
Gabriel baru saja pulang dari rumah Risa. Tadi, gadis itu meminta bantuan Gabriel untuk membantu mengerjakan tugas dua adiknya. Tentu saja ini kemajuan yang cukup besar, mengingat Risa yang tidak pernah meminta Gabriel untuk datang ke rumah, tapi dia bahkan dikenalkan sama keluarganya. Senyum Gabriel tidak pernah berbohong.
Tapi saat masuk ke dalam rumah, dia merasa aneh karena rumahnya begitu hening. Sampai mamanya menghampiri dengan wajah khawatir.
"Kamu kemana aja, sih, Riel? Bingung Mama, tuh nyariin kamu!"
"Kenapa emang, Ma?"
"Si Bintang—" Gabriel mengubah ekspresi wajahnya.
"Bintang lagi Bintang lagi! Aku itu capek, Ma harus jagain Bintang terus! Dia bukan siapa-siapa aku, kita cuma sebatas teman kecil, kenapa aku harus selalu ada di sampingnya?!" Anna menatap Gabriel tidak percaya. Anaknya tidak pernah seperti ini.
"Kamu kenapa, sih Riel?! Mama bahkan belum jelasin apapun sama kamu!" Gabriel diam. "Ah, udahlah! Mama males banget ngadepin kamu, tau gini dari tadi Mama panggilin dokter ke sini buat Bintang!" kata mamanya sambil berlalu dari hadapan Gabriel.
"Dokter? Bintang kenapa, Ma?"
"Kenapa?! Kamu udah nggak usah ngurus Bintang, kalau nggak mau repot! Mama kecewa sama kamu! Bintang habis dibenturin tembok sama ayahnya, keningnya biru semua, tiba-tiba panas lagi anaknya."
Gabriel tiba-tiba merasa bersalah. Tapi remaja itu masih terbelenggu oleh emosi. Karenanya dia hanya diam dan langsung ke kamarnya. T
Tidak tau saja, di atas ranjangnya ada Bintang yang sedang terbaring dengan lemas.
"Ck, kenapa harus kasur gue yang lo pakek, hah?" gerutu Gabriel. Sedangkan Bintang yang mendengar suara Gabriel langsung membuka matanya,walau pusing masih dia rasakan begitu kuat. Dia memaksa bangkit dari tempatnya sambil memegang kepalanya.
"Sorry, gue pergi aja." Saat hendak pergi dari sana, Gabriel terkejut dengan keadaan kening Bintang yang lebam.
"Bentar, itu jidat lo—" Bintang menepis tangan Gabriel yang mencekal tangannya.
"Jangan sentuh gue," kata Bintang dengan dingin.
"Gue tanya baik-baik sama lo."
__ADS_1
"Gue juga nggak butuh kebaikan lo!"
"Maksud lo apa, sih ngomong kek begitu?! Ini rumah gue, harusnya bisa jaga sopan santun di sini sama tuan rumah!" sentak Gabriel.
"Okey, Tuan Rumah yang baik hati. Gue nggak akan ganggu hidup lo lagi! Gue juga gak akan ganggu hubungan lo sama Risa, udah puas?!"
Bintang berlalu dari sana. Gadis itu lelah terus disalahkan, bahkan ia tidak sadar mama Gabriel membawanya ke kamar sang anak.
"Bintang kenapa, sih? Biasanya kalau marah nggak sampai segitunya, aneh." Gabriel melupakan kenyataan bahwa saat ini Bintang kesakitan karena ulah ayah si gadis.
Bintang duduk bersandar di kursi sofa. Tak lama, Anna menghampirinya dengan tas di tangan kirinya.
"Ayo Bintang, kita ke rumah sakit aja. Tante khawatir sama kamu." Bintang yang menyadari kehadiran Anna, langsung memeluk erat tangan yang lebih tua.
"Enggak Tante, aku nggak mau ngerepotin Tante. Aku di sini aja, nanti juga sembuh sendiri." Anna hanya menggeleng.
"Kamu nggak akan membaik kalau di rumah terus. Tante nggak mau kamu kenapa-kenapa."
"Tapi Kak Riel—"
"Nggak usah ngurus itu anak, dia punya tangan sama kaki sendiri. Ayo, sekarang ikut Tante ke rumah sakit, ya?"
...----------------...
