
Pada saat perjalanan menuju perusahaan Bagaskara company dimana pertemuan akan dilangsungkan, seperti biasa jalanan ibu kota membuat Raka dan Vanessa tidak bisa sampai tepat waktu.
"Lu bawa mobilnya lama banget dah."
"Elu kagak liat noh depan lagi macet."
"Cari jalan lain nggak bisa ya?" Tanya Vanessa santai
"Mau lewat mana? ini depan belakang ada mobil. Terbang? dikira karpet nya Aladdin kali ah."
"Ya elah santai kenapa nge gas amat lu." Kata Vanessa yang kemudian mengalihkan pandangan ke luar kaca mobil.
"Lagian lu, kan bisa kita ketemu di sana aja ini kenapa pakek acara minta dijemput segala."
"Ayah." Jawab Vanessa singkat.
"Tumben lu mau ikut campur urusan perusahaan" Tanya Raka yang tak bisa mengendalikan rasa penasarannya.
"Ayah juga"
"Kok bisa?"
"Nggak tahu, gua bingung tau." Kata Vanessa dengan sedikit merubah posisi duduknya.
"Bingun kenapa?" Tanya Raka dengan tetap fokus mengemudi.
"Asli demi apapun dari hati gue tuh nggak nyaman tau kalo dipaksa gini."
"Oh berarti pak Anggoro maksa lu?"
"Gimana ya.... ya gitu lah, eh nggak tahu deh." Ucap Vanessa bingung. "Bingung euy aing."
"Dah sampek yuk turun."
"Kok dek dekan ya Ka."
"Pakek dek dek segala udah kayak mau ketemu doi aja lu." Ujar Raka. "Yuk ah"
Setelah mengatakan itu Raka langsung turun dari mobilnya. Tetapi dibuat kesal karena Vanessa tak kunjung turun juga.
"Elu mau turun atau gua tinggal." Kata Raka dari samping pintu mobilnya.
Mendapatkan desakan dari Raka akhirnya mau tak mau siap tak siap Vanessa akhirnya turun juga dari mobil itu.
"Gua takut beneran Ka." Kata Vanessa dengan wajah menunduk disela sela langkah kaki nya.
"Yaelah lu prihal dengerin terus nyimak omongan orang aja takut, giliran bedah bedah orang kagak takut. Psikopat ya lu?"
Vanessa yang mendapatkan tuduhan dari Raka bahwa dirinya adalah seorang psikopat, secara reflek langsung memukul lengan kekar milik Raka.
"Mana ada dokter bedah dibilang psikopat." Ketus Vanessa.
"Ya kali aja." Elak Raka yang kemudian menekan tombol lift dimana lantai ruangan pertemuan itu berada.
"Kalo lu jadi gua gimana ka?"
Melihat Vanessa yang menyandarkan tubuhnya pada dinding lift dengan tatapan kosong, membuat Raka dengan penuh memfokuskan perhatian nya pada keluhan Vanessa.
"Kalo gue jadi lu?" Tanya Raka dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah nya, kemudian mengarahkan ke arah Vanessa.
Tanpa suara Vanessa hanya merespon dengan mengangguk-anggukan kepalanya dengan raut wajah yang menurut Raka sangat cocok untuk ditertawakan.
"Kalo gue jadi lu ya gue jalani lah."
"Terus pekerjaan gue?"
"Profesi dokter lu maksudnya."
"Iya" Singkat Vanessa.
__ADS_1
"Ya pinter pinter lu ngatur waktu lah."
"Profesi dokter tu bukan pekerjaan yang bisa ditinggal kapan saja Ka."
"Elu tu diperusahaan bukan sebagai bawahan Van, ceo" kata Raka dengan penuh penekanan pada kata ceo.
Ting..
Suara pintu lift yang terbuka.
"Yuk" Ajak Raka.
Vanessa yang memahami bahwa sekarang dirinya tak bisa menghindar dari situasi yang tak ia sukai hanya bisa menarik nafas nya kasar.
Setelah sampai di ruangan itu, Vanessa melihat orang orang sudah mulai berdiri. Ia segera masuk karena berfikir bahwa pertemuan itu akan disudahi. Karena terlalu lama menunggu dirinya. Dan itu sudah berhasil menciptakan rasa bersalah pada diri Vanessa. Padahal alasan mereka berdiri bukan karena hal itu melainkan karena ulah dari Galang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga jam kemudian pertemuan selesai dan saat ini Raka dan Vanessa sedang berjalan menuju tempat dimana mobil yang mereka kendarai tadi terparkir.
"Gua tunggu disini aja ya."
"Kagak ikut kesana?" Tanya Raka sambil menunjuk mobil nya.
"Cepek gua, gua tunggu disini aja nggak papa kan?"
"Yaudah iya."
Setelah mengatakan hal itu Raka kemudian berjalan menuju parkiran mobil nya. Tapi sebelum Raka sampai pada tujuannya ia mendapatkan sebuah panggilan alam.
