
, Tak terasa dua hari telah berlalu. Sebenernya Nara sangat malas untuk berangkat bekerja. Mengingat ai harus bertemu dengan alex, CEO perfect sekaligus arogan yang sangat menyebalkan baginya.
Pagi ini wanita itu sedikit kesiangan. Karena sudah beberapa hari alex mengajaknya lembur hingga larut malam, membuat wanita itu sedikit letih. Karena rasa kantuk yang belum begitu hilang.
Wanita itu pun memlih untuk naik bus, ketimbang naik ojek. Karena ia pikir bisa memejamkan matanya walau sejenak.
Tak terasa 20 menit telah berlalu. Sementara Nara, ia sudah tertidur pulas di dalam bus tersebut. Hingga terdengar suara kernet bus yang membangunkan wanita itu.
"Neng! Neng! Bangun!" Panggil kernet bus tersebut.
"Apaan sih, Bang. Ganggu orang tidur saja, " Protes Nara yang masih betah memejamkan kedua matanya.
"Neng, bangun! Sudah sampai!teriak kernet bus itu sekali lagi.
Untunglah kernet bus tersebut tahu dimana tujuan Nara berhenti. Jika tidak wanita itu akan entah kemana. Karena merasa jengah melihat Nara yang tidak kunjung bangun, akhirnya ia memercikkan air yang ada di dalam botol mineral miliknya. Seketika Nara terlonjak kaget dan segera terbangun dari tidurnya, sambil memandang ke samping kiri dan juga kanannya. Namun, ia tidak menemukan satu penumpang pun di sana.
"Memang sudah sampai,Bang?" Tanya wanita itu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hmm,, nyenyak tidurnya, neng?" Tanya kernet itu yang bermaksud menggoda Nara.
"Hehehe.. Maaf bang saya ketiduran." Wanita itu langsung melirik ke arah arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Betapa terkejut Nara, ketika jam menunjukan pukul 07.50menit.itu tandanya ia cuma punya waktu 10 menit untuk tiba di meja kerjanya. Tanpa permisi lagi, Nara berlari sekencang-kencangnya.
Karena tidak ingin mendapat omelan dari CEO-nya tersebut. Jika datang terlambat ke kantor.
'Aduh, bagaimana ini? Semoga saja pak Alex juga kesiangan dan dia terlambat datang ke kantor,'pikir Nara dalam hati dengan penuh harap. Karena terus berlari dengan pikiran yang tidak menentu, tanpa sengaja Nara menabrak seorang pria yang berjalan di hadapannya.
Duar..!
Hampir saja wanita itu jatuh di jalanan, jika pria itu tidak memeluknya dari Belakang.
"Kau tidak apa-apa? " Tanya pria itu yang mengkhawatirkan kondisi Nara sekarang.
__ADS_1
"Hmm, saya tidak apa-apa. Anda tenang saja, tuan," Jawab Nara yang berusaha melepaskan pelukan pria itu dan berniat pergi menuju kantor dari perusahaan Power Company.
Ketika Nara hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba pria itu memanggil namanya, membuat Nara seketika terdiam kau menghentikan langkah kakinya.
"Nara!" Panggilan pria tersebut.
Wanita itu pun tidak bergeming sedikit pun. Ketika ia mendengar suara itu pria itu yang begitu familiar di telinganya. Seketika raut wajah Nara berubah menjadi sebuah kebencian. Ia sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari pria itu dan terus melangkah pergi.
"Nara tunggu!" Panggil pria itu sekali lagi.
Hingga terdengar suara seorang pria yang memanggil pria tersebut, membuat Nara menoleh ke arahnya.
"Arvin.Anda perlu apa kau berada di sekitar kantorku?" Tanya pria itu yang tidak lain adalah Alex. "Hai, lex. Kebetulan aku ada sedikit urusan di gedung sebelah," Jawab Arvin dengan mata yang sesekali melirik ke arah Nara, yang merupakan mantan kekasihnya.
Alex yang mengetahui hal itu, langsung menanyakan hubungan yang terjadi di antara mereka berdua.
"Apa kau mengenali wanita ceroboh ini ,Ar? Tanya Alex, membuat Nara langsung menatap tajam ke arahnya.
" Dia—"
Sementara Alvin, ia hanya memilih diam. Ketika mendengar perkataan dari mantan kekasihnya barusan. Pria itu sadar, jika Nara masih marah terhadap dirinya. Yang berselingkuh dengan wanita lain. Saat mereka masih menjalin hubungan.
"Oh, ya sudah, pak kalau begitu saya permisi dulu, "pamit wanita itu lalu segera pergi meninggalkan Alex. Tanpa medapatkan persetujuan dari CEO- nya tersebut. Karena Nara tidak ingin Alex datang terlebih dahulu darinya .karena jika itu terjadi, maka ia harus siap menerima siraman Rohani dari pria itu dan juga sindiran yang datang bertubi-tubi. Hingga memekarkan gendang telinga.
