Catatan Kuliah Sang Master

Catatan Kuliah Sang Master
Bab 1 Preparation Course


__ADS_3

Namaku Dani, setelah satu tahun lamanya berjuang akhirnya Allah SWT memberikan kesempatan bagiku untuk melanjutkan study di Master of Nursing di Faculty of Nursing (FON) Prince Of Songkla University (PSU) Thailand, di sini aku harus berjuang untuk meraih mimpi. Prinsip yang ada di pikiranku hanyalah berani untuk mencoba hal-hal besar dan tidak pernah takut untuk mendapatkannya meskipun aku hanya anak dari keluarga sederhana, aku harus memiliki strategi untuk menggapai cita-cita dan pastinya harus berani mengambil resiko, memang tidak mudah untuk mengambil suatu keputusan, aku harus meninggalkan keluargaku di Cilegon dan profesiku saat itu sebagai seorang dosen di salah satu kampus swasta di Jakarta dan untuk studi lanjut aku meninggalkan jabatan struktural dengan penghasilan cukup tinggi di kampus tersebut, berat? Ya, tapi begitulah hidup, pilihanku ini adalah pilihan untuk masa depanku.


Perjalanan ke Thailand kutempuh bersama beberapa teman yang sengaja aku hubungi melalui media sosial setelah aku melihat pengumuman sebagai peraih beasiswa Thailand’s Educations Hub for Souther Region of ASEAN Countries (TEH-AC) dan mendapatkan amanah dari Nong Ju seorang Staff International FON PSU untuk mengundang mahasiswa dari Indonesia karena ada beberapa yang masih belum konfirmasi kedatangan menurutnya, Nong adalah panggilan adik dalam bahasa Thailand dia tidak mau di panggil Phi atau kakak karena masih muda akhirnya kita panggi dia Nong Ju karena Ju adalah nick namenya.


List peraih beasiswa kurang lebih ada delapan mahasiswa Indonesia yang salah satunya terpampang namaku di sana, dua adalah mahasiswa dari Nepal dan satu dari tuan rumah Thailand, namun setelah aku hubungi sembilan mahasiswa indonesia baru enam yang siap untuk berangkat ke Thailand, mayoritas peraih beasiswa TEH AC sepertiku mereka adalah mahasiswa dari Bandung ada tiga mahasiswa yaitu Putri, Pras dan Rifa mereka lulusan salah satu Universitas Negeri di Bandung, Michael juga dari Bandung tapi tidak satu kampus dengan ketiga orang tadi, aku adalah alumnus S1 keperawatan dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Purwokerto Jawa Tengah, dua orang dari Bali yaitu Kadek dan Koming, satu lagi dari Padang yaitu Cinta, lainnya dari Jakarta bernama Kak Sari dan Murni dari Semarang, yang terakhir Saiful dari Jawa Timur dari tempat yang tidak begitu aku kenal yaitu Bondowoso.


Dari delapan anak tadi hanya teman-teman dari Bandung, Bali, Padang dan Semarang yang menjawab pesan singkatku kita mulai mengatur dan berdiskusi untuk keberangkatan ke Thailand akhirnya kita sepakat untuk naik penerbangan ke Medan karena teman-teman dari padang menunggu di Medan, alasan lain karena perjalanan ke Hatyai Thailand tidak ada direct flight atau penerbangan langsung dari Jakarta dan beberapa kota besar lainnya jadi kami harus transit dengan pilihan transit di Bandara Kuala Namu Medan, Kuala Lumpur International Airport (KLIA) Malaysia atau Changi Singapura.


Kalau boleh jujur ini adalah kali pertama aku naik pesawat dan aku cukup lega karena banyak teman-teman sehingga aku tidak begitu takut, di Jakarta aku bertemu dengan tiga orang dari Bandung dengan membawa tas ransel dan koper kecil, tak seperti aku yang membawa koper besar dengan tas besar ditambah tas ransel, kamipun saling mengenalkan diri dimulai dari wanita berjilbab dan bertubuh mungil dia mengenalkan namanya Rifa, kemudian laki-laki berkacamata dengan baju lengan panjang yang bernama Pras dan laki-laki bertubuh gemuk dengan keringat bercuruan nampak kalau dia sedang kelelahan di jalan atau memang karena tubuhnya yang gemuk sehingga dia mudah berkeringat, laki-laki itu bernama Michael atau biasa dipanggil Mike, teman dari Bandung lainnya yang bernama Putri walaupun dia lulusan Universitas di Bandung tapi dia asli orang Padang, jadi dia juga menunggu di Medan bersama Cinta, kemudian kita berjumpa dengan dua teman dari Bali yaitu Kadek dan Koming, penampilan kadek cukup sederhana dengan hanya membawa tas ransel dan koper kecil sedangkan koming membawa tas ransel dan satu koper yang cukup besar ditambah tubuhnya yang gemuk membuat dirinya semakin sesak dipandang.


