
Pagi ini dormintory terasa dingin, karena memang jam masih menunjukkan pukul 05.00, pagi ini kami harus berangkat ke rumah sakit untuk menjalani praktik di medical ward sebagai rangkaian Advance Practice Nurse, hari pertama aku memang tidak menyiapkan apa-apa karena kata Mas Saiful
“Hari pertama praktik hanya orientasi dan pembagian kasus, mirip seperti kita menempuh profesi.”
“ Loh bukannya Ajarn kemarin sudah membagi kasus, Mas?”Tanyaku.
“Iya besok baru kita mengkaji dengan detail, kayak yang gak pernah praktik aja lu, Dan,” kata Mas Saiful dengan santai.
Habis salat subuh aku lihat dia kembali tidur. Akupun percaya saja walau sebenarnya di malam hari aku sudah membuat ringkasan kasus dan asuhan keperawatan singkat untuk besok walau belum selesai karena terus terang aku tak tahu bagaimana praktik rumah sakit disini.
Tepat pukul 6 kita berempat pergi ke Songklanagarind agar kita bisa cepat ke rumah sakit menaiki shuttle bus, pak tua sopir shuttle bus sudah menungguku, Mas Saiful selalu pertama menyalami dia bag seorang santri ketemu seorang kiyai dan berbicara dengan bahasa Thailand alakadarnya untuk menyampaikan tujuan kita karena sebelumnya kita cukup mengatakan payaban neung atau payaban sam artinya gedung satu dan gedung dua, tapi kali ini Mas Saiful punya kosakata baru untuk menuju songklanagarin hospital dalam bahasa Thailand yaitu ‘rong ban’ yang artinya ‘rong payaban’ atau dapat diartikan rumah sakit.
Sesampainya disana kami langsung masuk pintu samping rumah sakit dan menaiki lift menuju lantai 8 karena Ajarn Nai sudah menunggu.
Di ruang medical aku, Mike dan Mas Saiful satu kelompok sedangkan Pras di kelompok surgical tempat yang akan kami tempati dua minggu kemudian, di ruangan kami melihat banyak pasien serta peralatan medis dan lalu lalang perawat melakukan tindakan keperawatan namun diantara perawat tersebut ada salah satu perawat cantik yang duduk dan berdiri menuju wastafel.
“Cantik juga mak gue,” kata Mas Saiful
“Siapa mas, yang itu!” kataku sambil mengarahkan wajah pada seseorang.
“Ya iya lah,” begitulah Mas Saiful dibelakang ajarn dia kadang seenaknya namun didepan ajarn dia bisa seperti orang yang paling mencintai setulus hati.
Aku melihat perawat cantik di ujung sana sedang mencuci tangan aku dan Mas Saiful semakin mendekat ternyata Ajarn Nai berpakaian perawat untuk pertama kalinya, Tak ada poni bergelombang yang biasa kami lihat karena rambutnya diikat dan menggunakan harnet warna hitam dengan cap khas perawat, aura perawat penuh rasa cinta dan kasih sayang terpancar di wajahnya, dia menyambut kami dengan senyuman bag pelayan toko swalayan, sedangkan baju kami adalah baju praktik lusuh sisa jatah bimbingan dari institusi masing-masing, kemudian kami berkumpul satu kelompok dengan mahasiswa Thai untuk memudahkan kami dalam komunikasi.
“ How are you?” Beliau bertanya.
“Fine … Ajarn,” jawab kami serempak sambil tersenyum seperti biasa diantara senyuman kami berempat Mas Saifullah yang paling sumringah.
“ Have you finish your work?” tanya ajarn
Mike dan mahasiwa Thailand menjawab serempak “ Yes, Ajarn”
Gawat ternyata firasatku benar bodohnya aku ini semua gara-gara Mas Saiful, aku menoleh ke arahnya, dia diam mematung.
“How about you, Dani and Saiful?”
Kita berdua hanya bisa diam dan tertunduk lesu …
“ Have you finish?” kembali Ajarn bertanya
Sambil menghela nafas aku berucap ….
“ Not yet … Ajarn,” setelah itu Mas Saiful juga menjawab dengan jawaban yang sama sepertiku.
Mendengar itu wajah ajarn yang cerah berubah redup, ajarn hanya diam menatap kami berdua dengan mata berkaca-kaca, aku tak berani melihatnya begitu juga Mas Saiful.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian air mata itu jatuh tak tertahankan membasahi bedak mahal milik ajarn. Ajarn merasa kecewa dengan aku dan Mas Saiful, ini sudah keterlaluan sudah satu tahun ini kami dibimbing beliau tapi kali ini keterlaluan untuk pertama kalinya Ajarn Nai menangis karena ulah anak bimbingannya, Ajarn yang terkenal tegas dan keras dalam mendidik mahasiswanya akhirnya menyerah apalagi Mas Saiful sebagai adviseenya sudah berulang kali membuat dia kecewa, mungkin ajarn menyerah karena sudah habis cara untuk mendidik kami berdua.
