
Hari ini aku sampai Hat Yai setelah satu minggu di rumah walau kondisi abah belum sembuh benar tapi dia sudah bisa mengenaliku dan teteh yang menjaganya, aku tak peduli akan defense yang akan dilaksanakan kurang dua hari kedepan dan masih sering kepikiran Abah.
Walau begitu aku tetap menyimpan semangat untuk lulus secepatnya hingga tibalah waktu final defense, lagi-lagi aku menjadi yang pertama untuk ujian di pagi hari, baru setelah itu siangnya adalah Mas Saiful dan Mbak Koming bergantian untuk ujian dan sore harinya FON sudah menyiapkan kami farewall party untuk perpisahan.
Dengan persiapan seadanya aku melangkah menuju ruang sidang, empat ajarn dan satu Advance Practice Nurse (APN) dari songklanagarin sudah menugguku di dalam, akupun duduk di kursi tepat ditengah ajarn berempat untuk beberapa saat membersiapkan presentasi karena tepat pukul 09.00 sidang akan dimulai.
Setelah persiapan selesai Ajarn Chin mempersilakan aku untuk presentasi selama 20 menit, memang aku sedikit nervous kali ini karena pikiran campur aduk tak karuan tapi aku tetap berusaha untuk tenang dan mempresentasikan hasil studiku, satu persatu mahasiswa FON datang untuk memberikan dukungan.
Setelah presentasi selesai dewan penguji mulai memberikan pertanyaan, mulai pertanyaan remeh tentang judul dan latar belakang permasalahan, awalnya sih tak masalah bagiku, tapi kalau dipikir pikir inikan ujian final defense kenapa kembali menanyakan bab awal, seharusnya sudah masuk di metodologi, hasil dan pembahasan karena proposal aku sudah lulus, tapi aku tetap meladeni pertanyaan dari masing-masing penguji.
Mereka mulai menanyakan saling bergantian tentang studiku mulai bentuk dari self manejemen yang aku terapkan pada pasien diabetes tipe dua sampai pada pengembangan kuisioner yang aku pakai, karena aku mengembangkan program self managemen untuk pencegahan penyakit jantung khususnya pada pasien diabetes tipe dua. Kompleksnya variable dan program yang aku teliti menimbulkan banyak pertanyaan dasar yang sebenarnya sudah dibahas di ujian sebelumnya.
Ajarn Chin selaku advisor hanya bisa diam karena penguji adalah senior-senior yang sangat berpengalaman, aku coba menjawab semampuku tapi belum memuaskan mereka hingga menganggap bahwa thesisku ini lemah dalam studi literature dan pengembangan program lama sekali kita berdiskusi sampai tiga jam lamanya dan akhirnya thesisku masih perlu dibicarakan lagi.
Ajarn Nai dan Ajarn Chin mencoba menengahi jika thesisku sudah bagus tapi kita perlu duduk bersama lagi untuk menyamakan persepsi agar hasil studinya lebih baik, aku hanya terdiam, tanpa ajarn menyampaikan aku sudah tahu bahwa ujian hari ini gagal karena mereka juga adalah seorang pendidik tapi aku tidak terima karena keputusan ini adalah keputusan sepihak mereka tidak mengikuti perjalanan penelitianku selama ini dan memberikan asumsi yang menurutku sudah aku bantah di awal, aku hanya diam mematung tak lagi mendengarkan ocehan mereka hingga final defense pun selesai.
__ADS_1
Setelah ujian selesai aku langsung menuju pintu keluar, tak kuhiraukan ritual foto setelah defense, aku pergi ke dorm jalan kaki, aku menangis … beban pikiran semakin berat, aku benci pada keadaan yang seperti ini, aku melihat sisi ruangan terdiam karena aku hanya diam mematung, marah, sedih, benci campur aduk di kepalaku, aku mengirim pesan pada Mas Saiful.
“Mas gue minta maaf gak bisa lihat final defense lu ya, gue capek.”
Aku semakin menangis sejadi-jadinya benci dengan mereka semua yang telah menyia-nyiakan pengorbananku selama ini karena aku telah merombak studiku sesuai dengan keinginan mereka tapi sampai saat ini masih tetap belum memuaskannya apalagi kondisi abah sekarang belum pulih, ingin rasanya aku pulang dan tak memikirkan kejadian hari ini.
Setelah itu aku tertidur dan terbangun ada sesorang yang mengetok pintu kamar.
“Dan, buka pintu.”
“ Lu nangis ya, cemen lu”
Kali ini aku tak terima dia berbicara seperti itu
“Ngapain lu kemari Mas, pulang sana gak usah ganggu ganggu gue.”
__ADS_1
“Sabar-sabar bos, gini gue tahu lu sedih sama kok nasib kita gue juga nanti ada konsultasi mandiri juga ama penguji tapi santai aja habis itu selesai gak perlu ada yang dipikirkan”
“ Lu tahu gue datang kesini sama sapa? Ajarn Chin ngajak kita keluar sekarang dia mau traktir kita.”
“ Mas lu masih ya mikirin gitu, gitu gue gak mau gue benci juga ama dia sekarang.”
Kali ini aku menyampikan dengan nada tinggi hingga Pras yang juga baru datang hanya bisa diam, mendengar itu Mas Saiful malah balik membentak.
“ Bukannya lu yang dulu selalu bilang ke gue kalau gue harus semangat untuk kuliah, apa dengan lu seperti ini akan selesai kuliah? Ayo jawab! Udah lu cepat mandi ajarn udah nunggu di bawah kita berangkat sekarang, setelah ini permainan selesai gue jamin.”
Mas Saiful pergi meninggalkanku, aku pun menghela nafas sambil berdiri di atas balkon menikmati aliran udara dan danau PSU, dari sana aku tersadar bahwa benar yang disampaikan Mas Saiful ini sudah puncak permainan kalau aku egois dan tak menyelesaikan ini semua maka aku lebih pecundang dari Mas Saiful, akhirnya aku putuskan untuk bergegas mandi dan turun ke bawah menemui ajarn.
Ajarn mentraktir kita di muslim buffet dan memberikan pengertian jika ujian tadi hanya mengklarifikasi apa yang sudah kita kerjakan hari ini, proses yang sudah dilalui sebenarnya sudah bisa dikatakan selesai hanya saja faculty ingin standart thesis ditingkatkan lagi, publikasi internasional sudah menjadi wajib untuk syarat kelulusan.
Setelah itu di malam hari kita langsung pergi ke FON gedung satu untuk mengikuti acara farewell party bersama terman-teman lainnya yang sudah menyiapkan acara, amarahku semakin reda dan merasa bahwa semua yang ada disini memberikan ku kebahagian walah harus berjuang begitu keras tapi itulah proses perjuangan yang harus dilewati jika kita tidak bisa bertahan dengan itu semua maka kita tidak akan pernah merasakan manisnya usaha.
__ADS_1