
Suara dentuman demi dentuman senjata tajam dari kedua belah pihak seakan sedang menari di udara. Terbang kesana kemarin untuk melukai sasarannya.
Dor.. Dor..
Hari itu merupakan hari yang kesekian kalinya Galang menyaksikan pertumpahan darah, namun kali ini strategi dan caranya berbeda.
Ia dengan segaja menjadikan sepuluh orang anak buahnya sebagai umpan dan mengecoh fokus Dimas. Dan sisa nya akan masuk setelah sepuluh anak buahnya tadi telah berhasil meletakkan bom pada setiap sudut tempat itu tanpa sepengetahuan dari para anak buah dari Dimas.
Galang yang saat ini berada pada suatu tempat yang membuat nya dengan mudah bisa melihat kondisi tempat itu menampilkan senyum misterius nan liciknya.
Setelah melihat bahwa keadaan sudah benar benar sesuai rencananya, Galang pun memerintahkan sisa anak buah nya yang saat itu bersama diri nya. Untuk kembali menyerang setelah mengetahui tenaga dari lawan nya telah terkuras.
"Giliran kalian." Kata Galang dengan tetap membelakangi para laki-laki bertubuh tinggi dengan berbagai cetakan otot ditubuhnya itu.
"Baik tuan." Jawab salah satu diantara mereka, yang kemudian setelah itu langsung melaksanakan perintah dari Galang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ditempat lain rencana yang sudah disusun oleh Galang mulai menampakkan hasil, puluhan anak buah Dimas kini satu persatu telah tergulai lemas bahkan diantara nya tewas karena terkena sasaran peluru yang membabi buta.
Dimas yang saat itu sedang berada di ruangan tempat Rafi disekap hanya bisa diam menyaksikan keporak poranda yang disebabkan Galang dengan raut wajah penuh amarah dari balik ruangan itu.
__ADS_1
"Ada apa, kenapa wajah anda terlihat sangat marah tuan." Tanya Rafi dengan nada menghina. "_Bukankah seharusnya anda mendengarkan saran saya tadi tuan?"
"Diam." Bentak Dimas dengan langsung membalikkan tubuhnya untuk menghadap Rafi.
Mendapat bentakan dari Dimas tak membuat nyali Rafi menciut. Ia justru tertawa dengan puas nya melihat raut wajah pesaing bisnis bos nya itu.
"Bukan kah kau merasakan kalau ekspresi mu itu terlihat sangat menggemaskan Tuan Dimas." Kata Galang yang tiba tiba masuk ruangan dan langsung menyambung percakapan Rafi dan Dimas.
"Apakah ulah ku sungguh sangat menggangu waktu tidur mu? Hingga tubuh mu menjadi sangat kurus seperti ini tuan Galang Bagaskara?" Tanya Dimas sebagai balasan hinaan yang baru saja dilontarkan Galang untuk nya. "Aku penasaran apakah tangan mu itu masih mampu menembakkan peluru tepat sasaran?" Tambah Dimas dengan disertai tawa yang sangat nyaring ditelinga.
"Kau terlihat sangat bahagia sekali sepertinya?" Tanya Galang pada Dimas. "Emm... Begini saja sepertinya aku punya satu kejutan yang bisa menambah tawa mu tadi semakin menggema." Kata Galang dengan nada sangat yakin. "_Kau penasaran?"
Melihat tak ada respon dari lawan bicaranya, Galang lantas tersenyum sinis kemudian menemukan kedua tangan nya satu kali.
Galang yang melihat perubahan wajah Dimas tertawa dengan puas.
"Kau senang bukan?"
"Baji*ngan." Umpat Dimas setelah mengetahui bahwa kejutan yang dimaksud Galang adalah bukti nyata dari kekalahan nya.
Ya kekalahan, kekalahan Dimas sudah berada didepan mata nya, setelah ia melihat kedatangan puluhan anak buah nya yang sedang berjalan dibawah tekanan anak buah Galang sebagai tawanan mereka.
__ADS_1
"Sudah kah kau faham, bahwa tidak akan ada yang bisa mengalahkan Galang Bagaskara?
Ucap Galang dengan berjalan mendekati Dimas yang saat itu sedang mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat, sebuah simbol bahwa dirinya sedang berada pada puncak emosi tertinggi.
"Aku hanya memberi mu saran, sebaiknya pikirkan dua kali lagi sebelum kau mengganggu ku." Saran Galang seraya berjalan mendekati Dimas dengan menatap mengelus ngelus pistol yang berada pada genggaman nya.
"Kau pikir aku takut dengan mu?" Jawab Dimas dengan sebuah pertanyaan pula.
Sebenarnya Dimas sadar betul jika dia tak memiliki pilihan lain untuk dirinya agar tetap hidup, selain menyerah. Namun bukan Dimas namanya jika takluk didepan lawan nya.
"Apa kau tak sadar akan kekuatan mu, apa yang kau miliki untuk melawan ku? Apa kau tak melihat mereka sudah berada dibawah kendali ku?" Sambil menunjuk segerombolan anak buah Dimas yang menjadi tawanannya.
"Cih... Kau pikir aku tak bisa mengalahkan mu tanpa mereka."
"Bukan tak bisa, tapi kau memang sudah kalah dariku." Kata Galang dengan nada merendahkan dan diikuti tawa yang terdengar sangat puas.
"Sepertinya kau belum mengenal diriku lebih jauh tuan Galang Bagaskara."
Perdebatan perdebatan diantara mereka terus terlontar mengisi ruangan yang sudah penuh dengan segala bercak darah diseluruh lantainya.
Galang seorang mafia yang sama sekali tidak memiliki rasa kemanusiaan itu. Terus saja memerintahkan anak buahnya untuk memukul Dimas, hingga dirinya tak memiliki kekuatan untuk melawan nya lagi.
__ADS_1
Ya saat itu, dengan tubuh yang sudah penuh dengan warna darah. Dimas tersungkur dihadapan Galang. Sekuat tenaga ia berusaha bangun namun usahanya tak membuahkan hasil.