Cewek Brokenhome Dan Cowok Playboy

Cewek Brokenhome Dan Cowok Playboy
Bab 13. Tante Lisa dan Bintang


__ADS_3



Hening di dalam ruangan menjadi bukti bahwa Bintang memang tidak baik-baik saja. Gadis yang berbaring di atas ranjang rumah sakit itu masih enggan membuka matanya. Bukan karena kesadarannya hilang, tapi saat ini dia butuh tidur panjang. Enggan ditanyai mengapa dia bisa sampai terluka. Dia muak menjelaskan pada orang lain.


Di samping Bintang, ada ibu Gabriel yang senantiasa menemaninya. Di samping itu, orang yang Bintang harapkan hadirnya malah tidak ada di sana. Gadis itu ingat bagaimana Gabriel menatapnya dengan tidak suka. Bahkan hidung cowok itu tidak terlihat hingga sekarang. Mungkin saat ini, dia sedang sekolah.


Bintang hanya tertawa mengingat tentang Gabriel. Gadis itu membuka matanya. Meraih ponsel di atas meja samping ranjang.


Ada pesan banyak dari Kavin yang tidak terjawab. Cowok itu bahkan sudah sepuluh keli menelpon nomornya. Tapi Bintang enggan untuk menjawab. Akhirnya, dia hanya memberi pesan singkat bahwa ia di rumah sakit, keadaannya juga sudah membaik jadi cowok itu tidak perlu khawatir.


"Bintang, Tante mau ngomong sebentar." Bintang meletakkan ponselnya dan memperhatikan Anna.


"Iya, Tan. Kenapa?"


"Kamu beneran udah baik-baik aja? Ada yang masih sakit nggak?" Bintang hanya menggeleng. "Tante mau minta maaf, ya? Sikap Gabriel akhir-akhir ini agak kelewatan. Sejak kalian kecil Tante nggak pernah liat kalian marahan sampai begini. Kalau boleh tau, sebenernya ada apa sama kalian?" Bintang menghela napasnya.


"Kita nggak ada apa-apa, kok Tan. Nanti juga baikan sendiri, Tante tenang aja." Gadis itu tersenyum. Wajah pucatnya bahkan masih bis menghibur Anna.


"Kalau kamu nggak mau kasih tau Tante, Tante bakal cari tau sendiri."


"Dibilangin nggak ada apa-apa, kok Tan."


"Tante itu tau kamu sama Riel udah dari bayi, bahkan dari sebelum lahir Tante sama ibu kamu juga sering barengan. Tante minta maaf atas perlakuan Gabriel ke kamu tadi malam, Tante juga nggak nyangka dia bisa bersikap kayak gitu sama kamu."


"Iya, Tante. Santai aja." Anna kemudian hanya tersenyum. "Oh, iya. Tante kalau mau pulang, pulang aja Tante. Nggak apa-apa."


"Tapi kamu nggak ada yang nemenin, dong?"


"Bentar lagi temen aku mau ke sini," Bintang berbohong. "Lagian, Tante pasti capek ngurusin aku dari tadi malam."


"Beneran?" Bintang mengangguk. "Ya udah, Tante pulang dulu, ya? Kalau ada apa-apa langsung telpon Tante." Bintang mengangguk. Beberapa detik setelahnya, ponselnya menyala menampilkan pesan dari Kavin.


"Gue ke rumah sakit sekarang, sama Mama."


Tunggu, mama Kavin?! Selingkuhan ayahnya?! Bintang bingung dengan apa yang dia lakukan nanti ketika perempuan itu sudah ada di sini. Gadis itu bahkan tidak tau ingin berkata apa, karena dulu pertemuan keduanya tidak berakhir dengan baik.

__ADS_1


...****************...


Bintang sedang berkutat dengan ponselnya. Hingga seseorang membuka pintu. Menampilkan sosok Kavin dengan seorang perempuan di belakangnya. Bintang menoleh dan tersenyum dengan canggung.


"Baru juga gue tinggal sebentar, udah tepar di rumah sakit aja lo!" Kavin meletakkan keranjang kecil berisi buah-buahan.


"Gue juga nggak mau berakhir di sini, kalau bisa sekarang mau pulang."


"Bintang, beneran udah nggak apa-apa? Tadi Tante langsung suruh Kavin ke sini waktu dia bilang kamu di rumah sakit. Beneran udah baikan?" Bintang menanggapi kalimat Lisa dengan tersenyum canggung, lalu mengangguk pelan. "Syukurlah kalau baik-baik aja."


