
Tak terasa satu jam telah berlalu. Rapat pun usai dan kini para jajaran direksi dan juga pemegang saham, satu persatu mulai meninggal ruangan rapat.
Sementara Nara, ia dengan setia mengikuti langkah Alex dari belakang. Karena secepatnya wanita itu juga ingin pergi meninggalkan ruangan rapat. Mengingat Arvin yang masih berada di raungan tersebut.
Namun, ketika Nara hendak melangkah pergi. Arvin berusaha menahan lengan wanita itu."Nara, bisa kita bicara sebentar?" Tanya pria itu, membuat Alex yang berjalan di depannya seketika menghentikan langkah.
Alex pun menatap ke arah Arvind yang saat ini tanganya masih berada di lengan sekertarisnya. Melihat tatapan tajam yang ditujukan oleh bosnya tersebut, dengan cepat Nara melepaskan tangan pria itu.
"Ada perlu apa kau dengar sekertaris ku, Ar?" Tanya Alex yang bersikap santai, mengingat ia dan Arvind merupakan saudara sepupu.
Sejenak Arvin pun berpikir untuk mencari jawaban yang pas. Karena saat ini ia sangat susah untuk berbicara berdua dengan mantan ke kasihnya tersebut.
"Begini Lex, aku ingin meminta Nara untuk menjelaskan beberapa materi di ruangan rapat tadi. Karena ada beberapa poin yang tidak aku mengerti," Jawab pria itu yang hanya beralasan saja.
"Oh, kalau soal itu sebaiknya kau tanyakan saja kepada ku Ar.karena aku lebih mengerti daripada sekertarisku," Jawab Alex yang tidak ingin memberikan celah kepada pria itu.
Karena Alex bisa membaca dari gelagat yang di tunjukkan oleh Arvin. Jika ia ingin berduaan dengan Nara sekertarisnya.
Mendengar tawaran dari Alex, membuat raut wajah Arvin seketika berubah karena semua itu di luar dugaannya. Pria itu pun segera memcari alasan. Agar bisa menolak tawaran yang Alex berikan.
"Hmm, sebelumnya terimakasih atas tawaran yang kau berikan Lex. Hanya saja aku baru inget, jika setengah jam lagi aku akan ada janji bertemu dengan temanku. Jadi, sepertinya lain waktu saja aku akan memintamu menjelaskan materi rapat tadi," Jawab Arvin yang langsung medapatkan anggukkan dari Alex.
"Baiklah, Ar. Lain kali jangan sungkan jika kau ingin bertanya kepadaku."tawar pria itu sambil menepuk sepupunya.
Setelah merasa cukup berbasa-basi, akhirnya Arvin pun segera berpamitan. Karena ia yakin jika Alex pasti tidak akan mengizinkan berbicara berdua bersama Nara.
Kini tanggallah Alex bersama sekertarisnya tersebut. Sambil melipat kedua tangannya, pria itu menatap tajam ke arah Nara. Membuat wanita itu seketika menundukkan kepala. Karena Nara tahu pasti Alex akan menuntut penjelasan darinya.
" Kenapa kau diam? Apa tidak ada yang ingin kau jelaskan kepadaku?"tanya pria itu. Nara yang tidak mengerti dengan maksud perkataan Alex, hanya bisa menggelengkan Kepala. Karena ia memang tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan yang di ajukan Oleh CEO-nya tersebut.
"Maaf, Bos. Saya rasa tidak ada yang perlu saya jelaskan kepada Anda." Jawab wanita itu, membuat Alex semakin tersenyum sinis saat menatapnya.
"Bener tidak ada yang perlu kau jelaskan kepadaku? Apa kau lupa Nara, selain atasanmu di kantor... Aku juga calon tunanganmu?" Tanya Alex yang masih menuntut penjelasan dari wanita itu.
Sambil mendengus kesal. Nara pun balik menatap tajam ke arah Alex. Karena semenjak bertemu dengan pria itu, ia merasa hidupnya semakin tidak tenang.
__ADS_1
"Penjelasan apa yang ada harapkan dari saya, Bos? Sebaiknya Anda katakan saja jangan membuat saya menerka-nerka," Jawab wanita itu yang berusaha untuk tersenyum. Walau sebenrnya ia menyimpan rasa kesal yang semakin berkobar.
"Hmm, baik karena aku bukan orang yang suka bertele-tele, maka aku akan to the point saja. Ada hubungan apa antara kau dan Arvin?"
Deg!
Sudah Nara duga, jika Alex akan menanyakan kalimat itu. Padahal sebenarnya ia ingin menghindar. Karena terlalu malas bagi wanita itu untuk membicarakan tenang mantan kekasihnya tersebut.
Sejenak Nara terdiam. Karena ia tidak ingin menjelaskan kepada Alex, tentang hubungan sebenernya anatara ia dan juga Arvin.
"Hmm, tidak ada hubungannya apa-apa di antara kami, Bos." Jawab wanita itu sambil menundukkan kepala. Karena ia tidak ingin manik matanya bertabrakan dengan Alex.
"Jika tidak ada hubungannya apa-apa , knapa aku lihat Arvin sangat mengenalmu, Nara? Sebaiknya kau berkata jujur dan jangan ada yang ditutupi dariku," Pinta Alex dengan tatapan mengintimidasi.
Dengan berat hati akhirnya Nara menjawab pertanyaan dari pria itu.
