Cewek Brokenhome Dan Cowok Playboy

Cewek Brokenhome Dan Cowok Playboy
Bab 6. Kavin dan Bintang dating?


__ADS_3


Bel sekolah berbunyi sebanyak tiga kali, tandanya untuk istirahat. Kantin mulai penuh oleh siswa-siswi, termasuk Risa dan Gabriel yang sudah lebih dulu memilih meja untuk ditempati sebelum kehabisan. Keduanya sedang menunggu dua orang lain yang bertugas membawa pesanan mereka.


“Menurut kamu, aneh nggak sih, Kak Bintang tiba-tiba deket sama Kavin?” tanya Risa. Sedangkan Gabriel yang mulanya memegang HP menoleh pada gadis di sampingnya.


“Enggak, sih. Dia kan yang suka sama Kavin lebih dulu, bukannya ini kemajuan besar kalau mereka jadi dekat?” Gabriel menatap wajah Risa, lebih lamat. Risa mengerutkan dahinya, dia khawatir dengan Bintang. Walaupun dengan orang yang dia sukai, tapi Kavin itu sudah terkenal red flag. “Kenapa? Lo cemburu? Lo suka sama Kavin?” Risa menghela napasnya.


“Kak Gabriel bisa nggak, positif thinking?! Yang suka Kavin itu Bintang bukan aku, gila ya kalau aku suka Kavin?” Risa mendengus kesal. Pasalnya, setiap mereka membicarakan cowok lain, Gabriel selalu menanyakan hal yang sama pada Risa.


“Lagian lo juga aneh, sih. Gue kan jadi parno,” lirih Gabriel. “Lo nggak usah khawatir sama mereka, lebih baik lo juga cari pasangan biar ada yang nemenin ke mana-mana.”


Risa menatap heran pada Gabriel. “Hah, biar ada yang nemenin? Aku setiap hari ke mana-mana ditemenin adek aku.” Gabriel menghela napasnya.


“Bukan adik lo juga, maksud gue … Ekhem, pacar.”


“Kan aku dulu udah bilang sama Kakak, kalau aku nggak bakal pacaran sebelum aku bisa buat keluarga aku lebih baik. Sekarang mah, aku mau fokus sekolah dulu.”


Gabriel kembali menghela napasnya. Dia sepertinya kehilangan kesabaran, dia sudah lama menyukai gadis di sampingnya. Tapi gadis itu tidak peka sama sekali—kesimpulan Gabriel sendiri.


“Ris, gue suka sama—“


“Aku tahu kok, Kak. Maaf ya, belum bisa nerima perasaan Kakak saat ini. Soal Kakak yang nganggep aku nggak peka, Kakak salah. Aku adar kok, Kakak suka sama aku dari perlakuan, cara bicara sama cara Kakak mandang aku. Tapi kalau buat saat ini, maaf aku belum bisa.” Gadis itu menoleh ke arah Gabriel dan menatap manik matanya secara langsung. “Klau Kakak bisa nunggu, aku bakal terima tapi nggak sekarang.”


Gabriel menaruh harapan yang besar pada pernyataan Risa di kalimat terakhir. “Hmm, aku bakal nunggu kamu, sampai kamu siap.”

__ADS_1


......................


“Es tehnya empat, dua porsi bakso sama dua porsi mi ayam, ya mbak?” Ibu kantin menyodorkan dua nampan. Satu berisi empat es the pesanan mereka, dan yang satu empat mangkuk bakso dan mi ayam.


“Bakso sama mi ayamnya gue yang bawa, lo bawa minumnya aja,” tawar Kavin. Cowok itu langsung mengambil nampan bakso dan mi ayam. Bintang hanya mengangguk paham. “Eh, btw lo hari ini cantik banget. Jepitan yang gue beliin kemarin juga langsung dipakek, jadi tambah cantik aja.” Bintang memutar bola matanya.


Mereka berdua berjalan ke meja yang sudah ditempati oleh Gabriel dan Risa.


“Lama banget sih, lo pada? Nggak tau apa gue udah laper banget!” Gabriel langsung mencerca keduanya saat mereka duduk di meja tersebut.


“Sabar, elah. Namanya juga antri.” Kavin duduk di samping Bintang. Semenjak dia memperhatikan gadis itu, Kavin merasa ada yang aneh dengan Bintang. Dunia di sekitar Bintang terlihat abu-abu dan suram. Idak ada senang-senang dengan teman di mall atau tempa hiburan lainnya. Tempat hiburan milik Bintang adalah saat di sekolah, saat istirahat. Ketik gadis itu bersama sahabatnya untuk sekedar ngobrol atau makan di kantin.


