Cewek Brokenhome Dan Cowok Playboy

Cewek Brokenhome Dan Cowok Playboy
Bab 10. Rumah yang Retak


__ADS_3



Kavin menatap sosok gadis yang ada di sampingnya. Gadis yang menyandang status sebagai pacarnya itu terlihat kurus, dan makan dengan tidak lahap. Padahal tadi dia bilang belum sarapan.


"Makannya jangan diaduk-aduk gitu, cepet dimakan. Terus masuk kelas, bentar lagi bel bunyi." Bintang menoleh ke arah Kavin. Pemuda itu menyangga wajahnya dengan dua tangan memperhatikan Bintang yang makan dengan tidak berselera.


"Sarapan itu harus setiap hari, jadiin kebiasaan biar sehat. Lo tau nggak, orang yang sakit di dunia ini sebagian besar karena nggak sarapan?" Bintang hanya menggeleng.


"Gue bosen tau, di rumah makanannya cuma itu itu aja. Gue kan juga mau menu lain."


Kavin menghela napasnya. Gadis ini seperti manusia gua yang hanya makan makanan yang sama setiap harinya.


"Lo tinggal makan masakan nyokap lo, apa susahnya?"


"Masalahnya, Ibu nggak bisa masak," lirih Bintang. Kavin tersentak. Dia mengerutkan keningnya.


"Haha, kasihan deh lo. Pantesan bokap lo nggak kerasan di rumah, ternyata nggak pernah dimasakin, toh."


Kavin tertawa. Padahal Bintang tidak ingin mendengar kalimat itu. Banyak orang mengatakan hal buruk tentang ibunya, bahkan keluarganya sendiri. Ibunya bisa memasak, tapi cuma beberapa menit saja. Seperti sop, nasi goreng, dan tumis. Cuma tiga menu itu saja yang tersaji setiap harinya.


Terkadang malah, wanita tersebut tidak memasak sama sekali dan menyajikan roti selai di atas meja di pagi hari.


"Emang, harus bisa masak apa? Setiap orang kan, punya kekurangannya masing-masing."


"Terus, ibu lo bisanya apa? Kelebihannya apa, coba?"


Bintang terlihat berpikir. "Ibu pandai menjahit, dia bisa buat model baju yang bagus."


"Haha, cuma itu?" Bintang kesal, Kavin membuat ibunya terlihat remeh.


"Kenapa malah lo yang buat ibu gue remeh?! Nyokap lo bisa apa emang?!"


"Oh, tentu Mama hampir bisa melakukan segalanya. Dia bisa masak segala jenis masakan, jadi wanita karir, punya penghasilan sendiri, mandiri, disiplin, bisa ngatur anak, bisa segala jenis pekerjaan rumah, bisa dandan, dan banyak lagi."


"Sialan!"

__ADS_1


"Hahaha, sorry. Kapan-kapan gue ajak ke rumah, lo harus makan masakan Mama, gue yakin lo langsung jatuh cinta!"


Bintang menatap Kavin tidak percaya. Apakah pemuda ini lupa bagaimana hubungan mamanya dengan ayah Bintang? Mengapa pemuda ini bersikap seolah tidak terjadi apapun?


"Vin, lo lupa? Nyokap lo selingkuhan bokap gue! Gila, aja lo!"


"So, why?! Nyokap gue bilang lo boleh mampir kapanpun."


"What?!"


Kavin mengernyitkan keningnya, melihat reaksi Bintang. "Bokap lo tau hubungan kita? Gue yakin dia nggak akan ngebolehin gue dateng ke rumah lo kalau tau gue pacar lo," ucap Bintang dengan lesu.


"Siapa bilang, gue udah ngomong soal hubungan kita."


"Terus, nyokap lo bilang apa?"


"Dia nggak bilang apa-apa, dia ngebolehin hubungan kita, kok."


"Haha, nyokap lo lucu banget." Bintang tertawa dengan miris.


Bintang serasa tertarik ke dunia nyata. Benar, Kavin memacarinya dengan alasan. Jika alasan itu sudah tidak ada, maka mereka juga berakhir. Bukan, bahkan jika alasan itu masih ada Kavin masih bisa mengakhiri keduanya.


"Iya, bener. Ini cuma palsu, ya? Haha, gue paham."