Hari itu aku menjalani praktik dengan sangat tidak nyaman begitu pula Mas Saiful, kami berinisiatif sebelum praktik hari itu selesai untuk meminta maaf. Kami melihat teman-teman asik berdiskusi dengan ajarn sedangkan kita tak bisa berdiskusi karena tidak membuat mind mapping untuk kasus yang kami dapatkan, ajarn terkesan membiarkan kami hingga waktu minta maaf pun tiba walau ajarn hanya diam dan mengucapkan kata
“No problem ….”
Tapi kata itu tetap membuat tak nyaman hati kerena sudah membuat ajarn menangis hari ini.
Hari kedua kita mencoba mengejar ketertinggalan seperti kita sampai rumah sakit lebih awal dan mulai mengikuti timbang terima bersama pasien dan perawat, kemudian melakukan responsi tentang progress pasien perharinya dan setelah kita membantu perawat melakukan tindakan keperawatan tibalah kita untuk melakukan intervensi keperawatan, satu persatu dari kami dibimbing ajarn ketika melakukan intervensi mungkin masing-masing mahasiswa membutuhkan waktu 10-20 menit dalam intervensi tapi tidak untuk Mas Saiful dia selalu mendapatkan jatah lebih dari Ajarn Nai dia selalu memperhatikan dengan detail bukan hanya intervensinya tapi juga sikap dan perilaku terhadap pasien hingga Mas Saiful agak emosi, bagaimana tidak cara duduk aja dan posisi tangan yang benar sampai diajari oleh ajarn, melihat itu aku tersenyum dan berkata pada Mas Saiful.
“Sayang banget pembimbing lu, Mas.”
Dia hanya tersenyum kecut, setelah beberapa hari di ruang medical dari kejauhan aku melihat Cinta dan Mbak Koming datang ke ruangan menghadap ke Ajarn Nai, entah apa yang mereka bicarakan, hingga mereka datang menghampiriku dan Mas Saiful yang sedang asik melakukan tindakan pada pasien.
“Eh gue ama kalian loh pasiennya”
“Ikut-ikut aja lu ngerepotin”
“Yey di ruangan kami gak ada pasien sesuai kasus jadi kami diarahkan kesini, pasienmu sama seperti gue ful,” kata Mbak Koming
“Lu bikin gue susah aja di sini.”
Lagi-lagi grup super santai yang terpisah bersatu kembali ruang medical ini cukup berat sebenarnya karena Mbak Koming dan Cinta sering bertanya padaku tentang kasus di ruangan, dari Ajarn Nai kita juga ikut melihat mengikuti operasi Percutaneous Coronary Intervention atau dikenal dengan PCI, kepala ruang operasi di songkla nagarin hospital adalah seorang dokter lulusan amerika yang tampan dan menjadi salah satu dokter yang memiliki lisensi pertama di Asia Tenggara untuk melakukan operasi Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) yang tak lain dan tak bukan adalah suami Ajarn Nai sendiri. Tapi alhamdulillah kami bisa menyelesaikan 2 minggu praktik di medical ward dan ditutup dengan Ajarn Nai mentraktir kita makan di kantin rumah sakit.
Dua minggu selanjutnya adalah praktik di ruang surgical yang akan dibimbing oleh Ajarn Titibang, Si Ajarn tomboy yang suka mengoleksi boneka hello kitty hingga cover dalam mobilnya full hello kitty, dia cukup anggun dan menarik apalagi statusnya masih single walau sudah berumur, waktu kuliah dia biasa saja tapi ketika di praktik galaknya minta ampun.
Hari ini Mas Saiful dimarahi oleh Ajarn tersebut karena salah menyebut MCG yang artinya microgram menjadi miligram bukannya tak paham tapi karena dia bertanya agak cepat dengan pronunciation yang tidak begitu jelas, setelah habis-habisan memarahi Mas Saiful dia memarahiku karena aku juga tak tahu apa itu MCG. Hari-hari di ruang surgical kami jalani cukup berat dengan pola yang hampir sama setiap harinya Mas Saiful atau Mike yang kena marah terlebih dahulu kemudian aku baru setelah praktik akan berakhir dia begitu lembut pada kita bertiga.
