
Suasana ruangan rapat yang berisi cukup banyak orang tak membuat Galang mengendalikan nafsu nya.
"Pak maaf, tolong jangan seperti ini." Ucap Viola dengan pelan namun masih bisa terdengar jelas oleh Galang.
"Kenapa?" Tanya Galang yang masih berusaha menj*mah paha milik Viola.
"Tolong pak."
"Aku tahu kamu membutuhkan pekerjaan ini, Saya bisa memberi uang berapapun yang kamu mau."
"Tolong tetap profesional pak, hormati saya." Sambil menarik narik rok yang sudah semakin naik keatas karena ulah dari Galang Bagaskara.
"Kau menolak karena disini banyak orang."
"Bukan, tolong jangan seperti ini pak."
Namun seperti biasa Galang yang selalu tertutup oleh nafsu, tak memikirkan permintaan dari wanita yang sudah ia incar.
"Rapat kita tunda, silakan kalian keluar dan kembali setelah 10 menit lagi." Ucap Galang pada seluruh orang yang juga berada pada ruangan itu untuk mengikuti pertemuan dengan Whisnutama group.
Sontak pegawai pegawai yang berada diruangan itu segera berdiri untuk mengikuti perintah dari atasannya.
Namun ketika mereka baru akan berdiri, pintu ruangan terbuka dan semua orang yang berada di sana sontak menoleh kearah sumber suara, kecuali Galang yang tetap asik dengan aktifitas nya sekarang dan Viola yang tetap berusaha menyingkirkan tangan Galang dari paha miliki.
"Maaf saya terlambat."
Galang yang semuala sedang asik seorang diri tanpa peduli keadaan, situasi, dan orang-orang disekitar, seketika jantung nya seperti dibuat melompat dari tempat nya semula, Karena mendengar suara yang tak asing ditelinga nya.
dek..
Seketika Galang langsung berdiri dari duduknya karena begitu terkejut dengan kehadiran sosok yang tak sangka sangka.
"Vanessa" Ucap Galang sambil berdiri.
"Galang, kamu disini." Tanya Vanessa yang juga nampak begitu terkejut.
"Kalian udah saling kenal?" Tanya Raka asisten Anggoro yang saat ini ditugaskan untuk menemani Vanessa menghadiri pertemuan bisnis itu.
"Emm.. maaf pak tadi pihak Whisnutama group mengabari bahwa tuan Whisnutama saat ini sedang berhalangan hadir dan diwakilkan oleh putri nya." Terang Viola pada Galang dengan posisi berdiri mengikuti atasnya itu.
"Van, ini bapak Galang partner bisnis perusahaan kita." Ucap Raka.
Mendengar perkataan Raka membuat Vanessa menjadi mengerti bahwa Galang merupakan ceo perusahaan yang kebetulan bekerja sama dengan perusahaan milik ayahnya.
"Silakan duduk." Kata Galang pada Vanessa.
Setelah Vanessa duduk pada kursi nya rapat itu pun dimulai dengan serius. Sikap Galang pada Viola pun sudah berubah dan itu berhasil membuat Viola sedikit tenang.
__ADS_1
Galang nampak serius seolah menyimak informasi demi informasi yang didiskusikan pada pertemuan itu. Namun siapa sangka dibalik wajah serius nya ternyata menyimpan angan yang tak seorang pun dapat memprediksi nya.
Untung saja Vanessa datang sebelum saya bertindak lebih pada Viola.
Bisik Galang dalam hatinya, Karena mungkin jika saja Vanessa datang 3 menit lagi. Sudah bisa dipastikan bahwa usaha usaha yang sudah dilakukan Galang kemarin kemarin akan terbuang sia sia saja. Karena pasti Vanessa akan melihat sifat asli Galang yang belum berubah, dan berbeda dengan apa yang Vanessa pikiran tentang Galang.
Pertemuan itu berlangsung sekitar tiga jam, dan selesai tepat saat jam makan siang berlangsung.
"Mau saya antar?" Tanya Galang lembut pada Vanessa yang sekarang berdiri sendiri di lobby kantor tempat pertemuan di langsung kan.
"Oh tidak perlu, saya akan pulang bersama Raka saja."
"Saya pikir kamu sedang menunggu taksi, saya tawarkan karena disini sangat jarang terdapat taksi lewat." Tutur Galang.
