
Seorang laki-laki paruh baya tengah menyesap secangkir kopi di tangannya di sebuah kafe. Suasana di dekat jendela membuatnya hanyut akan suasana, sampai seorang perempuan duduk di depan kursinya. "Hai, maaf lama menunggu," sapa perempuan itu sambil tersenyum.
Laki-laki itu menoleh lantas tersenyum pada sang kekasih. Brian, laki-laki 40 tahun tersebut mendekat ke arah si perempuan berbaju biru kotak-kotak. Lisa, sang wanita tidak bisa menahan senyumnya. Laki-laki di hadapannya mampu membuat dirinya nyaman menjalin hubungan lagi setelah suaminya meninggal.
"Aku sudah pesankan, choco latte kan?" bahkan laki-laki ini hapal hal kecil tentangnya. Lisa mengangguk. Lantas, tak lama kemudian seorang pelayan mendekati meja mereka dan menghidangkan pesanan milik Lisa. Perempuan itu menyesap minuman di hadapannya.
"Rasanya sangat melegakan melihatmu baik-baik saja di tengah masalah yang saat ini kita jalani," ucap Brian.
"Hmm, senang juga melihatmu masih waras memiliki isteri seperti Jasmin." Keduanya terlihat saling meledek. "Masalah Kavin sudah aku urus, anak itu bisa-bisanya masih santai sekolah setelah masalah besar yang dia lakukan. Pada akhirnya, aku yang menyelesaikan masalah anak itu, menyebalkan sekali melihatnya tumbuh dewasa seperti ayah kandungnya!" keluh Lisa.
"Kavin masih muda, wajar saja dia menikmati masa mudanya yang tak lama lagi akan berakhir," hibur Brian. "Bintang itu anak yang membosankan. Dia tidak pernah membuat orang tuanya bangga, dan juga tidak pernah membuat pelanggaran sama sekali. Gadis seperti Bintang akan kesulitan mencari pasangan karena terlihat sangat monoton."
Lisa menganggukkan kepalanya. Lalu, dia mendekatkan kursi yang dia duduki dengan kursi yang Brian tempati. Wanita itu memeluk tangan Brian dan menyenderkan kepalanya di bahu sang kekasih Mereka jarang bertemu, jari wajar jika saat mereka bertemu seperti kali ini Lisa akan bermanja-manja dengan Brian.
"Kita jarang ketemu. Aku sibuk, Mas juga sibuk. Aku bahkan tidak bisa melihat hubungan kita di masa depan nanti. Tapi aku takut akan perpisahan." Wanita itu mengatakan hal yang sejujurnya. Dia hanya takut hubungannya dengan Brian kandas karena saat ini mereka yang menjalin hubungan terlarang.
"Aku akan menceraikan Jasmin. Tapi tidak sekarang, bersabarlah sedikit lagi. Aku janji, saat aku sudah terlepas dengan Jasmin, aku akan menikahimu."
"Lalu bagaimana dengan Bintang?"
"Tentu saja dia ikut kita, dia anakku satu-satunya. Tidak mungkin aku meninggalkan dia bersama wanita itu."
__ADS_1
"Aku tidak keberatan asalkan dia tidak membuat hubungan kita bermasalah." Brian terkekeh lalu mengecup kening Lisa. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Layar ponsel milik Brian menyala, menunjukkan notifikasi WhatsApp dari Bintang yang menanyakan kapan ayahnya akan pulang.
"Malam ini... bagaimana? Kita sudah lama tidak menginap di hotel." Lisa memberikan kerlingan mata ke arah Brian. Brian tahu apa maksudnya dan tidak mungkin dia menolak ajakan sang kekasih terakhir kali mereka menginap di hotel adalah dua bulan yang lalu.
"Of course, Babe. Ayo kita bersenang-senang kali ini." Brian memberikan kecupan singkat di bibir sang kekasih. Kemudian keduanya saling menatap, seolah menyelami dalam mata si kekasih. Lalu keduanya memutuskan untuk pergi dari sana dan memesan hotel di dekat sana utuk menginap. Dan melakukan hal terlarang itu tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
......................
Bintang menatap ibunya yang masih melihat ke arah luar jendela. Wanita itu sudah berdiri di depan jendela selama satu jam. Ini sudah pukul 10 malam dan ibunya tidak terlihat akan meninggalkan tempatnya.
