
Seketika Nara membulatkan matanya, ketika ketika mendengar penjelasan yang disampaikan oleh Alex barusan.karena ia merasa jika pria itu sudah memeras dirinya.
"Hay, pak. Anda tidak bisa membuat keputusan seenak jidat Anda. Lagi pula jika saya tahu, Anda yang akan menjadi bos saya, maka saya akan menolak mentah-mentah tawaran ini!" Nara mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya dan menatap tajam ke arah Alex.
Sementara Alex, ia menanggapi dengan santai, apa yang di ucapkan oleh Nara barusan, lalu pria itu berjalan menuju pintu.
"Ya sudah, kamu silahkan keluar. Karena saya juga tidak berminat dengan sekertaris ceroboh seperti kamu dan jangan lupa, pengacara perusahaan akan menghubungi kamu untuk membayar denda senilai 100 juta. Karena kamu sudah memutuskan kontrak secara sepihak."
Nara tahu, dia tidak akan menang melawan pria sperti Alex yang memiliki uang dan jabatan.karena tidak ingin menambah masalah dengan membayar uang sebanyak itu, akhirnya ia meletakkan tasnya dibatas meja, lalu berjalan menuju lemari. Bermaksud ingin merapikan map-map yang berada disana.
Alex pun menyeringai licik, saat melihat kelakuan wanita itu. Sebenernya ia sedikit keberatan menerima Nara menjadi sekertarisnya. Namun, pria itu tidak punya pilihan lain karena banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan.
Tak terasa waktu terus berputar. Hingga jarum jam menunjukan angka 5 sore. Nara pun bersiap-siap untuk membereskan di atas meja kerjanya. Karena itu bermaksud ingin pulang ke rumah.
Namun, ketika ia hendak melangkah pergi, Alex yang saat ini masih berkutat di hadapan laptopnya langsung menghentikan langkah wanita itu."Siapa yang menyuruh pulang?" Tanya Alex membuat Nara langsung membalikan tubuh menatap ke arah CEO-nya tersebut.
"Bukan kah ini sudah jam pulang kantor, Pak?" Tanya Nara yang melihat pegawai lainnya,untuk bersiap-siap segera pulang.
"Ya, ini memang jam kantor, tapi kau harus menemaniku lembur hari ini. Karena banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan," Jelas Alex membuat Nara seketika membulatkan matanya.
"Hmm, tapi Pak—"
"Dilarang protes!" Potong Alex cepat, membuat Nara dengan berat hati membalikkan tubuhnya, sambil menghentak-hentakan kaki. Saat ini jarum jam pun sudah menunjukkan pukul0
00 malm. Nara yang sedang asyik menyelesaikan laporan, tiba-tiba menghentikan aktifitasnya. Ketika ia merasa perutnya sudah bergejolak.
"Bos, lapar," Bisik Nara pelan kepada Alek yang masih berkutat dengan laptopnya.
Seketika pria itu menghentikan aktifitasnya, lalu mengambil sebungkus roti yang ia simpan di laci dan melemparnya ke arah Nara. Tanpa sepatah kata pun.
"Ya ampun, Pak bos. Mana kenyang saya kalau cuma dikasih makan roti. Apa Anda tidak lihat, di KTP saya tertulis Republik Indonesia, yang sebagai besar penduduknya terbiasa makan nasi untuk manu makan malam mereka. Bukan roti yang bisa bikin perut saya pedih dan akhirnya penyakit lambung saya kumat," Protes Nara panjang lebar, membuat alex ingin sekali menyumpal mulut wanita itu dengan menggunakan kertas yang berserakan di atas meja kerjanya.
__ADS_1
"Kamu jadi wanita tidak ada elegen-elegennya. Setiap hari kerjaanmu hanya protes. Bersyukur kamu masih bisa makan, walau cuma makan roti banyak orang diluar sana yang tidak bisa makan. Karena memang tidak ada manakanan untuk mereka makan."
Mendengar wajengan dari alex, Nara hanya diam sambil menggaruk telinganya yang tidak gatal. Karena ia tahu jika dirinya akan kalah jika harus berdebat dengan pria itu.
Sambil memasang tampang wajah cemberut wanita itu mengunyah sebungkus roti pemberian dari bosnya tersebut.
Sementara alex ingin sekali ia tertawa melihat raut wajah kesel yang ditunjukkan oleh sekertarisnya. Namun, ia juga tidak tega, jika harus menyiksa anak orang. Akhirnya secara diam-diam
Alex pun memesan makan secara online.
Tak lama kemudian, kurir pengantar makan yang merupakan pelanggan Alek pun datang. Pria itu meminta Nara untuk segera membuka pintu ruangan tersebut. Betapa terkejut wanita itu ketika melihat kurir itu membawa dua porsi makanan, membuat mata Nara seketika berbinar-binar. Karena perutnya yang masih terasa lapar dan tidak mempan di ganjal dengan sepotong roti.
"Ini, mbak. Saya mau mengantar pesanan pak alex," Jelas kurir itu.
"Ya sudah, Bang. Sini makanannya. Terimkasih sudah merepotkan," Ucap Nara lalu mengambil makanan tersebut dan pergi dengan tergesa-gesa. Karena perutnya sudah tidak bisa lagi di ajak kompromi.