"Sebenarnya aku sedang menunggu Raka, tapi nggak tahu kenapa dia lama banget." Ucap Vanessa dengan nada sedikit kesalnya sambil beberapa kali melihat jam tangan yang sedang ia kenakan
Kring... Kring...
Dering nada ponsel Vanessa terdengar dan dengan malas ia melihat nama kontak dari panggilan telepon yang baru saja masuk itu. Dan nama yang tertulis di panggilan itu adalah Raka. Membaca nama Raka membuat Vanessa ingin sekali meluapkan kekesalan nya karena telah membuat dirinya menunggu lama.
"Lu lama banget dah." Kesal Vanessa tanpa berbasa basi. "Lu ngambil mobil dimana? di India?"
Ternyata kekesalan nya membuat Vanessa memberondong Raka dengan berbagai pertanyaan tanpa menghiraukan Galang yang saat ini masih berdiri disampingnya.
"Lu naik taksi aja ya, gue lagi ada keperluan yang nggak bisa ditunda ni."
Kata pria dari sebrang telepon itu.
"Sorry, gue tadi sampe lupa sama lu karena terlalu panik."
"Nggak mau tahu pokok potong gaji tiga bulan." Ancam Vanessa karena begitu kesalnya pada Raka, seorang asisten yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri.
"Enggak lu potong juga tiap hari minta ditraktir mulu lu."
Tut...Tut...Tut...
Suara telepon terputus.
"Eh kepret, yang kesel siapa yang matiin telfon siapa." Keluh Vanessa sambil memandangi layar ponselnya.
"Siapa?" Tanya Galang pada Vanessa.
"Itu, eh.."
Kejut Vanessa yang sampai lupa bahwa tadi dirinya sedang berbicara pada Galang.
"Maaf sampai lupa kalo ada kamu"
__ADS_1
"Nggak papa, itu siapa? Kesel banget keliatannya." Tanya Galang yang sedari tadi memperhatikan nada bicara dan ekspresi wajah wanita cantik yang sedang ia incar itu.
"Raka." Jawab Vanessa singkat sambil memasukkan ponsel nya kedalam tas yang ia bawa sekarang.
"Pacar?" Tanya Galang ragu-ragu.
"Bukan, Kalian belum kenal?"
Vanessa yang nampak begitu heran, bagaimana mungkin Galang tidak mengenal asisten ayah nya. Secara mereka bekerjasama dan kemungkinan besar akan sering ketemu untuk membahas proyek proyek yang ia garap bersama.
Mendapatkan pertanyaan dari Vanessa, Galang hanya menjawab nya dengan gelangan kepala tanpa mengeluarkan suara khas nya itu.
"Dia asisten ayah, kirain kalian udah saling kenal loh ternyata belum."
"Dekat banget ya." Tanya Galang sekali lagi karena begitu penasaran dengan hubungan yang dimiliki Vanessa.
"Deket lah orang hampir tiap hari ketemu, udah aku anggap kayak kakak sendiri, dia dewasa banget orang nya, enak kalo diajak ngobrol." Terang Vanessa yang berbicara jujur tentang perasaan nya.
"Owh nggak bisa nganterin kamu pulang kan? Yaudah aku anterin ya."
Vanessa yang baru saja membuka mulutnya untuk berbicara langsung digagalkan karena Galang kembali berbicara.
"Harus mau, nggak boleh nggak." Kata Galang yang tak mau terbantahkan.
Mobil Galang yang terparkir secara strategis membuat dia dengan cepat nya sampai dan duduk pada kursi kemudi.
"Pulanglah mobil saya yang bawa."
"Baik pak" Jawab supir Galang sambil menyerahkan kunci mobil pada Galang.
Setelah mendapat kunci mobil dari supir yang mengantarkannya pagi ini, ia segera membukakan pintu untuk Vanessa agar dirinya bisa masuk dengan mudah.
"Silakan." Ucap Galang dengan sebuah senyuman yang menambah ketampanan nya menjadi seribu persen.
"Terimakasih Galang."
......................
......................
......................
......................
......................
...Jangan lupa di Like dan Komen...
__ADS_1
...biar Author makin semangat up nya ya sayang sayang kuh...
...❤️❤️❤️❤️...