Cewek Brokenhome Dan Cowok Playboy

Cewek Brokenhome Dan Cowok Playboy
Bab 4. Keluarga Gabriel dan Alasan Kavin


__ADS_3


Kamar tidur milik Gabriel biasanya akan ramai dengan suara perdebatan antara dirinya dan Bintang karena hal-hal kecil. Tapi saat ini, walau gadis itu sedang tiduran di ranjangnya dan Gabriel ada di depan meja belajar suasana kamar sangat hening. Gabriel sempat heran, mengapa Bintang begitu pendiam hari ini.


"Cil ngapa lo diem mulu? Nggak kesurupan, kan?" Gabriel membuka suara, walau pandangannya masih melihat ke arah buku yang dia pegang.


"Gue lagi nggak mood buat ribut sama lo, Kak," ucap Bintang dengan lesu. Gadis berambut pendek tersebut menyembunyikan wajahnya pada bantal. Gabriel menoleh, melihat ke arah Bintang yang tidur membelakanginya, Gadis itu sudah terlihat tidak baik-baik saja sejak masuk ke dalam rumahnya.


Bukan apa-apa, tapi Gabriel paham betul bagaimana kehidupan keluarga Bintang. Mereka bertetangga, saat kedua orang tua Bintang bertengkar pasti selalu terdengar dari rumahnya. Tak jarang, Bintang memilih untuk mengungsi ke rumah Gabriel karen terlalu muak berada dirumahnya sendiri.


"Bokap mokap lo berantem lagi?" Bintang menggeleng. "Terus kenapa? Ngomong sama gue, kalau malu ngomong sama Mama juga nggak apa-apa. Gue yakin kalau lo pendam sendiri akhirnya nanti nggak bakal baik." Bintang masih tidak menjawab. Gabriel menghela napasnya. "Mama di dapur lagi buat bolu pisang—"


Bintang bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan keluar kamar untuk menghampiri ibu Gabriel yang sering dia panggil Mama Dapur keluarga Gabriel sangat luas, mamanya yang suka masak lebih sering berada di daur daripada ruang keluarga. Wanita itu hobi memasak, setiap hari selalu ada saja makanan yang terhidang di atas meja.


"Tante Anna lagi buat bolu pisang, ya?" Suara Bintang membuat Anna—mama Gabriel—menoleh. Wanita itu tersenyum ramah pada Bintang sebelum menghampirinya yang berdiri di dekat meja makan.


"Eh, Bintang? Tadi, Tante bingung mau ngapain jadi buat bolu aja, kebetulan kemarin papanya Riel beli banyak pisang. Sini, kamu cobain. Tante jamin kamu nggak bakal kecewa sama rasanya."


Anna mendekati Bintang dengan sepiring bolu pisang yang sudah dia potong. Bintang tahu benar segala masakan yang dimasak wanita itu selalu enak. Berbeda sekali dengan ibunya yang ketika masak makanan selalu keasinan.


Bintang mengambil satu potongan kecil bolu, lalu memakannya. "Enak banget, Tan! Kayak biasanya!" Anna memperhatikan wajah Bintang yang saat ini terlihat tirus. Padahal, dulu gadis itu lucu sekali ketika memiliki pipi yang chubby.


"Bintang?"


"Iya, Tan. Kenapa?"


"Kamu diet, ya? Pipi kamu kok sekarang jadi nggak chubby lagi?" Anna mengelus pipi Bintang. Sedangkan yang ditanya hanya tersenyum.


"Enggak, Bintang malah nggak tahu gimana cara diet. Soalnya kalau ada makanan selalu Bintang makan, hehe." Gadis itu mengatakan kebenaran. Dia tidak pernah melakukan program diet seperti yang dilakukan orang lain. Dia akan memakan apapun yang dihidangkan, sekali pun itu adalah masakan ibunya yang kadang terasa hambar atan bahkan keasinan. Anna menghela napasnya sebentar, lalu wanita itu mengusap rambut Bintang dengan halus.

__ADS_1


"Kamu makan dengan benar, kan? Tante khawatir sama kamu."


"Tenang, Tan. Aku selalu makan tepat waktu." Anna tersenyum.


"Syukurlah. Kamu lucu banget, deh, Tang. Mau nggak jadi calon mantu Tante?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Anna. Tapi buru-buru Gabriel memotong pertanyaan mamanya.


"Ekhem, Mama apaan sih?!" Anna memutar bola matanya. Anna tidak menghiraukan keberadaan Gabriel.


