
Bintang tidak berhenti memandang sosok pemuda di tengah lapan- gan yang tengah menggiring bole basket. Cowok itu terlalu sempurna untuk Bintang gapai, membayangkan mereka duduk di meja yang sama saja tidak bisa. Segala hal tentang Kavin tidak bisa Bintang gapai
Mulai dari peringkat 10 besar paralel, tidak ada apa-apanya dengan Bintang yang di kelas saja mendapatkan peringkat 21. Wajah Kavin tampan dan tubuhnya tinggi, beda sekali dengan Bintang yang pen- dek dan tidak mengerti fashion dan make up sama sekali.
"Jadi, beneran nggak mungkin, ya?" tanya Bintang pada dirinya sendiri. Tapi dia lupa di samping kanan dan kirinya, ada Gabriel dan Risa yang saling adu pandang.
"Lo pengen banget Kavin jadi pacar lo?" tanya Gabriel Gadis di
sampingnya hanya menggelengkan kepala.
"Nggak akan bisa Liat aja di pinggir lapangan, banyak banget cewek yang nontonin dia. Cantik-cantik lagi, gue pasti kalah duluan sama mereka, Kak." Gabriel menghela napas.
"Belum juga dicoba udah insecure duluan aja lo. Saran gue, mending cari cowok lain aja. Jangan dia, lo tau sendiri dia orangnya player kelas kakap. Mantannya aja nggak bisa lo itung pakek dua tangan!" jelas Gabriel panjang lebar.
"Gue Cuma sebatas kagum, Kak Nggak mungkin juga kita bakal deket. Gue juga sadar diri lagi."
"Emang kalau berharap, kenapa?" Risa bertanya.
"Ya nggak mungkin aja."
"Sok tahu, kamu. Yang ngerti jodoh kita di masa depan cuma Tuhan, kamu siapa main nebak aja!"
Bintang bukan cewek yang mudah bilang suka ke orang asing. Dia juga tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis selama umumnya yang 17 tahun ini. Hidunya terlalu rumit hanya untuk memikirkan masalah percintaannya.
"Kak Riel, kemarin aku punya soal fisika yang aku nggak ngerti gimana cara ngerjainnya. Nanti ke kelasku dulu bisa, nggak? Tolong ajarin sebentar aja." Risa membuka obrolan mereka kembali. Begitu namanya disebut, Gabriel langsung menoleh ke arah Risa.
"Oh, of course. Lama juga nggak apa-apa kalau yang minta kamu," ucap Gabriel sambil tersenyum ke arah Risa. "Sa, kemarin lomba olimpiade nasional antar SMA udah dibuka. Kamu nggak ada niatan mau ikut? Nggak ada ruginya juga, malah banyak manfaatnya. Ikutan, yuk!"
Nah, kan? Bintang yang berada di antara mereka dilupakan. Dilihat dari segi mana pun, Gabriel ini suka dengan sahabatnya, Risa. Tapi Risa itu anaknya nggak peka, sebanyak apapun Gbriel memberikan kode, gadis itu teta tidak paham dengan apa yang dimaksud laki-laki itu.
__ADS_1
Risa ini sama saja dengan Bintang, dia tidak begitu suka berhub- ungan dengan lawan jenis. Menurutnya, hal tersebut sangat merepot- kan dan hanya membuang-buang waktu saja. Kantin, tempat mereka berada saat ini semakin ramai. Untung ketiganya memilih ke kantin lebih awal, karena itu mereka tidak kehabisan tempat. Gabriel dan Risa terlalu sibuk ngobrol sendiri, sedangkan Bintang hanya menga- duk-aduk bakso yang tadi ia pesan.
"Hai, gue boleh gabung, kan, ya? Meja yang lain penuh."
"Oh, iya silahkan," jawab Risa tanpa menoleh terlebih dahulu siapa yang meminta izin ke mereka. Hingga ketiganya terdiam saat Kavin duduk di samping Risa. Bintang setengah mati menahan detak jan- tungnya yang seakan seperti berbunyi drum yang dipukul terus mene- rus. Risa? Gadis itu bahkan tidak sadar bakso yang ia masukkan ke dalam mulut menggelinding jatuh di atas lantai.
"Ck, ngapain sih lo duduk di sini?!" sontak Risa dan Bintang menatap tajam sosok Gabriel. Sedangkan yang ditatap hanya mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Ck, gue minta ijin ke mereka berdua ngapain lo yang sewot?!" elak
Kavin yang mulai menyantap mi ayam pesanannya.
