CEO Tampan Milik Nona Mafia

CEO Tampan Milik Nona Mafia
bab#14 Zen Lan Menjenguk Jihan Di Rs


__ADS_3

Plap


Jihan membuka matanya, saat mendengar bisikan suara dari seseorang yang sangat ia kenali.



"Abang" panggil Jihan lirih. Kemudian mengerjabkan matanya, ia memperjelas pandangnya nya ke seluruh ruangan berwarna putih tersebut.



"Sayang... Sayang, kamu sudah sadar... Sebentar, Abang panggikan dokter" Reyhan menekan tombol nurse call, dan berlari keluar memanggil suster.



"Suster!! Suster!! Pasien atas nama Jihan sudah sadar sus!!" Teriak Reyhan sambil berlari. Kemudian seorang Dokter dan perawat menghampiri nya, setengah berlari menuju ruangan Jihan.



Dokter memeriksa kondisi Jihan, dan tekanan darahnya "tekanan darah dan detak jantung, nona Jihan, normal. Dan ini adalah suatu kemajuan yang sangat baik, tuan" ucap sang dokter, ia menjelaskan kondisi Jihan saat ini.



"Baguslah, terima kasih, dok"



"Baik, sama-sama, tuan. Nona Jihan, harus semangat dan terus ceria, itu bisa membantu pemulihan anda dengan cepat, nona" ucap dokter itu lagi, memberi saran serta support untuk Jihan.



" Terima kasih support nya, dok. Saya pasti cepat sembuh" ucap Jihan lirih. Ia masih merasa lemah serta belum terlalu ingin berbicara.



"Baiklah kalau begitu, saya permisi, tuan nona" pamit dokter tersebut.



"Sekali lagi terima kasih, dok. Silahkan" jawab Reyhan dengan sopan. Lalu dokter tersebut keluar dari ruangan Jihan. Dan hanya menyisakan mereka berdua saja. Sebab setelah Danu dan Amir pulang, Lastri dan Ajeng pergi bersama. Mereka membiarkan Reyhan menjaga Jihan, agar putranya itu tidak canggung saat berada di dekat nya dan Lastri. Maka dari itu Ajeng mengajak Lastri pergi ke suatu tempat.



"Sayang" panggil Reyhan. Saat ini ia sedang duduk di samping tempat tidur Jihan, dengan menggenggam erat tangan Jihan dan sesekali mencium punggung tangan gadis cantik itu.



"Kamu mau apa?" Tanya Reyhan lagi.



"Haus" ucap Jihan lirih. Kemudian Reyhan melepas genggaman tangan Jihan, lalu bangkit untuk mengambil air putih yang tersedia di atas nakas samping tempat tidur Jihan. Reyhan membantu Jihan duduk, lalu ia menopang tubuh Jihan dari belakang, dan membantu gadis itu minum.


__ADS_1


Jihan masih kesulitan menggerakkan tangannya, sebab bahunya masih terasa ngilu saat ia menggerakkan tangannya.



"Terima kasih, bang" ucap Jihan dengan senyum mengembang di bibirnya. Kemudian Reyhan membaringkan Jihan lagi, dan ia kembali ke tempat duduknya semula. Reyhan menatap lekat wajah Jihan yang terlihat pucat. Bagi Reyhan, Jihan adalah bidadari yang tuhan turunkan untuk nya. Apapun keadaan dan kekurangan Jihan, Reyhan sudah siap menanggung nya bersama Jihan.


*******


Di mansion utama tempat tinggal Zen Lan, lelaki setengah baya itu sedang bersiap-siap. Ia berencana akan menemui Jihan sebagai penjaga keamanan di tempat Jihan latihan ilmu beladiri.



"Permisi, tuan. Mobil anda sudah siap" ucap Riyan memberitahu Zen Lan, bahwa mobil yang akan di kendarai Zen Lan sudah siap.



"Baiklah. Terima kasih, Riyan. Dan ingat, jangan terlalu mencolok saat di tempat umum" ingatkan Zen Lan pada Riyan. Riyan akan mengawal Zen Lan dari jarak jauh. Meski tidak ada yang tahu siapa Zen Lan sebenarnya. Tapi berjaga-jaga dan waspada adalah yang terbaik bagi Zen Lan maupun Riyan.



Zen Lan mengendarai mobil tua yang sudah ketinggalan zaman. Ia sengaja membeli mobil tersebut agar bisa dekat dengan Jihan sebagai penjaga keamanan. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam. Zen Lan tiba di rumah sakit internasional, dengan jantung berdebar ia melangkah kelorong kamar Jihan. Setelah sampai di depan pintu ruangan Jihan, ia nampak menarik lalu menghembuskan nafas, agar tidak terlihat gugup di depan Jihan dan Reyhan. Kemudian ia mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk" suara dingin Reyhan mempersilahkan Zen Lan masuk. Kemudian ia menekan handel pintu dan membukanya.


"Hallo, nak Jihan" sapa Zen Lan saat sudah berada di dalam ruangan. Jihan menatap kedatangan Zen. Lan dan langsung tersenyum.



"Hallo, pak Zen" Jihan balik menyapa Zen Lan. Jihan biasa memanggil Zenan dengan sebutan 'pak Zen, itu adalah permintaan Zen Lan agar Jihan mudah mengingat namanya.



Kemudian Reyhan mempersilahkan Zen Lan duduk di sofa dekat ranjang Jihan. Zen Lan duduk dengan senyum mengembang saat menatap wajah Jihan. Dalam hatinya, ia sangat sedih melihat keadaan sang putri yang terbaring lemah.



"Bagaimana keadaan, nak Jihan?" Tanya Zen Lan pada Reyhan.



