
Bintang baru saja menginjakkan kaki di rumah, tapi suasana yang ia rasakan lebih dingin daripada kutub Utara. Pertama, pemandangan yang ia lihat di ruang depan adalah sofa yang letaknya tidak rapi dan meja depan televisi yang keadaannya sama seperti sofa.
"Kenapa, nih? Udah kek kapal pecah aja ..." lirih Bintang. Gadis itu menelusuri dan memperhatikan rumahnya baik-baik. Lalu dia menangkap suara ibunya di kamar, berteriak.
"Hah, berantem tapi masih gituan. Aneh banget keluarga gue."
Bintang tahu apa yang ayahnya lakukan pada sang ibu. Itu sering terjadi saat ayahnya marah. Karenanya, dia lebih memilih untuk pergi ke kamar seperti yang biasanya dia lakukan. Bintang berlaku sekolah tidak terjadi apa-apa, padahal ibunya sering merontak kesakitan karena sang ayah yang kasar.
Bintang merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar yang penuh dengan hiasan bintang kecil. Tadi, dia diantar oleh Hatma. Dia sendiri tidak paham mengapa Kavin meninggalkan dirinya pada temannya. Hatma hanya mengatakan kalau Kavin sedang ada urusan.
Bintang terkekeh sendirian, ia bahkan tau urusan yang Kavin maksud adalah menemui sang mantan, Rania. Dia tahu, karena mendengar percakapan cowok itu di kelasnya tadi.
"Heran banget gue, hal-hal yang nggak pengen gue denger malah gue tahu semua kebenarannya. Hebat banget gue kek punya Indra keenam, haha," ujar Bintang menghibur diri.
Dia sudah kelas 11, dan bahkan belum mempunyai rencana untuk masa depannya. Teman-temannya sudah memiliki rencana dari jauh hari, mereka belajar dengan keras, untuk bisa masuk universitas impian. Dan dia saat ini sedang bergulat dalam labirin kehidupannya sendiri. Masalah keluarganya dan kisah asmaranya.
Terkadang, Bintang juga ingin jadi seperti anak-anak lain. Ia juga ingin seperti Risa yang berjuang keras untuk bisa masuk kampus impiannya. Sahabatnya itu selalu mengatakan bahwa dia akan menaikkan derajat keluarganya. "Risa sekarang lagi apa, ya? Lagi sibuk, nggak, ya?" Sudah beberapa menit berlalu, Bintang ragu ingin menelpon Risa atau tidak. Takutnya nanti malah mengganggu.
"Ck, telpon aja lah, ya?" Bintang akhirnya mengambil ponsel dan menghubungi Risa.
Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua juga, Bintang jadi bingung apakah sahabatnya sedang sibuk? Akhirnya dipanggilan ketiga, Risa mengangkat telponnya.
"Syukurlah, Sa. Gue khawatir kenapa lo nggak angkat telponnya? Lo nggak apa-apa, kan?" Tidak ada suara di sebrang sana. Hingga suara seseorang terdengar, tapi itu bukan Risa.
"Ngapain lo telponin Risa?!"
Bintang mengernyitkan keningnya, suara itu familiar. Suara orang yang hari ini ia hindari. "Kak Riel?! Kenapa HP Risa ada sama—"
"Urusannya sama lo apa? Risa lagi sibuk, lo juga jangan hubungin dia terus lah, Bin! Nggak semua orang bisa punya waktu sama lo!" sentak Gabriel.
"Kak, gue bahkan belum ngomong apapun."
__ADS_1
"Ya karena itu, karena lo belum ngomong apapun makanya gue duluan yang ngomong. Semua sikap lo itu mengganggu banget. Lo pikir cuma lo yang punya masalah? Gue juga, Risa juga! Jadi—"
Risa menutup sambungan. Melemparkan ponselnya ke arah bantal. Niatnya dia cuma mau curhat sama Risa, tapi moodnya malah dirusak Gabriel. Risa itu sahabatnya, apa salah kalau dia curhat sama sahabatnya sendiri? Apa benar Bintang se-mengganggu itu?
...----------------...
Brian membuka pintu kamar Bintang dengan perlahan. "Bintang, boleh bicara sebentar?" Bintang yang mulanya tiduran menoleh ke arah pintu. Dia kemudian bangkit dari tempatnya.
"Biasanya juga nggak izin. Masuk aja."
Brian masuk dan menutup pintu kamar. Laki-laki itu duduk di samping Bintang.
"Ayah mau ngomong soal hubungan kamu sama Kavin."
"Kenapa?"
"Kamu harus mengakhiri hubungan kamu sama Kavin, Bintang." Bintang mengernyitkan keningnya.
"Maksud Ayah apa?! Hak Ayah suruh aku putus sama Kavin apa?!"
"Ayah cuma mau yang terbaik untuk kamu, Bintang. Dan Kavin bukan orangnya. Kamu nggak tahu, dia itu cuma cowok yang suka main sama perempuan?! Kalau kamu jadi korban selanjutnya bagaimana?!" sentak Brian pada anaknya.