Bintang akhirnya mendekat, mengelus pundak sang ibu. "Bu, Ayah bilang kalau dia tidak pulang lagi. Pekerjaan kantor katanya masih banyak," Bintang berbohong. Pesannya bahkan tidak dibaca walah ayahnya masih online. Ia menelpon laki-laki itu tapi panggilannya selalu ditolak.
"Beneran? Ayahmu bahkan tidak membalas pesan Ibu, apa ayahmu sesibuk itu hanya untuk melihat pesan Ibu. Laki-laki itu dasar..." Ibu Bintang terlihat menahan umpatan kasar dari mulutnya.
Percakapan keduanya terhenti saat masing-masing dari mereka masuk ke dalam kamar. Bintang merebahkan tubuhnya di atas ranjang la merasa lelah dengan kehidupan keluarganya yang berantakan Bintang tidak bodoh, ayahnya pasi sedang melakukan hal yang dia senangi bersama wanita lain di luar sana.
Saking seringnya si ibu menyebut ayahnya selingkuh, sampai laki-laki itu kadang tidak lagi membela diri. Dari gerak-geriknya pun juga sudah terlihat bahwa ayahnya sudah bosan dengan ibunya. Tapi Bintang tidak rela jika orang tuanya harus berpisah.
Kring... kring... kring....
Suara ponselnya berbunyi. Bintang segera melihat ke arah layar, siapa yang menelponnya malam- malam begini. Tapi yang dia dapatkan adalah sebuah nomor tidak dikenal. Awalnya dia ragu, tapi karena penasaran dia menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo?"
__ADS_1
"Anyeong, halo, hai! Ini gue, lo nggak lupa suara gue, kan?" Bintang terpaku. Ini adalah suara milik Kavin Bagaimana dia bisa mendapatkan nomor ponselnya? Kenapa remaja itu repot-repot menelponnya dimalam hari seperti ini.
"Kavin? Lo dapet nomor gue dari mana? Ngapain lo malem-malem gini nelpon gue?" Harus Bintang akui kalau dia benci diganggu ketika malam. Karena Cuma saat malam ini lah dia bisa benar-benar mengistirahatkan kepalanya. Walau pun itu adalah orang yang dia suka.
"Elah, Sayang Masa gue mau ngobrol bentaran aja diomelin..."
"Gimana gue nggak ngomel? Ini jam 10 malam, Goblok! Gue mau istirahat! Ngapain lo manggil gue sayang?! Yang bisa panggil gue begitu cuma Ayah, lo mau jadi ayah angkat gue?!"
"Galak amat, Tuan Putri. Gue nggak mau jadi ayah angkat lo, gue maunya jadi pacarnya Bintang."
"Gue tutup! Sekali lagi lo nelpon gue tanpa alasan, gue block nomor lo! Sekalian gue masukin blacklist!" Terdengar suara helaan napas dari sebrang sana. Walau pun begitu Bintang enggan mematikan panggilan terlebih dahulu. Walau jujur dia kesal ditelpon tanpa alasan seperti ini, dia juga masih memiliki kesabaran
"Gue Cuma mau bilang, ini nomor gue lo simpan baik-baik. Jangan di block juga, nomor lo susah- susah gue can dan HP-nya si Gabriel hampir satu jam-an." Terdengar suara gusrak-gusruk di sebrang sana. "Ngomong-ngomong soal bokap lo, kayanya dia lagi seneng-seneng sama wanita lain, deh. Hahaha." Bintang mengernyitkan keningnya.
"Maksud lo apa, hah?! Gue udah sabar ngadepin lo, lo juga jangan cari masalah lagi sama gue! Maksud lo apa fitnah bokap gue, hah?!"
"Makanya lo jangan marah-marah, dong. Gue kan suka sama sikap lo yang imut kaya tadi di kantin."
Kalimat-kalimat godaan yang Kavin lontarkan seperti sebuah pertanda. Dia tahu benar, laki-laki itu mungkin hanya bermain-main atau mungkin juga sedang mencari mangsa baru untuk diterkam seperti gadis-gadis lainnya yang sudah menjadi korban. Bintang tidak menyukai siapapun mengganggu masalah keluarganya yang sangat privasi.
"Bagaimana lo bisa tau apa yang dilakuin bokap gue sekarang? Sebenernya, apa tujuan lo?!"
"Haha, nggak ada, Sayang gue cuma care sama lo. Itu aja, udah ya Cantik? Tidur gih, gue juga bakal tidur. Tidur yang nyenyak ya? Mimpiin gue waktu tidur, bye."
__ADS_1