Kavin dan Gabriel cukup dekat, bukan dekat lagi. Mereka memang sahabat karib. Yang Risa dan Bintang tahu, keduanya hanya tinggal di kelas yang sama. Tapi lebih daripada itu, merek duduk di bangku yang sama, Gabriel yang menghbur Kavin saat patah hati walau mungkin keesokan harinya laki-laki itu sudah mendapatkan kekasih baru lagi.
"Bukannya apa-apa, tapi sadar nggak sih lo bau keringat? Ganggu orang mau makan aja!" Kini Gabriel malah mendpat pelototan dari Risa, gadis itu tersenyum ke arah Kavin lalu beranjak dari tempatnya. Menarik tangan Gbriel untuk menjauh dari sana.
"Hehe, bentar ya, Vin? Aku sama Kak Gabriel ke sana dulu mau ba- has olimpiade. Kalian ngobrol aja dulu, kita tinggal sebentar." "Beneran, gue nggak ganggu?"
"Ya udah kita ke sana dulu ya?"
"Tapi baksonya belum-" belum selesai Gabriel bicara tangannya lebih dulu ditarik oleh Risa. Mereka berdua meninggalkan Bintang dan Kavin dengan keadaan yang canggung.
Sepeninggal mereka tidak ada yang memulai pembicaraan, Bintang sibuk menghabiskan baksonya agar ia bisa cepat pergi dari sana. Sedangkan Kavin, dia sendiri sudah beberapa kali melirik ke arah Bintang. Ingin ngobrol lebih banyak lagi dengan gadis misterius itu.
"Nama lo Bintang, kan?" Bintang menoleh.
"Kok tahu?"
"Iya,si Gabriel cerita banyak banget soal lo." Bintang membelalakkan matanya. Sebanyak apa Gabriel menceritakan tentang kehidupannya pada Kavin?
"Kak Riel ngomongin apa aja?" Kavin terkekeh.
__ADS_1
"Dia ngomong kalau lo itu sering banget nebeng sama dia. Dia juga selalu judes ke lo tapi orang tua lo selalu titipin anak mereka ke dia. Hahaha, lucu banget ya hubungan kalian," Kavin terkekeh.
"Kak Riel orang terdekat soalnya, makanya bokap nyokap selalu titipin gue ke mereka," kata Bintang apa adanya. Sebenarnya dia risih ketika orang lain bertanya tentang kehidupan pribadinya.
"Lo itu misterius banget, ya?" Kavin kembali terkekeh. Dia menopang wajah dengan satu tangan. Menatap Bintang dengan lamat disertai senyuman indahnya. Jangan tanyakan bagaimana kondisi jantung Bintang saat ini. Mungkin jika mereka tetap dalam posisi yanh sama dalam waktu 10 menit, Bintang akan pingsan duluan.
Tapi karena dia pandai menyembunyikan perasaannya, yang Kavin lihat adalah sosok Bintang yang mengunyah bakso dengan cepat.
"Kenapa ngeliatin kayak begitu? Di kotoran ya, di wajah?" Kavin segera membuyarkan lamunannya.
"Ah, enggak. Maaf, lo ngerasa nggak nyaman, ya?"
"Emm, biasa aja sih." Bohong banget si Bintang.
"Rumah lo deket kan, ya sama rumah Gabriel?"
"Deket, rumah kita berseberangan."
"Kapan-kapan gue mampir ke rumah lo, ya? Kayanya bakal asik kalau kita bertiga main bareng."
Bintang cuma bisa tersenyum sambil bangkit dari tempat duduknya. Dia tersenyum ke arah Kavin yang terkejut karena gerakannya yang tiba-tiba. "Gue duluan, ya? Kayanya Kak Riel sana Risa udah nungguin gue di kelas. Bye, Vin, kapan-kapan ketemu lagi," katanya. Lalu setelahnya dia berlari menuju kelas.
Kavin terkekeh melihat tingkah Bintang yang di matanya terlihat salah tingkah. Sepeninggal Bintang, Kavin menyunggingkan senyum liciknya.
"Hmm, Gabriel kayanya bohong kalau cewek itu bukan cewek gampangan. Gue deketin sebentar aja udah salting kayak begitu." Kavin meminum es teh milik Gabriel yang belum dihabiskan. "Ayo kita liat, sebenarnya cewek seperti apa si Bintang itu. Kavin nggak mungkin gagal kalau tentang deketin cewek."
"Seru juga, ya? Main-main sama cewek begini. Bintang ..." Kavin kembali tersenyum licik. "Lo bakal jadi pacar gue, nggak lama lagi."
......................
__ADS_1