CEO PERFECT DAN SEKERTARIS CEROBOH

CEO PERFECT DAN SEKERTARIS CEROBOH
chapter 9


__ADS_3

Saat ini di perusahaan Power Company, Alex baru saja memarkirkan Mobilenya di parkiran VIP, kusus untuk dirinya sendiri.


Melihat ponsel yang berdering, pria itu bergegas turun dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam gedung menjulang tinggi, yang merupakan kantor dari perusahaan tersebut.


Namun, kini tatapan aneh para karyawan tertuju kepada bos mereka karena tidak bisanya Alek yang terkenal perfect dan selalu rapi, kini berpenampilan acak-acakan seperti sekarang.


Sementara Riko, yang berdiri di depan lift, tiba-tiba terkejut. Hingga membuat buku di tangannya terjatuh. Pria itu pun segera memungut buku tersebut dan berlari menghampiri Alex dengan tergesa-gesa.


"Bos, cepat perbaiki penampilan. Apa kau tidak lihat, jika para karyawan saat ini menatap ke arahmu," Jelas Riko yang membuat Alex seketika


Membulatkan matanya.


Pria itu pun menatap ke arah dinding lift ya g memantulkan dirinya.betapa terkejutnya Alex, ketika melihat rambut serta dasi yang ia kenakan sudah tidak beraturan.


"Dasar wanita gila. Gara-gara perbuatannya aku harus menanggung seperti ini," Ucap Alex lalu dengan cepat masuk ke dalam lift. Karena pria itu berniat ingin merapikan penampilan sekarang.


Riko pun merasa heran, ketika mendengar perkataan bosnya barusan.


"Wanita gila? Maksud Anda siapa?"Bos, tanya pria itu yang merasa penasaran.


Seketika Alex menegang. Karena ia tidak mungkin menceritakan kajadian yang menimpa beberapa saat yang lalu.


" Oh, itu—kebetulan tadi saat di jalan, aku ketemu dengan wanita gila yang tiba-tiba langsung mengacak-acak rambutku, serta pakaianku, Hingga penampilanku seperti sekarang. Hmm, tapi kau tenang saja, aku sudah mengajar wanita gila itu habis-habisan. Karena dia sudah membuatku terlambat tiba di kantor."


[10/1 07.06] Nur Aisyah: Seketika senyum pun terbit di sudut bibir Alex. Ketika ia membayangkan wajah ketakutan yang di tunjukkan oleh Nara. Saat pria itu hendak menggodanya. Hingga tanpa sengaja mebuat bibir mereka saling bertabrakan.


Alex tanpa sadar menyentuh bibirnya, ketika mengingat hal itu. Membuat Riko merasa heran. Ketika melihat tingkah aneh yang di tunjukkan oleh bos tersebut.


"Bos, are you okay?" Tanya Riko yang membuyarkan lamunan Alex.


Alex yang tersadar, tiba-tiba mengambil sapu tangannya yang berada di dalam saku celana, lalu ia mengelap bibirnya berkali-kali dengan sapu tangan itu.


Seketika Riko membulatkan matanya dan berusaha menerka-nerka, apa yang sudah menimpa bosnya sekarang.


"Bos, kenapa kau mengelap bibirmu seperti itu? Apa wanita gila itu sudah berhasil mecuri ciuman darimu?" Tanya Riko yang berusaha menahan tawanya.


Seketika ia melihat ekspresi Alex yang tiba-tiba menegang dan juga tatapan tajam yang seakan hendak menghunus dirinya. Riko pun memilih diam sambil menutup bibirnya rapat-rapat.


Tak lama kemudian pintu lift pun terbuka . Saat ini penampilan Alex sudah terlihat rapi. Dengan langkah tegap, serta wajah dingin ia masuk ke dalam ruang rapat.


Karena saat ini akan bertemu denganmu Rudolf. Salah satu investor asing, yang akan menanamkan saham di perusahaan yang ia pimpin.


"Hell Mr, Rudolf. Nice to meet you. Sorry, made you wait so long." Alex mengatakan itu sebagai permintaan maafnya. karena ia sudah datang terlambat.


"Hi Mr. Alex. It doesn't matter,I also justru arrived," Jawab Rudolf yang tidak mempermasalahkan hal tersebut.

