
"Oh my good! Hello, Bos! Apa anda lupa jika saya sekertaris Anda? Bukan pembantu Anda?" Tanya Nara sambil berkacak pinggang menatap ke arah Alex.
Karena ketika memasuki apartemen Alex, ia di suguhkan dengan setumpuk pakaian kotor milik pria itu. Sementara Alex ia seakan tidak berdosa. Dengan seringai liciknya ia dengan seenaknya memerintah Nara.
"Ini adalah hukuman untuk kamu karena sudah bertindak ceroboh, sekretaris ku.jadi, sebaiknya cepat kau cuci semua pakaian kotorku," Tunjuk pria itu pada keranjang yang berisi pakaian kotor miliknya.
Sementara Nara membulatkan kedua matanya. Karena ia tidak menyangka jika Alex akan bertindak kejam kepadanya. Sambil mendengus kesal, ia pun mengajukan protes kepada pria itu.
"Bos, bukankah Anda bisa membawa semua pakaian kotor ini ke laundry? Karena kalau begitu dengan terjamin kebersihannya. Dari pada Anda menyuruh saya untuk mencucinya," Jelas Nara, mengingat ada setumpuk pakaian kotorku miliknya yang belum sempat ia cuci di rumah.
Namun, Alex sama sekali tidak peduli dengan penjelasan yang di berikan oleh wanita itu. Karena baginya bisa menindas Nara adalah kesenangan tersendiri yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Baik, seperti saran kamu... Saya akan mengirim semua pakaian kotor ini ke laundry, Nara. Namun,tagihan laundry nanti saya potong dari gaji kamu dan tambahan lagi dengan potongan 10%.karena kamu tidak mau mengikuti perintah yang saya berikan." Jelas Alex yang memberikan ancaman kepada wanita itu.
Mendengar perkataan Alex, dengan cepat Nara langsung menggelengkan kepala. Karena ia tidak ingin Alex memotong gajinya. Mengingat Wanita itu memerlukan uang untuk membantu perekonomian keluarganya saat ini.
"Baik, Bos. Saya akan melaksanakan apa yang Anda perintahkan. Awas saja jika Anda memotong jerih payah saya selama ini," Protes wanita itu yang merasa tidak Terima.
Sambil menerima amarahnya , Nara pun segera mengambil keranjang kotor tersebut dan membawanya menuju dapur. Karena ini adalah pertama kalinya ia berada di dalam aperteman Alex, membuat wanita itu tersesat dan masuk ke dalam ruangan pribadi pria itu.
"O-ohh," Ucap Nara lalu seketika menghentikan mangkanya.
Sementara Alex. Ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan dari wanita itu.
"Makanya, kalau masuk kerumah orang itu jangan main nyelonong saja. Kamu ini, sudah ceroboh, tidak punya sopan santun,"gerutu Alex sambil menyilangkan tangannya."Maaf, Bos. Ya sudah, di mana letak mesin cucunya? Biar pekerjaan saya cepat selesai dan saya bisa segera pulang."
Mendengar perkataan Nara, Alex pun langsung menatap tajam ke arah wanita itu.
"Mesin cuci kamu bilang? Asal kamu tahu, semua pakaian saya ini tidak boleh di cuci dengan mesin cuci, Nara. Karena ia harus dicuci dengan menggunakan tangan secara langsung," Jelas Alex membuat Nara kini mengurut pelipis matanya.
"Hmm, tapi, Bos. Bukankah lebih efisien jika menggunakan mesin cuci? Lagi pula Anda jangan menyiksa saya seperti ini. Karena masih banyak pekerjaan rumah yang belum saya selesaikan," Ucap wanita itu sambil menghela napasanya secara kasar.
Namun, bukan Alex jika ia tidak bisa bedebat dengan sekertarisnya tersebut.
