
Menjadi seorang anak dengan latar belakang keluarga yang buruk, membuat Bintang tumbuh menjadi gadis tangguh dan kaku. Dunianya terlalu membosankan karena separuh hidupnya hanya dia habiskan di kamar dan rumah Gabriel. Saat dia menginginkan sebuah perhatian, ibu dan ayah Gabriel dengan suka rela memberikannya.
Melihat keluarga Gabriel yang lengkap dan harmonis membuat Bintang iri, tapi dia sendiri tidak bisa melakukan apapun. Gadis itu sampai berpikir mengapa kedua orang tuanya tidak bercerai saja daripada mereka saling menyakiti seperti ini? Bukannya senang tapi hal ini malah membuat Bintang juga ikut tersakiti.
Gadis yang berdiri di depan sebuah kafe itu terdiam sebentar sebelum menggigit bibirnya sendiri. Niat hati ingin jalan-jalan dan melepaskan semua rasa lelahnya, dia malah menemukan sang ayah duduk berdua dengan seorang wanita di sebuah kafe. Sama seperti yang ibunya sering katakan.
Keduanya terlihat sangat akrab bahkan saling melemparkan canda tawa. Berbeda sekali dengan seorang ayah yang Bintang kenal. Seperti, laki-laki itu memang bukan ayahnya.
Setelahnya, dia pergi untuk masuk ke dalam kafe dengan perasaan marah dan kecewa.
“Ayah!” teriaknya ketika sudah berada di dekat meja sang ayah. Tempat mereka saat ini menjadi sorotan. Brian menoleh, begitu pula wanita di hadapannya. Setelah sekian lama Bintang menahan emosi pada kelakuan ayahnya, saat ini Bintang tidak bisa menahannya lagi.
“Bintang?! Ngapain kamu ke sini, hah?!” Bintang tertawa kecut. Bukan ini yang ingin gadis itu dengarkan.
“Ayah masih tanya aku ngapain di sini?! Ayah itu manusia apa bukan, sih?! Ayah nggak mikirin Ibu di rumah kayak gimana, hah?! Oh, aku tahu sekarang Ayah udah punya pengganti Ibu?!” Bintang menatap Lisa dengan tajam. “Apa Anda tahu laki-laki yang Anda kencani ini sudah beristri, bahkan memiliki anak sebesar ini?! Nyonya, katakan yang sebenarnya!”
Napas Bintang tak karuan, dadanya naik turun sambil mengatur udara yang masuk ke dalam paru-parunya.
Brian berdecak kesal, kali ini kencannya dengan Lisa diganggu oleh anaknya sendiri. Bahkan menjadi pusat perhatian. Rasanya ingin sekali Brian menyeret gadis itu dari sini, tapi dia masih memiliki perasaan.
“Bintang, kecilkan suaramu! Ayo kita bicara—”
“Bicara?! Ayah masih bisa bersikap tenang setelah apa yang Ayah lakukan?! Ayah sudah gila?!”Bintang menatap tajam mata sang ayah.
Selanjutnya, Lisa memegang bahu Bintang. Mengusap punggung gadis itu dengan pelan. Berharap emosinya akan mereda. Orang-orang mulai kembali ke kesibukan mereka masing-masing.
“Ayo duduk dulu Bintang, Tante akan menjelaskan semuanya. Bagaimana? Tante janji tidak akan lebih dari 5 menit.”
__ADS_1
Sejujurnya Bintang tidak terima. Tapi entah kenapa dia menurut saja saat Lisa menuntunnya untuk duduk di samping wanita itu, begitu pula dengan Brian.
“Maaf, karena kita bertemu di saat yang tidak tepat seperti ini. Nama Tante Lisa, dan seperti yang kamu bilang tadi … Tante dengan ayah kamu memang menjalin hubungan yang agak spesial.”
“Jadi beneran Ayah selingkuh?! Tapi kenapa, Yah?” suara Bintang melirih.
“Maafin Tante sama ayah kamu, ya Sayang? Kami sebenarnya juga nggak mau berada dalamhubungan yang rumit seperti ini.”
Brian masih diam, membiarkan Lisa menangani Bintang. Wanita itu berprofesi sebagai guru BK, dia jelas pandai dalam menangani anak-anak seperti Bintang.
“Tapi nggak dengan cara seperti ini juga, kan Tan?! Selingkuh sama aja menghancurkan dunia aku sama ibu aku, kalian bisa mikir nggak, sih?!” Brian memberikan tatapan tajam untuk Bintang. Anaknya itu sudah melebihi batas.
“Bintang! Jaga bicara kamu!”
