CEO Tampan Milik Nona Mafia

CEO Tampan Milik Nona Mafia
bab#04 mencari informasi


__ADS_3

Setelah menceritakan semua kejadiannya, Amir dan Danu manggut-manggut tanda mengerti.



"Trus, lu mau kita gimana sekarang, Rey?" Tanya Danu,



"Gw mau, lu ber dua cari informasi tentang keluarga nya jihan, kenapa sampai dia di jodohin sama tua \*\*\*\*\*\* itu, dan caritau seluk beluk semua yang bersangkutan sama keluarga ataupun si Jihan nya itu sendiri" ucap Reyhan yang langsung di tanggapi anggukan oleh ke dua sahabatnya itu.



"Ok, besok kita langsung eksekusi tugas dari lu" jawab Amir,



"Iya Rey, lu tenang aja, soal informasi sekecil itu serahin aja ke kita ber dua, di jamin akurat" timpal Danu, dan di tanggapi acungan dua jempol dari Reyhan.



"Oy, gimana perkembangan bisnis kalian?" Tanya Reyhan kepada ke dua sahabat nya itu,



"bisnis gw sih aman, malahan!! anak buah gw banyak yang keteteran, saking banyaknya yang mesen!" ucap Danu, kegirangan.



"kalok gw sih, yaaaa!! biasa aja, soalnya gw gak terlalu ngejar bisnis yang itu, gw masih fokus sama perkembangan bengkel" jawab Amir, sambil terus mengunyah kacang kulit yang ada di atas meja, sambil sesekali menyesap minuman kaleng.



"syukurlah kalau begitu.. gw sih berharap! lu ber 2 mulai buka usaha yang halal, inget bro!! umur kita udah termasuk tua, bentar lagi pasti mikirin nikah" ucap Reyhan, menasehati ke dua sahabat nya.



Danu dan Amir saling memandang dan melempar tanya dengan mengangkat sebelah alisnya, pasalnya, Reyhan sama sekali tidak pernah perduli dengan urusan ke dua sahabat nya itu, dan hari ini, mereka seolah melihat Reyhan yang lain, sikap Reyhan juga tidak sedingin biasanya, bahkan, ia terkesan banyak melempar senyum, itu yang membuat ke dua sahabat nya terheran - heran.



Danu, dengan jahilnya, ia memegang kening Reyhan dengan punggung tangan nya "Rey..! lu sehat?" tanya Danu.



"emang kenapa, nu?" timpal Amir, memberi pertanyaan.



"Soalnya, gak kayak biasanya, ni kulkas empat pintu mau nasehatin kita, mir" jawab Danu, sambil terkekeh.



Reyhan menghela nafas panjang "gw tuh cuman pengen nasehatin aja, kalau lu gak mau ya gpp sih, gak rugi jugak buat gw" jawab Reyhan, kembali ke mode awal 'Dingin'.



tanpa banyak bicara, Danu dan Amir pun hanya mengucapkan 'terima kasih' atas saran dari Reyhan, dan Reyhan pun segera berpamitan, karena Jihan berada di apartemen sendirian, ia takut akan terjadi sesuatu dengan gadis yang diam-diam mulai di kagumi nya itu.



"lu, tenang aja, Rey, masalah informasi tentang keluarga nya si Jihan, serahin ke kita ber dua, pasti beres" ucap Danu, sambil berjalan mengantar kepergian Reyhan.



"oke, gw serahin masalah informasi sama, lu ber dua, gw balik, nu, bay" ucap Reyhan, sambil membuka pintu mobil dan segera melajukan kendaraan beroda empat tersebut.

__ADS_1


******


"Dasar b\*d\*h, t\*l\*l, ngejar satu perempuan aja kalian gak becus, hah? dia itu cuman gadis kecil, masak kalian kalah sama anak ingusan itu" ucap Bakri papa tiri Jihan.



"Maaf bos, tadi kami kehilangan jejak nya" ucap salah satu orang suruhan papa tiri Jihan.



"Pokoknya saya gak mau tau, kalian harus cari anak ingusan itu, seret dan bawa dia kembali ke rumah ini, kalau gak!! kepala kalian yang akan saya ledakkan" ucap Bakri berapi-api.



"Sudahlah ,pa, jangan marah-marah nanti darah tinggi nya kambuh" ucap mama lastri.



"Gimana gak marah, ma! anak yang kita asuh sedari kecil, giliran udah gede cuman di suruh nurut sama papa nya aja susah banget! itu anak kesayangan mu itu, ma!! bela aja terus!!" ucap Bakri sembari berlalu meninggalkan mama lastri sendiri di ruang tamu,



"Huffffff" mama lastri menghela nafas berat "Kamu kemana sih, nak, kenapa gak mau nurut apa kata mama, Sekarang kamu di mana coba, mama jadi khawatir" ucapnya sambil mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu,


Flashback on..


