
Kavin menghempaskan tangan Gabriel saat keduanya sudah jauh dari kamar Bintang. Kavin menatap cowok di hadapannya dengan sinis, lantas dia melipat dua tangan di depan dada.
"Lo ngapain ke sini, hah?! Lo nggak mau berurusan lagi sama Bintang, kan?"
"Terus hubungannya sama lo, apa?! Apa gue harus ijin dulu sama lo kalau harus ketemu sama Bintang?! Enggak kan?" tantang Gabriel.
Kavin menghela napasnya. "Ya jelas ada hubungannya lah, lo pikir setelah bilang kalau Bintang itu parasit, terus jelek-jelekin nama dia di depan geng kita, gue bakal terima gitu aja?!"
"Terus bedanya sama lo apa, hah? Lo cuma jadiin Bintang pelampiasan, kan? Lo juga jelek-jelekin nama dia waktu itu di markas! Lo pikir gue nggak tau?!"
Keduanya saling menatap dengan sengit. Sampai ada perawat yang menghampiri mereka, "Mas, tolong jangan berisik di sini, ya? Ini rumah sakit, bukan arena tinju. Kalau mau berantem di luar aja nggak apa-apa. Saya cariin satpam sekalian buat jadi wasitnya, mau?"
...----------------...
"Hubungan Tante sama Ayah gimana? Udah sejauh mana?" Pertanyaan Bintang membuat Lisa diam sebentar. Dia sebenarnya tidak mau membahas hubungannya dengan Brian, tapi berhubung Bintang sudah sedikit menerima kehadirannya mungkin dia akan bercerita sedikit saja.
"Tante sama ayah kamu ketemu dua tahun yang lalu. Kenal di toko bunga, katanya dia beli bunga buat istrinya dan Tante beli bunga buat ke makam mantan. suami Tante. Awalnya kami cuma ngobrol biasa, tapi beberapa hari setelahnya kita ketemu lagi di toko bunga yang sama." Lisa tersenyum sambil menghela napas. "Saat itu ayahmu bilang kalau bunga yang dia beli selalu dibuang sama ibu kamu."
"Bunga?" Bintang mencoba mengingat-ingat tentang ayah dan ibunya dua tahun lalu. Sebelumnya, mereka memang tidak memiliki masalah besar. Tapi ibunya selalu menaruh curiga ada sang ayah, karena hampir setiap minggunya lembur dan bahkan pulang sampai beberapa hari setelahnya. Tapi dia cukup tau, dulu ayahnya sering membelikan sang ibu bunga. Walau akhirnya, bunga itu berakhir di tempat sampah.
"Kita saling mengenal, dan ada rasa yang tumbuh di antara kita. Jadi kita menjalin hubungan ini. Maaf ya, kalau kamu nggak suka sama hubungan Tante dan ayah kamu." Bintang hanya mengangguk pelan.
"Tante, kenapa Ayah sama Ibu nggak pisah aja? Mereka udah nggak ada rasa lagi, kenapa mereka harus saling menyakiti seperti ini? Ibu katanya udah capek sama keluarganya sendiri, hati Ayah juga udah berlabuh ke Tante. Kenapa mereka nggak cerai aja sekalian? Aku lebih suka mereka milih kebahagiaan masing-masing, daripada seperti ini. Aku nggak tahan sama sikap mereka berdua yang selalu melampiaskan emosinya ke aku."
Lisa menatap Bintang dengan sendu. "Tante juga nggak tau." Bintang lalu memegang tangan Lisa dengan hangat. Menatap manik perempuan itu dengan lamat.
"Tante, aku mohon buat Ayah sama Ibu pisah aja. Aku nggak mau liat mereka berantem lagi di rumah. Kalau mereka keberatan sama kehadiran aku, aku bisa tinggal sendiri. Soal sekolah, aku juga bisa putus sekolah."
Lisa menggelengkan kepalanya. "Enggak, Sayang. Kamu jangan berpikiran kayak begitu dulu, ya? Sekarang—"
__ADS_1
"Kalau gitu, Bintang mohon suruh Ayah kesini. Bintang mau ngomong."
"Bintang ..."
"Aku mohon Tante, sekali ini aja. Aku tau dalam lubuk hati Tante, Tante mau hidup damai sama Ayah. Tanpa harus khawatir tentang hubungan kalian yang nggak bener. Aku jujur sama Tante, lebih baik Ayah lepasin Ibu lalu nikahin Tante daripada semua jadi kek begini." Mata Bintang memerah.