Hmm, d-dia kakak kelasku saat kami masih kuliah dulu, Bos,"jelas Nara yang memberanikan diri menjawab dari CEO-nya tersebut.
"Hanya itu?" Tanya Alex yang kini mendekatkan wajahnya ke arah sekertarisnya itu. Membuat Nara sedikit salah tingkah, lalu mengalihkan pandangannya.
"Baiklah, Anggap saja saya percaya dengan penjelasan yang kamu berikan," Ucap Alex yang hendak melangkah pergi meninggalkan Nara. Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menatap ke arah wanita itu. Sambil menyeringai licik, Alex membisikkan sesuatu di telinga sekertarisnya tersebut.
"Jangan lupa besok pagi kau datang ke apartemen ku. Karena aku ingin memberikan kejutan spesial yang aku katakan tadi kepadamu," Jelas Alek membuat tubuh wanita itu seketika menggenggam.
Karena Nara sangat yakin dengan kejutan spesial yang di maksud oleh CEO-NYA tersebut. Bukankah sesuatu yang manis yang mampu menyentuh hati seorang wanita.
"Besok pagi? Bukankah besok pagi adalah hari libur, Bos? Saya juga butuh me time setelah satu minggu lelah bekerja. Karena menjadi sekertaris. Anda bukan hanya membuat tubuh saya lelah, tapi hati dan pikiran saya juga ikutan lelah," Protes Nara yang merasa tidak Terima, jika Alex berniat menyita waktu liburnya.
"Tidak boleh protes dan tidak ada penolakan Nara. Karena ini adalah perintah, jika kau keberatan itu artinya. Aku akan memotong 10% dari gajimu,"
Setelah mengatakan kalimat itu Alex dengan santainya berjalan pergi meninggalkan Nara, yang menatap kesal ke arahnya.
"Dasar CEO kejam! Sepertinya dia sangat suka menindasku. Awas saja tunggu pembalasan dariku.'Nara berkata sambil menatap punggung pria itu yang berlalu pergi, dengan perasaan amarah.
Saat ini ia benar-benar kesal karena Alex yang bersikap dengan seenaknya saja. Namun sebagai pegawai kecil Nara hanya bisa pasrah menuruti perintah dari CEO-NYA itu tampan bisa memberikan bantahan sedikit pun.****
__ADS_1
Tak terasa matahari mulai menujukan di sinarnya. Bunga-bunga pun mulai bermekaran. Memberikan ke indahan, serta ke hangat bagi setiap mata yang memandang.
Suasana pagi terlihat begitu cerah, namun tidak secara perasaan Nara yang ia rasakan hari ini. Raut wajah wanita itu seakan tidak bersemangat, ketika ia hendak melangkah pergi menuju apartemen CEO perfect-nya tersebut.
"Kita mau pergi kemana, neng? Tanya Odi yang merupakan ojek langganan dari wanita itu.
"Ke alamat ini ,bank,"jawab Nara sambil menunjukkan alamat apartemen Alex yang ada di ponselnya.
" Siap, neng. Let's Go!" Ucapa Odi sambil menyalakan sepeda motornya dan pergi menuju alamat yang di maksud.
Tak lama kemudian sepeda motor pria itu tiba di depan apartemen mewah, yang merupakan kediaman Alex. Odi pun segera menghentikan motornya. Namun, ia sama sekali tidak merasakan pergerakan Nara yang turun dari motor tersebut.
"Neng! Neng Nara! Kita sudah sampai," Panggil Odi yang membuat Nara yang dari tadi asyik melamun akhirnya tersadar.
"Eh, iya bang maaf," Ucao ucap wanita itu lalu mengambil uang di dalam tasnya dan menyerahkan kepada tukang ojek tersebut.
Saat ini dengan langkah gontai Nara berjalan menjadi apartemen yang di maksud. Setibanya di depan pintu Alex. Wanita itu berusaha menenangkan diri sambil narik napas dalam-dalam. Belum sempat Nara menekan bel apartemen Alex, tiba-tiba pintu apartemen itu terbuka, membuat jantung Nara berdetak kencang saat mengetahui hal itu..
Hingga terdengar suara seorang pria dari balik pintu, yang mengagetkan dirinya.
"Selamat pagi sekertarisku yang ceroboh. Sepertinya kau telat 10 menit," Jelas Alex, karena sebernarnya pria itu sudah mengetahui kedatangan Nara. Lewat monitor yang ada di dalam apartemennya tersebut.
"Tadi jalanan macet,Bos.lagi pula inikan bukan jam kerja." Jawab wanita itu dengan nada ketus.
"Baiklah, karena aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Sebaiknya sekarang kau masuk ke dalam . Karena kejutan spesial dariku sudah menunggu kedatanganmu," Jelas Alex sambil tersenyum lebar.
Sementara Nara, ia mulai curiga dengan gelagatan anehh yang di tunjukkan oleh Alex, wanita itu segera melangkah kan kakinya masuk kedalam apartemen pria tersebut.
"Taraaa! Ini kejutan spesial untukmu Nara," Ucap Alex dengan begitu antusias.
Sementara Nara ia hanya bisa menggerutkan keningnya sambil menatap tajam ke pria itu.
"Jadi, ini kejutan yang Anda maksud? Tanya Nara yang seakan tidak percaya.
" Iya, Nara. That's right, hehehe,"
__ADS_1