
Alex sangat terkejut ketika mendengar pengakuan dari Nara barusan. Ia tidak menyangka ternyata Arvin sepupunya, pernah menjalin hubungan dengan sekertaris ceroboh nya tersebut.
"Apa? Jadi, dulu Nara dan Arvin adalah sepasangan kekasih? " Tanya Alex yang seakan tidak percaya.
Ada perasaan tidak suka yang pria itu rasakan. Ketika mengetahui hal tersebut. Mengingat sebentar lagi Nara menjadi calon istrinya.
Karena tidak ingin menyaksikan drama konyol yang hanya membuang waktu nya. Alex pun memilih untuk segera pergi.
Sementara Arvin, ia berusaha untuk membujuk Nara, supaya mau memaafkan dirinya.karena saat ini pria itu benar-benar menyesal sudah menghianati wanita, yang masih mengisi di dasar relung hatinya.
"Nara, aku mohon maafkan aku. Saat ini aku sadar, jika sebenrnya kau wanita yang sangat baik daripada Olivia. Karena hanya kau yang bisa memberikan kenyamanan dalam hidupku."
Sebenarnya Nara terlalu malas. Mendengar perkataan Arvin. Karena saat ini ia tidak ingin berurusan dengan pria tersebut itu lagi.
"Baik, aku akan memaafkanmu. Jadi, tolong mulai sekarang jangan menggangguku lagi, Vin," Pinta wanita itu yang berusaha bersikap tegas.
Mendengar Nara sudah mau memaafkannya, seketika senyum pun mengembang di sudut bibir Arvin.karena ia pikir ini awal yang baik untuk hubungan mereka.
"Jadi, kalau begitu maukah kau menjadi kekasih ku lagi, Nara? Secepatnya aku berjanji secepatnya akan memutuskan hubungan dengan Olivia dan tidak akan pernah tergoda dengan wanita itu lagi,"jelas Arvin dengan penuh harap.
Sementara Nara, seketika wanita itu tersenyum saat mendengar Pertanyaan dari mantan kekasih tersebut. Sambil menyilangkan kedua tangannya, ia menjawab pertanyaan dari pria itu.
" Hehehe, bukan kau tahu siapa diriku, Vin? Aku orang yang tidak suka memungut barang bekas. Jadi jika aku sudah membuangnya, maka aku tidak akan pernah memungutnya kembali.ya sudah, kalau begitu aku permisi."
Setelah mengatakan kalimat itu, dengan anggun nya Nara berjalan meninggalkan Arvin. Karena ia merasa puas sudah membalas apa yang pernah dilakukan pria itu kepadanya.
'Rasakan kau Arvin. Makannya jangan pernah bermain-main denganku, enak saja kau meminta
Aku untuk menjadi kekasihmu lagi. Kau pikir hatiku bisa kau permainkan seperti dulu lagi?'Nara terlihat sangat kesal. Karena wanita itu tidak menyangka akan bertemu dengan mantan kekasihnya di perut tempat ia bekerja.
Tak lama kemudian, Nara pun tiba di ruangan kerjanya yang bersebelahan dengan Ruangan Alex, COE-nya tersebut.
__ADS_1
Melihat kedatangan Nara, Alex segera menelepon wanita itu untuk segera datang ke ruangannya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," Pinta Alex dengan aura dingin dan juga menakutkan.
Dengan takut-takut Nara pun berjalan masuk ke dalam ruangan bosnya tersebut.
"Ada perlu apa Anda meninggal saya, Bos?" Tanya wanita itu yang berusaha sesopan mungkin, sambil menundukan kepala.
"Kenapa jam segini kau baru tiba di ruangan mu? Memangnya kau dari mana saja?" Tanya Alex yang pura-pura tidak tahu.
Padahal saat di lobi, tanpa sengaja melihat Nara sedang berbincang-bincang bersam Arvin sepupunya.
Sejenak wanita itu berpikir. Karena ia tidak mungkin berkata jujur kepada CEO- nya tersebut.
"Hmm, tadi sebelum keruangan, saya ke toilet dulu, Pak," Jawab wanita itu beralasan.
"Ya sudah, kalau begitu cepat siapkan bahan-bahan untuk rapat nanti dan ingat Nara, kamu harus lebih berhati-hati. Karena saya tidak ingin kamu lakukan kecerobohan yang bisa memperburuk image perusahaan," Pesan Alex yang mewanti-wanti sekertarisnya. Karena ia tidak ingin medapat malu di hadapan para petinggi perusahaan.
