
Jam sudah menunjukkan pukul 23:30, tapi belum ada tanda-tanda kepulangan jihan, Dan telvon nya pun tak bisa di hubungi. Lastri cemas bukan main, mengingat bahwa Jihan bukan lah anak orang biasa.
Flashback on..
Dua hari setelah berziarah ke makam Bakri, Lastri bertemu seorang pria dengan wajah yang tertutup masker. Kemudian pria itu mengajak Lastri berbincang sedikit. Ia mengatakan bahwa gadis yang saat ini sedang bersama nya, bukanlah gadis biasa. Ia berasal dari keluarga yang sangat berbahaya, italah Sebab nya Jihan dititipkan kepada Lastri.
"Anda harus menjaganya untuk, tuan, kami nyonya" ucap pria misterius itu.
"Sebenarnya, siapa keluarga kandung nak Jihan, tuan?" Tanya Lastri.
"Setelah semua masalah selesai, tuan, kami akan datang sendiri menjemput nona muda. Sekarang tugas anda adalah menjaganya agar tidak terjadi sesuatu pada nona muda" ucap pria misterius itu, lalu menyodorkan bungkusan kecil yang di dalamnya terdapat benda kecil berukuran mikro.
"Apa ini, tuan?" Tanya Lastri saat memandang bungkusan yang di berikan pria misterius tersebut.
"Tolong tempelkan ini pada setiap pakaian, nona muda. Kegunaannya apa nanti anda akan tahu sendiri, nyonya" ucap pria misterius itu lagi. Dan langsung pergi meninggalkan Lastri yang sedang duduk termenung.
Flashback off..
"Astaga kamu kemana sih, nak, kenapai sampai jam segini belum pulang" ucap lastri sambil berjalan mondar mandir di depan pintu apartemen.
Triiiing
Bunyi telvon rumah, lastri langsung mengangkat telepon tersebut "Hallo.. Ini siapa?" Tanya Lastri kepada seseorang yang berada di balik sambungan telvon tersebut.
"Hallo, ini Bu Lastri ya? Saya mommy nya Reyhan, Bu" jawab Ajeng dari balik sambungan telepon.
"Oh iya, mbak. Ada apa ya, mbak?" Tanya Lastri lagi. Ia berharap tidak akan ada kabar buruk, tapi hati nya tidak bisa ia bohongi.
"Begini Bu Lastri. Saya mau nanya apa Reyhan nginep di apartemen, ibu? Soalnya Reyhan belum pulang, biasanya jam segini Reyhan udah sampai rumah" tanya Ajeng.
Deg
Ucapan Ajeng bagai Sambaran petir di malam hari. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Reyhan dan Jihan, Kemana mereka pergi sebenarnya.
"Tidak, mbk, nak Reyhan tidak ada di sini. Bahkan nak Jihan juga belum pulang" ucap lastri dengan nada cemas.
"Baiklah, Bu. Terima kasih infonya. Ibu tenang saja, nanti kalau ada kabar lain saya kabari lagi. Biar nanti suami saya yang mencari keberadaan mereka ber 2" ucap Ajeng menenangkan Lastri. Ia tau pasti Lastri sedang mengkhawatirkan Jihan, sama seperti dirinya yang mengkhawatirkan Reyhan. Maka dari itu ia menengadahkan Lastri agar tidak terlalu khawatir. Meski tidak bisa di pungkiri bahwa dirinya pun sangat cemas dengan keadaan dua sejoli itu.
"Iya, mbak, sama-sama" sambungan televon pun di matikan. Lastri luruh di lantai, ia terisak hingga tubuh terguncang hebat. "Ya tuhan.. lindungi Jihan dan jugak nak Reyhan. Jauhkan mereka dari mara bahaya" ucap lastri sambil menengadahkan kedua tangan.
__ADS_1
*********
"Siapa kau sebenarnya, dan apa maumu" tanya Reyhan dengan suara meninggi. Sebenarnya ia ingin sekali menghajar orang yang ada di depannya itu, tapi itu semua tidak mungkin. Sebab kedua tangan dan kakinya di ikat sangat kencang.
