CEO Tampan Milik Nona Mafia

CEO Tampan Milik Nona Mafia
bab#12 Darah B Negatif


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Jihan, apa sudah ada kabar" tanya Zen Lan dengan suara paniknya.


"Belum" Jawab Reyhan singkat. Ia duduk di kursi tunggu sambil mengamati pria paruh baya tersebut 'siapa orang ini, dan kenapa ia membantu ku dan Jihan' batin Reyhan dengan seribu pertanyaan dalam hatinya.


Setelah menunggu sekitar 10 menit, salah satu perawat keluar dari dalam ruangan UGD tersebut "maaf sebelumnya, siapa anggota keluarga pasien" tanya perawatan tersebut.



"Saya... saya calon suaminya, sus, gimana keadaan calon istri saya?" Tanya Reyhan.



"Pasien sudah melewati masa kritisnya. Tetapi pasien kehilangan banyak darah. Apakah, tuan, memiliki keluarga dengan golongan darah B negatif" tanya suster tersebut.



"Saya, sus. Golongan darah saya B negatif. Silahkan ambil darah saya saja" ucap Zen Lan, langsung menjawab pertanyaan perawat tersebut.



"Baiklah, mari ikut saya ke ruang laboratorium untuk menguji sampel darah anda, layak atau tidaknya, Mari" ajak perawat tersebut sambil mempersilahkan Zen Lan ikut dengan nya.



"Rey. Tolong jaga Jihan di sini, jangan sampai ada orang tak dikenal masuk kedalam ruangan ini" ucap Zen Lan, ia memperingatkan Reyhan agar tidak ada orang lain yang masuk kedalam ruangan tersebut.



"Saya akan menjaga Jihan, tuan, karena Jihan adalah calon istri saya. Maka saya akan menjaga nya dengan jiwa raga saya" ucap Reyhan menegaskan.


"Bagus" Zen Lan langsung pergi menuju ruangan laboratorium untuk di ambil darahnya.


'sebenarnya siapa orang ini? kenapa aku merasa, ia sangat dekat dengan Jihan. Atau jangan-jangan dia' batin Reyhan, ia berusaha mencerna setiap apa yang Zen Lan lakukan untuk Jihan.


Tak lama terdengar derap langkah kaki seseorang, ternyata itu adalah Lastri Ajeng dan Graham. Setelah Reyhan mengabari mereka bahwa Jihan terkena tembak, Ajeng dan Graham langsung menyusul Lastri, dan mengajak wanita paruh baya itu ke rumah sakit bersama mereka.


Draap


Draap


Draap


"Bagaimana keadaan, Jihan, nak Rey" tanya Lastri sambil mengguncang bahu Reyhan, air mata wanita paruh baya itu sudah tumpah ruah di pipinya.



"Bu Lastri, tenangkan diri anda" ucap Ajeng dengan lembut, sambil memegang kedua pundak Lastri dan mengajaknya duduk di kursi tunggu.



"Bagaimana ini bisa terjadi, Rey. Sebenarnya ada apa?" Tanya Graham sambil mengajak Reyhan duduk.

__ADS_1



Reyhan diam, ia bingung harus menjelaskan apa. Sebab semua itu terjadi begitu cepat dan tanpa ia sadari sebelum nya. Graham menepuk pundak putra sematawayangnya itu, mencoba mengerti dengan keadaan Reyhan yang pastinya juga mengalami syok atas kejadian ini.



Tak lama kemudian, perawat yang tadi membawa Zen Lan ke ruangan laboratorium, datang dengan membawa sekantung darah. Kemudian masuk kedalam ruang UGD tersebut.



Tapi ada yang aneh setelah perawat tersebut masuk kedalam ruang UGD. Reyhan tak melihat tanda-tanda kedatangan Zen Lan 'kemana, tuan, tadi? Aku belum sempat bertanya siapa namanya, dan belum juga mengucapkan terima kasih' batin Reyhan sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Zen Lan.



Graham melihat putranya seperti sedang mencari seseorang pun bertanya "Rey, kamu nyari siapa?"



"Tadi Reyhan ke sini sama seorang pria paruh baya, pa. Tapi ntah siapa Reyhan nggak tau. Dan pria tersebut lah yang sudah mendonorkan darah nya untuk Jihan" ucap Reyhan menjelaskan.



"Sopir taksi?" Tanya Ajeng menimpal.



"Bukan ma, jadi tadi pas aku sama Jihan di sekap, ada seseorang yang bantu kami berdua keluar dari sana, dan saat upaya penyelamatan itulah jihan terkena tembak. Orang itu juga yang nganter Reyhan sama Jihan ke rumah sakit ini" Reyhan menjelaskan dengan singkat kepada Ajeng.




