
Seketika Nara menegang. Ketika mendengar suara pria yang mulai familiar di telinganya. Wanita itu berharap pria tersebut tidak mendengar perkataannya barusan.
"Pak Rika? Kau mengagetkan ku saja . Tadi aku hanya asal bicara tentang sesuatu yang tidak penting. Jadi tidak usah kau pikirkan," Jelas Nara yang berusaha bersikap setenang mungkin.Agar Riko tidak menaruh rasa curiga kepadanya.
"Asal bicara? Lalu kenapa kau mengatakan Zaman Nabi Luth? Hmm, aku jadi penasaran apa yang kau bicarakan?" Tanya Riko sambil menyilangkan kedua tangannya menatap ke arah wanita itu.
Sementara Nara, ia tidak mungkin mengatakan yang sebenernya. Jika tadi ia sedang bergosip sendiri tentang Alex yang merupakan penyuka sesama jenis. Berdasarkan gosip yang beredar di perusahaan.
"Hehehe, itu hanya hal yang tidak penting Pak Riko. Jadi kau tidak perlu merasa penasaran. Oh ya, ada perlu apa kau datang keruangan ku?" Tanya Nara yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oh, begini Nara. Kebetulan tiga hari lagi akan ada rapat dengan para direksi dan juga pemegang sahamnya perusahaan ini. Jadi,tolong kau bikin undangan resmi untuk di sebarkan kepada mereka."
Mendengar perkataan dari Riko, Nara dengan cepat langsung menganggukan kepala."Baik,Pak.saya akan segera melaksanakan perintah Anda,"Jawab wanita itu sambil memberikan hormat layaknya seorang perajurit kepada komdan.
Melihat kelakuan Nara, seulas senyum put terbit di sudut bibir Riko. Karena ia merasa jika wanita itu semakin menggemaskan di matanya.
"Kamu jangan terlalu berlebihan memberikan hormat kepadaku ,Nara.karena aku bukan atasanmu, disini status kita sama-sama sebagai karyawan dari perusahaan power company. Jadi lain kali kau tidak perlu sungkan dan formal kepadaku," Pinta Riko dengan senyuman manisnya, membuat Nara seakan terkesima dengan pria tersebut. Senyum pak Riko sangat manis. Dia juga cukup tampan. Sepertinya—'
"Nara, kau kenapa tersenyum menatap Riko?" Jangan-jangan kamu ingin menggodanya, ya? Tanya seorang pria yang tiba-tiba datang dan berhasil membuyarkan lamunan itu.
Pria tersebut tidak lain adalah Alex yang menaruh rasa curiga. Karena secara diam-diam, dari ruangan ia terlihat gelagat aneh yang di tunjukkan oleh Nara dan juga Riko asisten pribadinya.
"Oh, tidak apa-apa Bos," Jawab Nara cepat.
Sementara Alex, ia langsung menatap ke arah asisten pribadinya dan langsung memberikan kode kepada pria itu untuk segera pergi meninggalkan mereka berdua.
Riko yang mengerti maksud dari bosnya langsung menganggukan kepala dan segera berpamitan kepada Nara.
"Ya sudah Nara, kalu begitu saya permisi dulu. Tolong kamu kerjakan apa yang saya perintahkan tadi," Jelas Riko sebelum melangkah pergi.
"Baik, pak," Jawab wanita itu sambil menundukan kepala. Kini tinggalah Nara berdua bersama Alex. Pria itu menatap tajam ke arah sekertarisnya, sambil memasukan kedua tangan kedalam saku celana.
"Memangnya apa yang di perintahkan Riko kepada kamu?" Tanya Alex yang meresa penasaran.
"Pak Riko menyuruh saya membuatkan undangan resmi untuk rapat direksi dan juga pemegang saham, yang akan di adakan tiga hari lagi, Pak," Jelas wanita itu.
__ADS_1
"Oh, ya sudah. Kalau begitu kamu ikut saya sekarang," Jelas Alex yang berjalan mendahului Nara.
Mau tidak mau, wanita itu harus mengejar langka tegap pria tersebut. Membuat Alex sudah lebih dahulu pergi meninggalkan dirinya.
***
Ternyata Alex mengajak Nara ke sebuah restoran mewah yang ada di kota jakarta. Kedatangannya pun disambut para pelayan yaang ada di restoran tersebut dengan ramah dan mengantarkan Alex ke salah satu ruangan private room yang ada disana.
"Bos, memangnya kita akan bertemu klien? Tabya wanita itu yang merasa penasaran.
" Apa kau tidak tahu ini tempat apa Nara?"tanya Alex yang menatap sinis ke arah sekertarisnya.
"Ya, anak SD juga tahu, Bos. Jika ini tempat makan," Jawab wanita itu yang mendengus kesal.
"Jika kamu tahu ini tempat makan, kenapa kamu masih bertanya lagi? Jangan membrikan pertanyaan yang mubazir Nara, karena itu akan membuang waktu saya untuk membawanya. Ucap Alex dengan begitu arogan.
