
Rafi dirgantara bersama dua puluh laki-laki dengan persenjataan lengkap datang kesebuah pelabuhan dimana barang yang mereka kirim mengalami permasalahan.
Rafi telah menyuruh anak buahnya untuk mengawasi semua pergerakan orang-orang yang terlibat dalam permasalahan pengiriman itu. Hingga didapatkan informasi bahwa orang yang berada dibalik permasalahan itu adalah memang benar Dimas. Seorang mafia yang amat sangat disegani.
"Oke semua informasi sudah berhasil kita dapatkan, sekarang kita hanya tinggal menyiapkan sebuah strategi yang bisa membuat Dimas terlumpuhkan."
Kala itu waktu yang ditunggu telah tiba. Rafi dan dua puluh laki-laki lainnya mendatangi tempat dimana Dimas berada. Kedatangan Rafi yang tiba-tiba mampu membuat anak buah Dimas kuwalahan, dan dengan mudah nya Rafi mengalahkan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Namun Dimas tetaplah Dimas manusia licik yang tidak pernah bisa ditebak jalan pikirannya.
"Tuan tuan." Kata salah satu anak buah Dimas dengan sangat tergesa-gesa.
"Kenapa? Kenapa panik seperti itu?" Tanya Dimas datar.
"Dibelakang terjadi kerusuhan tuan, semua penjaga sekarang sedang terkapar."
"Ban*sat." Teriak Dimas dengan sangat kencang dan penuh penekanan.
Dimas mencoba untuk tetap tenang pasalnya keamanan di pintu masuk telah diperkuat sedemikian rupa, Tapi dia tidak menyangka jika Rafi akan menyerang anak buahnya sedikit demi sedikit dari belakang.
"Sisa berapa penjaga yang hidup sekarang?" Tanya Dimas yang sedang berdiri menyaksikan anak buahnya yang sedang dibuat porak poranda dari balik jendela lantai atas.
"Tidak lebih dari sepuluh tuan."
"Kita akan menyerah sekarang, tapi itu hanya sementara. Lakukan sampai mereka lengah baru kita serang kembali mereka. Saat kita menyerah nanti secara diam-diam buatlah formasi dua lawan satu. Satu anak buah kita harus bisa mengalahkan dua dari mereka. Ingat, saat pembentukan formasi carilah tempat yang bisa mempermudah kalian dan menyudut kan mereka." Kata Dimas memaparkan strategi.
Dan rencana Dimas itu pun berhasil, orang-orang yang datang bersama Rafi tadi sekarang berhasil Dimas kalahkan dan menjadikan mereka tawanan Dimas.
Tawa Dimas menggema "Apakah penglihatan mu mengabur seiring berjalannya usia mu?" Kata Dimas menirukan hinaan Galang padanya tempo dulu. "_Kau mau ku bebaskan?" Tanya Dimas sambil berjalan mendekati Rafi.
"Aku tidak membutuhkan bantuan mu untuk itu." Kata Rafi yang tak mau direndahkan oleh Dimas meskipun ia sudah menjadi tawanan mereka.
Mendengar hal itu membuat Dimas tertawa kencang. "Apa yang bisa kau sombongkan sekarang?" Sambil mengelilingi tubuh Rafi yang masing masing tangan nya terikat pada sebuah tali yang menggantung. "_Kau pikir Galang akan menyelamatkan mu?"
Rafi hanya diam tak bergeming mendengarkan ocehan Dimas yang tak sama sekali ia anggap.
"Kau bodoh jika berpikir seperti itu. Bos mu itu tidak akan peduli akan keadaan mu kau tahu?"
"Diamlah, bersenang senang lah rayakan keberhasilan mu jangan membuang waktu mu hanya untuk membual didepan ku, karena itu akan menjadi sia sia saja." Kata Rafi dengan nada yang tak kalah tegas nya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Rafi yang mengecam dirinya justru membuat Dimas semakin mengeraskan tawa nya.
"Katakan padaku sandi dari barang itu dan sebagai imbalannya, akan ku bebas kan kau beserta anak buah mu."