__ADS_1


Alex dan Rudolf pun sedang asyik berbincang-bincang, disaat hendak meraka memulai rapat. Alex segera menunjukkan presentasinya di hadapan pria itu dan juga peserta rapat lainnya, membuat Rudolf berdecak kagum dan semakin yakin untuk berinvestasi di perusahaan tersebut.


Hingga tercipta kerja sama di antara mereka dengan mendatangani perjanjian kontak masing-masing.


"Your presentasi is very good Mr. Alex. I am sure that our cooperation wil be off great senefit," Jelas Rudolf yang merasa puas atas presentasi yang di tampilkan oleh Alex.


[10/1 07.30] Nur Aisyah: "Thank you for the compliment, AS well as your trust ini my company."


Setelah mengatakan kalimat itu Alex segera mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Rudolf. Mengingat pria itu harus terbang ke Jerman. Akhirnya ia segera berpamitan dan pergi meninggalkan perusahaan tersebut.


Sementara Alex, ia segera memanggil Riko. Karena pria itu secepatnya butuh sekertaris baru untukmu membantunya bekerja. Mengingat ia akan membuka cabang untuk perusahaanya.


"Riko.bagaiman dengan sekertaris baru pengganti Natasha? Apa kamu sudah menemukannya?" Tanya pria itu dengan wajah serius.


Namun Riko menggelengkan kepala, karena sampai hari ini pun belum ada pelamar yang datang ke perusahaan mereka.


"Sepertinya para pelamar trauma, Bos. Karena sampai detik ini saya belum mendapatkan laporan dari kepala HDR." Jawab pria itu.


"Trauma? Itu artinya mereka tidak memiliki nyali untuk bekerjasama dengan ku. Bagus lah, aku tidak butuh pegawai yang tidak berkonoenten seperti itu."Alex mengatakan kalimat tersebut dengan begitu santainya.


Membuat Riko menatap heran ke arah bosnya tersebut. Karena pria itu terlalu selektif dan tidak menerima kesalahan kecil apa pun. Membuat para pelamar seakan enggan untuk melamar pekerjaan di perusahaan mereka. Padahal gaji yang di tawarkan cukup menjanjikan.


" Bos, Anda tidak bisa bersikap arogan seperti ini. Saya tidak mungkin terus-terusan mengatur jadwal kerja Anda. Karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Lagi pula proyek dengan tuan Rudolf akan segera si mulai. Jadi secepatnya Anda mebutuhkan sekertaris yang bisa menemani dan membantu pekerjaan Anda."


Seketika Alex pun diam, karena apa yang di sampai oleh Riko, itu Sangat beralasan, saat ini ia tidak bisa lagi terlalu selektif. Memilih sekertarisnya. Karena secepatnya ia harus menemukan pengganti Natasha. Demi kelancaran pekerjaannya.


Setelah mengatakan itu, Alek pun pergi meninggalkan Riko yang menatap heran ke arah bosnya tersebut. Karena tidak biasanya pria itu bersikap longgar. Namun, Riko bisa memaklumi. Karena saat ini mereka sangat membutuhkan seorang sekertaris.


[10/1 07.50] Nur Aisyah: ***


Sementara di depan perusahaan power company, ada seorang wanita yang berhenti di depan perusahaan itu dengan menggunakan gojek.


Wanita itu tidak lain adalah Nara yang sudah bertekad untuk melamar pekerjaan di perusahaan tersebut.


"Ini, bang uangnya. Tolong doakan Nara, semoga diterima bekerja di perusahaan itu," Pinta Nara yang saat ini hati dan pikirannya sudah tidak menentu.


"Siap, neng. Abang pasti akan doakan. Semoga neng Nara di Terima bekerja. Biar abang memeliki penumpang tetap, hehehe, "ucap abang gojek itu yang merupakan gojek langganan Nara tiap ia hendak bekerja.


" Ya sudah,Bang.


Nara masuk kedalam dulu,"pamit wanita itu, lalu menyerahkan helm yang ia kenakan kepada abang gojek tersebut.


Setelah tiba di depan perusahaan, Nara segera menyampaikan maksudnya. Jika ia ingin melamar pekerjaan sebagai sekertaris di sana. Kepada satpam yang saat ini sedang berajaga di depan perusahaan.


