
Bintang memandang meja makan yang terlihat sepi. Padahal ada dua orang di sana yang tengah sarapan. Ayah dan ibunya memang tidak menggambarkan keluarga bahagia, sejujurnya dia akan patuh jika mereka nantinya memilih berpisah. Tapi dia lebih senang jika mereka berdua bisa berubah dan menjalin hal baru yang lebih membahagiakan dengan keluarga.
"Yah, aku berangkat dulu."
"Nggak sarapan?" Bintang menggeleng.
"Aku sarapan di sekolah aja."
"Oh, hari ini kamu nebeng sama Gabriel lagi? Atau mau Ayah anter—"
"Nggak usah, aku dijemput Kavin."
"Kavin?" ucap ayah dan ibunya secara bersamaan pada gadis yang masih berdiri tak jauh dari tempat mereka sarapan.
"Siapa Kavin?" tanya ibu Bintang, sedangkan yang ditanya hanya menatap ayahnya yang mengerutkan kening.
"Kavin pacar aku, kita udah jalan satu minggu."
Ibunya tidak suka Bintang dekat dengan anak laki-laki, anaknya masih harus fokus belajar dan mengejar cita-cita. "Siapa yang bilang kamu boleh pacaran?! Kamu tuh tugasnya belajar yang giat biar nanti bisa balas orang tua kamu! Jadi anak nggak tau diri amat!" Bintang hanya diam tapi lengkungan di bibirnya perlahan mulai turun.
"Kenapa harus Kavin, Bintang?!" kini giliran ayahnya.
"Memangnya kenapa? Kavin baik, dia juga perhatian sama aku nggak kayak ayah sama ibu!"
"Anak ini kalau dibilangin, ngejawab terus! Ibu nggak pernah didik kamu jadi anak pembangkang seperti ini, Bintang!"
Bintang menatap ibunya. Di juga tidak ingin dalam posisi ini, tapi jika dia tidak melakukan. sesuatu dengan perselingkuhan ayahnya ibunya juga akan hancur.
"Bu, aku udah dewasa. Aku bisa memilih jalanku sendiri! Stop atur-atur aku dengan peraturan kolot Ibu, Ibu juga nggak tahu gimana perasaan aku saat ini!" bentaknya pada sang ibu. Lantas, Bintang pergi dari sana tanpa mengucapkan apapun lagi.
Saat sudah keluar dari rumah, dia melihat seorang yang sudah siap dengan motor Vespanya. Itu Kavin yang sudah ada di sana dengan wajah masam.
"Lelet banget, sih! Nggak bisa jalan apa?! Ini jam berapa bego!" Bintang tidak menggubris ucapan Kavin, gadis itu langsung naik ke motor Kavin setelah menerima helm yang si cowok berikan.
"Drama apa lagi keluarga lo? Gue denger kok, rame lagi. Hubungan Mama sama Om Brian udah ketauan, ya?" Bintang memukul kepala Kavin dengan sangat kuat. Saat ini, Kavin bahkan merasa pusing setelah gadis itu memukul helm yang sudah ia kenakan.
"Bacot banget, lo. Katanya telat, kenapa nggak jalan-jalan!"
"Jadi cewek yang lembut, kek. Pantesan nggak ada yang suka sama lo."
"Gue nggak butuh disukai juga sama cowok, udah ayo berangkat, Yang!" Kavin kaget dipanggil seperti itu oleh Bintang.
"Coba panggil lagi."
__ADS_1
"Apa?"
"Lo panggil gue apa tadi?"
"Yanto."
"Ck."
......................
"El, jangan lupa mampir ke rumah Bintang ya? Biasanya dia nebeng sama kamu." Gabriel yang sedang menalikan sepatu hanya mengangguk. Dia menyambar kunci motor dan tas di meja.
"Aku berangkat, Ma." Mamanya hanya mengangguk. Wanita itu memandang Gabriel sampai punggungnya tak terlihat.
Di dekat rumah, Bintang terasa aneh sekali. Biasanya gadis itu akan menghampiri rumahnya. Tapi pagi ini dia bahkan belum melihat batang hidung si Bintang.
"Bintang?! Berangkat!" tapi yang keluar adalah ibu Bintang.
"Loh, Bintang emang nggak bilang sama kamu, El?"
"Bilang apa, Tan? Bintangnya mana?"