Berbeda dengan Kadek yang pendiam, Koming mulai dari awal bertemu denganku kemudian lanjut di perjalanan dia selalu dekat dan bertanya apapun sampai sampai aku bingung menjawabnya, dia juga bercerita kalau dia tidak mendapatkan beasiswa seperti kami.


“Bantuin aku ya nanti di sana.”


Kalimat yang sering terlontar darinya setelah aku hitung-hitung selama perjalanan menuju pesawat dia sudah mengucapkan itu sebanyak lima kali, cerewet juga orang ini.


Kita semua berkumpul di Airport pukul 8.00 wib karena penerbangan ke Medan pukul 09.30 setelah check in sambil menunggu pesawat boarding kami duduk dan saling mengenal satu sama lain, ternyata aku dan Pras pernah bertemu sebelumnya kami adalah anggota Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI) yang sering mengadakan acara keperawatan tingkat nasional bersama seluruh BEM keperawatan se Indonesia kebetulan aku sempat menjabat wakil presiden BEM di kampus dulu, dari sana kita mulai mengingat even yang sudah pernah kita lakukan bersama, untuk Michael dan Rifa aku baru pertama kali mengenal mereka karena jejak organisasi tidak aku temukan kalau aku lihat sepintas mereka berdua sepertinya kutu buku, tapi si Michael memang masih fresh graduate tidak seperti aku yang sudah punya pengalaman kerja sebelumnya.


Akhirnya waktu boarding pun tiba dan setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari Jakarta akhirnya kami tiba di Bandara International Kuala Namu Medan, Bandara megah nan indah ini baru diresmikan oleh bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada bulan maret 2014 dan merupakan bandara terbesar ke dua di Indonesia setelah Soeta, bandara Kuala Namu adalah bandara berdinding kaca sehingga suasana di sekitarnya nampak cerah, setelah tiba kami berempat berjalan menuju tempat pengambilan bagasi sepanjang perjalanan kami dapat melihat fasilitas dari bandara mulai dari toilet yang bersih, banyak toko ritel, kafe dan restoran.


Sesampainya ditempat pengambilan bagasi kita langsung bergegas untuk check in kembali melanjutkan penerbangan ke Hat Yai, Hat Yai merupakan kota yang terletak di Provinsi Songkla tempat tujuan kami, kita bergegas karena memang check ini pesawat mengharuskan kita sudah tiba 1 jam sebelum keberangkatan untuk menghindari keterlambatan sebenarnya waktu keberangkatan ke Hat Yai masih tersisa dua jam tapi tidak ada salahnya kami check in terlebih dahulu dan bisa beristirahat ketika menunggu pesawat boarding.


Sesampainya di konter pesawat ternyata check in belum dibuka jadi kita harus menunggu hampir satu jam dan disinilah kita bertemu dengan Cinta dan Putri, setelah kami berkenalan ternyata putri adalah teman sekelas Pras waktu kuliah dan cinta adalah teman putri ketika SMA jadi sama usia mereka masih mudah selisih dua tahun dibawahku, ada yang aneh dari perjalanan ini padahal sudah waktu keberangkatan sudah tersisa dua jam kenapa belum dibuka, kami coba menunggu di depan konter dan ternyata tetap pukul 12.00 konter mulai dibuka dan aku lihat antrian tak terlalu ramai kami berempat mengantri, kebetulan aku diantrian pertama.


Aku menunjukkan passpor dan e-tiket milikku penerbangan kita petugas mengangguk kemudian memerintahkanku untuk menimbang barang bawaan berupa tas dan koper milikku, setelah ditimbang ternyata 55 kilogram atau lebih 35 kilogram karena maskapai yang kami naiki memberikan free bagasi hanya 20 kg, petugas konter menyampaikan jika kelebihan perkilogramnya Rp 150.000


“Jadi abang harus membayar Rp 5.250.000”


Mendengar itu semua seketika wajahku pucat pasi


“Bang gimana saya hanya bawa uang dua juta, tolong bantu saya ya, Bang.”