Tapi itu hanya berlangsung selama satu minggu minggu karena minggu berikutnya Mas Saiful mulai melakukan rayuan gombal padanya, Mas Saiful membuatkan dia booklet keren tentang thoracic aortic aneurysm hasil diskusi mereka berdua hingga dia menguploud di halaman facebooknya dengan tulisan.
You make my day Alex …
Thank you for your masterpiece, yes, this book is not perfect but for me, this is the most special & spectacular TAA booklet in the world. I showed it to some nurses at male surgical ward, they appreciate all you do. Alex, ‘don’t wait the perfect moment, take the momen and make it perfect’, be happy, be bright. Be you, keep going. Cheers!
Mengapa ajarn memanggil Mas Saiful dengan nama Alex karena waktu diperkenalan dia memperkenalkan diri dengan nickname Alex layaknya mahasiswa Thailand yang memiliki nikcname jauh dari nama aslinya, nama gombal yang pernah dipakai merayu anak thai dulu.
Tidak sampai disitu rayuan gombal Mas Saiful ketika diruang diskusi dia mengatakan kalau Ajarn cantik jika rambutnya dipotong agak pendek seperti Rekha/ Si Bo’ yang diperankan oleh artis cantik Thailand Pamela Bowden di drama jadul Thailand lady of the poor atau badai asmara yang lagunya sering diputar Mas Saiful di pagi hari, ternyata Ajarn juga tahu serial drama Thailand tersebut
“ Kamu tahu juga drama itu”
“Iya Ajarn dulu waktu SD booming di Indonesia”
Akhirnya mulailah mereka berdua bercerita bersama menceritakan pengetahuan masing-masing tentang drama tersebut, aku hanya jadi pendengar karena tak paham dengan apa yang mereka bicarakan karena iseng aku coba searching di internet drama badai asmara atau lady of the poor ternyata pemerannya memang cantik dengan rambut pendek, sesekali aku melihat Ajarn yang nampak sangat senang sekali hari itu, hasilnya keesokan harinya Ajarn potong pendek persis seperti pemeran di sinetron tersebut.
Tidak sampai disitu kejailan Mas Saiful, dua hari sebelum praktik di surgical selesai aku menderita demam hebat yang mungkin disebabkan oleh kelelahan karena praktik tiap hari baru selesai pukul 4 sore belum lagi malam harinya kita menyiapkan evidance base untuk tindakan yang akan kita lakukan.
__ADS_1
***
Hari ini hari kamis dimana suhu tubuhku sudah sangat tinggi, Mas Saiful mengabarkan pada Ajarn kalau aku panas dan dengan sigap ajarn membawa kami ke poli untuk periksa, setelah itu aku mendapat beberapa vitamin untuk diminum, perlu diketahui disini sangat sulit sekali mendapatkan antibiotik, setelah selesai berobat Mas Saiful berdiskusi dengan ajarn dan mengatakan apa aku sebaiknya pulang untuk beristirahat dan Ajarn mengijinkan karena Mas Saiful bilang akan menemaniku.
Akhirnya aku mendapat keringanan pulang jam 12 siang hingga hari jumat dengan diantar Mas Saiful ke dorm, setelah naik lift bukannya menemani malah aku disuruh jalan sendiri.
“ Sana istirahat wong cuma panas aja, manja lu”
Dia malah pergi ke kamarnya seperti tidak ada apa-apa.
****
Di sini presentasi bukan hanya sebagai laporan ringkas dan case study atau aktivitas yang kita buat namun juga ajang gengsi setiap mahasiswa dan Ajarn, khusus case study kita juga dianjurkan untuk konsultasi pada advisor thesis kita, dengan kata lain ketika mahasiswa presentasi advaiseenya baik maka gengsi advisor juga naik, perang gengsi di sini secara tersirat dapat dilihat dalam proses presentasi, kami semua harus bisa menyajikan yang terbaik mulai dari tampilan slide sampai content yang jelas dan benar, adu gengsi juga ada pada Ajarn, ada banyak cara ajarn melidungi dan membantu agar bimbingannya tidak keliru dalam presentasi karena kalau sampai bimbingannya jelek dalam presentasi beliau juga malu.
Mudah untuk menilai baik atau tidak nya presentasi yang kita lakukan, secara tidak langsung ada kriteria kita sukses dalam presentasi yaitu komentar Ajarn, ada bermacam-macam komentar Ajarn yang dapat didefinisi sebagai penilaian oleh kami, Ajarn disini pantang mengucapkan jelek jadi penilian terendah adalah better jika ajarn bilang ‘you did much better’ itu artinya presentasi kita biasa aja dan ada kemajuan sedikit, yang kedua adalah ‘good’ dengan tambahan kata “’but’ atau bagus tapi, kata tapi itu banyak menggandung revisi jadi itu standar kedua, ada lagi good job, kata ini yang ditunggu oleh kami, kata good job sudah dapat mengintepretasikan baik, tapi masih tetap ada kata but didalamnya terasa kurang.