"Asal kamu tahu, harga satu kemeja saya ini sama dengan gaji kamu selama sebulan, bahkan bisa lebih. Jadi, saya tidak akan mengizinkan kamu mencucinya dengan masing-masing cuci. Karena itu bisa merusak kemeja mahal saya, Nara," Jelas Alex membuat wanita itu akhirnya memilih diam.
Karena percuma jika ia harus berdebat dengan CEO-nya tersebut karena Nara yakin jika ia pasti akan kalah.
'Huh, kemeja mahal. Sharusnya kemaja mahal itu tahan banting, jika bdo giles dengan apapun juga. Percuma saja beli mahal-mahal, jika di cuci dengan mesin cuci langsung robek. Mendingan beli kemeja yang harganya 100 ribu dapet tiga. Banyak tuh, jualnya di tanah abang,'gerutu wanita itu pelan, tapi mampu didengar oleh Alex.
Karena saat ini pria itu berjalan mendahuluinya. Agar bisa menunjukkan letak dapur kepada wanita itu.
"Kalau kerja itu pakai tangan jangan pakai mulut,"Sindir Alex membuat Nara langsung menutup mulutnya sambil berkata dalam hati.
Dasar kuping caplang. Dengan saja apa yang aku ucapkan, '
Saat ini mereka berdua sudah tiba di dapur. Alex pun langsung menunjukkan kepada wanita itu tempat dimana ia harus mencuci pakaiannya.
__ADS_1
" Ingat ya, Nara. Kamu harus mencuci pakaian saya sampai bersih dan saya tidak ingin melihat ada bekas noda walau sedikit pun,"pesan pria itu.
"Baik, pak. Anda tenang saja, saya pastikan akan mencuci kemeja Anda hingga bersih sampai ke akar-akarnya," Jawab Nara,membuat Alex hanya bisa menggelengkan kepala, saat mendengarkan perkataan dari wanita itu dan akhirnya memutuskan untuk pergi menuju ruangan kerjanya. Setelah kepergian Alex, Nara pun meratapi nasibnya sambil menatap ke arah tumpukan pakai kotornya milik CEO-nya tersebut.
"Hmm, mimpi apa aku semalam? Bisa-bisanya pria tengil itu menganggapku babu di Apertennya.'gerutu Nara dalam hati dengan keringat, yang kini mulai membanjiri keningnya.***
Tak terasa satu jam telah berlalu. Sementara Nara, dari tadi ia masih asyik berkutat dengan cuciannya. Karena wanita itu berusaha untuk mencuci dengan hati-hati.
Nara sudah bertekad untuk tidak melakukan kesalahan lagi karena ia tidak ingin mendapatkan hukuman dari Alex yang hanya bisa merepotkan dirinya saja.
Sementara Alex, saat ini pria itu sedang asyik berada di ruangan kerjanya, sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor.
Hingga tiba-tiba rasa lapar pun datang menyerang dirinya. Awalnya Alex ingin memesan makanan lewat ponselnya. Namun iya urungkan niatnya tersebut. Karena terlintas ide di benak pria itu,untuk menyuruh Nara memasak hidangan makan siang untuknya.
Pria itu pun segera berjalan menuju dapur untuk mencari keberadaan sekertarisnya tersebut.
'Nara kau dimana? Kenapa lama sekali mencucinya? "Tanya Alex sambil berteriak.
Namun, pria itu sama sekalian tidak menemukan keberadaan wanita itu. Membuat ia berpikir buruk terhadap Nara.
'Apa jangan-jangan dia kabur?" Tanya Alex dalam hati dengan penuh tanda tanya.
Hingga mata pria itu menangkap siluet wanita yang sedang menjemur pakaian di balkon Apertennya. Melihat hal itu, Alex menghampiri Nara."Kau ini kenapa tidak menyahut panggilan ku? " Tanya Alex yang menhampiri wanita itu.
"Hmm, apa Anda tidak melihat, jika saya sedang fokus menjemur pakaian? Jika anda tidak punya niatan untuk membantu meringankan pekerjaan saya, sebaiknya jangan mengganggu saya,Bos," Jawab wanita itu dengan nada ketus.