__ADS_1


“Gini … Bang, abang minggir dulu biar nanti saya coba carikan solusinya”


“Kenapa Mas Dani?” Tanya Pras


Aku mulai memelas karena aku tak ingin merepotkan teman-temanku karena ulahku sendiri


“Gak apa-apa, Pras. Kamu duluan aja.”


Aku berdoa pada Allah semoga ada solusi dari masalahku ini tas koperku terisi sangat berat dikarenakan ibu membawakanku banyak makanan untuk persediaan selama di Thailand aku sempat berfikir untuk membuang barang tak penting dari tas dan koperku tapi abang konter tidak mengijinkan akhirnya aku mengikuti saran dari dia.


“Subhanallah … subhanallah ….”


Dalam hati aku tak lepas mengucapkan kalimat tersebut dan setelah beberapa penumpang selesai check in si abang tadi memanggilku.


“Ini, Bang … sudah,” sambil memberikan boarding pass padaku, ternyata abang tadi membantuku dengan menggunakan bagasi penumpang yang tidak terpakai.


Alhamdulillah setelah itu aku merasa lega karena masalah selesai dan sebagai ucapan terima kasih aku berikan sedikit uang sakuku pada abang tersebut, walau dia menolaknya tapi aku paksa karena aku ikhlas memberi sebagai wujud rasa terima kasih.


Kalau pesawat pertama hanya suara bising yang mengganggu maka kali ini bukan hanya suara bising tapi juga turbulensi pesawat ketika mau take off maupun landing perut terasa berputar-putar, meski perjalanan Medan Hat Yai hanya 45 menit tapi perut rasanya mau muntah.


Sesampainya di Thailand kita di Jemput mobil van bertuliskan Faculty of Nursing Prince of Songkla University untuk menuju International Dormitory PSU tempat kita tinggal, kami semua diantar oleh kakak senior berkumis lebat dengan rabut agak ikal kami menyebut dia Bang Ian, laki-laki dari Polewali Mandar Sulawesi Barat adalah kakak senior angkatan 2013, ketika di dalam van dia banyak cerita tentang program yang nanti kita jalani yaitu master in nursing science.


“Nanti research kalian diajar oleh Ajarn Wongchan ama Ajarn Narissara orangnya cerdas dan tegas loh tapi kalau tidak salah Ajarn Wongchan udah mau pensiun tahun ini,” kata Bang Ian


Aduh senior ini baru sampai Thailand aja udah ngomongin kuliah, dalam hati aku berucap


“Terus gimana, Bang? Kuliahnya susah atau tidak,” tanya Mbak Koming


Hanya gadis Bali ini yang menanggapi semua ocehan Bang Ian tentang kampus kami, kemudian Bang Ian berpesan.


“Kalian harus kompak ya biar lulus semua.”

__ADS_1


“Iya benar, Bang … yang penting kita lulus bareng,” Mbak Koming menguatkan.


Setelah itu aku mendengar Mbak Koming kembali berkisah tentang perjalanannya ke Hatyai, kisah yang sama ketika perjalanan Jakarta dan Medan yaitu kisah dia berangkat tidak menggunakan beasiswa untuk kuliah di PSU.


“Kok bisa?” Bang Ian kaget.


“Iya Bang aku gak tahu pengumuman beasiswanya kapan,” dengan ekspresi sedih Mbak Koming menjawabnya.


Memang beasiswa adalah kendala utama dalam kuliah di luar negeri khususnya di tempatku bayangkan saja uang semester kita 80.000 baht atau sekitar 32 juta rupiah karena kurs baht terhadap rupiah kurang lebih 400 rupiah, belum lagi tempat tinggal dan biaya hidup di Thailand mungkin hanya orang kaya raya yang bisa membiayai kuliah semahal itu.


Jika ingin kuliah di luar negeri dengan gratis alias tanpa biaya sebenarnya hanya butuh dua hal yaitu LOA dan Beasiswa, LOA adalah letter of acceptance atau surat yang menyatakan bahwa kita diterima di kampus yang kita tuju baru dengan surat itu kita mengajukan beasiswa ke berbagai macam institusi penyedia beasiswa.


