Cewek Brokenhome Dan Cowok Playboy

Cewek Brokenhome Dan Cowok Playboy
Bab 8. Kata Gabriel, Bintang itu Parasit


__ADS_3



Harusnya saat ini, Bintang bersenang-senang di pasar malam. Tapi sekarang, dia malah duduk di atas rerumputan sambil melihat ke arah bianglala yang berputar. Tentunya sendirian, karena Kavin meninggalkan dirinya 30 menit lalu.


Kata Kavin, Rania itu mantannya. Tapi gadis itu bahkan memiliki hampir seluruh hati Kavin. Sudah jadi mantan saja masih diprioritaskan, Bintang saja yang menyandang status sebagai pacarnya ditinggalkan begitu saja.


"Emang ya, laki-laki buaya kalau ngomong nggak bisa dipegang. Dasar penipu ulung! Tega banget ninggalin gue di sini sendiri! Awas aja, gue racunin lo nanti!" maki Bintang dengan suara tertahan mengatur emosi.


Bintang menatap tiga lembar uang seratus ribu yang ditinggalkan oleh Kavin, "Ini gue kasih uang, lo habisin kek lo jajanin kek, terserah. Sekalian buat ongkos pulang nanti, gue nggak kesini lagi."


"Mbak, maaf. Ini tadi aku lihat HP-nya jatuh di depan bianglala." Seorang tiba-tiba datang dan menyodorkan benda persegi empat yang bahkan Bintang tidak sadar terjatuh di mana. Bintang menerima HP-nya.


"Eh, makasih, Mas. Saya aja lupa ini tadi jatuh di mana."


"Iya, sama-sama."


"Eh, Mas? Wajahnya kayanya familier. Apa kita pernah ketemu, ya?"


Laki-laki dengan Karo berwarna biru itu tersenyum tipis. Hatma, mengenal Bintang. Mereka bersekolah di tempat yang sama.


"Kak Bintang, ya? Kebetulan banget, gue ke sini cuma iseng aja. Nggak taunya malah ketemu sama Kak Bintang."


Cowok yang lebih muda satu tahun tersebut duduk di samping Bintang. Memandang hal yang sama dengan si gadis. Cowok itu bukannya tidak sengaja bertemu, tapi sengaja. Hatma sendiri tidak tahu, kenapa dia repot-repot mengembalikan ponsel Bintang yang terjatuh.


Dia hanya merasa, cewek itu sedang tidak baik-baik saja setelah ditinggalkan Kavin sendirian. Saat Kavin membicarakan Bintang dengan teman-temannya waktu itu, Hatma juga ada di sana. Dia juga masuk geng Kavin tak lama setelah dia mengenal salah seorang dari anggota geng Kavin.


Secara tidak langsung, dia tahu Bintang bukan anak beruntung yang memiliki keluarga lengkap. Kisah percintaannya pun dipersulit oleh adanya Kavin, walau sebenarnya cowok itu adalah orang yang Bintang suka.


“Kak Bintang ngapain diem aja waktu Bang Kavin pergi? Kak Bintang kan pacarnya.” Bintang menoleh ke arah Hatma yang masih memandang bianglala.


“Lo tahu, ya? Menyedihkan banget ya hidup gue, haha?” Bintang terkekeh, menertawakan dirinya sendiri. “Lo juga siapa? Gue aja nggak kenal sama lo. Baik banget lo mau balikin HP gue, padahal lo bisa jual aja tuh HP.”


“Ck, Kak Bintang masa nggak kenal gue? Gue Mahatma, Kak. Ketua kelas 10 IPA 1 yang kemarin sempet nyalonin ketua OSIS, ya walau nggak kepilih,” Hatma cemberut. Padahal wajahnya sudah terpasang di mana-mana saat menjelang pemilihan OSIS. Gadis itu tetap saja tidak mengenalnya.


“Eh, beneran? Sorry, soalnya gue nggak ikut milih. Gue bolos dua hari, sih waktu itu. Karena nggak ada jam pelajaran, jadinya gue nggak sekolah.”


Bintang memang berterus terang. Dan baru kali ini Hatma kenal orang yang nggak pernah memperhatikan sekitar.


“Ya udah, Kak. Panggil gue Hatma aja. Sekarang gue temenin sampai Kak Bintang pulang, nanti. Okay?”