Tatapan mata Bintang kembali kosong, dan Kavin menyadari hal itu. Mangkuk soto yang ada di hadapan Bintang bahkan tidak habis separuhnya. Gabriel bilang, gadis ini makannya banyak. Jadi Kavin berpikir, dimana letak salahnya?


......................


Gabriel menatap kosong ponselnya. Seharian ini, dia bahkan tidak menerim pesan dari siapapun, biasanya Bintang yang mengisi notifikasi ponselnya. Tapi kali ini gadis itu tidak mengirim pesan apapun.


Bahkan ia tidak sadar duduk di mejanya sudah 15 menit, padahal ini jam istirahat. 15 menit lagi bel masuk akan berbunyi.


"Kak Riel, aku mau tanya soal matematika yang ini. Aku lupa gimana caranya." Gabriel mengangkat kepala, saat suara seorang perempuan terdengar di dekatnya.


Risa, gadis itu berdiri di depan Gabriel dengan buku dan pensil di tangannya. Si pemuda langsung merapikan bajunya yang kusut dan rambutnya yang berantakan. Lantas, tersenyum.


"Iya, boleh banget. Sini, duduk dulu." Gabriel menepuk tempat duduk di sampingnya. Risa hanya mengangguk paham dan langsung duduk di sampingnya. "Tumben banget, nggak bareng sama Bintang. Biasanya ke mana-mana selalu bareng?"

__ADS_1


"Nggak tau juga, hari ini Bintang keliatan capek sama lesu banget. Tadi aja dia cuma diem di kelas, katanya mau tidur." Gabriel hanya mengangguk paham.


"Katanya, dia nggak mau ketemu sama Kakak lagi. Kalian berantem atau gimana, Kak?" Gabriel tertawa kecut.


"Enggak, cuma adu mulut kayak biasanya aja. Palingan nanti juga udah nggak gitu lagi dia," kata Gabriel memberi alasan. "Oh, iya sini gue ajarin. Mana yang nggak paham?"


......................


Laki-laki dengan jas hitam memarkirkan mobilnya di garasi. Setelah mematikan mesin mobil dan mengambil kunci, dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan wajah lelah.


"Tumben nggak lembur, nggak bareng sama selingkuhan kamu?" suara Jasmine menyambut Brian dengan sinis. Wanita itu duduk di atas sofa dengan minuman berwarna pink di atas meja.


"Aku capek. Di mata kamu, aku itu selalu salah. Kamu pikir aku di luar cuma leha-leha?!"


"Kamu emang salah, Mas. Bilang jujur aja, lagian aku juga udah tau."


Brian menghela napas kasar. Dia melempar jasnya pada Jasmine dan menatap wanita itu dengan kesal. Jasmin menutupi wajahnya.


"Mas!"


"Apa?!"


"Mas pernah gak, sih hargain keberadaan aku?! Aku ini istri kamu, Mas! Kalau emang Mas capek sama hubungan kita, ayo pisah! Aku juga lama-lama muak sama kelakuan bejat kamu!"


Brian berapi-api. Laki-laki itu menatap nyalang isterinya. "Bangun." Jasmine mengernyitkan keningnya. "Kamu nggak tuli, kan? Ayo bangun!" Brian menarik tangan Jasmine untuk bangun.


"Mas!" Brian menarik tangan Jasmine ke dalam kamar. Laki-laki itu menghempaskan tubuh isterinya di atas ranjang dan mengunci pintu. Jasmine ketakutan.


"Kamu mau pisah? Jangan harap kamu bisa lepas sama aku!" Brian melepaskan sepatunya. Dia mendekati Jasmine, dan menatap manik isterinya yang ketakutan. "Selama kamu hidup, jangan harap kamu bisa lepas dariku!"


"Kalau gitu Mas harus pilih, aku apa perempuan itu?" Brian tertawa.


"Kenapa aku harus memilih kalau aku bisa memiliki semuanya?" Brian membelai rambut Jasmine. Lalu laki-laki itu menjambak rambut panjang Jasmine. Sentuhan-sentuhan yang Brian berikan hanya membuat Jasmine semakin rapuh dan sakit.


Maka, siang itu perempuan 37 tahun tersebut meminta pada Tuhan secara diam-diam, untuk mencabut nyawanya jika dia tidak bisa bahagia di sini.


__ADS_1


__ADS_2