"Apakah kau tau, Reyhan. Siapa sebenarnya kekasih mu itu?" Tanya pria misterius itu.
"Siapa pun dia, jika kalian berani menyakiti nya sedikit saja. Kalian akan menyesal" ucap Reyhan berteriak.
"Iiihhh takuuut" jawab pria misterius tersebut dengan suara mengejek. Membuat Reyhan semakin murka dan marah.
"Apa maksud mu" tanya Reyhan sambil memicingkan mata nya.
"Tunggu setelah dia sadar, baru kalian akan aku ceritakan kisah masalalu" ucap pria misterius itu. Kemudian ia menyuruh bawahannya untuk membawa Jihan agar mendekat kepada Reyhan. Dan benar saja, wanita yang duduk di kursi sudut ruangan itu adalah Jihan. Reyhan tidak bisa melihat dengan jelas, sebab pencahayaan yang minim, hanya di tempanya duduk lah yang terkena sinar lampu.
Reyhan langsung membulatkan matanya. Ia terbelalak saat wanita yang di ikat kedua tangan dan kakinya itu sedang tidak sadarkan diri, hatinya semakin sakit saat melihat mulut jihan di tempeli dengan lakban hitam. Perlahan Jihan mengerjabkan matanya. Merasakan sakit di bagian tengkuk lehernya, tapi ia tidak bisa menggerakkan tangan maupun kakinya. Jihan membuka matanya lebar-lebar, saat melihat Reyhan di hadapan nya. Ia tak lagi bisa menahan air mata yang meluncur begitu saja. Ia henyam mengatakan sesuatu, tetapi mulutnya di lakban hingga ia hanya bisa terisak.
"Baj\*\*\*an kau!!!" Hardik Reyhan "lepaskan dia, jika kau punya masalah dengan ku. Mari selesai dengan jantan" ucap Reyhan lagi sambil berteriak. Hingga menonjol kan urat besar di lehernya. Ia sangat marah dan tak terima, jika kekasihnya di perlakukan seperti ini.
"Sabar bro.. ini bukan hanya soal kamu, tapi aku juga punya masalah dengan wanita ini" ucap pria misterius itu, lalu ia membuka topeng nya. Jihan membulatkan matanya, tak percaya bahwa orang itu akan nekad seperti ini. Lalu dengan kasar pria itu membuka lakban yang menutupi mulut Jihan "arghhh" Jihan berteriak kesakitan saat lakban hitam itu terlepas dari mulutnya.
Setelah cukup lama mengintai, akhirnya ia mendapatkan celah untuk menculik keduanya "sudah cukup lama aku mengintai pergerakan kalian, dan baru hari ini aku mendapatkan kesempatan emas itu" ucap Jerry sambil tertawa keras.
"Apakah kau tau, Rey. Kekasih mu itu adalah orang yang sangat sombong dan angkuh" ucap Jerry berbohong, agar Reyhan membenci Jihan "ia adalah perempuan yang sangat jahat. Pasti kau tidak percaya padaku. Tapi yaa sudahlah, yang penting aku sudah memberitahu mu tentang jatidiri nya yang sebenarnya" ucap Jerry terus memfitnah Jihan. Ia sangat membenci Jihan, setelah Jihan kabur dari acara pernikahan itu. Ia berjanji akan membuat Jihan hancur sama seperti Jihan telah membuat keluarga nya malu.
"Bohong.. dasar kau pembohong. Abang, jangan percaya dengan perkataan nya, dia cuman mau bikin kita salah paham. Agar, Abang, pergi meninggalkan aku. Itu tujuanya menculik kita berdua, bang" ucap Jihan dengan suara keras, air mata tak henti-hentinya meleleh di pipi mulusnya.
"Dasar kau\_\_" belum sempat Jerry menerus ucapnya, tiba-tiba pintu di dobrak dengan paksa.
Brruuaakk
Lebih dari 10 orang berpakaian serba hitam dengan tubuh tinggi besar nan kekar, masuk secara paksa mengejutkan Jerry, Reyhan dan Jihan.