"Baik, pak. Anda tenang saja. Saya akan bekerja lebih hati-hati lagi dan tidak akan mengecawakan Anda," Jawab wanita itu karena ia tidak mendapatkan hukuman dari Alex. Yang hanya akan mempersulit dirinya saja.***
Tak lama kemudian rapat pun dimulai, Alex berjalan bersama sekertarisnya, dengan langkah tegap memasuki ruangan rapat.
Tanpa sengaja mata Nara tertuju kepada sosok pria yang ia hindari. Karena pria itu juga hadir. Di dalam ruangan rapat tersebut.
"Kanapa pria itu ada di dalam ruangan rapat? Perasaan aku sama sekali tidak pernah menuliskan namanya di surat undangan rapat," Pikir wanita itu di dalam hati, ketika melihat sosok seorang pria yang tidak lain adalah Arvin mantan kekasihnya, yang saat ini menatap wanita itu dengan begitu lekat.
Bisa Alex lihat, jika mata sepupunya itu hanya tertuju kepada sekertarisnya tersebut. Hingga membuat pria itu memutuskan untuk menyapa Arvin secara langsung.
"Wah-wah, ada angin apa gerangan, sehingga membuat tuan Arvin datang menghadiri rapat? Karena biasanya Anda sama sekali tidak tertarik dengan masalah perusahaan," Ucap Alex yang menyindir sepupunya tersebut.
__ADS_1
Arvin pun berusaha bersikap tenang, saat mendengar perkataan Alex barusan. Karena tujuan menghadiri rapat, sebenarnya hanya ingin melihat Nara. Mengingat pria itu tahu, jika mantan kekasihnya bekerja di perusahaan tersebut.
"Saat ini saya mulai tertarik dengan dunia bisnis tuan Alex. Makanya saya pikir,sudah saatnya saya terjun langsung untuk menghindari rapat. Menggantikan papi saya sebagai salah satu pemegang saham di perusahaan power company."
Nara yang mendengar penjelasan yang di berikan oleh Arvin, seketika menegang. Karena ia tidak menyangka jika perusahaan tempat ia bekerja, ada kaitannya dengan mantan kekasihnya tersebut.
'Pantas saja, tidak ada nama pria itu di daftar hadir undangan rapat hari ini. Ternyata dia menggantikan papinya untuk menghadiri rapat,"pikir Nara dalam hati.
Karena semenjak ia mengenal Arvin, pria itu sedikit tertutup dengan latar belakang keluarganya. Membuat Nara tidak mengenal sosok orang dari mantan kekasihnya itu.
"Bagus lah jika Anda tertarik dengan dunia bisnis. Saya harap Anda bisa menekuni nya dengan serius dan jangan setengah-setengah," Pesan pria itu lalu segera memulai rapat mereka hari ini.
Alex pun segera menunjukkan persentasinya di hadapan para direksi dan juga pemegang saham lainnya, membuat mereka sangat puas dan terpakau dengan penampilan pria itu.
Karena mereka tidak meragukan lagi sepakat terjang Alex dalm dunia bisnis, yang mampu mengembangkan perusahaan power company menjadi sebesar sekarang. Sementara Nara, ia pun segera menyerahkan materi presentasi hari ini kepada peserta rapat yang hadir wanita itu pun berusaha untuk hati-hati, karena ia tidak ingin mengecawakan CEO- nya tersebut.
Namun, tiba-tiba saat di dekat meja Arvin, wanita itu merasakan gugup yang luar biasa. Padahal Nara sudah berusaha setenang mungkin.
Hingga tiba-tiba hakim sepatu yang ia kenakan terpeleset saat hendak melangkah, membuat tubuhnya agak sedikit oleng dan hendak jatuh ke lantai raung rapat.
Arvin yang melihat hal itu. Secara Rifles berniat ingin membantu Nara. Dengan memeluk pinggang wanita itu. Namun, langkahnya kalah cepat.
Karena Alex langsung meninggal presentasinya dan dengan cepat menolong sekertarisnya tersebut.
"Nara kau tidak apa-apa? Tanya pria itu sedikit khwatir.
Sementara Nara, saat ini jantungnya sudah berdetak tidak karuan. Karena ia sangat yakin jika Alex pasti akan menceramahinya panjang lebar, seperti yang sering ia lakukan.
" Maaf, Pak. Saya tidak sengaja." Jawab wanita itu sambil menundukan kepala. Sementara Alex, ia sengaja mendekatkan wajah ke telinga wanita itu, membuat jarak mereka begitu dekat dan ia lu langsung membisikkan sesuatu kepada Nara, sambil berusaha tersenyum. Karena Alex ingin Arvin melihat keakraban yang terjadi di antara mereka berdua.
"Kau ini sangat ceroboh. Lihat saja nanti, aku akan memberikan hadiah spesial atas kecerobohanmu, Nara."
__ADS_1
Deg!...