
Keluarga yang bahagia adalah dambaan dari setiap anak yang ada di dunia. Melihat ayah dan ibu bersama, saling menguatkan ketika terjadi masalah juga harapan setiap anak. Namun, tidak sedikit anak yang bahkan tidak menginginkan berada di tengah-tengah keluarga. Bintang adalah salah satunya. Dia bahkan rela pulang sore agar tidak bertemu dengan ayah dan ibunya di rumah.
Ketika di rumah, ayah dan ibunya selalu saja bertengkar. Bintang sering mendengar pertengkaran mereka yang berakhir saling lempar barang, atau bahkan berakhir di atas ranjang dengan suara-suara aneh yang mengganggu telinga.
Mereka terus berakhir seperti itu. Bahkan saat ibunya mengancam dengan menyebutkan perceraian, sehari setelahnya tidak ada yang mengungkit satu kata keramat itu lagi. Seakan semuanya tidak pernah terdengar sebelumnya.
Bintang bahkan berpikir, mengapa ayah dan ibunya tidak bercerai saja? keduanya hanya akan saling menyakiti ketika bersama. Jadi, apa yang perlu dipertahankan? Jika mereka mempertahankan pernikahan karena mengatasnamakan kepentingan sang anak, Bintang bahkan lebih suka ayah dan ibunya berjalan sendiri-sendiri.
Kehidupan keluarga Bintang yang berantakan, ternyata juga berpengaruh terhadap kehidupan sekolahnya. Dia tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan tidak bisa terbuka pada orang lain. Ia juga menjadi gadis yang tegas dan sedikit kasar karena ia di didik dengan keras. Karena sifatnya yang kasar, dia bahkan hampir tidak memiliki teman.
Ia beruntung memiliki Risa sebagai sahabatnya yang selalu ada walau tahu Bintang anak bermasalah.
Di samping itu, Bintang masih anak remaja normal yang merasakan jatuh cinta. Tapi, sayang sekali sepertinya dia jatuh cinta pada orang yang salah. Kavin Maheswara, ketua basket kelas 11 yang terkenal karena sifat playboy -nya yang sudah mendarah daging. Ada rumor yang mengatakan bahwa ibunya juga memiliki sifat tak jauh berbeda dari sang anak.
Tapi Bintang tidak peduli. Dia masih mengagumi sosok pemuda itu bahkan tanpa mendengar cerita-cerita buruk yang banyak beredar di kalangan anak SMA Neo. Dia sudah buta oleh cinta.
......................
...Tanggal 20 September 20xx...
Bintang berniat bangun pagi-pagi sekali. Tapi dia malah bangun pukul 6 lebih. Bukan pagi lagi namanya, tapi sudah siang. Niatnya dia ingin menghindari percakapan dengan ayah dan ibunya. Malah dia yang terjebak dengan suasana canggung di atas meja makan.
Bintang menatap ibunya yang masih diam walau tangannya terus bergerak mengoleskan selai coklat di atas roti. Ayahnya juga menyantap sarapannya dengan khidmat, tanpa percakapan sedikit pun. Hanya ada suara piring dan sendok yang beradu di sana.
"Yah, nanti jemput Bintang jam 4 sore, ya? Kemarin-kemarin jam segitu udah nggak ada ojek atau taksi yang lewat depan sekolah." Bintang memulai percakapan. Ayahnya menoleh ke arah Bintang, meletakkan sendok di tangan kanannya.
__ADS_1
"Tapi nanti Ayah ada rapat sampai Maghrib. Nanti biar Ayah pesankan ojek online atau taksi online. Ayah jemput kamu besok atau lusa aja, ya?" Bintang kecewa. Jelas dia tidak memiliki alasan yang cukup penting untuk membuat ayahnya membatalkan rapat di kantor. Walau jelas sekali di wajah Bintang anaknya rasa kecewanya, sang ayah tidak akan peduli dan terus melanjutkan sarapannya.
"Mas, ini nanti roti selainya di bawa. Buat camilan nanti siang di kantor," ucap ibu Bintang sambil meletakkan sagu kotak bekal berisi roti selai coklat kesukaan sang ayah. Laki-laki di samping Bintang hanya berdeham, tanda setuju. Lalu suasana kembali hening.
Bintang melihat ke arah ibunya yang kembali diam lantas menyantap makanan di atas piring di hadapannya.