Kebetulan di kampus kami ada beasiswa TEH-AC yang mengakomodir semua kebutuhan mahasiswa selama melakukan studi di Thailand kita semua dapat beasiswa tersebut kecuali Mbak Koming.


“ Jadi kamu biaya sendiri?”


“Iya, Bang … ini aja aku jual mobil,” kata Mbak Koming dengan wajah sedihnya.


Kegiatan minggu awal kita di Faculty of Nursing Prince of Songkla University atau biasa disingkat FON PSU adalah preparation course sejenis ospek atau pengenalan program studi, namun OSPEKnya berbeda, disini kita hanya diajarkan sekilas tentang cara membuat artikel yang baik dan benar, yang tujuannya untuk mempermudah thesis kita ke depan, ada beberapa orang dosen atau yang biasa kami sebut ‘Ajarn’, Ajarn adalah panggilan dosen di Thailand sama seperti ‘Sensei’ di Jepang.


Beberapa orang Ajarn sudah masuk kelas kami tapi yang menarik bagi teman-teman ada salah satu ajarn yang cukup anggun, bahasa inggrisnya fasih dan jelas, pakainnya selalu mempesona dengan baju blus bermotif bunga-bunga dan rok span bermotif tradisional Thailand, kecantikannya tanpa celah dengan poni rambut di blow, kulit putih oriental wajahnya mirip artis hollywood Michelle Yeoh dalam film crazy rich asians, namanya Ajarn Asst, Prof Narissara, PhD atau biasa dipanggil Ajarn Nai, sama seperti namanya yang berarti wanita cerdas teman-teman dibuat terkagum-kagum olehnya.


“ Orangnya pintar Mas, anggun, lulusan Amrik pula, publikasinya banyak perfect banget pokoknya.”


Michael berucap bag memberitahu rahasia besar pada kepadaku, laki-laki tambun berkulit coklat dari Bandung, dia memanggilku mas atau kakak karena memang usia dia lebih muda dariku dia tahu informasi tersebut setelah iseng searching di google ketika ngobrol dengan Bang Ian di van waktu itu, tapi aku tak tertarik dengan apa yang disampaikan olehnya hari ini.


Keesokan harinya tepatnya senin hari pertama kita mendapatkan materi tentang research dan pemberi materi adalah Ajarn Narissara, 15 menit sebelum kuliah kita sudah stand by di dalam kelas. 5 menit sebelum kuliah beliau datang, membuka pintu sambil mengatakan hallo dan mereka serempak berdiri kecuali saiful yang sedikit terlambat, dia hanya mengikuti saja, kemudian mereka mengucapkan ‘Sawasdee ka ajarn’. Kemudian ajarn membuka laptop dan membuka slide pertama hanya satu kata dengan font size yang cukup besar bertuliskan ‘Research’, kemudian Ajarn Narissara bertanya “ What do you think about this?” sambil menunjuk ke arah slide, “ Please, raise your hand” dengan tersenyum dan menatap mata kita satu persatu, dia ingin mengetahui seberapa kritis nalar dan pemikiran kita tentang arti kata research.


Aku sigap mengacungkan tangan, “Yes, Dani” kami semua menggunakan papan nama atau kartu di dada persis seperti siswa SD yang sedang malaksanakan tes hasil belajar (THB) tapi sayang kartu didalamnya hanyalah kertas bisa dan bertuliskan nama menggunakan spidol besar jadi kurang begitu indah dipandang karena tidak presisi bentukan, maklum tulisan tangan, namun manfaatnya Ajarn bisa dengan jelas melihat tulisannya dan semakin mudah menghafal nama kami.


Satu persatu kami memberikan pendapat tentang research kurang lebih 15 menit kemudian Ajarn Narissara melanjutkan kuliah pada slide selanjutnya, dia menjelaskan secara runtut dan bila ada salah satu dari mereka yang menunjukan wajah merengut, ajarn tidak segan-segan untuk bertanya, are you understand?, perkuliahan berjalan dengan baik dan mudah dimengerti karena Ajarn Narissara memberikan pemahaman yang runtut tidak melompat-lompat apabila ada yang bertanya tapi belum sampai pada materi yang dijelaskan, beliau tersenyum dan mengatakan letter you will be understand

__ADS_1


__ADS_2