"Bilang aja Ayah nggak mau hubungan ayah sama Tante Lisa, iya kan?!" Bintang terlihat menantang ayahnya.
"Tahu apa kamu?! Kamu cuma anak-anak yang nggak tahu masalah orang dewasa! Sampai kamu sebut nama Lisa di depan ibu kamu, awas saja—"
"Kenapa?! Takut ketahuan sama Ibu?!"
"Sikap kamu semakin hari makin menjadi ya, Bintang?! Ayah bahkan nggak ngajarin kamu bicara seperti itu ke orang tua!" teriak ayahnya Apada Bintang.
"Kenapa aku harus nurut sama Ayah, hah? Kenapa aku harus jadi seperti yang Ayah mau padahal Ayah saja tidak bisa jadi seperti yang aku mau?! KENAPA, HAH?!"
Brian diam, ia berusaha mati-matian menahan amarahnya. Tapi saat ini dia sudah diliputi oleh emosi. Dia menarik rambut Bintang, menyuruhny untuk berdiri.
"Akh! Ayah, sakit!"
__ADS_1
"Berdiri kamu! Ayah harus hukum Karen sudah berani melawan! Ayah bilang, BERDIRI!" Bintang menangis. Kepalanya sakit karena rambutnya ditarik sangat kencang.
"Ayah ... A ... ayah ..."
BRUKK ...
Brian membenturkan kepala Bintang ke dinding dengan sangat keras. Tapi setelahnya, Brian sadar apa yang telah ia lakukan. Dia sadar melukai anaknya sendiri. Begitu juga dengan Bintang yang saat ini terdiam sambil terduduk. Gadis itu memegang kepalanya yang berdenyut sakit.
Saat mengangkat wajahnya, Brian bisa dengan jelas melihat lebam biru yang cukup besar di kening Bintang.
Gadis itu bangkit dari tempatnya, berlari dari pandangan sang ayah karena ia bukan cuma terluka di keningnya. Melainkan di hati, ia juga punya luka cukup lebar di sana.
Bintang masuk ke dalam kamar ibunya, tapi yang dia lihat adalah ibunya yang tidur sambil memunggunginya.
"Bu ... Bu, aku boleh nangis, kan? Bu, aku sakit ... Ayah, Ayah udah ..."
"BERISIK! Kamu itu ganggu banget, sih, Bintang?! Kamu nggak lihat Ibu juga nggak enak badan?!" ucap ibunya tanpa menoleh ke arah Bintang yang sudah bercucuran air mata. "Emang bener apa kata nenek kamu dulu, anak perempuan emang nggak ada gunanya! Ibu udah muak denger suara kamu, kamu harusnya udah ibu gugurin waktu di kandungan dulu! Ibu nyesel udah besarin kamu sampai segede ini!" sentak ibunya.
Bahkan untuk mengeluh pun dia tidak punya. Di rumahnya dia bahkan tidak diharapkan ada. Sahabatnya juga sibuk, Gabriel bahkan menolaknya berada di dekat Risa. Jadi, ke mana dia harus pergi?
...----------------...
Anna sedang berkutat dengan kue kering buatannya. Ini sudah tiga kali dia memanggang , sebagian juga sudah matang. Rencananya akan dia bagikan dengan Bintang, gadis itu lahap sekali ketika makan kue kering buatannya.
Anna memindahkan kue yang sudah matang ke dalam toples. Tapi sebelum dia menyelesaikan kegiatannya, ada seseorang yang mengetuk pintu. Berkali-kali, terdengar tidak sabaran. "Itu siapa, sih?! Iya sebentar!" teriaknya sambil melepas apron yang dia pakai.
Anna membuka pintu, dan menemukan sosok gadis yang sering mengunjungi rumahnya sedang berdiri sambil menangis. "Bintang? Bintang, kamu kenapa, Sayang?" Anna langsung memeluk Bintang, mengusap air mata yang membasahi wajah si gadis.
"Tante, maaf, ya aku ngerepotin Tante lagi. Sementara aku di sini sebentar, ya, Tan? Aku capek, boleh nggak Tan?"
Anna mengusap punggung Bintang. Dia memperhatikan wajah Bintang yang berantakan luar biasa. Dengan rambut yang acak-acakan, dan kening yang membiru cukup lebar. "Astaga, Bintang ... kamu kenapa? Kenapa nggak langsung ke sini aja tadi, hmm? Kamu selalu diterima di sini Bintang."
Anna mempersilahkan Bintang untuk masuk. Dia membawa Bintang untuk masuk ke dalam kamar Gabriel. Mengusap wajah Bintang. "Udah, ya? Jangan nangis lagi, kamu tunggu di sini dulu Tante ambilin kompres buat lebam kamu, oke?" Bintang menggeleng. Memegang lengan Anna.
"Tan, kata Ibu aku anak yang nggak berguna. Kata Ibu, anak perempuan itu selalu nyusahin. Emang bener, ya?"
__ADS_1