
28 July 2016 kami terusir dari interndorm, karena memang kami tidak memperpanjang sewa interdorm yang harus dibayarkan selama satu tahun, karena kami hanya tinggal menghitung hari tinggal di Thailand, kami hanya menunggu black book atau bendelan thesis kami selesai, setelah itu melangkapi dengan beberapa form.
Rasa syukur kami panjatkan karena seluruh angkatan kami dinyatakan lulus walaupun dengan syarat yaitu publikasi harus tetap dipenuhi, itu artinya kita tak akan mendapatkan ijazah tanpa adanya tanda bahwa kita telah publikasi.
Dan di bulan-bulan akhir ini aku, Mas Saiful dan Bang Wira hampir tiap minggu merayakan perpisahan ini dengan makan KFC setengah halal tesco lotus, mengapa setengah halal karena kata Bang Wira yang punya peternakan orang muslim di Hat Yai, berdasarkan itu kami mengikuti fatwa Bang Wira bahwa KFC Hat Yai setengah halal, di sana kami bertiga seperti biasa bercanda dan mengenang masa lalu di Hat Yai.
“Sudah dua tahun ya kalian ….”
“Iya Bang … udah bosen di sini.”
Kalimat yang sering kami ucapkan sebenarnya hanya untuk bercanda tapi rasa cinta dengan PSU bag rumah kedua bagi kami, aku teringat pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini, bertemu dengan Mas Saiful, Mbak Koming, Cinta, dan teman-teman lainnya sungguh menjadi momen yang kukenang selamanya, tak ada lagi aktifitas pagi ke reading room, bermalam di LRC, menunggu shuttel bus, belanja ke fresh market dan membeli makanan di Rongchang.
Sepulang dari KFC aku dan Mas Saiful kembali ke shinton atau tempat kost kami, tapi sebelum itu Mas Saiful membawa masuk sepeda motor ke kampus, dan membawaku di teras gedung 1.
“Ngapain, Mas?”
“Gak ada orang, kan?”
“Gak ada.”
__ADS_1
Di depan teras gedung 1 Mas Saiful tengak tengok kanan kiri bag maling yang ingin memastikan bahwa situasi malam itu aman, kemudian dia melepas celana kolornya dan ….
Ser!
Dia kencing tepat di lantai tangga pintu masuk kantor dimana kita sering meluangkan waktu ke reading room dan bimbingan dengan ajarn, mengetahui itu semua aku tertawa terbahak-bahak.
“Gila lu, Mas!”
Mas Saiful menunaikan nazarnya jika kelak dia lulus dia akan pipis di depan gedung satu tempat kita selama ini mengalami berbagai perjuangan dan cobaan selama kuliah.
Karena suara tertawaku yang cukup keras membangunkan beberapa anjing yang sedang tidur terlelap di teras tersebut hingga mereka mulai menggonggong dan kita pun bergegas pulang menaiki sepeda motor.
Tepat tanggal 8 Agustus 2016 aku dan Mas Saiful pulang bersama naik tuktuk phi boon bersama beberapa koper dan tas jinjing, ternyata itu menjadi tanggal pertemuan terakhirku dengan si pencundang.
...****************...
Wisuda merupakan momen bahagia bagi para mahasiswa yang melakukan studi dan itu juga berlaku bagi kami mahasiswa master yang telah menyelesaikan studi di salah satu kampus terbaik di Thailand, ada beberapa hal unik yang bisa kita dapatkan dalam prosesi wisuda di Thailand yaitu wisuda hanya dilakukan satu tahun sekali berapapun jumlah mahasiswa yang di wisuda, bukan karena efisiensi atau anggaran yang tidak memadai karena memang aturan di Thailand yang berhak mewisuda adalah keluarga kerajaan, kami di PSU yang akan mewisuda seperti raja atau tuan putri kerajaan, tahun ini mahasiswa PSU akan di wisuda oleh Putri Kerajaan Somdet Phrachao Nong Nang Thoe Chaofa Chulabhorn Walailak Agrarajakumari dalam bahasa thai สมเด็จพระเจ้าน้องนางเธอ เจ้าฟ้าจุฬาภรณวลัยลักษณ์ อัครราชกุมารี atau biasa dikenal Princess Chulabhorn yang merupakan anak dari Raja Bhumibol Adulyadej.
