Cewek Brokenhome Dan Cowok Playboy

Cewek Brokenhome Dan Cowok Playboy
Bab 7. Ditinggalkan


__ADS_3


Dua hari berlalu, bukannya suasana hati Bintan menjadi baik malah menjadi makin buruk. Hampir setiap waktu selalu ada saja orang yang mengganggu ketenangan hidupnya. Entah itu berhubungan dengan keluarga, atau malah kehidupan sekolahnya.


Sebab, ada hal lain yang dia tidak tahu. Kavin mengaku sebagai pacarnya saat ia meninggalkan kantin kemarin. Semenjak saat itu, ponselnya bahkan tidak berhenti mengeluarkan bunyi notifikasi dari aplikasi whatsapp, atau bahkan DM dari media sosialnya.


Sebegitu banyaknya hingga dia memilih untuk mematikan bunyi notifikasi dari ponselnya. Sudah dua hari juga emosinya naik turun. Bahkan terkadang Risa dan Gabriel juga kena semprot walau keduanya tidak melakukan apapun.


“Cil, lu beneran, deh. Aneh benget dua hari ini, nggak kayak biasanya. Kalau ada masalah, kan gue udah bilang ngomong aja!” seru Gabriel dengan nada sedikit tinggi. Gadis yang sedang tiduran di atas ranjang milik Gabriel itu hanya menghela napasnya.


“Gue bilang ke lo, juga nggak bakal nyelesaiin masalah, Kak.” Gabriel berdecak.


“Ya, seenggaknya gue bisa bantu mikul beba yang ada di kepala lo. Bahaya kalau ditumpuk-tumpuk, lama-lama bisa mati bundir, lo!” Bintang hanya terkekeh.


Gadis itu tertawa, dan malah membuat Gabriel semakin khawatir. Pemuda itu mendekatkan kursinya ke ranjang, tepat Bintang berada. Pemuda itu memandang sosok Bintang yang berbaring tengkurap, dilihat dari mana pun gadis itu memang sedang memendam gejolak emosi.


Ting … ting …


Bunyi notifikasi milik Gabriel berbunyi. Remaja itu membuka room chatnya bersama dengan Kavin.


“Cil?’ Bintang menoleh.


“Hmm, apa?”


“Lo … beneran pacaran sama Kavin? Sejak kapan?”


Bintang bangun dari keadaan berbaring. Dia menatap Gabriel dengan lamat. “Gue pacaran sama Kavin dari 3 hari lalu, dia nembak gue di mall deket kantornya Ayah. Kenapa?” Tapi yang Gabriel tangkap, Bintang sama sekali tidak menikmati hubungan mereka.


“Lo dipaksa?” Bintang menggeleng, lantas Gabriel menghela napas. “Kavin WA gue, katanya mau ajak lo jalan-jalan. Dia udah perjalanan ke sini, malah.”


“Oh, ya udah,” ucap Bintang lesu.


“Lo kenapa, sih? Bukannya ini mau lo? Kenapa lo kayak nggak suka punya pacar Kavin? Dia ada nyakitin lo?”


“Enggak, Kak Riel. Kavin baik.”

__ADS_1


Gabriel tertawa. “Baik? Dari mantan Kavin yang pertama sampai yang terakhir aja, mereka nggak pernah sebut Kavin orang baik. Lo ngibul apa gimana?” Bintang kembali menghela napasnya karena serba salah.


“Kalau sekarang Kavin jadi pacar lo, lo juga harus nerima dia dengan baik, dong. Lo juga harus lebih perhatiin dia, dia ke mana, sama siapa. Dan lo juga butuh itu, karena gue nggak bisa kasih perhatian lebih dari temen ke lo.”


“Lah, memangnya gue ngarep apaan, Kak dari lo? Dari awal gue juga nganggepnya kita udah kayak sodaraan juga.”


“Klau gitu, lo jangan nempel-nempel gue terus, takut Risa salah paham juga.”


Kini Bintang menatap Gabriel dengan serius. Maksudnya juga apa lagi ngomong seperti itu? Apa Gabriel risih selalu direpotkan oleh Bintang setiap hari.


“Gue juga nggak nafsu, sih, Kak sama lo. Lo tenang aja, gue nggak bakal jatuh hati sama lo. Gue juga udah punya pacar juga, jadi lo juga jangan khawatir. Soal beberapa hari ini, gue memang lagi ada masalah berat sama keluarga gue. Jadi gue minta maaf kalau buat lo nggak nyaman.”


“Bin, bukan begitu, sih. Maksud gue—“ sebelum Gabriel selesai mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba ada mama Gabriel yang datang dan membuka pintu kamar.


