
Acara makan siang yang berlangsung secara tidak sengaja itu pun akhirnya selesai juga. Alexus yang tak ingin Galang semakin mendapatkan citra baik dimata Vanessa, segera memanggil pelayan untuk meminta bill.
"Silakan kak, total keseluruhan tuju ratus delapan puluh sembilan."
Alexus membaca dan memeriksa bill itu.
"Mau dibayar secara cash atau melalui debit kak?" Tanya pelayan itu lagi pada Alexus.
Mendapatkan pertanyaan dari pelayanan itu, Alexus kemudian mengeluarkan sebuah debit card dari dompet nya dan menyerahkan pada pelayanan itu.
"Tunggu ya kak." Pelayanan itu pun berlalu menuju kasir restoran tempat ia bekerja.
Sembari menunggu pelayan tadi. Alexus yang menyadari selama acara itu berlangsung, Galang hanya diam tanpa bersuara. Akhirnya memutuskan untuk membuka obrolan diantara mereka.
"Bagaimana keadaan tuan saat ini." Tanya Alexus pada Galang.
"Seperti yang kau lihat sekarang." Jawab Alexus tanpa ada kata ramah didalamnya.
"Saya kira cukup baik."
"Seperti itu lah." Jelas Galang singkat.
Beberapa saat kemudian Pelayan itu pun menghampiri meja mereka lagi, untuk menyerahkan sebuah kartu yang yang tadi diberikan oleh Alexus.
"Permisi kak." Kata pasien itu dengan ramah.
"Terimakasih." Ucap Galang yang tak lupa menautkan seutas senyuman lagi. "_Oke udah selesai, yuk mau pergi sekarang atau nanti.'' Tanya nya pada Angel.
"Sekarang lah kita dua jam lagi ada jadwal operasi." Jawab Angel
''Yaudah kalo gitu, Lu mau pulang sekarang atau gimana na?" Tanya singkat Alexus pada Vanessa.
"Sekarang lah, nanti nanti kenapa?" Jawab Vanessa sambil melihat Galang.
"Iya saya dan Vanessa juga akan pergi sekarang?" Jawab Galang karena Vanessa melihat dirinya seolah meminta penjelasan.
Alexus yang mendengar Vanessa akan kembali pergi berdua bersama Galang, merasakan sebuah sesak di dada. Namun apa daya, memang siapa dirinya hingga bisa mengatur kehidupan Vanessa. mungkin seperti itu lah isi pikiran Alexus saat ini.
Angel yang menyadari Alexus sedang menahan api cemburu yang bergemuruh di dadanya mencoba untuk mengendalikan keadaan.
"Lu nggak mau bareng kita aja Van?" Tawar Angel pada Vanessa.
"Nggak usahlah, kan kalian mau kerumah sakit."
"Ya mungkin lu udah rindu sama kang Parman satpam rumah sakit."
"Elu kali ah"
"Lagian kan apartemen lu searah sama rumah sakit." Angel masih terus berusaha agar Alexus tak terlalu merasa kecewa.
__ADS_1
Ya seperti itu persahabatan, sesering apa pun Angel dan Alexus bertengkar, berselisih paham, memperdebatkan hal-hal kecil, hingga saling melontarkan cacian dan hinaan. Itu semua tak membuat Angel harus merelakan sahabatnya merasakan sakit hati dan kekecewaan.
"Kan gua tinggal di rumah sekarang, lu lupa?"
"Lu sekarang udah nggak di apartemen nes? kok nggak ada cerita ke gua?" Tanya Alexus.
"Baru juga kemarin na, jadi belum sempet cerita ke lu." Jawab Vanessa sambil memamerkan sederet gigi putih nya.
"Emm... nggak papa deh kita anter, jadwal operasi kita masih cukup kok kalo buat nganter lu. Kasian tuan Galang kalo harus nganter lu mungkin dia ada keperluan lain. Lagian kalo kita bisa kenapa nggak coba." Kata Angel.
"Nggak papa Vanessa sama saya saja, kalian langsung kerumah sakit aja. Banyak nyawa orang diluar sana yang mungkin bisa kalian selamat kan." Ucap Galang yang membuat Angel sekarang hanya bisa diam tak bersuara lagi.
"Beneran nggak ngerepotin."
"Nggak, yuk." Ajak Galang sembari beranjak dari kursi nya, yang kemudian diikuti oleh Vanessa, Angel, dan juga Alexus.