"Menyerah atau ku habisi nyawamu sekarang juga" ucap salah satu pria yang mirip seperti bodyguard itu.
Lalu seorang pria paruh baya masuk dan berjalan sangat santay. Ia memakai topi dan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya, hingga Jihan dan Reyhan sulit mengenali pria paruh baya tersebut.
Dengan gerakan melambaikan tangan nya ke atas. Dua bodyguard itu melepaskan ikatan tangan dan kaki Reyhan dan juga Jihan. Jihan langsung berlari menjauh, Reyhan menghampiri Jihan dengan berjalan cepat, lalu memeluknya dengan erat "Abang, aku takut" ucap Jihan semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Reyhan, tubuhnya gemetar dan suara Isak tangis tak kunjung reda.
__ADS_1
"Tenang, sayang. Abang di sini. Kita akan keluar dari sini dengan aman" ucap Reyhan sambil mengelus rambut panjang Jihan yang sedang bersembunyi di balik dadanya. Pria paruh baya yang tak lain adalah Zen Lan. Ia melihat betapa tulus Reyhan mencintai putri nya, dan merasa sakit saat melihat Jihan ketakutan hingga tak berani mendongakkan kepalanya. Ia mengepalkan tangannya dengan gigi bergemelatuk.
"Bawa pria 'baj\*\*\*n' itu ke markas" titah Zen Lan pada para bawahan nya. Tanpa ia duga, ternyata Jerry membawa pistol yang ia selipkan di balik bajunya. Dengan cepat ia menarik pistol tersebut dan langsung menembak kan ke arah Jihan dan Reyhan.
Klaakk
Klaakk
Dor
Dor
Dua tembakan ia lepaskan. Reyhan tak sempat membawa Jihan menghindar, dan salah satu peluru tersebut mengenai bahu Jihan "Tidaaaaak" teriak Zen Lan, langsung menghampiri Jihan dan Reyhan.
Anak buah Zen Lan langsung menghajar Jerry hingga pemuda tersebut pingsan tak sadarkan diri.
Bugh
Bugh
Bugh
Reyhan melihat darah mengalir dari bahu Jihan. Ia menepuk pelan pipi jihan agar gadis tersebut bangun, tapi Jihan sudah tidak sadarkan diri. Zen Lan mengepalkan tangannya saat melihat Jihan terluka. Reyhan langsung menggendong tubuh Jihan ala 'birthday style. Zen Lan langsung menyuruh Reyhan membawa Jihan kedalam mobilnya.
"Pakai mobil saya saja, biar saya yang nyetir mobil nya" ucap Zen Lan panik. Dan Reyhan langsung membaringkan tubuh Jihan di jok belakang, dan memangku kepala gadis yang sangat ia cintai itu.
"Sayang, kamu harus kuat, kamu harus bertahan" ucap Reyhan sambil menggenggam tangan Jihan. Pria tampan itu nampak menyeka air matanya. Zen Lan langsung mencap gas dengan kecepatan tinggi, menuju rumah sakit internasional. Ia melihat kecemasan di wajah Reyhan.
Setelah 20 menit, akhirnya mereka tiba di rumah sakit internasional. Mereka langsung di sambut oleh beberapa perawat yang membawa brankar. Dengan cepat Reyhan membaringkan tubuh Jihan ke atas brankar tersebut. Zen Lan menyuruh Reyhan ikut menemani Jihan, sedangkan ia akan mengurus administrasi terlebih dahulu.
Setelah sampai di depan ruangan UGD, Reyhan menunggu di luar dengan cemas dan khawatir. Tak lama Zen Lan datang dan menanyakan kondisi Jihan.
"Bagaimana keadaan Jihan, apa sudah ada kabar" tanya Zen Lan dengan suara paniknya.
"Belum" ucap Reyhan singkat. Ia duduk di kursi tunggu sambil mengamati pria paruh baya tersebut 'siapa orang ini, dan kenapa ia membantu ku dan Jihan' batin Reyhan dengan seribu pertanyaan dalam hatinya.
Apakah Zen Lan akan membuka kebenaran di hadapan Reyhan dan Jihan?
Bersambung...
__ADS_1