
...Langsung Kalahkan saja yang Terkuat...
Elena meluncurkan ke dalam hutan menggunakan Shunshin no Jutsu. Masih ada beberapa hewan di hutan ini, namun Elena mengabaikan semua hewan biasa karena akan merusak rantai makanan kalau semua hewan dibantai dan membantai semua hewan iblis menggunakan Chidori.
Setelah waktu yang singkat, Elena menangkap sesuatu dalam mata Sharingan miliknya. Itu terlihat seperti benang baja dengan ketebalan yang sangat tipis namun juga sangat tajam dengan kekuatan fisik Elena saat ini, dia akan langsung terpotong jika tidak memperkuat tubuhnya. Kabar baiknya, dia masih bisa memulihkan anggota tubuhnya yang terpotong menggunakan Vitakinesis.
'Apa itu?'
*Chirp!*
Tanpa pikir panjang, Elena menggunakan Chidori miliknya dan langsung memotong benang yang menghalangi jalannya.
*Tap!*
Dia berhenti dan mengamati benang baja yang baru saja dipotong olehnya.
"Hmm, menggunakan benang baja sebagai perangkap. Selain itu, benang ini memiliki kemampuan untuk mengiris daging dengan mudah. Mereka yang memasangnya pasti pintar, apakah dia adalah seorang ninja lain di dunia ini?" Elena memegangi dagunya.
Dia melanjutkan dengan mengaktifkan Penerawangan dan mengamati area di sekitarnya. Berbagai gambaran tentang area sekitar masuk ke dalam kepala Elena dan dia dengan mudah mengetahui apa yang terjadi.
Di suatu tempat, Elena melihat sebuah rumah kayu di tengah hutan. Ia yang menggunakan Penerawangan, dapat mengetahui bahwa masih ada orang yang tinggal di sana melalui perabotan di sana yang masih tertata rapi.
"Ya, sudahlah. Pagi pula aku yakin ada satu atau dua pemburu yang ikut menjadi iblis karena ulah Schronom. Tidak ada gunanya aku menghampiri mereka yang dan membantai semua orang secara acak." Elena menghentikan langkahnya sambil mengamati hutan di sekitarnya sebelum berbalik.
'Apa kamu yakin tidak apa-apa? Kamu mungkin akan mendapatkan amal baik kalau menghapus semua kenangan di sini, heh.' Perkataan Kurama ini lebih terdengar seperti sindiran.
'Aku rasa aku tidak perlu melawan semua iblis. Aku hanya perlu melawan yang terkuat dan mengalahkan dia dengan cepat, kemudian secara otomatis gempa ini akan menjadi milikku. Kau tahu sendiri, 'kan? Yang terkuat biasanya menjadi pemimpin dalam sebuah kelompok dan akan diikuti oleh lainnya. Jadi jika aku mengalahkannya, semua iblis di sini otomatis akan mengikutiku. Aku tidak perlu repot-repot memburu mereka satu per satu.'
__ADS_1
'Terserah kau saja, aku hanya ingin cepat-cepat memurnikan chakraku kembali. Bahkan jika rasa dendam dan amarahku menghilang, tapi chakra milikku masih sedikit tercemar dengan amarah yang sudah tersimpan selama puluhan tahun. Bukankah itu yang kamu katakan sebelumnya?'
'Ya, ya, terserah kau saja. Aku hanya akan menurutimu.'
*Sis!*
Elena menggunakan Shunshin-nya lagi dan mulai menyusuri hutan. Tujuannya adalah ibu kota kekaisaran Bluesphere, di mana Schronom ada di sana.
---
Di ibu kota kekaisaran, suasana di sana sangat kacau. Tempat itu dipenuhi dengan bangunan roboh dan tidak berpenghuni. Selain karena bangsawan Kekaisaran memperlakukan warganya dengan buruk, serangan dari iblis memperparah kondisi ini. Ketika rumah-rumah itu hancur, tidak ada manusia iblis yang cukup pintar untuk memperbaikinya, sehingga infrastruktur yang rusak tetap rusak tanpa perbaikan.
*Sis!*
Tanpa menghiraukan iblis yang ada di kanan-kiri jalan, Elena langsung melesat lurus menuju ke istana kekaisaran. Dia hanya menyisakan seberkas cahaya merah dari Sharingan tanpa menunjukkan sosoknya yang kabur.