Satpam itu segera mengantarkan Nara keruangan Deka yang merupakan kepala HDR di perusahaan tersebut. Berdasarkan amat dari pria itu.

__ADS_1


"Permisi,pak Deka. Saya ingin menyampaikan, jika Mbak ini kebetulan ingin melamar pekerjaan di perusahaan kita sebagai sekretaris," Jelas satpam tersebut.


Deka langsung berdiri dan menghampiri Nara dengan begitu antusias, sambil menentukan jari-jari tangannya yang begitulah gemulai. Membuat Nara tidak berkedip ketika menatapnya.


"Ya sudah, kamu boleh pergi," Pinta Deka kepada satpam itu. Lalu ia langsung menggemgam kedua tangan Nara. Seolah-olah merasa sudah saling mengenal.


"Kau tahu, kau adalah Dewi penyelamat bagi perusahaan kami. Kalau begitu selamat bergabung di perusahaan power company," Jelas Deka sambil memerapikan rambutnya, bagaikan seorang wanita.


[10/1 08.01] Nur Aisyah: Smentara Nara, wanita itu seketika menegang karena seakan mampi baginya diterima bekerja tanpa harus melakukan interview terlebih dahulu.


"Benarkah saya diterima di perusahaan itu ini, Bos?" Tanya wanita itu memastikan.


Deka pun mengangguk sambil tersenyum, lalu mereka berdua melompat-lompat kegirangan.


"Sepertinya pak Deka sudah menemukan bestie-nya," Ucap salah seorang pegawai yang melihat interaksi yang terjadi di antara meraka berdua dari kejauhan.


Setelah asyik melompat-lompat, Deka pun merapikan bajunya. Tak lupa ia menancapkan bedak di wajahnya, membuat Nara hanya bisa menggelengkan kepala. Saat medapatkan kepala HDR yang sepertinya memiliki kepribadian ganda.


"Nara, ayo, kita keruangan CEO tanya sekarang. Karena kau akan menjadi sekertarisnya. Oh ya, aku peringkatkan kau jangan coba-coba utuk mendekatinya karena dia adalah milikku." Jelas Deka membuat Nara bergidik ngeri ketika mendengarnya.


[10/1 08.22] Nur Aisyah: Karena wanita itu pikir,jika pria yang akan menjadi CEO-nya adalah pria penyuka sesama jenis. Mengetahui hal itu membuat Nara merasa sedikit lega.dengan begitu ia merasa aman untuk bekerja. Karena pria yang akan menjadi CEO- nya bukan kah seorang pria hidung belang, mengganggunya kelak.


Setibanya di depan pintu ruangan pria itu. Deka langsung mengetuk pintu tersebut dengan antusias. Karena ia akan bertemu dengan pujaan hatinya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" Perintah seorang pria yang tidak lain adalah CEO mereka.


Deka pun segera menarik tangan Nara untuk masuk ke dalam ruangan pria tersebut.


"Permisi,Bos.saya ingin memperkenalkan sekertaris baru Anda.Dia—".


"Kau boleh pergi sekarang, Deka," Perintah pria itu yang langsung kepala HDR-nya. Membuat wajah Deka sketika cemberut.


Karena Alex males jika harus meladeni sikap lebay Deka yang terkadang sangat mengjengjekelkan. Saat ini pria itu duduk membelakangi Nara, sambil asyik memeriksa laporan lewat tablet-nya.


Sementara Nara, ia sedikit jengah. Karena dari tadi Alex tidak mempersilahkannya untuk duduk di kursi, membuat kakinya terasa sedikit gagal.


Akhirnya ia memberanikan diri utuk memperkenalkan diri. Agar bisa mengalihkan perhatian CEO- nya tersebut.


"Selamat pagi, pak. Perkenalkan nama saya Nara Arini. Saya sekertaris baru Anda," Jelas wanita itu.


Alek yang merasa familiar dengan suara wanita yang menjadi sekertarisnya. Lalu segera membalikan kursi. Karena ia ingin memastikan jika dugaannya salah.


[10/1 08.23] Nur Aisyah: Namun, tubuh pria itu dan juga Nara seketika menegang. Saat manik mata mereka saling bertatapan.

__ADS_1


"Kau—!"


Deg!


__ADS_2