"Brian! Buka pintunya!"
Beberapa detik setelahnya, pintu terbuka dan menampilkan sosok Brian dengan keadaan berantakan. Aji—laki-laki yang mengetuk pintu—menggelengkan kepala.
"Kenapa? Apa Anda tidak diajari sopan santun?!" sarkas Brian dan Aji hanya berdecak sebal.
"Sopan santun?! Bedebah seperti Anda apa juga punya sopan santun?! Menjaga anak saja Anda tidak becus!"
"Maksud kamu apa, Aji?! Kenapa tiba-tiba bahas anak?! Sebenarnya tujuan kamu ke sini apa, hah?!"
Aji, ayah dari Gabriel. Baru saja isterinya menelpon dan menjelaskan semua yang terjadi pada Bintang. "Bintang terluka gara-gara kamu, Brian! Ayah macam apa kamu, hah?! Apa kamu bener udah nggak waras?!"
__ADS_1
"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, Aji. Ini semua nggak ada urusannya sama kamu!"
"Oke, bener ini nggak ada urusannya sama aku. Aku juga tahu keluarga kamu juga sedang gak baik-baik aja, tapi apa bisa selesai dengan melukai Bintang?! Apa kamu punya niat bunuh Bintang, hah?!"
"Berhenti bicara omong kosong, Aji!"
"Lalu apa?" Aji menghela napasnya, mengatur emosi. "Brian, ini peringatan terakhirku. Keluargaku memang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah keluargamu. Tapi, jika kamu masih melukai Bintang dengan tangan busukmu itu, aku nggak akan segan untuk melaporkan tindakan kamu ke kepolisian."
...----------------...
Gabriel memandang kursi kosong di samping Risa. Hari ini Bintang tidak sekolah, mamanya juga tidak memberi pesan apapun padanya. Kelihatannya mamanya benar-benar kecewa pada Gabriel tentang perkataannya kemarin. Tapi dia tidak salah, kan? Kalau tidak begitu, mama atau papanya juga nggak bakal tahu unek-unek yang ia pendam selama ini.
Bel istirahat berbunyi, guru yang ada di dalam kelas Risa mulai keluar. Gabriel masih memperhatikan gerak-gerik gadis yang ia kagumi itu. Gabriel tahu Risa juga memperhatikannya, lantas beberapa saat kemudian Risa mendatanginya.
"Hai ..." sapa Gabriel. Tapi gadis itu hanya diam dengan wajah datarnya.
"Kak aku mau ngomong. Soal Bintang."
Bintang lagi, lama-lama Gabriel.uak mendengar nama itu disebut. Tapi dia harus menjaga image di depan Risa.
"Kenapa?"
"Kemarin kenapa Kakak yang angkat telpon dari Bintang?! Kenapa nggak ngasih tau aku kalau Bintang telpon?!" Risa memandang Gabriel dengan serius.
"Ya nggak kenapa-kenapa, lagian dia telpon di waktu yang nggak tepat. Jadi aku matiin—"
"Kakak jangan jadi orang jahat di kehidupan Bintang," ucap Risa. "Aku kecewa sama Kakak waktu denger temen-temen Kakak bilang ... kalau Kakak cuma anggak Bintang itu parasit di hidup Kakak."
Gabriel terdiam, cowok itu menggelengkan kepalanya. "Enggak, Ris! Kamu pasti salah denger, bukan begitu maksud aku—"
Risa tertawa kecut, "Jadi bener, ya? Kaka nggak lupa kan kalau Bintang itu sahabat aku? Kalau Kakak jadi orang jahat di hidup Bintang, berarti Kakak juga bukan orang baik yang bisa aku percaya."
"Ris, dengerin dulu penjelasan Kakak!"
"Nggak usah dijelasin gue juga udah paham, Kak! Lo jahat sama Bintang, berarti Lo juga nggak akan dapat kepercayaan gue lagi. Nggak usah ngejar-ngejar gue lagi, gue muak liat orang yang punya muka dua kek lo!" Risa berlalu dari hadapan Gabriel.
__ADS_1
"Baru juga beberapa hari bisa deket sekarang kita dipisahkan lagi sama tebing, sialan! Bahkan dia udah pakek gue-lo sama gue!" Gabriel mengepalkan tangannya. "Ini semua gara-gara Bintang!"