Bintang menatap perempuan itu dengan Lamat, tak lama Lisa duduk di samping Bintang. Perempuan itu mengelus punggung tangan Bintang dengan perlahan.


"Bilang sama Tante, Kavin pernah jahatin kamu, ya?"


"Mama, apaan, sih?" Lisa menatap Kavin dengan tidak suka.


"Mama tanya sama Bintang bukan sama kamu."


"Haha, Kavin baik kok, Tan." Kavin tersenyum sombong. "Kadang-kadang." Kini cowok itu menatap Bintang dengan pelototan.


"Apaan, gue selalu baik ya sama lo!"


"Makasih, Tan udah mau ke sini. Padahal hubungan kita nggak terlalu baik di pertemuan pertama."


"Iya nggak apa-apa, Tante maklum sama sikap kamu waktu itu. Kalau jadi kamu Tante juga bakal bersikap seperti itu. Maafin Tante sama ayah kamu, ya? Sudah melibatkan kalian ke hal yang rumit ini." Lisa menatap Kavin tidak suka.


"Apa?"


"Kamu dipaksa Kavin buat pacaran ya? Sekarang, kamu bisa nolak kemauan dia, anak cowok itu kalau kurang ajar boleh kamus siksa."


"Maksudnya gimana, Tan?"


"Kamu kalau kesal sama Kavin, bisa kamu tendang masa depannya. Dia kadang nggak sadar kalau dia itu player. Tante sampai enek liat dia telponan sama cewek nggak jelas asal-usulnya."


"Mama kok, gitu, sih sama anak sendiri!" kesal Kavin yang merasa di anak tirikan.


Bintang tersenyum. Suasana hatinya membaik. Ngobrol dengan Tante Lisa dan Kavin membuatnya sedikit bersemangat.

__ADS_1


"Tante, makasih ya udah mau perhatian. Padahal keluargaku sendiri aja nggak ada yang peduli sama aku. Dan aku nggak nyalahin Tante karena berhubungan sama Ayah. Ayah juga salah, Ibu juga salah nggak bisa jadi istri dan ibu yang baik di rumah. Walau aku nggak bisa membenarkan perbuatan kalian, tapi aku sebenernya nggak benci sama Tante, kok."


Lisa tersenyum. "Makasih, ya sayang. Kalau perlu apa-apa, telpon Tante aja. Ah, Tante lupa tadi Tante bawa masakan dari rumah. Sop ayam sama tumis jamur."


"Tumis jamur?" Lisa menghentikan gerakan tangannya yang membuka tas mengambil makanan yang sudah ia bawa.


"Kenapa? Kamu nggak suka, ya?"


"Suka kok, Tan. Suka banget malah, aku udah lupa kapan terakhir kali makan tumis jamur." Lisa menghela napas lega. Syukurlah kalau Bintang menyukai makanan yang ia bawa.


"Kapan-kapan mampir ke rumah, ya? Nanti Tante masakin yang banyak buat kamu."


"Tante, Bintang pengen seblak deh. Tante bisa buat nggak?"


"Bisa, dong, Sayang. Tapi buatnya nunggu kamu sembuh dulu, ya? Nggak baik kamu sakit gini malah makan yang pedes pedes." Bintang mengangguk lucu. Gadis itu tersenyum dengan tulus.


"Ck, gue di sini udah kek anak tiri aja."


"Lo ngalah dulu ya, Vin? Hehe, gue nggak pernah diperhatiin kek gini soalnya."


"Terserah, dah. Lo ambil aja!"


"Kavin!" Kavin berdecak kemudian memanyunkan bibirnya.


"Iya, Ma iya. Kavin nggak ganggu Bintang lagi."


Bintang tertawa. Ketiganya hanyut dalam pembicaraan yang hangat. Tidak menyadari bahwa ada orang yang membuka pintu kamar rawat Bintang.


"Vin, lo ngapain ke sini?!"


Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Gabriel berdiri di pintu masuk kamar. Seketika suasana menjadi dingin, apalagi Bintang yang menghela napasnya. Gadis itu terlihat tidak nyaman dengan keberadaan Gabriel. Dan Kavin menyadari itu.


Kavin mendekati Gabriel dan mencekal tangan cowok itu.


"Lo apa-apaan, sih?"


"Ikut gue, gue mau ngomong sama lo!" sentak Kavin, menyeret Gabriel pergi dari sana. Walaupun Kavin pacaran dengan Bintang dengan alasan lain, dia juga menaruh sedikit hatinya pada gadis itu. Enak saja Gabriel memberlakukan gadisnya seperti ini.

__ADS_1



__ADS_2