Wanita itu pun segera membawa makanan tersebut ke sofa yang ada diruangan itu dan meletakkan di atas meja.
"Ayo,Pak.kita makan dulu. Biar ada energi utuk melanjutkan pekerjaan," Ucap wanita itu.
Mendengar Jawaban dari pria itu. Nara langsung berdiri dan membereskan tumpukan kertas. Yang ada di meja bosnya tersebut.
"Bos,sebaiknya Anda juga makan. jika Anda sakit, jangan untuk bekerja. Pergi ke kantor saja Anda tidak akan sanggup," Celoteh wanita itu.
Alex pun terdiam, karena apa yang dikatakan Nara memang benar. Jika ia sakit, maka ia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya.
Sejenak ia menatap ke arah wanita itu, lalu berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan ke sofa.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi alex untuk menghabiskan satu porsi makanannya, membuat Nara merasa heran menatap ke arah pria itu.
"Wah, mungkin jika di adakan lomba makan tercepat,Anda adalah pemenangnya, pak," Ucap Nara yang menatap takjub ke arah Alex. Karena baru beberapa suap ia masukan makanan kedalam mulutnya. Sementara Alex, pria itu sudah selesai makan.
"Time islam money, Nona. Jadi jangan buang-buang waktumu dengan percuma jika kau ingin sukses," Jelas Alex yang sudah menghabiskan satu botol air mineral dan berjalan menuju meja kerjanya.
Mendengar perkataan CEO-NYA, Nara segera menghabiskan makanannya. Karena ia tahu jika pria itu bermaksud ingin menyindir dirinya.
__ADS_1
"Times islam money, yang benar itu uang untuk makan dan waktu untuk bersenang-senang,'ucap Nara pelan. Namun, mampu ditangkap oleh indra pendengar Alex."Jangan menggerutkan! Cepat makan dan selesaikan pekerjaan mu," Perintah pria itu membuat Nara akhirnya mekan dengan tergesa-gesa.
Nara pun segera kembali ke meja kerjanya dengan wajah cemberut. Karena baru hari pertama bekerja. Ia merasa jika Alex sedang menghukumnya dengan menyuruh kerja rodi,
Membuat wanita itu mendengus kesal.
Karena sekarang seharusnya ia sudah berada di atas kasur, sambil menonton drakor kesukaannya.
'Hmm, apa kabar ayang Lee min ho. Maafkan aku karena belum sempat melihat wajah tampan mu,'ucap Nara dalam hati yang tidak ingin alex mendengar apa yang ia ucapkan barusan.
Hingga rasa kantuk pun menyerang, membuat wanita itu tidak bisa menahan kantuknya dan dan akhirnya mulai merebahkan kepalanya di atas meja. Siluet- siluet drama yang kemarin ia tonton kini bermunculan di bawah alam sadarnya.membuat wanita itu memimpikan sangat idola. Seakan nyata disaat Lee Min Ho yang menjadi pujaan hatinya,
Kini mulai mendekat dan berniat menciumnya.
'Oh, My sweetheart. I love you,'gimana wanita itu yang sepertinya sedang mengigau.
Nara pun memancungkan bibirnya, seakan ia siap untuk menerima ciuman dari sang idola. Namun, ia merasa ada benda aneh yang kini bertabrakan dengan bibirnya, membuat wanita itu tersadar dan segera membuka kedua matanya.
"Pak Alex!Apa yang Anda lakukan?" Tanya Nara yang kini seakan berciuman dengan gumpalan kertas yang melekat di bibirnya, membuat wanita itu mendengus kesal menatap ke arah Alex.
"Dasar otak mesum sempat-sempatnya kamu tertidur dan saya yakin, pikiranmu itu diselimuti dengan hal-hal kotor. Hingga terbawa mimpi," Jelas Alex lalu beranjak pergi meninggalkan Nara."Bos, Anda mau pergi kemana?" Teriak wanita itu.
"Pulang!" Jawab Alex tanpa melihat ke arah Nara yang saat ini bergidik ngeri berada di raungan itu sendiri. Karena Alex sudah berjalan menjauh.
Setelah merapikan meja kerjanya dengan cepat kilat, Nara berlari menyusul CEO-NYA yang sudah masuk ke dalam lift.
"Bos, tunggu! Dasar pria tidak punya perikemanusiaan. Sudah seenaknya menghancurkan mimpi indahku. Sekarang mau main kabur saja," Gerutu wanita itu yang berlari dengan kencang. Karena melihat pintu lift yang hendak tertutup.
Untunglah ternyata Alex menahan lift itu dengan kakinya, membuat Nara bisa bernapas lega.
"Mimpi apa saya bisa memiliki sekertaris seperti kamu," Ucap wanita melihat penampilan wanita itu yang sudah acak-acakan.
Sementara Nara, ia hanya bisa cengengesan. Karena terburu-buru membuat wanita itu tidak sempat memperbaiki pakaian, serta rambut yang sudah tidak beraturan.
"Peace, Bos, sudah Malam protesnya ditunda dulu," Jawab wanita itu membuat Alex hanya bisa menghela napasnya secara kasar, sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1