Kami baru bisa mengikuti wisuda di tahun 2017 atau setahun setelah kelulusan karena wisuda tahun kemarin kami terganjal oleh syarat publikasi. Persiapan wisuda selalu dilakukan dengan sangat hati-hati mulai dari gladi resik sampai prosesi wisuda yang sampai menghabiskan waktu kurang lebih satu bulan, pengamanan sungguh ketat jalan-jalan utama di sekitar kampus ditutup demi keselamatan para wisudawan dan tuan putri tentunya. untuk gladi bersih sendiri butuh waktu satu minggu dan prosesi wisuda dilaksanakan selama tiga hari, itulah alasan mengapa prosesi wisuda di Thailand para wisudawannya berjalan cepat karena tuan putri sendiri yang memindahkan tali toga para wisudawan yang kali ini kurang lebih 10 ribu orang yang di wisuda.
__ADS_1
Kami FON 2014 semua hadir dalam prosesi wisuda kecuali si pencundang Mas Saiful, ketika aku hubungi dia menjawab
“ Acara gak penting … cuma ngabisin duit aja.” Sambil memberi emoticon tertawa dia menjawab pesan, setelah itu dia mengirimkan foto lama sedang memakai pakaian toga wisuda yang sengaja dia sewa dan berfoto sebelum pulang ke Indonesia.
Dasar Mas Saiful, dia tetap seperti yang dulu selalu menganggap sesuatu hal penting menjadi remeh temeh, FON 2014 mendapatkan kesempatan untuk wisuda di hari kedua, setelah prosesi juga ada pemberian penghargaan baik bagi mahasiswa Thai yang berprestasi dan juga mahasiswa international.
Selain IPK tertinggi juga ada penghargaan disertasi dan thesis terbaik, dan ketika giliran thesis terbaik.
Dani Master of Nursing Science
Gemuruh ruang convention hall memberiku selamat dan teman-teman FON juga melihat ke arahku, tak percaya bahwa akulah yang mendapatkan predikat thesis terbaik dan ketika MC mengarahkanku untuk maju ke depan baru lah aku tersadar.
Dihadapan ribuan wisudawan aku mendapatkan penghargaan tersebut yang langsung diberikan oleh dean of graduate school Prof. Damrongsak Faroongsarng, Ph.D. yang sebelumnya pernah berdebat denganku dan Mas Saiful tentang publikasi jurnal international, dia tersenyum lembut padaku dan akupun membalas senyumannya, tampak juga para pimpinan FON yang memberikan applause padaku di sana aku juga melihat Ajarn Nai dan Ajarn Chin yang tampak haru melihat keberhasilanku saat ini.
Terutama Ajarn Nai kali ini adalah kali kedua aku membuat dia menangis setelah praktik di songklanagarin hospital, semua dari kita akhirnya bisa lulus tetap waktu dan mungkin yang membuat dia terharu karena kita semua bisa menghadiri graduation walau tanpa si pecundang Mas Saiful.
Aku juga berfikir mungkin ini hadiah dari tangisanku ketika final defense dan juga doa abah dan umi di rumah, aku sangat terharu dengan momen hari ini, momen dimana perjuangan selama dua tahun berakhir manis, aku juga teringat omongan Mas Saiful yang lagi-lagi terbukti dengan didapatkannya penghargaan thesis terbaik menjadikan kalimat yang disampaikannya ketika aku gagal dalam final defense bahwa akulah yang terbaik.
Hari ketiga aku menyempatkan untuk mampir ke kampus dan tempat-tempat di kampus untuk sedikit bernostalgia setelah setahun lamanya dan seperti biasa mengunjungi Ronchang, Mak linda, Mak cayen, sopir bus dan semua orang yang aku temui pasti bertanya ‘Mana Saiful? tak terkecuali Ajarn Nai, si pecundang ini tetap saja diingat walau sudah setahun lamanya tak pernah mengunjungi kampus ini ketika aku mendengar itu aku hanya tersenyum menjawab ‘Indonesia’, bahkan sampai tiga tahun berikutnya ketika aku datang ke PSU membawa mahasiswaku untuk exchange student nama Mas Saiful masih dikenal di sana.
__ADS_1
Dari dia aku belajar bahwa kecerdasan intelektual itu penting tapi kecerdasaan emosional dan spiritual juga penting agar keberadaan kita sebagai seorang manusia selalu menyenangkan, dihargai dan diingat sampai kapanpun, tak berlebihan menyebut bahwa rahasia kesuksesannya hanyalah dua kecerdasan tersebut yang terkadang banyak dilupakan.