“Anak-anak, kalian ngapain? Itu temen kamu, katanya ke sini mau jemput ceweknya. Diajak jalan-jalan katanya.” Bintang bangkit dari tempatnya, meninggalkan Gabriel begitu saja.


“Oh, iya, Tante. Itu temen aku, mau ajak jalan katanya. Aku pergi dulu ya, Tan.” Bintang berpamitan kepada Anna, lalu melenggang pergi. Anna hanya menatap anak yang sudah dia anggap anak sendiri pergi hingga punggungnya tak terlihat.


“Kalian habis berantem?”


“Enggak, Ma. Biasa, cuma perdebatan kecil.”


“Iya, Ma. Aku yang comblangin mereka. Biar tiap hari Bintang nggak ngrepotin aku terus.”


“Ck, kamu ini gimana, sih? Cewek udah didepan mata bukannya kamu embat malah dikasih ke orang lain.”


“Ya, tapi kan aku sukanya sama orang lain, Ma.” Mamanya menghela napas.


“Ya udah, tapi nanti kelau Bintang ternyata jodohnya temen kamu sendiri jangan nangis di pojokan karena nyesel, ya? Mama maunya Bintang ketemu sama orang yang bener. Takutnya diapa-apain sama orang jahat. Anak itu udah nggak beruntung dari kecil karena keluarganya, tapi malah dipertemukan sama orang yang salah, kan kasihan.”


Gabriel menghela napas. “Mama jangan terus kasihan sama anak itu aja, hanya karena keluarganya Mama selalu pandang Bintang menyedihkan. Mama nggak mikirin perasaan aku kek gimana? Aku juga punya pilihan sendiri, Ma.”


...----------------...


“Hari ini gue mau ajak lo seneng-seneng. Gue juga bawa uang kalau lo pengen beli sesuatu, jadi ngomong aja.” Bintang hanya mengangguk. Hari ini Kavin menjemputnya menggunakan motor vespa. Bahkan membawakannya helm. Bintang hanya tidaka menyangka perhatian yang dia dapat, Cuma sekedar pura-pura. Memang Kavin ini playboy kelas kakap.

__ADS_1


“Gue mau beli makanan.”


Kavin tersenyum, melihat wajah Bintang dari kaca spion. “Iya, boleh. Lo mau beli apa?”


“Beli cilok, boleh?”


“Boleh.” Kavin melihat sedikit senyum di wajah Bintang. Pemuda itu terdiam sesaat. Dia bahkan belum pernah melihat senyum semanis itu. Kavin terkekeh dalam hati. Kalau lama-lama disandingkan dengan senyum Bintang, mungkin dia akan jatuh cinta beneran.


Beberapa menit kemudian, mereka berhenti di salah satu pedagang pinggir jalan untuk beli cilok. Ternyata Bintang sukanya cilok yang gede-gede, jadi Kavin sampai bingung punya Bintang kok porsinya lebih banyak.


“Kenapa? Masih sanggup bayar, kan?” tanya Bintang sambil makan ciloknya. Kavin menggeleng.


“Gue masih sanggup bayar, tapi itu beneran porsi lo segede itu? Habis emang?”


“Habis lah, kalau nggak habis ngapain minta segini.”


“Itu pedes, loh.”


“Gue bahkan bisa makan dengan dua puluh cabe rawit.”


“Hahaha, iya deh, iya. Lo mau apalagi, mumpung gue masih baik. Nanti kan nggak tau kalau gue tiba-tiba jadi jahat.” Bintang hanya mengangguk. Dia sudah lama tidak jalan-jalan seperti ini. Mungkin nanti dia bakal minta kembang gula, takoyaki, cilor, siomay, dan lain sebagainya. Jangan lupakan es serut atau es kelapanya. Pokoknya hari ini Bintang harus buat Kavin bangkrut.


Tak lama keduanya terdiam karena mendengar suara dering telpon dari ponsel Kavin. Cowok itu langsung mengangkat panggilan. Tapi yang sempat Bintan lihat, dari layar ponsel Kavin, nama yang tertera adalah Rani dengan emoticon love di akhir namanya.


“Halo, Ran. Kenapa?”


“Hari ini aku pulang dari Singapura, bisa jemput aku di bandara nggak?”


“Oh, bisa! Gue langsung meluncur, share lokasi aja sekarang gue ke sana.” Panggilan terputus. Lantas, Kavin langsung dihadapkan pada wajah Bintang yang kecewa. Bahkan cilok di tangannya kini rasanya hambar.


“Lo lupa ya, kalau bawa gue? Kalau lo pergi sekarang gue sama siapa?”


“Ck, lo tunggu di sini bentar aja, penting ini soalnya.”


“Terus, aku nggak penting gitu?”

__ADS_1


“Penting, tapi Rania lebih penting.”



__ADS_2