"Reyhan belum sempat bertanya, Bu" jawab Reyhan dengan kepala menunduk. Reyhan nampak menyesal kenapa tidak menanyakan siapa nama pria tersebut, dan apa alasan atau tujuan nya menyelamatkan Jihan dan Reyhan dari sekapan Jerry.



"Tidak apa-apa, yang penting sekarang, kita pikirkan kondisi Jihan lebih dulu" ucap Ajeng menengahi. Ia berusaha bersikap tenang, padahal jantung nya tak kalah berdebar dari yang lain. Ia takut terjadi sesuatu dengan gadis yang sangat ia sayangi itu.



Dokter keluar dengan membawa kabar baik, luka tembak yang di alami Jihan tidak sampai mengenai organ vital nya. Secara keseluruhan kondisi Jihan masih stabil setelah melewati masa kritis. Saat ini jihan hanya perlu istirahatlah untuk memulihkan kondisi tubuh nya. Tranfusi darah yang di lakukan juga berjalan lancar. Saat ini hanya tinggal menunggu Jihan sadarkan diri.



Perawat keluar dan memberitahu Reyhan, bahwa Jihan akan segera di pindah kan ke ruang perawatan. Lalu perawat yang lain pun keluar dengan mendorong brankar Jihan, semua yang sedang menunggu Jihan di depan ruang UGD pun langsung mengikuti perawat yang mendorong brankar itu. Hingga sampai di ruang rawat VVIP, ruangan itu sangat luas dengan fasilitas yang hampir lengkap.



Semua orang yang menunggu Jihan di buat kaget tak terkecuali Reyhan. Pria itu sampai diam mematung. Seingatnya ia belum memesan kamar perawatan atau membayar biaya administrasi apapun.


__ADS_1


'apa mungkin lelaki itu yang sudah membayar semua biaya rumah sakit Jihan? Ya tuhan... Sebenarnya siapa dia, aku sampai di buat bingung olehnya' batin Reyhan.



Setelah Jihan berada dalam ruangan tersebut, semua perawat keluar di gantikan dengan Ajeng, Lastri, Graham dan juga Reyhan, yang senantiasa menunggu Jihan. Ia ingin menjadi orang pertama yang melihat Jihan sadarkan diri.


*******


Setelah selesai mendonorkan darah nya, Zen Lan berpesan kepada perawat tersebut Agar memindahkan Jihan ke ruangan VVIP. Ia memutuskan untuk mengawasi Jihan dari jauh, agar tidak menimbulkan kecurigaan terhadap Reyhan. Setelah memastikan Jihan di pindahkan ke ruangan VVIP, Zen Lan memutuskan kembali ke markas untuk memberi pelajaran pada Jerry.



Sesampainya di markas utama, semua penjaga membungkuk kan badan tanda memberi hormat pada sang ketua. Zen Lan masuk kedalam salah satu ruangan, di dalam Jerry masih belum sadarkan diri. Zen Lan memerintahkan Riyan untuk menyadarkan Jerry. Riyan langsung mengguyur tubuh Jerry dengan air dingin, hingga membuat pria muda tersebut tergeragab.



"Jangan beri dia makan atau minum. Siksa dia sesuka hati kalian. Jangan biarkan dia mati dengan mudah" ucap Zen Lan menegaskan.



"baik, tuan. saya pastikan ia akan mati secara mengenaskan" ucap Riyan.



"setelah pemuda ini mati. kirimkan mayatnya ke rumah orang tuanya" ucap Zen Lan lagi, dan di tanggapi anggukan oleh Riyan.



Zen Lan pergi meninggalkan Jerry yang sedang kedinginan di ruangan tersebut. Ruangan tempat penyiksaan, dimana hanya orang-orang tertentu yang bisa merasakan kedinginan ruangan itu.



"kau sudah membuat, nona muda, kami celaka, maka sebagai gantinya. nyawamu lah yang harus kau serahkan pada kami" ucap Riyan dengan tawa yang memenuhi ruangan tersebut.



"lepaskan aku.. aku mohon.. aku janji tidak akan menyentuh Jihan maupun orang-orang nya sedikit pun.. tapi aku mohon lepaskan aku" ucap Jerry, ia memohon agar Riyan melepaskan nya.



"apakah ada tawar menawar saat kau menyekap, nona muda, kami? jika tidak maka jangan coba-coba membuat penawaran" ucap Riyan dengan penuh penekanan. lalu ia melayangkan tinju ke perut Jerry bertubi-tubi.


bugh


"itu untuk calon, tuan muda, kami"


bugh


"ini untuk, nona muda, kami"


bugh

__ADS_1


"dan ini untuk memberimu pelajaran agar tidak menggangu orang yang salah" ucap Riyan sambil melayangkan tinju ke perut Jerry.


bersambung...


__ADS_2