Sementara Alex, ia pun tersenyum tipis saat mendengar perkataan. Nara barusan.
"Apa Anda tidak lihat, jika saya sedang menjemur pakaian? Sebaiknya Anda delivery saja Bos," Jawab wanita itu dengan mendengus kesal. Karena saat ini tubuhnya sudah terasa lelah.
Dengan cepat Alex langsung menggelengkan kepala, menolak usulan yang diberikan oleh Nara.
"No, Nara. Saya lebih suka masakan yang di masak sendiri, dari pada harus memesan makanan di luar. Karena dengan begitu kualitas bahan makannya lebih terjamin dan saya tidak ingin mendengar kata penolakan yang ke luar dari mulut kamu, jika kamu tatap ingin menerima gaji utuh. Permisi. Setelah mengatakan kalimat tersebut, Alex pun pergi meninggalkan Nara yang saat ini sudah mengangkat kedua tangannya dan hendak melayangkan belom mentah kepada pria itu.
Namun, ia hanya bisa melakukan secara diam-diam. Karena Nara sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melawan Alex. Dengan sangat terpaksa ia pun menuruti perintah dari CEO-nya tersebut.
***
Saat ini Alex sudah menunggu kedatangan Nara di meja makan. Karena perutnya yang sudah merasa lapar, membuat ia akhirnya memutuskan untuk berteriak memanggil wanita itu.
"Nara, kanapa kau lama sekali memasaknya," Tanya Alex.
Tak lama kemudian, Nara pun datang dengan tergesa-gesa sambil membawa dua piring nasi beserta lauk di dalamnya. Karena dari tadi ia sudah mengeluarkan energi yang cukup ekstra. Membuat perutnya kini semakin keroncongan.
"Ini, Bos. Makan siang untuk Anda. Selamat makan," Ucap wanita itu yang meletakkan piring tersebut di hadapan alex.
Namun, betapa terkejutnya Alex, karena menu makan siang yang ada di hadapannya sekarang tidak sesuai dengan ekspektasi-nya. " Nara bukan kah saya tadi menyuruh memasak ayam kecap. Hmm, tapi kenapa sekarang kami hanya menghidangkan nasi dengan telur mata sapi yang di atasnya kamu taburi kecap?"tanya Alex yang langsung meletakkan sendok dan gapunya dan menatap tajam ke arah wanita itu. Sementara Nara. Yang awalnya ia makan dengan begitu lahap. Namun tiba-tiba terhenti akibat Alex barusan. "Bos, bukan nya Anda tadi bilang laper? Lagi pula saya tidak sempat utuk memasak ayam kecap apa yang anda perintah
__ADS_1
Sebaiknya Anda makan yang ada saja. Bukankah telur juga berasal dari ayam? Makanya saya taburi kecap di atasnya. Jadi sama saja seperti Anda sedang menyantap ayam kecap,"jawab Nara yang tidak mau kalah.
"Hmm, tapi—""Tidak ada tapi-tapian, Bos. Sebaiknya Anda harus bersyukur karena masih bisa makan. Karena diluaran sana banyak anak-anak yang kelaparan. Sementara tidak ada bahan makanan yang bisa mereka makan," Jelas Nara panjang lebar, membuat Alex seketika terdiam.
Akhirnya pria itu mau menyentuhmu makanannya dan mereka pun makan dalam keheningan. Karena tidak ada satu pun di antara mereka yang berniat untuk memulai obrolan.
***
Tak terasa tiga hari telah berlalu. Saat ini di perusahaan power company, terlihat pada karyawan cukup sibuk untukuntuk untuk mempersiapkan acara ulah tahun perusahaan yang bertepatan pada hari ini.
Sementara Alex,dengan langkah tegap ia berjalan memasuki lift khusus untuk para petinggi perusahaan. Tak lama kemudian Deka yang merupakan kepala HDR perusahaan tersebut, langsung berlari mengejar Alex.