24 tahun yang lalu, saat Lastri dan Bakri baru pulang dari kantor, mereka di kejutkan dengan suara tangisan bayi yang ada di dalam kardus, saat itu kehidupan mereka masih sederhana tidak seperti saat ini,



Lastri dan Bakri yang sudah menikah lebih dari 7 tahun dan telah divonis tidak bisa memiliki anak pun sangat bahagia dengan kehadiran bayi tersebut, di dalam kardus mereka juga menemukan kotak kecil berwarna hitam, setelah di buka ternyata dalam kotak itu berisi sebuah kalung liontin, sepertinya memang di disain khusus untuk bayi itu dan sepucuk surat,



{ Aku titipkan bayi ini pada kalian, tolong rawat bayi ini dengan sepenuh hati, setelah ia dewasa aku akan mengirimkan orang untuk menjemput nya kembali, dan berikan nama yang sudah aku tulis untuk bayi ini 'Jihan Al-Mahira Anderson' kalian akan mendapatkan sesuatu jika kalian bersedia merawatnya dengan sepenuh hati }




Mereka hidup dalam gelimang harta dan kebahagiaan yang tiada Tara, hingga membawa Bakri pada jurang ketamakan, ia lupa bahwa Jihan bukan anak kandung nya dan berniat menjodohkan Jihan dengan seorang laki-laki tua nan kaya raya dengan tujuan memperbanyak harta,



Dengan menikahkan Jihan pada lelaki itu maka sebagian besar harta lelaki itupun akan menjadi milik Jihan, tapi ia juga melupakan satu hal, bahwa semenjak ia bersedia merawat Jihan kehidupan nya sudah di awasi oleh seseorang,


Flashback off..


"Kasihan Jihan, ia harus menghadapi sifat papanya yang egois dan terkesan kejam" ucap mama lastri saat mengingat kekejaman dan kesedihan yang di alami putri angkatnya itu.


****


Dua hari kemudian... Danu memberi kabar pada Reyhan bahwa dia dan Amir sudah berhasil mengumpulkan informasi tentang keluarga Jihan.



\*Hallo,, Rey\* ucap Danu dari sebrang televon.



"Iya, gmna, nu?" Jawab Reyhan,



\*Gw sama amir udah dapetin informasi tentang keluarganya si Jihan\* ucap Danu.

__ADS_1



"Bagus, nanti atau besok kita ketemuan di markas, untuk bahas masalah ini" jawab Reyhan,



\*Ok, gw tutup dulu telvonya, bay..\*



"Bay.."



Saat panggilan telvon berakhir, Reyhan kembali ke kamar untuk melihat keadaan jihan, setelah dua hari tinggal di apartemen Reyhan, banyak perkembangan yang Jihan rasakan, salah satunya ia mulai tenang, merasa nyaman dan kembali ceria seperti sedia kala.



"Hey,, kenapa belum tidur?!" Tanya Reyhan saat melihat Jihan masih bersandar di kepala ranjang.



"Maaf sebelumnya,, selama beberapa hari ini tinggal bersama mu kadang aku bingung harus manggil kamu dengan sebutan apa... Jadii.. aku boleh panggil kamu.." Jihan menggantung kan ucapan nya dan terdiam sejenak.



Reyhan mengernyitkan dahi nya "kok diem? Gpp tanya aja" ucap Reyhan.



"Aku boleh panggil kamu...abang?" Tanya Jihan sambil menunduk dan meremas jari jemari nya.



"Hahaha" Reyhan tertawa keras lalu mengubah wajahnya menjadi datar seketika,



"Kenapa ketawa?" Tanya Jihan sambil mengerucut kan bibirnya.



"Kamu aneh banget, cuman mau manggil aja harus bilang dulu, terserah kamu mau panggil aku Abang, mas, atau sayang juga boleh" ucap Reyhan, wajahnya kembali ke mode datar dan serius,



"Jihan, sebenarnya apa yang terjadi dengan mu, kenapa keluargamu sampai menjodohkan mu" tanya Reyhan,



Sebelum menjawab Jihan nampak berpikir sejenak, Reyhan yang mengerti akan jalan pikiran Jihan pun mencoba meyakinkan Jihan bahwa dia bukan orang jahat,



"Jihan...aku mungkin bukan orang yang mudah senyum atau gampang diajak bercanda, tapi aku bisa menjamin kalau aku bukan orang jahat...aku gak ada niat buruk sedikit pun sama kamu, aku hanya ingin membantu mu keluar dari masalah yang kamu hadapi sekarang...Jihan" ucap Reyhan sambil memegang dan mengelus pelan punggung tangan Jihan, tatapan mereka pun bertemu di titik yang sama,


Deg


Deg


Deg


Lagi, Jihan maupun Reyhan kembali merasakan debaran jantung yang tidak bisa mereka kendalikan,


__ADS_1


"Kenapa dengan ku, kenapa jantungku selalu berdebar tak terkendali saat berdekatan dengan nya" batin Reyhan dan Jihan bersamaan.


Bersambung...


__ADS_2