“Ngapain lo liatin Bintang kayak begitu?” Pertanyaan Gabriel malah mendapatkan tatapan tajam dari Risa. Gadis itu sudah berdeham beberapa kali saat ia melihat Gabriel menatap tidak suka pada Kavin yang matanya terus memperhatikan Bintang.


“Yang gue liatin aja nggak keberatan, kenapa malah lu yang sewot?!”


Gadis itu tidak terlihat seperti biasanya. Wajahnya yang terlihat murung membuat tiga orang yang ada di sana juga merasa aneh. Padahal gadis itu biasanya sering marah-marah kalau Gabriel mengganggunya.


“Lu kenapa, sih , Cil? Gua perhatiin dari tadi kayak ada yang salah, lo kenapa, hah? Ada yang ganggu lo?” Bintang masih diam saja. Dia mengaduk-aduk makanan di hadapannya dan beberapa kali memasukkannya ke dalam mulut dengan tidak selera.


Risa menyentuh bahu Gabriel, ia menggelengkan kepalanya sebagai tanda untuk Gabriel berhenti menyudutkan Bintang dengan pertanyaan nya. Bukannya membuat keadaan semakin baik, sikap Gabriel akan membuat susana hati Bintang semakin buruk.


“Maaf, temen-temen,” suara seorang gadis terdengar di antara mereka. Mereka berempat menoleh ke arah sumber suara. Dayana, famous people dari kelas 10 mulai datang menghampiri mereka. “Aku boleh gabung sama kalian, nggak? Aku nggak punya temen soalnya,” kata gadis itu sambil menatap keempat orang yang ada di sana. Risa menghela napas, dia benci berbagi dengan orang asing. Dilihat dari mana pun dia ke sini memiliki tujuan tertentu.


“Meja lain masih ada yang kosong, lo bisa dudu di san,” ujar Kavin tanpa menoleh sedikitpun ke arah Dayana. Di itu terlihat kesal.

__ADS_1


“Aku Cuma mau gabung, apa salahnya, sih?”


“Ya, salah. Lo ke sini dengan tujuan tertentu, bukan mau temenan sama kita. Lagian, gue nggak mau berbagi meja sama orang kayak lo.” Ujaran Gabriel sungguh membuat suasana menjadi semakin pengap dan panas.


“Kak Kavin sebenarnya kenapa, sih deketin cewek itu?! Kakak nggak ingat gimana aku berusaha cari perhatian Kakak buat lihat ke arahku?! Kenapa harus cewek bisu ini yang Kakak deketin?!” teriak Dayana. Perhatian semua orang tertuju pada meja mereka.


Lama-lama Bintang jadi geram sendiri. Padahal dia diam saja dari tadi, tapi kenapa orang-orang di sekitarnya jadi ramai begini? Suah dihina bisu lagi, apa cewek itu tidak mendengar cara cara tadi?


Bintang bangun dari tempatnya, menarik rambut Dayana dengan sekuat tenaga dan menatapnya dengan tajam tepat beberapa senti di depan wajah si adik kelas. Cewek itu berteriak dan malah menjadi tontonan gratis bagi mereka yang ada di kantin.


“Lo berisik banget, dah! Gue diem aja bukan berarti bisu ya? Gue bahkan bisa jahit mulut lo yang nggak pernah disekolahin!?” Bintang mendorong tubuh Dayana hingga gadi itu terjatuh ke lantai. Lantas bintang pergi begitu saja, membuat Gabriel dan Kavin saling tatap. Risa ikut berdiri dan menyusul Bintang. Menyisakan mereka berdua.


“Sialan!” desis Dayana.


“Itu beneran Bintang?” tanya Kavin pada Gabriel. “Iya, itu Bintang. Serem banget, njir.”


Kavin ikut bangkit dari duduknya. Dia menatap ramainya kantin yang saat ini memperhatikan mereka. Cowok itu tersenyum, mungkin ini saatnya untuk publish.


“Semuanya, gue punya pengumuman baru, nih!” Orang-orang menatap Kavin yang saat ini duduk di atas meja. “Gue sama Bintang udah jadian.” Suara bisik-bisik dari cewek-cewek mulai terdengar.


“Duh, Kak Kavin punya pacar baru lagi. Gue gagal, dong.”


“Sadar diri aja lo! Wajah aja kayak ketombe begitu mau jadi pacar Kak Kavin lo!”


“Pacarnya sekarang nggak cantik ya? Dia kayaknya cewek biasa-biasa aja.”

__ADS_1


“Palingan baru beberapa hari udah putus. Biasanya Kak Kavin kan begitu.”



__ADS_2