"Mama nggak tanya sama kamu, Mama tanya sama Bintang. Gimana, kamu mau nggak?" Bintang tersenyum kecut.


"Maaf, Tante. Kayanya Kak Riel suka sama orang lain, deh. Aku juga udah anggap Kak Riel kayak kakak kandungku sendiri." Gabriel tahu Bintang hanya basa-basi.


"Heleh, ogah banget gue punya adek kayak lo!"


Bintang menatap Gabriel jengah. Kalau tidak ada ibu dari lelaki itu, sudah pasti ia akan melempari Gabriel dengan kerikil.


Bagaimana Gabriel bisa melangkah ke arah yang lebih jauh, sedangkan gadis yang dia suka sangat anti dengan yang namanya pacaran dan sesuatu yang berkaitan dengan kisah cinta. Risa—orang yang dia suka—bahkan menganggapnya sahabat. Tidak pernah peka sama sekali saat Gabriel menjadikan Risa prioritasnya


"Kisah cintanya Kak Riel itu kejebak friend zone, Tan, Kasihan banget, ya?"


"Hmm, iya kasihan. Padahal ganteng ganteng begini tapi tolol banget soal asmara."


"Ma!" Anna menatap Gabriel dengan heran. "Mama gimana, sih? Anak sendiri malah dibilang tolol?!"


"Loh, kamu kan emang beneran tolol soal begituan, Riel. Lukisannya aja bagus, mengukir perasaan di hati orang aja kamu nggak bisa. Apa namanya kalau bukan tolol?!"


Bintang tertawa, berbeda dengan Gabriel yang kini mendengus kesal karena saat ini mamanya lebih memihak ke Bintang.


............

__ADS_1


"Lo nekat banget, sih? Masih banyak cewek cantik di sekolah kita, kenapa harus Bintang?" Bagas, cowok bertubuh bongsor itu keheranan.


Langkah Kavin yang mendekati Bintang sudah beredar luas di kalangan anak kelas 11. Bahkan saat ini, gadis itu menjadi topik pembicaraan satu gengnya.


"Jangan-jangan sekarang lo nggak mandang fisik, ya, Vin?" tanya Gevan.


"Atau lo malah udah lebih dulu suka sama itu cewek?! Ngaku lo, Vin!" seru Heksa. Kavin menghela napasnya. Dia yang tadinya sednag bermain game di ponselnya kini menatap teman-temannya yang melontarkan berbagai pertanyaan.


Cowok itu meletakkan ponselnya di atas meja "Kalian heboh banget sih?! Kayak lagi pertama kali aja liat tingkah gue ke cewek. Gue Cuma penasaran kali, kayak yang sebelum-sebelumnya. Kalau bosen, udah tinggal buang, deh."


Teman-temannya tertawa ternyata dia masih Kavin yang sama


"Gila lo, Vin! Lo nggak tahu, ya, pawangnya itu Gabriel! Bisa habis lo dihajar gama itu anak kalau tahu lo cuma main-main sama Bintang.


Kavin tertawa, lebih keras dari teman-temannya tadi. "Malah dia yang bantu gue deketin Bintang Katanya dia ina risih kemana-mana ditempelin sama itu anak. Dia nggak bisa kemana-mana gara-gara harus jagain cewek itu. Dasar parasit emang itu cewek," ucap Kavin terus terang tanpa filter sama sekali.


"Gila, gila dah emang lo berdua!"


"Si Gabriel sama aja kayak lo ternyata, gue kira beda sedikit!"


"Pantesan si Gabriel jarang ngumpul sama kita, ditempelin parasit ternyata!"


Kavin masih sama seperti dulu. Dia hanya bermain-main dengan gadis yang ia dekati, kalau bosan tinggal buang. Padahal dia sadar telah melukai hati mereka. Hingga sebuah tragedi terjadi beberapa waktu yang lalu. Tapi ternyata ibunya sudah membereskan hal itu dengan mudah. Jadi dia tidak perlu khawatir.


Kavin juga tahu akan hubungan ibunya dengan laki-laki yang ia yakini adalah ayah dari Bintang. Dan yang dia tahu ibunya sangat nyaman dengan laki-laki yang saat ini menjadi kekasih sang ibu. Jadi dia tidak keberatan dengan jalan yang ibunya tempuh dengan cara yang tidak benar.



.....................

__ADS_1


__ADS_2