"Kalau bisa, nanti pulang lebih awal. Bapak mau ke sini sama Ibu," kata ibu Bintang tanpa menoleh ke arah sang ayah. Laki-laki itu mengangkat kepala.
"Kenapa tidak bilang dulu dari kemarin?! Aku nanti ada rapat, pulang mungkin hampir tengah malam!"
"Berhenti bohong sama aku, Mas! Aku nggak bodoh! Kamu pikir aku nggak tahu hari ini kamu nggak ada rapat?! Kamu cuma buang-buang waktu sama ****** di kafe seperti waktu itu!" Ibu Bintang menghela napas, dadanya naik turun menahan emosi. Ibunya kelepasan dan tidak menyadari Bintang menyaksikan pertengkaran mereka di sana.
"Maksud Ibu apa? Seperti waktu itu? Ayah selingkuh?!" Bukannya takut, ayahnya malah menatap Bintang dengan tajam sambil memukul meja.
"Diam kamu! Ini urusan Ayah sama Ibu, kamu nggak usah ikut campur! Sekarang kamu berangkat bareng Gabriel lagi, Ayah masih mau bicara sama ibu kamu!" Bintang menggigit bibirnya. Bahkan nasi di atas piringnya belum habis setengah. Sayang sekali jika tidak di habiskan.
"Sekarang!" Bintang tersentak. Lalu dia beranjak dari tempatnya dan mengambil tasnya di sofa. Tanpa basa-basi lagi dia pergi bahkan tanpa berpamitan. Rumahnya selalu seperti ini ketika pagi. Memuakkan.
......................
Bintang memeluk perut Riel dengan erat. Dia tidak tahu mengapa hari ini remaja yang mengendarai motor Vespa itu berkendara dengan kecepatan tinggi.
"Kak Riel ... jangan cepet-cepet! Gue takut jatuh!"
"Enak ya lo bilang begitu?! ini udah jam 7.55 kalau telat habis kita dihukum Pak Sumanto!"
"Kalau telat ya telat aja, sih! Jangan bawa-bawa nyawa sebagai taruhan! Gue masih pengen nikah sama Kavin!"
__ADS_1
"Cih, halu banget lo! Dia tahu lo hidup aja enggak, konfess juga nggak pernah, mau nikah kaya gimana sedangkan kalian dipisahkan sama Palung Mariana!"
"Haha, enak juga ya mikirin nikah tanpa beban. Ayah sama Ibu aja pernikahannya gradakan mulu." Gabriel menghela napasnya. Dia bertetangga dengan Bintang. Bohong kalau dia tidak mengetahui keadaan keluarga Bintang yang berantakan. "Kak, gue takut nikah ..."
"Lo masih SMA! Jangan mikirin nikah nikah aja, mau nikah muda lo?!"
"Kayanya gue nanti nggak bakal nikah ... gue takut berakhir kaya Ibu sama Ayah."
"Soal itu lo pikirin nanti! Sekarang lo masih anak-anak nggak akan paham sama hal yang kaya begituan. Kalau seumpama ada laki-laki baik yang mau nerima lo apa adanya, why not?"
"Emang kalau nikah dengan cowok yang baik aja cukup, ya?"
"Em, mungkin."
Bintang terdiam, lalu hingga keduanya sampai di sekolah mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hingga sampai di halaman tepat waktu, sebelum pagar di tutup.
"Maaf ya, Kak gue selalu ngrepotin Kakak. Kapan-kapan gue bakal bawa motor sendiri."
"Bawa motor sendiri?! Lo punya SIM?" Bintang menggelengkan kepala. "Lo boleh bawa motor, asal punya SIM. Nanti gantian, lo yang bonceng gue!" kata Riel sambil melenggang pergi. Meninggalkan Bintang dengan penuh tanda tanya.
"Bintang!" Bintang menoleh ke arah sumber suara. Seorang siswi tengah berlarian menuju tempatnya berdiri.
"Bintang, aku kira kamu bakal telat. Udah aku WA beberapa kali kali kamu nggak balas, aku khawatir tahu!" Risa memukul bahu Bintang dengan pelan. Sedangkan Bintang, dia hanya tersenyum.
Setidaknya dia masih punya Gabriel dan Risa yang selalu ada di sisinya. Karena itu, dia harus bertahan sampai akhir untuk mereka.
__ADS_1
......................