"Hai,handsome, tungguin aku dong!" Teriak Dekat yang saat ini berlari mengejar Alex dengan gaya gemulai dan juga jari lentiknya.
Alex yang mengetahui hal itu langsung mempercepat langkahnya. Saat ia melihat Nara yang sedang berdiri tidak jauh dari lift, dengan cepat ia menarik tangan wanita itu supaya ikut masuk kedalam lift kusus tersebut.
"Bos, kenapa kau menarik tangan saya? Nanti bisa di lihat karyawan yang lain dan saya tidak ingin menjadi bahan gosip di kantor ini," Protes wanita itu.
Ketika Alex hendak menjawab perkataan wanita itu, tiba-tiba Deka menerobos masuk ke dalam lift.
"Hai, CEO handsome. Kenapa kau tadi tidak menungguku? Tanya Deka sambil mengedipkan sebelah matanya. Membuat Nara bergidik ngeri menatap ke arah pria itu.
" Sebaiknya kau jangan bikin ulah Deka. Ingat ini kantor,"Jawab Alex yang berusaha untuk bersikap tegas."Sikap kamu kok dingin banget sama aku si lex? Maksud aku, jika kamu belum punya pasangan, bagaimana jika aku yang akan-"
"Siapa bilang aku tidak punya pasangan. Karena nanti malam aku akan membawa calon istriku keacara ulang tahun perusahaan Bapak Mohammad Deka yang terhormat. "
Deg! Seketika Nara yang berdiri di belakang pria itu menegang. Karena saat ini Alex menatap ke airnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sementara Deka, ia mendengus kesal dengan sikap Alex yang memanggil nama panjangnya. Pria itu pun segera keluar dari lift dengan perasaan sedih.
'Apa bener Alex sudah memilikimu calon istri?, Hmm, aku jadi penasaran dengan wanita yang berhasil memikat hati pria itu. Karena setahuku selama ini. Alex tidak pernah dekat dengar wanita mana pun juga. Berani merebut Alex. Itu artinya dia harus berhadapan denganku,'
***
Saat ini di dalam lift, tinggal lah Alex berdua bersama Nara. Pria itu pun menatap tajam ke arah sekertarisnya sambil memberikan peringatan kepada wanita itu.
"Ingat Nara. Nanti malam kau harus memainkan peran mu sebagai calon istriku dan jangan sampai melakukan kesalahan yang akan menimbulkan kecurigaan bagi orang-orang yang melihatnya terutama mamiku," Pesan Alex yang memberi peringatan kepada Nara."Hmm, tapi, Bos. Jika saya menjadi calon istri Anda, saya takut memiliki banyak musuh. Karena saya yakin pria atua pun wanita yang mencintai Anda, pasti akan merasa sangat sakit hati kepada saya."ucap Nara memikirkan kemungkinan terburuk yang ia akan alami.
Alex pun tersenyum tipis saat mendengar perkataan wanita barusan.
"Jangan mencari alasan Nara, karena kamu sudah terlambat untuk menolak tawaran yang saya berikan.jadi, sebaiknya kamu Terima saja nasibmu calon istriku. Hehehe,"ucap Alex yang membelai wajah wanita itu, membuat Nara langsung menutup kedua matanya.
Alex pun tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Nara. Hingga terlintas ide di benaknya untuk mengerjai wanita itu.
Cup!
" Kau, k-kenapa kau menciumku? Tanya wanita itu yang tidak menyangka jika Alex berani melakukannya."Hehehe, bukankah kau yang memintanya, dengan menutuo kedua nata mu sebagai isyarat?"tanya Alex seperti tidak berdosa.
__ADS_1
Setelah mengatakan kalimat itu, dengan santai nya keluar dari dalam lift. Disusul dengan Nara yang menatapnya sambil menahan amarah.
'ya tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarangsekarang? Haruskah aku membiarkan CEO sakit jiwa, yang memiliki sikap perfect yang terlalu over dan juga orogan itu menghancurkan hidupkuhidupku?'