*Bom!*
Sesampainya di istana kekaisaran, Elena langsung menuju ke ruang tahta dengan mendobrak pintu masuk sambil meneriakkan, "FBI open the door!"
'Aku rasa kamu sudah gila, Gadis Kecil,' komentar Kurama yang dihiraukan Elena.
Di dalam ruang tahta, terdapat seorang Pria dengan rambut perak dan kulit kecoklatan yang duduk di atas kursi raja yang tidak lain lagi adalah Schronom, lalu ada juga seorang Wanita yang berdiri di depan Schronom dengan memiliki rambut panjang berwarna jahe dengan kulit putih yang halus dan tubuh montok.
Sebagai iblis, tentu saja mereka berdua memiliki bola mata berwarna merah sama seperti orang-orang yang ada di luar. Namun yang membedakan mereka, adalah keduanya yang memiliki aura sihir jauh melebihi semua orang yang ada di luar.
"Hmm, jadi ini ruang tahta dari Raja Iblis? Masih terlihat normal seperti milik manusia pada umumnya. Kupikir, di sini akan memiliki penampilan seperti ruang bawah tanah, suram, dan tidak memiliki masa depan." Elena melipat tangannya dan membusungkan dadanya, merendahkan kedua iblis yang ada di depannya.
__ADS_1
Ia benar-benar sangat meremehkan kedua iblis ini, merasa unggul, dan seperti bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Padahal, memang benar dua bisa mengalahkan iblis di kekaisaran ini seorang diri sekalipun dia tidak membawa senjata apapun. Memangnya apa yang kalian harapkan? Ini adalah novel bertemakan over power protagonist, jadi tentu saja Elena sangat kuat dan hampir bisa mengalahkan siapapun.
"Hmph! Berani sekali kamu datang dengan mendobrak pintu di sini. Apa kamu ingin memberontak terhadap tuan Schronom?" Wanita Iblis tersebut menatap sinis pada Elena.
"Bukan urusanmu!" Elena menunjuk Miria menggunakan jari tengahnya. Sungguh tindakan yang sangat merendahkan musuh dan tidak tahu malu. "Tujuanku adalah mengalahkan yang terkuat di tempat ini, kau tahu? Jika kalian berani, dua lawan satu pun aku sama sekali tidak takut!"
"Kau!" Dia menjadi sangat geram dengan tingkah Elena.
'Gadis Kecil! Tindakanmu sudah terlalu berlebihan kali ini! Mengarahkan jari tengahmu pada orang lain itu, merupakan teknik provokasi tingkat tinggi dan tidak baik untuk diterapkan!' Kurama berteriak dengan sangat keras di dalam pikiran Elena.
'I-Iya, deh. Aku juga merasa kalau aku sedikit berlebihan dalam hal ini. Lain kali, aku tidak akan mengarahkan jari tengahku pada orang lain,' jawab Elena.
Masalah mengarahkankan jari telunjuk pada orang lain sangat terkait dengan masalah sopan santun dan tata krama seseorang. Menunjukkan jari telunjuk seperti ini, menunjukkan bahwa seseorang sedang merendahkan orang lain dan lebih baik dihindari. Elena sangat menyesal atas ini dan dia tidak akan mengulanginya lagi di masa mendatang, kecuali jika dia berniat mengulanginya lagi.
"Tenanglah, Miria. Jangan terlalu mudah terpancing emosi oleh perkataan Gadis Kecil ini," ujar Schronom.
"Baik, Tuan Schronom." Miria menundukkan kepalanya pada Schtronom dalam waktu singkat, lalu mengangkatnya lagi.
"Yang lebih penting lagi …." Schtronom mengarahkan pandangannya pada Elena sebelum melanjutkan, "Jubah sihir merah seperti itu bukan pekerjaanku. Jika manusia biasa kuubah menjadi iblis, dia seharusnya memiliki bola mata berwarna merah, namun Gadis ini berbeda. Alih-alih memiliki warna bola mata yang merah, dia justru mempunyai pupil mata merah dengan beberapa pola unik di dalamnya dan jubah energi berwarna merah yang menyelimuti tubuhnya. Bisakah kamu menceritakan bagaimana kamu melakukannya?"
#Catatan Penulis#
Jangan lupa ke novel Author yang lain —Menjelajah Dimensi Setelah Reinkarnasi: Akademik—.
#Akhir catatan penulis#
__ADS_1