"Oke, oke. Tante telpon ayah kamu ke sini, ya? Kamu jangan nangis, kamu anak perempuan yang kuat."
...----------------...
Laki-laki 40 tahun yang kini berbaring di atas tempat tidur tersebut masih menatap langit-langit kamarnya. Sesaat dia menatap isterinya yang tidur membelakangi tubuhnya.
"Bintang gimana?" Brian bisa mendengar pertanyaan dari Jasmine. Perempuan itu tidak bergerak dari tempatnya.
"Membaik. Kelihatannya udah boleh pulang besok atau enggak lusa." Brian menatap ponselnya yang menyala, ada pesan dari seseorang. Dia meraih ponsel di atas meja. "Kenapa? Kamu khawatir sama dia?"
"Dia masih anak aku kalau kamu lupa. Aku cuma merasa malu, karena nggak bisa jadi tempat dia berkeluh kesah. Dan malah lebih nyaman sama Anna dibanding sama ibunya sendiri." Perempuan itu terkekeh. Dia menertawai hidupnya yang berantakan.
"Katanya dia nanyain kamu terus. Coba kamu liat ponsel kamu, kayanya dia ngirim kamu pesan." Brian beralih ke ponselnya yang kembali menampilkan pesan dari Lisa. Sebenarnya, Lisa sudah mengiriminya pesan dari tadi siang, tapi dia enggan membalas.
"Kamu beneran nggak ada niatan buat jenguk Bintang?"
"Anak ini bahkan menerima kehadiranku dengan baik, kamu nggak ada niatan buat jenguk dia?"
"Ck, lama-lama aku yang angkat anak kamu jadi anak aku!"
"Laki-laki, sialan! Cepat ke rumah sakit!"
"Mas Brian, Bintang koma! Cepat ke sini sekarang*!"
Brian masih membaca pesan terakhir dari Lisa. Dia bahkan tau perempuan itu sedang bercanda, tapi perasaannya juga mulai tidak enak. Alhasil,
Brian bangun dari tempat tidurnya. Mengambil jaket lalu menyambar kunci mobil dengan cepat.
__ADS_1
"Mau ke mana, Mas?" Jasmine bangun dari tempat tidur.
"Ke rumah sakit, aku mau liat Bintang."
"Sebentar!" Jasmine bangun dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar Bintang. Perempuan itu melipat beberapa pakaian dan jaket milik Bintang. Lalu memberikannya ke Brian.
"Ini, buat baju ganti dia di sana. Jaketnya juga, paksa buat pakai udaranya di sana biasanya dingin " Brian hanya mengangguk dan mengambil pakaian yang diberikan oleh Jasmine.
"Hati-hati."
"Iya, aku berangkat."
...----------------...
Seorang laki-laki dengan napas yang masih memburu membuka pintu rawat milik Bintang. Bahkan lipatan rapi pakaian yang tadi Jasmine berikan sudah kembali berantakan.
"Ayah?" Lisa mengangkat kepalanya dan menemukan Brian yang berdiri di pintu masuk.
"Laki-laki brengsek! Disuruh ke sini dari tadi siang, datangnya malah tengah malam! Bisa-bisanya kamu punya ayah kaya begini Bintang!"
"Bintang, kamu kok nggak koma?" Brian mendekat.
"Jadi Ayah berdoa aku koma?! Sialan! Bisa-bisanya Tante punya selingkuhan orang tolol begini!"
"Bintang?! Kamu kok ngatain Ayah tolol?!"
"Emang tolol, mau diapain?! Ke sini ya dikabarin anaknya koma, kalau nggak aku bilang Bintang koma pasti kamu nggak ke sini. Dasar orang tua nggak waras!"
Brian masih terus dicaci oleh dua perempuan itu. Brian meletakkan pakaian yang dia bawa ke dalam lemari.
"Ayah kira kamu tadi hampir mati, Bintang."
"Jadi, Ayah berharap aku mati?!" mata Bintang memerah. Siap menangis. "Aku nggak mau jadi anak Ayah kalau gitu, aku pilih jadi anaknya Tante Lisa aja!"
__ADS_1
"Lah, kok bisa gini?!"