"Aduh kenapa harus sekarang, terpaksa nih gua pergi dulu." Kata Raka lalu menambah kecepatan langkah kakinya. Namun ketika baru beberapa meter dari tempat nya semula, Raka mengingat bahwa putri atasannya yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri itu sedang menunggu nya.
"Eh Vanessa" Kata Raka yang kemudian menghentikan langkah kakinya. "_Tau ah bodo amat pikir nanti aja lah." Kemudian melanjutkan langkah kaki nya dengan setengah berlari.
Namun ketika sampai ditempat yang ia tuju ternyata dirinya harus antri terlebih dahulu. Selang beberapa menit akhirnya dirinya mengingat Vanessa yang sampai sekarang pasti masih menunggu dirinya yang tak kunjung datang.
Tut...Tut...Tut...
"Vanessa pasti sekarang lagi urung uringan deh" Membayangkan Vanessa yang uring uringan membuat Raka tertawa cekikikan sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam menunjukkan pukul 12.15 WIB saat ini Alexus sedang menuju ruangan kerja seorang wanita yang sudah sejak lama ia damba damba menjadi kekasih hatinya.
Namun saat baru akan memasuki ruangan yang ia tuju, seorang perawat yang berjaga menyapa nya.
"Dokter Alex mau kemana?"
"Dokter Vanessa nya ada sus?"
Mendengar pertanyaan dari Alexus membuat Perawat itu mengerti tujuan dari dokter yang memiliki paras rupawan itu, Walaupun Alexus tak menjawab pertanyaan dari nya.
"Dokter Vanessa hari ini mengambil cuti dok."
"Cuti?" Tanya Alexus yang sedikit terkejut dengan informasi yang ia terima.
"Iya, apa dokter Vanessa tidak bilang?" Kepo perawat itu.
"Nggak ada bilang apa apa tu dia." Terus terang Alexus. "_Kira kira kenapa dokter Vanessa ngambil cuti?"
"Kurang tau saya."
"Hem... Oke biar saya telefon saja."
"Baik dok kalo begitu saya permisi."
"Iya terimakasih ya." Ucap Alexus dengan melempar senyuman pada perawat itu.
Setelah perawat itu meninggal kan dirinya sendiri, ia segera memutuskan untuk menelepon Vanessa. Namun yang terdengar bukan suara dari wanita yang ia dambakan, melainkan.
__ADS_1
Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan, silakan ulangi beberapa saat lagi.
"Dorrr..."
Alexus yang terlalu fokus dengan keberadaan Vanessa hingga tak menyadari kehadiran Angel dari belakang.
"Elu ah, kalo gua jantungan gimana?" Protes Alexus pada Angel yang sudah membuat dirinya terkejut.
"Hayo.. Khawatir in Vanessa ya?"
"Mana ada." Elak Alexus yang tak mau mengakui sebuah fakta.
"Keliatan dari muka lu."
"Sotoy." Balas Alexus sambil mentoyor jidat Angel.
"Yaudah kalo gitu." Sambil menyentuh jidat nya. "_Padahal gua tau Vanessa dimana." Kata Angel secara sengaja agar Alexus terpancing.
Setelah mengatakan itu Angel berniat meninggalkan Alexus, namun belum jauh Angel melangkah Alexus sudah mengajukan pertanyaan yang membuat nya berhenti.
"Vanessa cuti kenapa emang?"
Nah kan apa gua tebak
Kata Angel dalam hatinya. Untuk menjawab pertanyaan dari Alexus itu. Angel memutuskan untuk berbalik dan menghadap pada Alexus
"Mau tau aja atau mau tau banget?"
"Traktir makan." Kata Alexus yang sudah mengerti dengan benar, bahwa Angel tidak akan mengatakan sesuatu tanpa ada keuntungan baginya.
"Seminggu." Tawar Angel.
Mendengar itu Alexus hanya bisa menarik nafas nya dalam dalam dan menghembuskan nya secara kasar.
"Oke" Jawab Alexus dengan nada pasrah.
"Yaudah yuk makan dulu." Kata Angel sambil langsung menarik tangan Alexus.
"Enak aja lu, bilang dulu alasan Vanessa."
"Iya nanti habis makan, gua laper ni sekarang." Sambil memegangi perutnya.
"Lu temen atau apa an si ah."
Setelah mengatakan itu Alexus kemudian berjalan menuruti Angel karena malas berdebat.
"Jadi makan ni?" Pasti Angel karena Alexus tak mengatakan apa pun.
"Jadi kagak?" Kesal Alexus yang melihat Angel masih tetap diam tak bergerak dari tempatnya.
"Oke oke yuk cus"
"Semangat bener kalo gratisan."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Like nya mana ...
...? ? ?...
...Komen nya mana...
__ADS_1
...? ? ? ...