"Keadaan nya sudah membaik, hanya tinggal pemulihan stamina. Jihan lemas karena saat kejadian ia kehilangan banyak darah. Tapi sekarang sudah dalam masa pemulihan juga" Reyhan menjelaskan. Kemudian ia mengernyitkan dahinya.



'Suaranya seperti pria setengah baya yang mendonorkan darahnya untuk Jihan waktu itu' kemudian ia memperhatika. Dari ujung kepala hingga ujung kaki 'tetapi pria paruh baya kemarin berambut panjang, sedangkan, tuan, ini berambut pendek, tapi dari postur tubuhnya sangat mirip satu sama lain. Atau jangan-jangan??' batin Reyhan dengan seribu tanda tanya dalam pikiran nya. Sudahlah, mungkin hanya kebetulan. Menudian ia bersikap biasa lagi.


__ADS_1


Zen Lan melirik Reyhan dengan ekor matanya, ia tahu apa yang sedang di pikirkan pemuda tampan itu. Tetapi ia memilih diam dan tetap bersikap tenang, agar tidak menimbulkan kecurigaan terhadap Reyhan.


"Pak Zen, tahu darimana saya ada di rumah sakit?" Tanya Jihan memecah keheningan.


"Anak-anak di tempat latihan. Mereka membicarakan, nak Jihan. Yang sempat hilang di culik lalu masuk rumah sakit" jawab Zen Lan berbohong, ia sengaja berbohong agar tidak menimbulkan rasa curiga di benak Jihan. Jihan hanya manggut-manggut saja, sebab untuk banyak berbicara ia masih merasa lemas dan tak berdaya.


"Anak-anak? Di tempat latihan? Maksudnya apa, pak?" Tanya Reyhan dengan wajah penasaran.



"Iya, nak Rey, jadi sebenarnya, nak Jihan, ini adalah salah satu murit terbaik di padepokan jujitsu. Ia sudah lama tidak datang ke padepokan, ntah karena apa. Dan kemarin saat saya sedang bertugas jaga, saya dengar anak-anak membicarakan, nak Jihan" ucap Zen Lan menjelaskan.


"Kok kamu gak cerita, sayang?" Tanya Reyhan dengan tatapan mengintimidasi.


"Maaf, bang. Bukan nggak mau cerita. Tapi Jihan bingung mau cerita yang mana dulu, he he he" jawab Jihan sambil meringis memperlihatkan deretan giginya yang putih nan rapi.


"Nggak apa-apa kok, sayang. Aku nggak akan marah, malahan itu bagus, kamu sudah memiliki ilmu beladiri. Jadi kamu bisa melindungi dirimu sendiri saat aku tidak berada di samping mu" ucap Reyhan dengan senyuman termanis nya. Kemudian meraih tangan Jihan dan mengecupnya dengan lembut.



Zen Lan lega, saat mengetahui Jihan sudah siuman dan sudah dalam keadaan baik-baik saja. Kemudian ia berpamitan pada Reyhan dan Jihan, dengan beralasan sebentar lagi masuk siff nya berjaga. Kemudian Reyhan mengantar Zen Lan sampai di depan pintu ruangan Jihan.


"Nak Rey, tolong jaga Jihan, janga biarkan orang lain menyentuh apalagi menyakiti nya" ucap Zen Lan dengan suara dingin dan wajah tanpa exspresi.


"Saya akan menjaganya, tuan. Sebab bukan karena Jihan adalah kekasih saya, tapi sebentar lagi ia akan menjadi istri saya apabila saya berhasil menemukan orang tua kandung nya" jawab Reyhan dengan tegas. Zen Lan menepuk pundak Reyhan kemudian ia berlalu meninggalkan ruangan tersebut.



'Pesan yang ia ucapkan barusan, ya hampir sama seperti yang pria setengah baya waktu itu ucapkan. Aku yakin pasti ada sesuatu tersembunyi di balik identitas asli pria bernama, tuan Zen , itu' batin Reyhan. Kemudian ia menutup kembali pintu ruangan Jihan dan menghampiri Jihan yang sedang terbari di atas brankar.


***********


Di mall tepatnya di sebuah butik ternama, Ajeng dan Lastri sedang memilih baju untuk diri mereka dan untuk Jihan. Ajeng membawa Lastri ke butik langganan nya untuk membeli beberapa paikan.


"Mbak Lastri. Ini bagus nggak buat Jihan?" Tanya Ajeng, sambil menunjukkan dress berwarna merah maroon dan biru navy. ia memutuskan memanggil Lastri dengan sebutan mbak bukan Bu lagi, karena sebutan Bu terlalu tua untuk wanita yang ada di hadapan nya itu.


"Bagus bgt, mbak Ajeng. Pasti Jihan suka" ucap Lastri lalu menghampiri Ajeng.



"Mbak, juga pilih aja baju mana yang mau, mbak, ambil gak apa-apa. Saya yang bayar dan gak ada kata penolakan kali ini ya, mbak" ucap Ajeng sambil tersenyum.



"Saya jadi merasa nggak enak sama, mbak Ajeng, karena sudah terlalu baik sama saya" ucap Lastri.



"Kita ini calon besan, mbak, jadi nggak perlu malu atau sungkan, ya" ucap Ajeng lagi. Lalu membawa Lastri menuju deretan dress panjang dan memilih beberapa untuk di coba Lastri. Lastri mengambil baju tersebut kemudian pergi ke kamar pas untuk mencoba pakai itu.



Setelah puas berbelanja, Lastri dan Ajeng kembali ke rumah sakit. Tak lupa mereka juga membeli beberapa kue dan buah-buahan, serta makanan ringan untuk kedua anak mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2