
Setelah Galang memastikan Vanessa telah pergi bersama sahabat sahabat nya. Ia pun segera kembali ke restoran tersebut untuk menuju ke rooftop.
Setelah Galang sampai di rooftop restoran itu, ia pun segera disambut oleh laki-laki yang tadi menemui nya diparkiran.
"Sudah selesai semua?" Tanya Galang dengan sangat tegas.
"Sudah tuan." Jawab laki-laki itu.
Laki-laki itu adalah bodyguard yang selalu mengawal kemana pun Galang pergi. Bagi mafia sekelas dirinya, keamanan merupakan hal yang sangat utama dan tak bisa diabaikan.
Banyak sekali musuh musuh dan pesaing bisnisnya yang tak sungkan untuk mengincar nyawanya.
"Silakan tuan kita tidak punya banyak waktu lagi." Kata laki laki itu sambil mengarahkan tangan nya mempersilakan Galang untuk berjalan terlebih dulu.
Tanpa mengeluarkan suara Galang yang selalu sigap jika berurusan dengan bisnis bisnis nya, berjalan menuju helikopter yang sudah disiapkan untuk keberangkatannya. Tak membutuhkan waktu lama agar Galang berada didalam helikopter tersebut.
Karena waktu yang sangat sedikit. Akhirnya di dalam sana mereka merencanakan semua strategi dan melaporkan semua permasalahan yang menyangkut pengiriman barang yang sudah diambil alih oleh Rafi Dirgantara, kepada Galang.
"Awal nya semua sudah berada dibawah kekuasaan kita tuan, barang itu pun sudah berhasil tuan Rafi ambil alih kembali. Namun saya tidak faham bagaimana bisa tuan Rafi sekarang menjadi tawanan mereka."
"Lupakan Rafi, yang kita fokuskan sekarang adalah bagaimana barang itu bisa kita ambil alih lagi."
Begitulah sikap Galang, tak peduli seberapa dekat, percaya, dan lama hubungan terjadi. jika dengan mengorbankan hal itu bisa melancarkan urusannya, maka ia tak akan sungkan untuk mengorbankan nya. Termasuk mengorbankan Rafi orang yang sudah ia anggap sebagai sahabat nya sendiri.
"Tapi tuan." Kata laki-laki itu karena sedikit terkejut mendengar keputusan dari bos nya.
Siapa orang yang tidak tau seberapa dekatnya hubungan antara Galang dan Rafi. Siapa yang mengurus semua permasalahan Galang. Siapa orang yang dapat Galang percaya selain Rafi. Tapi semua pengorbanan Rafi seperti tidak ada artinya dimata Galang.
"Berani berani nya kau membantah ku?" Kata Rafi dengan penuh penekanan dan diiringi pergerakan tangan yang menodongkan pistol ke arah laki-laki itu.
"Ba..Baik tuan" Jawabnya dengan sedikit terputus putus.
"Jelaskan strategi Rafi sebelumnya."
Helikopter yang membawa amarah seorang mafia itu mengudara kurang lebih 2 jam. Selama itu semua orang yang berada di sana memutar otak mencari sebuah strategi yang dapat melumpuhkan lawan nya.
"Lakukan sesuai yang saya perintahkan. Jika sampai barang itu gagal berada dibawah kekuasaan saya, Nyawa anak istri kalian pengganti nya." Kata Galang dengan nada bicara dan juga ekspresi yang sungguh sangat datar.
Para bodyguard yang saat itu berada dalam satu helikopter bersama Galang, hanya bisa menelan saliva nya. Membayangkan beberapa kemungkinan yang mungkin saja akan terjadi pada anak dan istri nya.
Mendengar tak ada satu orang pun dari 10 bodyguard yang bersuara, membuat amarah Galang semakin membumbung tinggi.
"Kalian mendengar tidak?" Bentak Galang dengan melempar kertas yang bergambar denah dari tempat yang menjadi tujuan mereka.
__ADS_1
"Siap, dengar tuan." Ucap 10 bodyguard itu dengan serentak.
"Pastikan orang-orang kita sampai disana tepat waktu."
"Saat ini mereka sedang menyiapkan peralatan peralatan yang kita perlukan, beberapa menit lagi mereka akan terbang tuan."
"Oke, ingat konsekuensi nya jika sampai kalian gagal nanti.
...------------------------------------------------...