" Kalau begitu aku pergi dulu, Ar, "pamit Alex yang mendapat anggukkan dari Alvin, pria yang merupakan sepupunya.
Kini Alvin menatap Nara seakan tidak berkedip, ketika wanita itu masuk ke dalam gedung menjulang tinggi tersebut. Tak lama kemudian disusul oleh Alex dari belakang.
" Jadi, dia bekerja diperusahaan power company pimpinan, Alex? Hmm, bagaimna bisa? Bukan kah Alex seorang yang perfeksionis? Sementara Nara dia selalu melakukan kecerobohan? Hmm, walau ceroboh, tapi wanita itu sangat menyenangkan. Dia hangat dan juga perhatian.
Tanpa sadar senyum pun terbit di sudut bibir arvin.ketika ia membayangkan tingkah dari mantan kekasihnya tersebut. Hingga deringan tersebut.hingga deringan ponsel membiarkan lamunan pria itu. Arvin pun medengus kesal. Ketika melihat nama olivia yang saat ini sedang melakukan panggilan telepon. Karena wanita itu adalah wanita selingkuhan dan kini menjadi kekasih baru Alvin. Namun, pria itu tidak merasakan kebahagiaan karena Olivia selalu saja mengekang dan juga mengatur dirinya, membuat Arvin sama sekali tidak memiliki kebebasan.
Sangat berbeda di saat Nara yang dulu menjadi kekasihnya. Karena wanita itu penuh dengan kecerian dan juga perhatian, membuat Arvin.merasakan kebahagiaan yang seutuhnya.
__ADS_1
***
Sementara Nara, saat ia hendak masuk ke dalam lift, tiba-tiba ada yang menarik rambutnya, yang sengaja ia kuncir ke belakang.
Wanita itu pun merasa kesakitan dan hendak membalas perbuatan si pelaku. Namun, ketika ia ingin membalikkan tubuhnya ke Belakang. Tanpa sengaja manik matanya bertabrakan dengan manik mata pria yang tidak lain adalah Alex . "Apa? Tanya Alex pria itu yang tahu, jika Nara ingin melayangkan omelan kepadanya.
" Hehehe, tidak jadi, Pak,"jawab wanita itu.
Alex pun segera masuk kedalam lift. Disusul oleh Nara, yang memilih untuk berdiri di belakang CEO-nya tersebut."Bukan kah tadi kamu ingin memaki saya? Kenapa tidak jadi? " Tanya Alex yang bermaksud ingin menyindir wanita itu.
Seketika Nara pun menegang. Namun, stelah itu ia berusaha untuk bersikap tenang.
"Ya, mana mungkin saya berani memaki Anda, pak Bos. Saya sadar diri, jika saya hanyalah remahan rengginang. Sudah kecil nyemplung lagi ke kali ciliwung," Jelas Nara yang berusaha merendah. Karena ia tidak ingin mencari masalah dengan pria yang ada di hadapannya sekarang.
"Baguslah, jika kamu sadar diri," Jawab pria itu dengan nada mengejek.
Ingin sekali Nara mencekik lehernya. Karena Alex mampu membuat emosinya semakin tersulut. Namun, wanita itu berusaha untuk merendam acaranya. Karena ia tidak mungkin melempaskan kepada CEO- nya. Tak lama kemudian, ponsel Alex pun berdering. Melihat itu adalah panggilan telepon dari maminya, membuat Alex malas untuk mengangkat panggilan telepon dari wanita itu.
"Bos, ponsel Anda berbunyi. Sebaiknya diangkat, mana tahu penting," Ucap Nara yang berusaha mengingatkan Alex.
Akhirnya dengan berat hati pria itu mengangkat panggilan tersebut,sambil berjalan keluar meninggalkan lift dan diikuti Nara dari belakang.
("Ya, mi,Ada apa mami menelpon? Jika mau ingin bicarakan hal yang sama, Alex tidak punya waktu,")
Mendengar perkataan putranya, Renata tahu jika pria itu sedang mendengus kesal.
("Sayang,mami tidak banyak menyita waktumu. Mami hanya ingin kau memilih beberapa foto yang mami kirim barusanbarusan di ponselmu. Hmm, Kira-kira wanita mana yang cocok untuk menjadi istrimu ")
Deg!
(" Apa, Mi?,") Alex yang terkejut seketika melangkahnya, membuat Nara yang berjalan dengan terburu-buru di belakangnya langsung menabrak punggung pria itu.
Duarr!
__ADS_1
"Auuw!sakit, Bos! Kenapa anda tidak memberi aba-aba dulu, jika mau berhenti,"protes Nara sambil mengusap keningnya.
" Hmm, untuk apa saya memberi aba-aba? Memangnya kamu pikir saya sedang latihan baris berbarisan seperti anak SD, yang ingin mengikuti lomba 27 Agustus? Tanya Alex yang membuat Nara mendengus kesal. Wanita itu akhirnya memilih untuk pergi menuju meja kerjanya. Karena percuma jika ia terus-terusan berdebat dengan CEO- nya tersebut. Karena Nara sangat yakin, jika ia pasti akan kalah.