
Rutinitas tahun kedua perkuliahan hanya fokus pada konsultasi thesis saja, bimbingan mungkin hanya satu minggu sekali karena perjalanan kuliah kami sebenarnya sudah hampir selesai dan menunggu final defense saja, untuk mengisi kekosongan waktu aku dan teman-teman permitha sering mengadakan acara baik di dalam kampus maupun di luar kampus.
Dan bukan hanya itu saja kami juga mendapatkan undangan untuk mengikuti sportfiesta milik ISA-PSU yang merupakan even bagi seluruh mahasiswa dari semua negara yang ada di PSU hingga sport complex ramai dikunjugi mahasiswa berbagai negara yang menonton, berbagai macam lomba diselenggarakan tapi untuk indonesia paling mendominasi di lomba badminton dan tenis meja siapa lagi kalau bukan Bang Wira dan Pak Cecep.
Pak Cecep menjadi juara badminton untuk single dan tenis meja, bang wira sudah pernah juara tahun lalu kebetulan saat badminton single dia ada di laboratorium jadi tidak bisa mengikuti.
Dalam bulutangkis aku dan Mas Saiful selalu dikalahkan dalam setiap set oleh Bang Wira siapapun pasangannya, karena Bang Wira sangat bagus permainnya dan tak kenal lelah menjemput bola.
Mas Saiful pernah bilang … “Masa kita gak pernah sama sekali mengalahkan Bang Wira ya, padahal pasangannya ibu-ibu yang kadang pegang raket aja gak bisa.”
“Iya, Mas penasaran ini gue.”
Tapi di momen Sportfiesta inilah aku ingin menunjukkan bahwa kerja keras itu pasti membuahkan hasil yang maksimal.
“ Mas ayo kita coba serius dan fokus untuk pertandingan hari ini”
__ADS_1
“ Ayo gue juga penasaran tu udah hampir dua tahun masih saja seperti ini”
Kebetulan kali ini Bang Wira berpasangan dengan ibu-ibu karena bagi mereka yang sudah handal bermain tidak boleh berpasangan dengan pemain lainnya karena sudah bisa dipastikan siapa pemenangnya, kebetulan Bang Wira berpasangan kembali dengan ibu-ibu PhD.
Di babak pertama aku dan Mas Saiful berhasil mengalahkan dengan mudah pasangan dari india karena memang mereka tidak tahu cara bermain badminton.
Di babak kedua kami bisa mengatasi permainan dari tuan rumah Thailand dengan skor 2-1, nah di babak selanjutnya, karena permainan sistem gugur kami melawan Bang Wira dan pasangannya.
Di babak pertama kita bisa mengimbangi permainan karena kita selalu mengarahkan bola pada pasangan bang wira tapi tetap kita kalah 21-15, di babak kedua kami kembali menggunakan strategi yang sama tapi aku coba mengintimidasi Bang Wira supaya tidak fokus bermain walau kami tetap asik dan banyak tertawa begitu pula Bang Wira, alhamdulillah kami bisa mengalahkannya dengan skor tipis 21-19.
Skor imbang 1-1 hingga rubber game dimainkan, kali ini aku melihat Bang Wira serius tanpa ada senyum sekalipun, set ke tiga ini aku tidak diberi ampun, Bang Wira mulai berani melakukan smash dan backhand keras pada kami hingga skor berkahir 6-21 dan kami benar-benar seperti anak kecil baru belajar main badminton.
Setelah usai, aku duduk menikmati minum bersama Mas Saiful di tempat duduk penonton aku coba mengambil HP dari tas ternyata tetehku kembali menelfon berkali kali dan mengirim pesan sms jika abah masuk rumah sakit lagi dengan penurunan kesadaran.
Seketika ekspresi ceriaku berubah dan aku bingung, mengetahui itu Mas Saiful bertanya.
__ADS_1
“Ada apa, Dan?”
“Abah masuk rumah sakit lagi, Mas.”
“Gimana keadaannya?”
“Katanya sudah mengalami penurunan kesadaran.”
“ Lu pingin pulang lagi?”
“ Gimana Mas … final defense sudah hampir.”
“Gak perlu khawatir lu pulang aja nanti gue yang urus di sini, lu balik ke Hat Yai waktu ujian akan dimulai, nanti gue kabari.”
Akhirnya sore itu juga aku memutuskan untuk memesan tiket pulang ke rumah, aku memilih langsung penerbangan ke Hat Yai – Singapura lanjut Singapura- Jakarta. Sesampainya di Changi Airport sambil menunggu penerbangan selanjutnya aku banyak merenung, merenung tentang cobaan hidup yang aku alami saat ini, apalagi ada orang yang sedang dalam keadaan sakit hari ini, teman-teman sering mengingatkan untuk ikhlas dan sabar tapi tetap tak semudah yang mereka utarakan bahkan airport changi yang indah dan megah sekalipun tak dapat menghiburku hari ini.
__ADS_1