...--------------------------------...
...----------------...
Sudah berjam jam Raka mengunjungi tempat-tempat yang sering Vanessa kunjungi. Namun tetap saja ia tidak dapat menemukan keberadaan Vanessa.
"Si Vanessa ngumpet dimana si." Kata Raka yang sudah mulai frustasi dengan misinya menemukan Vanessa. "Tau gitu gua nggak tinggalin dia tadi" Sesal Raka.
Penyesalan memang selalu berada dibelakang. Seperti kondisi Raka saat ini yang sangat menyesali keputusan nya tadi. Namun mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau Raka harus menjalankan perintah atasannya itu.
Ia sudah tidak mengerti tujuannya lagi, namun ia tetap mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan jalanan ibu kota menerobos kemacetan di tengah terik matahari. Hingga ia menghentikan mobilnya sejenak karena lampu merah.
"Kenapa lama sekali." Raka sudah mulai kesal karena rambu-rambu lalu lintas itu tidak kunjung juga menghijau.
suara deru klakson saling bersahut-sahutan. Raka yang penasaran memutuskan untuk bertanya kepada pengguna jalan lain yang berada di samping mobilnya.
Karena orang tersebut menggunakan sepeda motor, maka ia pun dengan mudah untuk mengetahui apa penyebab kemacetan yang sebenarnya. orang itu pun mendongakkan kepalanya, berusaha untuk melihat objek yang ada di depannya.
"Sepertinya ada orang yang menelepon pak di tengah jalan." Jawab laki-laki tersebut.
"Telepon." kata Raka yang kemudian diam sejenak. "_Oke pak terima kasih."
Raka yang seolah mendapatkan Ilham, segera meraih ponselnya dan berkata.
"Kenapa gua nggak kepikiran dari tadi ya."
Tot...Tot...
Ia pun segera mencari sebuah nama dikontak ponsel nya, dan ingin segera meneleponnya. Namun sebelum niatnya itu terlaksana, ia harus segera menjalankan mobilnya karena pengguna jalan yang belakangnya sudah membunyikan klakson mobil nya. Raka yang terlalu fokus dengan ilham yang barusan ia dapat sampai tidak menyadari jalanan didepannya sudah tidak macet lagi.
"Sialan." Kata Raka karena gagal merealisasikan Ilham nya.
Setelah beberapa meter mengemudi, ia meminggirkan mobilnya untuk menelepon.
__ADS_1
"Hallo."
"Iya kak, ada apa tumben banget telpon Angel." Kata wanita dari sebrang telepon itu.
"Emm.. kamu lagi sama Vanessa nggak?"
"Tadi iya, Tapi sekarang udah kita antar balik."
"Balik ke rumah pak Anggoro?" Tanya Raka untuk memastikan.
"Iya mau kerumah siapa lagi?" Jawab Angel dengan sebuah pertanyaan pula. "_Kalo kerumah kakak nanti Angel tapi pas udah jadi istri." Sambung Angel dengan diiringi suara cekikikan.
"Oke terimakasih." Jawab Raka secara singkat dengan mengabaikan perkataan Angel barusan.
"Udah gitu aja?" Tanya Angel dengan suara nyaring.
"Mau apa lagi? Kakak lagi ada dijalan ini nggak ada waktu lagi."
"Buru buru amat mau kemana?" Tanya Angel yang penasaran.
"Balik kerumah Pak Anggoro mau jitak kepala Vanessa." Ucap Raka ketus kemudian tanpa aba aba dan mengucapkan salam ia memutuskan sambungan telepon nya.
Setelah mendapatkan informasi yang sangat penting dari sahabat Vanessa. Raka pun tak perlu lagi mencari Vanessa, karena ia telah mengetahui keberadaan Vanessa sekarang.
"Kenapa nggak dari tadi gua kepikiran buat telpon sahabat nya Vanessa, bodoh emang gua." Ucap Raka sendiri, sambil menghidupkan mesin mobil nya.
Dengan penuh semangat Raka kembali menyusuri jalanan menuju kediaman Anggoro, untuk melaporkan hasil pertemuan yang sudah ia hadiri.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa like dan komen nya dung sayang sayang kuh....
...Kasih semangat author dengan like dan komen nya ....
...🥺🥺🥺...
__ADS_1
...Makasih sebelumnya peyuk jauh dulu...
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...