Mereka berempat berjalan menuju pintu keluar secara bersama-sama. Angel dan Alexus berjalan menuju mobil nya, yang kebetulan terparkir tak jauh dari mobil Galang. Alexus terus memperhatikan sikap Galang pada Vanessa, yang tak mungkin dilakukan jika Galang hanya menganggap Vanessa sebagai seorang teman. Dari membukakan pintu sampai menutup kan pintu, tak luput dari pengawasan Alexus.
Namun ketika Galang baru akan masuk juga kemobil nya seorang laki-laki berperawakan tinggi dan kekar datang menghampiri dirinya. Mereka mengobrolkan sesuatu yang sangat rahasia. Hingga Galang harus sedikit menjauh dari tempat nya semula, takut jika Vanessa mendengar percakapan mereka.
"Oke kalian siapkan semua saya akan segera menyusul." Kata Galang dengan raut wajah yang sudah berubah.
Setelah mendengarkan perintah Galang, laki laki itu pun pergi. Dan Galang saat ini berjalan menuju mobil Alexus yang masih terparkir.
Tok... Tok…
"Ya, ada apa?" Tanya Alexus yang masih tetap berusaha seramah mungkin, menyembunyikan perasaan yang sebenarnya ia rasakan.
"Apa bisa Vanessa ikut kalian saja? Saya mendadak ada urusan yang sangat penting." Ucap Galang yang berhasil membuat sumringah wajah Alexus.
"Oh tentu, kenapa harus bertanya kita nggak akan pernah keberatan kok." Terang Alexus pada Galang.
Tanpa memberikan respon nya kembali, Galang berlalu begitu saja menuju mobilnya. sesampainya di mobil Vanessa langsung bertanya pada Galang, dari siapa laki laki tadi hingga apa tujuannya menghampiri Alexus.
"Oh orang tadi karyawan saya, dia tidak bisa menelepon saya karena ponsel saya kehabisan baterai. Jadi dia menemui saya disini."
"Kenapa memang?" Tanya Vanessa yang masih penasaran.
"Dia bilang ada pertemuan penting yang harus saya hadiri dan tidak bisa ditunda."
"Lalu?"
"Em.. saya tidak bisa mengantarkan kamu, jadi saya bertanya pada mereka apa kamu bisa ikut mobil mereka?"
"Terus?"
"Apa yang kamu pikirkan, apa kamu pikir mereka akan melarang mu untuk ikut dimobil mereka?"
"Mungkin saja?"
__ADS_1
"Tidak, mereka dengan senang akan mengantarkan mu." Terang Galang dengan nada yang sangat amat lembut didengar.
"Jadi aku harus pergi bersama mereka?" Tanya Vanessa dengan ekspresi wajah kecewa.
"Untuk saat ini saja." Jawab Galang sambil mengelus ngelus rambut Vanessa. Sungguh sikap yang tak pernah Galang lakukan pada siapapun selain Vanessa. "Maaf ya, lain kali saya janji akan mengantar mu sendiri."
Kata Galang yang kemudian mendapat anggukan dari Vanessa.
"Boleh saya mencium mu?" Terasa aneh didengar saat Galang bertanya seperti itu.
Mendengar pertanyaan itu Vanessa hanya diam dan menundukkan pandangan nya kebawah. Kemudian Galang mendekatkan tubuhnya agar bisa mencium Vanessa.
Siapa sangka Galang yang biasa nya dipenuhi oleh nafsu, sekarang hanya mencium Vanessa tepat dikening nya. Seperti ciuman kasih sayang dari seorang suami kepada istrinya.
"Boleh aku pergi sekarang?" Tanya Vanessa.
"Tentu." Jawab Galang yang kemudian turun dari mobilnya untuk membuka kan pintu untuk Vanessa dan mengantar nya menuju mobil Alexus.
Sesampainya dimobil Alexus, Galang pun tak mengizinkan Vanessa untuk membuka pintu sendiri. Dengan sigap Galang membukakan pintu. Sebuah sikap yang sederhana namun mampu membuat wanita merasa teristimewakan.
"Tolong hati hati bawa nya." Ucap Galang pada Alexus seolah tak mengizinkan sesuatu terjadi pada Vanessa.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...KIRA KIRA GALANG MAU KEMANA HAYO.....
...ADA YANG BISA TEBAK...
...KOMEN COBA, OTOR PEN TAHU...
...???...
...OH YA KALIAN SETUJU NGGAK SI KALO...
...AUTHOR UP 2 EPS SETIAP HARINYA...
...???...
...YANG SETUJU LIKE YA...
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...
__ADS_1