Bintang diam ketika sang ayah membentaknya, gadis itu menunduk. Dia sedih, kecewa dan juga marah. Tapi matanya bahkan tidak bisa menangis. Hati Bintang terlalu beku untuk mengekspresikan perasaannya. Namun, hatinya sudah hancur lebih dulu.
Bintang menatap heran sang ayah. Dia tidak pernah melihat ayahnya begitu patuh seperti saat ini, bahkan saat laki-laki itu bersama isterinya.
“Loh, Bintang?!” Tiga orang yang ada di meja itu menoleh ke arah sumber suara. Ketiganya sama-sama diam. “Kenapa?”
“Ah, Bintang … ini anak Tante, Kavin namanya. Dia satu sekolah sama kamu, kalian udah saling kenal sebelumnya?”
Lisa menatap Kavin dan Bintang bersamaan. Bintang masih dengan keterkejutannya, ternyata Kavin adalah anak dari selingkuhan ayahnya. Saat ini, dia bahkan hanya bisa tertawa dalam hatinya.
“Tadi gue ke toilet sebentar, nggak taunya udah ada lo yang datang. Kebetulan banget, gue mau ajak lo jalan-jalan.”
......................
Bintang memandang kosong pemandangan mall di hadapannya. Ada banyak orang berlalu lalang, tapi pikirannya saat ini kosong. Dengan hal yang tiba-tiba dia ketahui hari ini, rasa kecewa yang tertoreh dalam hatinya membuat Bintang kesal setengah mati. Kaleng soda yang ada di tangannya, perlahan mulai penyok dan tak terbentuk.
__ADS_1
Kavin yang baru saja kembali dengan satu kotak donat di tangannya mulai khawatir dengan gadis itu. Karenanya, ia mempercepat langkah kaki agar segera sampai di tempat Bintang duduk.
“Hei, Bin! Bintang!”
Bintang tersadar, gadis itu menoleh ke arah Kavin dengan bingung. Gadis itu menjatuhkan kaleng soda di tangan yang saat ini bentuknya sudah tidak sempurna.
“Tangan lo merah, gila ya, lo?!” Kavin meletakkan segala benda di tangan tepat di samping Bintang. Memeriksa tangan Bintang dengan wajah khawatir. “Tangan lo bisa berdarah! Sekarang, ada yang sakit? Bilang sama gue bakal gue cri obatnya sekarang juga.” Kavin menatap Bintang dengan lamat.
Bintang balik menatap Kavin. Tatapan mata gadis itu terlihat sayu dan kosong. “Vin … kenapa lo tiba-tiba deketin gue? Kenapa tiba-tiba lo penasaran sama gue? Apa karena orang tua kita? Lo deketin gue biar bisa luluh dan jadi adik tiri lo?” pertanyaan beruntun Bintang membuat Kavin mendadak diam.
“Haha, ternyata lo udah tau duluan ya, soal hubungan ayah sama Tante Lisa? Lucu banget ya, hidup gue? Rasanya semua orang bisa jadiin kehidupan gue jadi kek lelucon.”
Kavin menggeleng. “Hidup lo bukan lelucon, Bin. Gue deketin lo … karena gue suka sama lo.”
“Bullshit!”
Teriakan Bintang membuat Kavin naik pitam. Gadis itu terlalu keras kepala. Apalagi, saat ini Kavin sedang tidak mood. Beberapa waktu lalu, Rania—mantan pacar Kavin—mengatakan bahwa saat ini gadis itu sudah memiliki kekasih beberapa tahun di atasnya. Rania itu anak kuliahan, jadi ketika dia bersama dengan Kavin gadis itu lebih sering mengalah dan terkadang menjadi kakak untuknya. Berbeda sekali dengan gadis di hadapannya ini.
“Bullshit?!” Kavin mendekatkan wajah Bintang dengan cengkeraman tangannya di dagu si gadis. “Iya, bullshit emang! Nggak ada orang yang suka sama wajah lo yang jelek ini! Orang tua lo aja nggak sayang sama lo, dan lo minta dicintai sama orang lain?! Jangan mengada-ada, Bintang!” Kavin menghempaskan wajah Bintang. Tidak peduli perasaan gadis 17 tahun tersebut.
“Emang apa salahnya kalau gue minta dicintai? Salah gue di mana?” tanya Bintang lirih. Tapi Kavin malah tertawa sambil mengibaskan rambut yang menutupi dahinya
“Gimana kalau kita buat perjanjian?” Bintang menatap Kavin bingung. “Kita pura-pura pacaran.”
“Apa?”
“Kita pacaran pasti ayah lo sama mama gue nggak akan ngelanjutin hubungan mereka. Dan lo bisa dapet cinta sama perhatian palsu gue, gimana?”
__ADS_1