
Tengah malam, lorong rumah sakit terdengar hening. Hanya meninggalkan suara langkah kaki para petugas medis yang lewat, sekedar memeriksa pasien. Di salah satu bilik kamar rumah sakit, Bintang terbaring lemah. Sendirian. Tadi, ayahnya ijin pergi mengantarkan ibu Kavin. Si cowok malah pergi entah ke mana. Memang nggak berada itu anak laki-laki, ibunya sendiri ditinggalkan di rumah sakit.
Bintang sedikit melihat ke arah ponselnya yang menyala. Ada panggilan dari Risa. Gadis itu mengambil benda pipih di atas meja dan mengangkat panggilan dari sahabatnya.
"Bii, kamu udah mendingan? Kenapa nggak diangkat telponnya dari tadi? Kamu beneran nggak apa-apa?" Suara Risa dengan banyak pertanyaan memenuhi telinga Bintang.
"Baik, Sa. Ya ampun, satu satu dong tanyanya. Aku ikut pusing, nih."
"Lagian kamu kenapa nggak jawab teleponku dari tadi, hah? Kamu nggak tau gimana khawatirnya aku sama kamu, Bii." Bintang terkejut saat mendengar Risa menangis di sebrang sana.
"Kamu nangis, Sa? Hei, aku nggak apa-apa beneran. Aku cuma demam aja, nggak sampai mati—"
"Jangan ngomongin soal mati, Bii. Kamu satu-satunya sahabat aku, gimana aku nggak khawatir?" Risa terdengar menyeka air matanya. "Apa jangan-jangan kamu sakit gara-gara mikirin omongannya Kak Gabriel? Gara-gara aku—"
Bintang menghela napasnya. "Berhenti nyalahin diri kamu sendiri, Sa. Aku oke oke aja. Lagian kita nggak bisa memaksa semua orang suka sama kita, kan? Kamu tenang aja, bukan soal itu juga aku jadi sakit gini."
Setiap saat Bintang selalu bersyukur punya sahabat seperti Risa. "Soal Gabriel, kamu jangan mikirin itu. Dia udah dikasih pelajaran sama mamanya dan Kavin."
"Kavin? Mereka berantem?"
"Nggak tau. Dan aku juga nggak mau tau. Pokoknya, kamu tenang oke? Aku bakal baik-baik aja," Bintang mendongak ketika sadar dia hidungnya mengeluarkan cairan darah. Gadis itu tidak peduli pada dirinya, dia kembali mendengarkan celotehan Risa yang kembali mengisi telinganya.
"Tapi beneran kamu cuma demam biasa?"
Bintang tersenyum, sambil mengusap hidungnya yang berdarah. "Iya, cuma demam biasa. Jangan dianggap serius, dua hari lagi aku balik ke sekolah, kok. Tenang aja."
...----------------...
__ADS_1
"Ran, tumben banget kamu ngajakin aku jalan malem-malem gini?" tanya Gabriel sambil mengusap rambut Rania. Gadis yang berstatus sebagai mantannya tersebut ternyata masih sering berhubungan dengan Kavin. Si cowok juga fine fine aja kalau menyangkut soal Rania. Nyatanya, dia juga masih memiliki rasa dengan gadis berambut panjang tersebut.
"Biasanya kalau jalan sama aku juga malem, Vin. Aneh, ih kamu," dengus gadis itu.
"Bukan gitu, tapi ini udah pagi. Nggak baik cewek main sampai pagi buta gini." Rania menatap Kavin dengan lirikan tajamnya.
"Kamu juga mau mau aja. Lagian, aku lagi pengen cari udara segar. Di rumah hampa banget, kalau pas ayah aku pulang juga selalu dipukulin sama itu laki."
Kavin paham apa yang Rania rasakan. Dia memiliki hubungan erat dengan Rania. Hubungannya dengan gadis itu terjalin cukup lama. Dan terbilang tidak ada banyak cobaan seperti mantan pacarnya yang lain.
Satu masalah yang ada di Rania. Gadis itu korban dari perceraian orang tua. Dia ikut ayahnya, tapi ternyata perlakuan ayahnya juga tidak begitu baik. Bahkan sempat gadis itu bercerita ia dipukuli saat ayahnya pulang bekerja dan beradu argumen dengan si anak.
