingin.
"masa? kok baru tau?" tanyaku terkejut.
"aku juga baru tau saat kemarin habis anterin kamu pulang, dia kerumah aku terus ayah aku bilang dia masih keluarga." kata Rahma.
"hubungan keluarga yang seperti apa di keluarga bangsawan?" tanyaku meledek.
__ADS_1
"kamu ini!. aiss! nggak bakal paham deh." kata Rahma dengan nada santai.
"pengen tahu, beri tahu aku ya? gadis ini sangat penasaran.!" candaku.
"apaan sih tingkah kamu ini?" jawabnya tersenyum.
"beri tahu aku." kataku sedikit penasaran.
"oke jadi dia itu cucu paman dari bebuyutan ayahku yang adiknya anak bebuyutan keluarga aku, yaitu pangeran ke 4 abad itu." jawabnya dengan nada cepat. sementara aku yang terdiam ditempat memikirkannya dengan sangat lama.
"hei! ayo beli es crim! malah diem. tadi siapa yang nyuruh cerita?" kata Rahma menarik tanganku.
"sebentar-sebentar kalo pangeran ke 4 punya adik trus cicit dari keponakan eh gimana sih?" tanyaku yang masih berpikir keras.
"bingungkan? aku juga jadi nggak usah dipikir karna itu nggak penting." ucap Rahma.
lalu kamipun berjalan membeli eskrim setelah itu berpisah di parkiran karna tidak ada kelas lagi.
"beneran nggak mau ke tempat nongkrong dulu? ada Reza lo!" ujar Rahma memanasi motornya.
"nggak aku mau belajar lagi aja sambil streaming." jawabku memasuki mobil.
"belajar trus aja sana, aku yang juara 20 dikelas aja nggak mikirin. besok kalo ada waktu mampir gih dicariin reza sama yang lain." kata Rahma menjalankan motornya.
"oke!" teriakku agak keras agar Rahma mendengarnya.
Reza adalah temen yang Rahma kenalin ke aku. dia adalah kepala geng mobil balap di luar kota, kami pertama ketemu saat tak sengaja bertemu di tempat nongkrong itu. saat itu Rahma yang sudah berteman dengannya mengenalkanku sebagai sahabatnya. lalu mulai saat itu kami pun bertukar nomer ponsel, dan menambahkan wec*at. dulu dia pernah menembakku dihadapan anak geng lainnya tapi tidak kuterima, aku tidak pernah menduga hal ini dan menoleransi kita untuk tetap berteman seperti sebelumnya.
lalu aku menatap ke kaca mobilku, wajahku yang semakin lembab karna scincare dari endorse bulan lalu.
"produknya bagus nih! besok beli sepaket aja lah!" kataku memandang hingga pandanganku teralihkan ke liontin dileherku.
__ADS_1
"kok rasanya pernah liat liontin ini ya?" dimana??"
semakin greget kan? lanjutannya akan semakin memanas jadi baca terus!! love you❤