"Bintang udah duluan, tadi katanya dijemput pacarnya. Siapa tadi namanya? Ah, iya Kavin. Kavin yang jemput Bintang ke sini." Gabriel mengerutkan keningnya. Dia tidak menyangka, si Kavin mau repot-repot menjemput Bintang .
"Oh, gitu, ya, Tan? Ya udah kalau gitu, aku berangkat dulu, Tan. Permisi."
......................
Kavin tahu apa yang dipikirkan Bintang. Alhasil, cowok itu menggandeng tangan Bintang dan membawanya ke kantin.
"Loh, mau ke mana? Kelas gue kan di sana!"
"Lo mau pingsan? Hari ini upacara, Goblok! Gue nggak mau repot kalau lo pingsan." Bintang berdecak, selama dia di SMA belum pernah pingsan sama sekali. Walaupun dia sering tidak sarapan.
"Gue bukan cewek lemah."
"Jangan kebiasaan nggak sarapan, itu kebiasaan yang nggak sehat. Bisa bikin penyakit."
"Kalau sakit, yang sakit juga gue. Apa urusannya sama lo?" Kavin menghentikan langkahnya. Begitu juga Bintang. Kavin menunduk, menyamakan tingginya dengan Bintang.
"Jaga bicaranya, ya Nona Manis. I can kiss you now, kalau gue mau." Kavin Menatap Bintang dengan Lamat.
"Gue mau ketawa, sih."
Kavin menghela napasnya. Gadisnya ini tidak bisa diajak romantis seperti di drama Korea. Padahal dia sudah mendalami sekali saat mengatakan itu pada Bintang.
"Kenapa? Gue ganteng, ya?"
__ADS_1
"Enggak, mulut lo bau! Pasti belum sikat gigi!"
......................
Gabriel menatap ke arah kantin, di sana ia bisa melihat Kavin dan Bintang yang sedang sarapan. Ralat, lebih tepatnya Kavin yang menunggu Bintang makan.
Gabriel langsung bergabung dengan mereka, dan membuat dia orang itu menatapnya bingung.
"Ngapain dah, ini bocah ganggu pagi gue!" ucap Kavin sambil menatap Gabriel.
"Kenapa? Gue mau bicara sama Bintang."
"Kalau mau ngomong ya ngomong aja, apa susahnya?" ucap Bintang acuh sambil makan sotonya.
Gabriel menghela napasnya lagi. "Tumben banget Lo nggak hubungin gue pagi ini? Biasanya udah puluhan pesan."
Giliran Bintang yang mengerutkan keningnya. "Lah, ngapain lo yang sewot? Lo bukan siapa siapa gue kali, ngapain gue harus ngabarin lo segala?" Bintang terkekeh di akhir kalimatnya. "Gue tadi dijemput Kavin."
"Gue tau."
"Kalau tau kenapa pakek acara ngomong sama gue?"
"Ya, gue khawatir. Lo tau nggak, gue tadi sampai mampir ke rumah lo."
"Besok-besok lagi nggak usah mampir, mulai sekarang Kavin yang bakal jemput gue," ucap Bintang sambil mengaduk-aduk sotonya.
"Oke, seneng gue malahan. Nggak ada yang ganggu gue lagi, berarti gue bebas ya? Gue juga bisa ngajak Risa nebeng gue kalau begitu, akhirnya!"
Perkataan Gabriel terdengar sarkas. Sedangkan Kavin hanya menyimak, sebelum Gabriel pergi begitu saja dari sana tanpa mengucap apa-apa lagi.
"Lo kenapa, sih sama Gabriel? Punya masalah?" tanya Kavin penasaran.
"Enggak, gue sama dia baik-baik aja. Lo tenang aja."
"Gue tau kali, walau lo nggak bilang sekali pun. Hatma kemarin bilang sama gue." Bintang menatap Kavin, kemudian menundukkan kepalanya.
"Vin ... kalau lo nanti merasa terbebani sama gue yang ada di sisi lo. Lo bilang aja, biar gue yang pergi secara perlahan. Sakit tau nggak kalau orang yang udah gue percaya dari kecil malah ngomongin keburukan gue di belakang."
"Siapa yang bilang lo boleh pergi? Lo nggak boleh pergi sampai gue suruh lo pergi."
"Oh, iya. Nanti uang bensinnya gue aja yang bayar." Kavin menatap Bintang heran.
"Gue masih mampu ngisi bensin sendiri, ya? Itu uang lo, lo simpen aja dulu. Ditabung buat kita nikah nanti."
"Kavin! Lo nyebelin!"
__ADS_1