"Kamu dipukul lagi? Coba sini liat aku." Kavin menangkup wajah Rania yang tertutupi oleh sebagian rambutnya.
"Aku nggak apa-apa, Kavin. Kamu tenang aja."
"Gimana aku nggak khawatir, ayah kamu kayak iblis gitu." Kavin mempautkan bibirnya. "Kenapa kamu nggak ke rumah aku aja, hmm? Mama aku baik, dia pasti—"
"Mama kamu nggak suka sama aku, Vin. Kita juga udah jadi mantan, masa aku ke rumah kamu tanpa malu." Rania kembali meminum minuman di tangannya.
Rania tertawa, dia menyibak rambutnya yang menutupi wajah. "Kalau kekhawatiran kamu cuma gara-gara kita jadi mantan, ayo sekarang kita pacaran lagi! Aku masih sayang sama kamu, aku rasa kamu juga masih sayang kan sama aku?" Kavin menatap manik Rania yang menatap jalanan.
"Aku udah dijodohin sama Ayah, kita juga nggak bisa jalin hubungan lebih dari temen. Aku juga tau kamu punya pacar baru." Kavin menggaruk kepalanya.
"Tau dari mana?"
"Temen-temen kamu kalau bicara udah ngalahin ibu-ibu arisan. Mana mungkin aku nggak tau."
"Ck, sialan mereka."
"Haha, lagian ... kita juga nggak akan pernah bisa bersatu kok. Jadi sia-sia aja kalau kita jalanin hubungan seperti dahulu."
__ADS_1
"Tapi aku masih sayang sama kamu, Ran. Hubunganku sama pacar aku yang sekarang juga rumit dan mungkin nggak akan bis bersatu. Bahkan lebih dari hubungan kita dahulu."
Rania menatap Kavin. "Maksud kamu?"
"Mama ternyata selingkuhan dari ayah pacar aku yang sekarang."
"Wow, it's cool."
"Cool sih, tapi nggak ada masa depannya sama sekali. Mana Mama udah seneng banget sama itu anak. Jadi kemungkinan, aku sama dia bakal jadi saudara tiri."
Rania menghela napasnya. "Udah dibilangin aku dijodohin sama Ayah, ngeyel banget kalau dibilangin!" kesal Rania.
"Tapi aku sayang sama kamu—"
"Omongan buaya nggak akan bisa dipercaya," ucap Rania sambil terkekeh.
"Aku bisa ngeyakinin ayah kamu—"
"Nggak usah, calon suami aku kelihatan baik. Dia juga menghormati aku sebagai perempuan baik-baik walau punya kenalan yang ngalahin pacar kayak kamu."
Kavin cemberut. Dia sudah jatuh hati dengan seorang perempuan yang umurnya beberapa tahun di atasnya. Kalau dengan Rania, dia lebih tenang karena perempuan itu cukup dewasa dalam mengambil keputusan. "Nggak usah cemberut, kita masih temenan. Nanti aku kenalin ke calon sui aku."
"Nggak usah! Nggak minat juga!" Rania tertawa melihat sikap Kavin.
"tiga atau empat hari lagi, calon suami aku bakal ke sini. Nanti aku bakal minta dia temuin kamu. Biar dia tau ada anak yang sok-sok an punya pacar banyak, tapi selalu nangis kalau diputusin."
"Raaan!"
"Iya iya. Nggak akan gitu lagi. Pacar kamu kasihan banget punya cowok modelan begini. Eh, iya kapan-kapan ajak pacar baru kamu ketemuan sama aku. Aku pengen tau gimana bentukan pacar kamu yang baru."
"Dia biasa aja. Cantik juga enggak, nggak bisa dandan, nggak pinter juga. Dia itu cuma biasa biasa aja, nggak kek kamu, Ran."
__ADS_1
Rania berdecak, "Emang kamu udah sempurna? Sering bolos sekolah, jadi buaya dari usia dini, pinter enggak, selalu tebar pesona kalau didepan cewek cantik. Dih, kalau aku disuruh pacaran sama kamu lagi aku nggak bakal mau."