
Entah mengapa hampir seluruh mahasiswa kagum dengan Ajarn Narissara tapi tidak dengan Mas Saiful, walau dia adalah anak bimbingannya tapi dia tampak tak peduli, perubahan terjadi setelah beberapa kali bimbingan.
Tanda-tanda itu sudah bisa aku lihat ketika asik bercanda di kamar akan berubah hening ketika aku bertanya tentang Ajarn, raut bahagia Mas Saiful mendadak hilang seketika, padahal di awal semester Mas Saiful adalah orang yang sangat dicintai Ajarn dan hanya Mas Saiful yang dapat membuat Ajarn Nai tersenyum. Belum lagi kalau mengingat apa yang telah dilakukan Mas Saiful ketika kita menghadiri perpisahan Ajarn Wongchan di penginapan terapung kohyor , Ajarn Nai sampai terpingkal pingkal melihat aksi Mas Saiful joget buka sitik jos ala cesar YKS.
Namun setelah itu entah mengapa sepertinya Mas Saiful tidak terlalu semangat mengikuti perkuliahan Ajarn Nai dan Ajarn pernah bercerita padaku untuk memberikan semangat pada Mas Saiful, kebetulan Ajarn Nasissara adalah CO Advisorku jadi karena penasaran aku mencoba bertanya kepadanya.
Ajarn bercerita jika Mas Saiful ingin melakukan penelitian untuk pengembangan model keperawatan tapi Ajarn menolak dengan halus dan berkata ‘ jika kamu meneliti ini saya yakin tak akan selesai dua tahun’ dan setelah itu dia tampak tak semangat lagi.
Dampak lainnya nilai statistic dan researchnya yang hanya mendapatkan nilai C+ yang notabene Ajarn Nai selaku koordinator mata kuliah tersebut dan Mas Saiful tak mau mengikuti ujian ulang padahal ada beberapa teman yang juga mengulang seperti Mike dan mahasiswi lainnya, memang sih ujian statistik dan riset sangat susah bayangkan 25 lembar soal harus kami kerjakan dalam bentuk essay dan multiple choice dan grade nilai disini untuk mendapatkan nilai A skor minimal 90 keatas, 85 keatas B+, 80 keatas B dan C+ 75, untuk nilai kami bisa mengakses di e-learning dan sempat aku lihat jika nilai Mas Saiful 78 hanya butuh 2 poin untuk mendapatkan B.
Dari situ aku paham mengapa Mas Saiful tampak tak memperdulikan Ajarn lagi, aku hanya khawatir jika Mas Saiful sampai bermasalah dengan Ajarn akan mempengaruhi studinya, banyak cerita mahasiswa disini yang tak selesai studinya selain faktor nilai juga karena punya masalah pribadi dengan pembimbingnya sehingga terbengkalai selama bertahun-tahun sampai-sampai ada yang drop out.
__ADS_1
Memang Ajarn Nai terkenal sangat teliti dalam membimbing dan banyak diantara mereka yang tak lulus tepat waktu bahkan ada yang lulus sampai 4 tahun untuk seorang master.
Jika itu sumber pendanaan beasiswa yang lain mungkin masih bisa dimaklumi dan memberikan perpanjangan tapi ini adalah sumber pendanaan TEH-AC yang hanya memberi beasiswa maksimal 2 tahun, karena ada juga senior kami yang harus membayar pribadi karena beasiswanya telah habis, aku yakin Mas Saiful tak akan mampu untuk biaya pribadi.
Sejak saat itu, jika aku main ke kamarnya, aku mulai memberi semangat padanya dengan hati-hati karena aku tak ingin membuatnya tersinggung dan marah.
“Mudah-mudahan ya Mas kita bisa lulus tepat waktu, kalau gak bisa tekor kita,”
“Emang Ajarn pernah bilang gitu?”
“Pernah, dia bilang kamu yang semangat ya biar lulus tepat waktu”
__ADS_1
Mas Saiful berbicara sambil menirukan gaya bicara Ajarn yang feminim hingga membuatku tertawa.
“Trus lu jawab apa?”
“Ya gue jawab kalau gak selesai gue give up dan pulang kampung, beres?”
Mendengar itu aku kaget karena tak satupun orang berani membantah Ajarn seperti yang dilakukan Mas Saiful keterlaluan memang, tapi aku masih penasaran kenapa dia tidak ikut ujian susulan apa karena penanggung jawab dari mata kuliah tersebut Ajarn Nai.
“Trus kenapa lu gak ikut remidi research dan statistic, Mas?”
“Yang penting IP ku sudah 3 itu cukup bagiku karena syarat beasiswa minimal IP 3 tak perlu terlalu memaksakan, aku juga males ngerjakan soal berlembar-lembar itu lagi, hidup itu simple jalani, gak suka berhenti.”
__ADS_1
Dia malah menceramahiku, beberapa minggu ini aku memang paling dekat dengan Mas Saiful karena kita tidak terlalu serius dalam kuliah, sejujurnya aku juga tak terlalu suka dengan teman-teman yang terlalu berlebihan dalam belajar, disuksi sampai larut malam bahkan seharian di reading room, aku tipikal orang yang serius tapi santai dan satu-satunya orang yang dapat aku ajak untuk santai dan pasti punya waktu hanyalah Mas Saiful tapi dia terlalu santai menurutku dan lebih menganggap main-main saja, tapi aku juga ingin dia memiliki target lulus tepat waktu.