Dari presentasi sebelumnya aku bebarapa kali mendapatkan good job dengan kata but dan yang terbaik adalah very good job ini adalah kata-kata bagi mereka yang dapat presentasikan dengan baik dan terbaik, dari sekian mahasiswa angkatanku hanya Kak Sari yang pernah mendapatkan very good job dan teman dari Nepal selain presentasinya bagus bahasa inggrisnya juga bagus, untuk kelompok rajin biasanya mereka mendapatkan good job baik indonesia Thailand dan Nepal, untuk kelompok super santai selalu mendapatkan pujian good tapi dengan but yang cukup banyak selebihnya much better apalagi mas saiful dia langganan much better karena dia sering buat power poin 15 menit sebelum presentasi dimulai.
Tibalah hari presentasi itu kita harus mempresentasikan laporan kami, laporan ini bukan sembarang laporan karena prosesnya memakan banyak waktu dan jumlah sks totalnya adalah 4 sks, 2 sks untuk teori dan 2 sks untuk praktek, dan 4 ajarn semuanya hadir, disini mereka mempertaruhkan gengsi meraka dalam membimbing mahasiswanya dengan jabatan fungsional pembimbing adalah assist dan assoc professor , sebelum itu aku telah banyak melewati presentasi dan kali ini aku harus menjadi yang terbaik, aku lihat Mas Saiful juga ingin menyiapkan presentasi dengan matang kali ini.
“ Sebagai wujud rasa bersalahku karena sudah membuatnya menangis di ruang medikal dulu.”
Ajarn kali ini memberikan reward spesial tidak seperti presentasi-presentasi sebelumnya yang hanya menyampaikan dengan kata-kata, siapa saja yang menjadi presenter terbaik maka akan mendapatkan hadiah spesial dari Ajarn yaitu hadiah pulpen.
Pulpen merupakan simbol kebanggaan akademik bagi para akademisi di dunia barat kalau tidak percaya anda bisa lihat film beautiful mind yang mana setiap ada peraih penghargaan nobel sebelumnya pasti ada sesi pemberian pulpen atau bergeser di film india kalau kita lihat film three idiot siswa berprestasi disana mendapatkan pulpen dari dosennya, mungkin ajarn terinspirasi dengan itu karena mayoritas ajarn kami lulusan amrik.
Dan waktu presentasi dimulai hampir semua dari kami mempresentasikan hasil praktik di rumah sakit dengan bagus baik dari tampilan power poin maupun hasil studi yang disampaikan, kemudian Ajarn Nai membagikan selembar kertas pada masing-masing dari kami untuk mengisi siapa yang layak mendapatkan the best presenter, kami pun kebingungan kerena tak tahu harus menuliskan siapa hingga Mas Saiful menghasut kelompok supersantai untuk memilihnya dia berkata sambil berbisik
“Ayo kita buat kelompok rajin itu bertekuk lutut pada kita hari ini, kalian pilih gue ya?”
“Ah lu mas enak sendiri,” jawab Cinta
“Eh Cin lu gak bakalan menang tau realistis aja lawan lu itu orang-orang yang dapat good job semua, begitu juga Mbak Koming gak mungkin.
Dipikir pikir benar juga kata Mas Saiful begitu juga aku tidak mungkin bisa menang dari mereka kalau voting seperti ini akhirnya aku memutuskan suaraku untuk Mas Saiful, tidak sampai disana dia juga melobby rifa untuk memilihnya dia kembali berbisik.
“Fa lu pilih gue ya!!”
“Enak aja lu mas emang gue dapet apa?”
“Kalau gue menang pulpennya untuk lu, oke”
“Bener ni?”
Akhirnya setelah voting Mas Saiful berhasil mendapatkan vote tertinggi dengan lima suara karena kelompok yang lain mendapatkan suara masing-masing satu suara dan aku yakin mereka memilih diri mereka sendiri, karena mereka individual wajar kalau menghasilkan hasil yang seperti itu, cerdik juga Mas Saiful.
__ADS_1
Akhirnya si pecundang itu mendapatkan pulpen dan verygood job dari Ajarn, sebenarnya ada tiga orang yang mendapatkan very good job pada hari ini dan akhirnya dia terpilih sebagai the best presentation, aku lihat Ajarn Nai tampak terharu dengan pencapaian Mas Saiful kali ini dan dia berkata padaku setelah acara itu selesai untuk pertama kalinya Ajarn Nai mengirim pesan line padanya ‘you did good job Saiful’ dan dia merasa bahagia.