
Mas Saiful menggunakan jas warna hitam dalam acara tersebut setelah selesai ujian proposal. Tepat pukul 1 siang, berganti aku memulai ujian defense, memang aku memprediksi bahwa polulasi ku akan dirubah, tapi tak apalah setelah dua jam aku berhasil menjawab semua pertanyaan yang disampaikan oleh penguji dan alhamdulilah aku dinyatakan lulus, namun harus merubah populasi yang ada dan berdiskusi dengan kedua penguji tadi, ah lebay rasanya.
Itu berarti aku harus menemui penguji lagi setelah revisi, tapi tetap saja aku merasa sedih, ingin sekali aku membantah tapi aku tak tega, kedua ajarn ini membuatku bingung tapi ya sudahlah, yang penting sudah dinyatakan lulus. Hati tetap tidak terima rasanya, karena aku telah mengikuti semua arahan dari para dosen.
Namun Ajarn Chin dan Ajarn Nai selalu membuatku tegar, satu minggu sebelum ujian aku bicara pada ajarn kalau aku ingin menjenguk abah di kampung aku mendapat kabar dari teteh jika abah baru pulang dari rumah sakit.
Aku juga bercerita kalau uangku habis untuk persiapan datang ke acara conference, ajarn Nai dan ajarn chin menasehatiku agar semangat menyelesaikan revisi ini dan bisa segera pulang ke Indonesia, setelah selesai Ajarn Nai menghampiriku seorang diri dan akan mengganti uang editing untuk writing proposal.
Ajarn Nai selalu meneguhkan hati ini, malam harinya dia mengirimkan fotoku yang sedang tersenyum waktu ujian berlangsung dan untuk pertama kalinya dia mengatakan you did good job, dia adalah orang yang paling memahamiku. Sebelum presentasi, setelah presentasi selalu mengirimkan ucapan padaku, proud to be your advisor.
“Mas gue minggu depan mau pulang, titip ya kalau ada apa-apa kabari ya.”
“Emangnya lu udah bisa collecting data?”
“Iya Ajarn Chin udah Acc, Ajarn Nai besok katanya.”
“Sama gue juga, tinggal Ajarn Nai seperti biasa revisiannya banyak”
“ Gue ikut, lu pesen tiket berdua dengan gue.”
__ADS_1
“Emangnya lu yakin minggu ini selesai.”
“Gampang itu”
Akupun membelikan tiket bus dan pesawat untuk kami berdua dan selang beberapa hari setelah aku Acc Mas Saiful juga Acc pembimbing untuk melakukan data collection.
Seperti biasa kita naik bus consortium dari depan Lee Garden Plaza adalah cara hemat untuk menempuh perjalan dari Hat Yai ke bandara kuala lumpur meski agak ribet dan lama kurang lebih 10 jam total perjalanan.
Di lantai dua bis double deck ini aku dan Mas Saiful ngobrol ngalor ngidul mulai dari pertama-kali kita kuliah dan sampai saat ini kita mau selesai, bernostalgia sejenak menikmati beratnya masa-masa studi master dan aku juga bertanya.
“Mas lu kok bisa cepet revisi proposal hari ini dan bisa langsung data collection?””
“Lu apain lagi ajarn? Gombal? Pencitraan lagi?”
“ Gue bilang kalau mau nemenin lu kasian Dani ajarn, dia pulang sendiri saya khawatir ada apa-apa karena dia labil.”
“Setan lu, lu bilang gitu ama ajarn?”
Lagi-lagi dia jadikan aku umpan untuk kepentingannya dan lagi-lagi ajarn tersentuh dengan wajah memelas yang selalu ditampilkannya itu.
__ADS_1
“ Bukan itu alasan utama gue, gue ingin dateng ke perayaan ulang tahun anak gue,” dengan wajah sedih Mas Saiful mulai menceritakan kalau dia kangen anak yang dia tinggalkan saat usia tujuh bulan hanya untuk kuliah.
“ Emang kapan acaranya, Mas?”
“ 15 Desember ”
“Lah ini kan masih September, Mas?”
Dia malah cekikikan ….
...****************...
Setelah puas mengerjakan analisa data selama beberapa bulan dan kembali ke Hat Yai, masalah baru pun muncul, pihak graduate school atau bagian pasca sarjana di kampusku menginginkan untuk setiap mahasiswanya publish di journal internasional terindex scopus dan ISI dia data base journal ini sangat sahih dan sukar untuk ditembus, jangankan mahasiswa … selevel ajarn saja perlu waktu untuk menembusnya, sedangkan batas waktu beasiswa hanya sampai bulan Agustus, ini sangat tidak masuk akal ketika aku membaca kontrak beasiswa tidak ada kata harus terindex scopus atau ISI, hanya peer review international yang artinya jurnal internasional dengan reviewer berbagai negara sudah cukup. Kesulitan lainnya untuk menembus jurnal professional harus jurnal yang kredible tidak termasuk jurnal predator atau jurnal asal kita punya uang pasti publish dan pastinya memakan waktu yang lama, itulah tantangan kita.
Kami mahasiswa international menghadap graduate school menanyakan perihal syarat kelulusan berupa publikasi jurnal staf graduate school tidak bisa menjawab dengan tegas karena kami semua membawa surat kontrak perjanjian beasiswa, belum lagi ada banyak pertanyaan yang merebak di antara kami tentang kelulusan apakah kami bisa mendapatkan kelulusan tahun ini atau harus menunggu 1 tahun sampai publikasi kita diterima di jurnal internasional.
Aku dan Mas Saiful juga berkoordinasi dengan seluruh mahasiswa international angkatan 2014 yang ada di PSU mulai dari mahasiswa india, vietnam, kamboja, laos, china dan banyak lagi terutama mereka yang tinggal di dorm yang sama dengan kami untuk menanyakan kepastian ini karena mengalami kebuntuan akhirnya kami diberikan waktu untuk audiensi langsung dengan dean graduate school.
Setelah kita bertemu dengan dean graduate school Prof. Damrongsak Faroongsarng, Ph.D. Dean menyampaikan jika mereka concern dengan jurnal predator yang marak di dunia saat ini dan mereka tak ingin beasiswa yang diberikan mendapatkan impact publikasi jurnal tak kredibel seperti itu, kami ngotot terutama aku dan Mas Saiful, kami berpendapat seharusnya jika demikian pernyataan itu tertulis di surat perjanjian kontrak beasiswa jangan seperti ini dan jika aturan ini baru seharusnya jangan diberlakukan pada kita yang sudah di penghujung jalan.
__ADS_1
Akhirnya kita diberikan solusi bahwa kita bisa lulus tahun ini dengan membawa ijasah sementara untuk original sertificate kita harus menunggu sampai publikasi international di approve, dan itu menjadi angin segar bagi kami karena beasiswa kita hanya sampai bulan Agustus 2016, setelah itu aku mendapatan email dari faculty untuk jadwal final defense ku yang ternyata tanggal 17 juni 2016 tepat dibulan puasa, tak terasa perjuangan ini akan segera berakhir.