Sementara Nara, wanita itu merasa heran. Karena ia selalu saja salah dimata bosnya tersebut."Bukankah berbicara panjang lebar seperti itu juga mubazir, membuang-buang waktu saja." Wanita itu berbicara pelan. Namun, mampu didengar oleh Alex.
"Kamu berbicara apa barusan? Jangan menggerutu di belakang saya Nara." Alex pun langsung menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah wanita itu.
"Hmm, tidak apa-apa, Bos. Saya hanya berbicara sesuatu yang tidak penting dan akan mubazir, jika Anda mendengarnya. Aya, Bos.kita masuk kedalam ruangan sekarang," Ajak wanita itu lalu berjalan mendahului Alex.
"Saat ini sudah tersaji berbagai hidangan mewah di hadapan mereka berdua. Nara pun merasa takjub menatap ke arah hidangan itu. Karena menjak ayahnya mengalami kebangkrutan, ia dan keluarga jarang menyantap hidangan mewah tersebut.
" Wah, sepertinya sangat enak," Ucap wanita itu langsung mengambil lobster besar tanpa permisi lagi kepada Alex dan menyantapnya secara brutal.
Sementara Alex, ia langsung ilfeel melihat cara makan yang ditujukan oleh sekertarisnya tersebut.
"Nara, kau ini sangat memalukan. Seperti tidak pernah memakan lobster saja," Jelas Alex sambil menghela napas secara kasar.
Nara pun langsung menghentikan aktifitas makannya lalu menatap ke arah Alex.
"Ya, saya hanya orang seorang rakyat jelata, mana pernah bos makan hidangan seperti ini. Bukan kah harga lobster sangat mahal? Jadi, tidak seperti anda yang bisa makan kapan pun juga," Jawab wanita itu membuat Alex seketika terdiam.
Pria itu segera mencari jawaban, mengingat Nara sebentar lagi akan menjadi calon istrinya.
__ADS_1
"Nara, bukan kah kau sebentar lagi akan menjadi calon istri ku? Jadi, mulai sekarang kau harus bersikap anggun. Makan lah sesuai aturan dan jangan mempermalukan aku," Jelas Alex yang memberikan peringatan kepada wanita itu. Sementara Nara, wanita itu pun mendengus kesal. Ketika mengebor perkataan Alex barusan.
"Bukan kah peraturan itu dibuat untuk dilarang,Bos? Lagi pula untuk makan saja ribet amat," Jawab Nara membuat Alex hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kau ini. Selelu saja menjawab apa yang aku katakan. Cepat habiskan makananmu, supaya kita cepat kembali ke kantor," Jelas Alex yang langsung meneguk segelas air putih, hingga habis tak tersisa.
***
Tak terasa tiga hari telah berlalu saat ini perusahaan power company sedang kedatangan para direksi, serta pemegang saham perusahaan tersebut. Tak lupa kehadiran seorang pria yang begitu antusias untuk tiba di perusahaan itu.
Senyum pun mengembang di sudut bibir pria itu, ketika mobilnya sudah terpangkir di depan perusahaan tersebut.
"Nara, aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu denganmu," Ucap pria tersebut yang kini sudah tegap, memasuki kantor perusahaan itu.
Senyum pun mengembang di sudut bibirnya,ketika ia melihat seorang wanita yang dari tadi mengusik pikirannya, kini ada dihadapannya sekarang.
"Nara, senang bisa bertemu denganmu lagi," Sapa pria itu membuat tubuh Nara menegang.
Namun, sebisa mungkin wanita itu berusaha tenang dan bersikap ramah. Seolah-olah tidak pernah terjadi masalah di antara mereka.
"Maaf, ada perlu apa Anda di perusahaan ini, Pak?" Tanya wanita itu.
"Nara.jangan bersikap formal seperti itu. Bisa kita bicara sebentar?" Tanya pria tersebut yang tidak lain adalah Arvin,mantan kekasih Nara yang sudah menyakiti dirinya.
"Maaf, saya tidak punya waktu untuk Anda. Permisi!"
Ketika Nara hendak melangkahkan pergi, dengan cepat Arvin menahan lengannya.
"Aku mohon, Nara. Jangan bersikap seperti ini."
Tanpa mereka berdua ketahui, ternyata ada seseorang yang menatap tajam dari kejauhan.
'Apa hubungan Arvin dengan sekertaris ceroboh itu?kenapa mereka terlihat begitu dekat?"tanya seorang pria yang tidak lain adalah Alex.Karena rasa penasaran, Diam-diam Alex pun memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka berdua.
"Tolong, jangan pernah menggangguku lagi vin. Karena hubungan di antara mereka kita telah berakhir dan aku tidak sudi untuk kenal dengan seorang penghianat sepertimu! "
__ADS_1
Deg!..