"Cih... Kau pikir aku tertarik" Balas Rafi dengan diiringi suara tawa.
Dimas yang melihat Rafi menghina nya dengan meludah, menarik nafas kasar nya.
"Siramkan air panas itu padanya." Perintah Dimas pada anak buahnya.
Rafi yang mendapat guyuran air panas di seluruh badannya berteriak merasakan sakit yang menderanya.
"Kau kesakitan?" Tanya Dimas yang sangat puas mendengarkan teriakan Rafi. "_Sudah ku bilang, katakan sandi itu padaku dan kau tidak akan merasakan semua ini."
"Lakukan apa pun yang kau mau tapi jangan harap aku mengatakan sandi itu."
"Siram dia lagi." Sekali lagi Dimas memerintah kan hal itu dengan suara yang sangat lantang tanpa belas kasihan.
Rafi pun sekali lagi berteriak sekuat nya. Baginya kesetiaan adalah hal yang tak bisa dibayar oleh apapun.
"Kau masih belum berubah pikiran?" Tanya Dimas yang masih berusaha untuk mendapatkan sandi itu.
"Lakukan apapun yang pada nya, buat dirinya mengatakan hal yang ku inginkan. Tapi satu jangan sampai dia mati." Ucap Dimas pada anak buah nya.
"Baik tuan." Jawab Anak buah Dimas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vanessa saat ini sedang duduk termenung di balkon kamar nya.
"Galang tadi kenapa ya buru buru banget." Kata Vanessa pada dirinya sendiri.
"Sepenting itu kah urusan nya? Terus laki-laki tadi, apa benar dia karyawan kantor nya? Tapi kenapa pakaian nya seperti preman?"
Banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang melintas di pikiran Vanessa mengenai siapa sejatinya Galang. Namun lamunan lamunan itu segera hilang karena kehadiran dari Raka.
"Lu kemana aja Van? Ngadi Ngadi ya lu?"
"Apaan si dateng dateng main ngomel ngomel, nggak jelas deh lu." Kata Vanessa.
"Bisa bisanya ya lu, gua mondar-mandir kesana kemari nyariin lu
__ADS_1
"Lah salah gua dimana? Orang lu yang minta gua pulang sendiri. Amnesia lu?"
"Minta maaf gih, udah buat gua capek nggak ada rasa bersalah sama sekali. Dasar cewek."
"Lu kalo ngajak berantem ngomong aja deh." Kata Vanessa yang tak terima disudut kan oleh Raka.
"Lu yang bikin gua keliling Jakarta macet macet di siang bolong kayak gini."
"Lah yang nyuruh lu nyariin gua siapa?" Kata Vanessa sambil melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. "_Sono pergi lu gua mau mandi."
"Kalo orang tua ngomong tu didengar in."
"Oh iya kek ada apa? Gimana gimana asam urat nya kambuh?" Ejek Vanessa.
"Asam urat asam urat pala lu."
"Dih kasar banget jadi cowok, gua aduin ayah ni." Ancam Vanessa
"Aduin kagak takut gua."
"Oh bener ya tunggu." Vanessa pun menarik nafas sedalam dalam nya, kemudian berteriak "Ayahhhh.. Raka kasar sama Nesa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ditempat yang berbeda anak buah anak buah milik Galang yang baru turun dari helikopter langsung menyiapkan peralatan peralatan, mengatur dan menentukan tempat yang cocok untuk masing masing persenjataan an mereka.
"Sebentar lagi kita akan menuju medan perang, berusaha semampu kalian, ingatlah anak dan istri kalian jika sampai misi kita gagal kali ini." Kata seorang laki-laki yang mungkin berprofesi sebagai ketua dari mereka.
Galang yang mendengar arahan dari salah satu anak buahnya itu menyunggingkan senyuman. Kemudian berjalan dari tempat nya semula.
"Lakukan sesuai strategi yang sudah kita buat." Kata Galang kepada anak anak buah nya.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
......Strategi nya apa kira kira?......
__ADS_1