Bintang hanya mengangguk. Sebenarnya, dia tidak suka duduk dengan orang asing, tapi pemuda itu terlihat baik dan care. Bintang kan jadi nggak enak mau ngusir.

__ADS_1


“Mumpung gue ada duit, gimana kalau kita naik bianglala,” usuk Bintang.


“Hah, bianglala?” Bintang mengangguk. “Tapi gue takut, Kak …”


“Halah, lo itu cowok. Masa takut sama ketinggian. Gue yang bayarin, udah …”


Hatma tidak bohong saat dia mengatakan takut ketinggian. Tapi kenapa gadis ini memaksanya untuk tetap naik? Bahkan, Bintang sudah menarik tubuhnya masuk ke dalam salah satu kotak bianglala.


“Udah, tenang aja! Kalau kita jatuh, palingan juga mati.” Hatma semakin kuat menggigit bibirnya. Mudah sekali gadis ini mengatakan mati. Hidup cuma sekali, kalau dia mati saat ini bagaimana nasib jodohnya nanti?


......................


Malam itu, tempat yang sering digunakan teman-teman Kavin untuk nongkrong tiba-tiba terisi oleh anak baru. Bukan anak baru sebenernya, tapi orang satu ini sudah lama sekali tidak berkumpul dengan mereka.


“Tumben banget si lo ngumpul bareng kita? Biasanya aja ngapel tuh sama pacarnya si Kavin yang baru, ya nggak?” Gevan bertanya pada Gabriel.


“Yoi, kesambet apaan tuh, Gab?” sahut Heksa.


“Gab Gab, nama gue Gabriel!”


“Sewot amat, kayak sama siapa aja.”


“Kali ini gue free, nggak ada yang ganggu gue malam ini. Jadi gue main ke sini, udah lama juga,” kata Gabriel sambil menyisir rambutnya dengan tangan kiri.


“Bangsul? Siape tuh?”


“Kavin.”


“Loh, tadi si curut itu katanya pergi jemput Rania di bandara. Kok malah keluar sama Bintang?” tanya Bagas. Gabriel mengerutkan keningnya, terus kenapa Kavin ngajak Bintang buat main ke pasar malam? Bintang sama siapa dong sekarang?


Mengetahui perubahan ekspresi Gabriel, segera menghela napasnya kencang-kencang. “Lo pasti mikirin Bintang lagi, kan? Kenapa sih, lo nggak mikirin dir lo sendiri?! Bintang bukan anak kecil lagi, iya nggak? Masa dia cuma pulang dari pasar malem aja nggak bisa?”


“Bukan itu masalahnya. Nanti kalau bokap nyokap gue—“


“Gabriel, ini hidup lo. Lo bebas nentuin apa yang lo pilih, bukannya terkurung sama orang yang nggak lo suka. Lagian jagain Bintang bukan tugas lo kali, noh orang tuanya,” pesan Bagas.


“Lo bener juga, sih. Dia bukan anak kecil lagi,” ucap Gabriel sambil mengibaskan tangannya.


“Lo juga kenapa mau aja, sih? Jelas-jelas Bintang cuma manfaatin keberadaan lo. Emang lo nggak nyadar apa?”


“Manfaatin gimana maksud lo?”


“Ya, kalau berangkat dia nebeng sama lo. Kalau pulang dia juga nebeng sama lo. Di rumah, lo juga selalu ditempeli sama dia. Itu apa namanya kalau bukan dimanfaatin?” Gevan mulai kesal.

__ADS_1


“Tapi gue nggak merasa dirugii—“


“Lo nggak ngerasa rugi?! Terus, kenapa sampai sekarang lo belum juga jadian sama gebetan lo? Kenapa lo jadi nggak punya waktu buat kumpul sama kita? Kapan waktu lo buat seneng-seneng kalau semua hal yang lo lakuin harus nyenengin Bintang?” menghela napas. Teman-temannya yang lain pun ikut prihatin dengan Gabriel saat ini. “Sisain waktu buat lo dulu, bahagiain Bintang itu bukan tugas lo, Gabriel.”


Gabriel menyesap kopi yang uapnya masih mengepul. Benar apa yang katakan. Dia bahkan tidak memiliki waktu untuknya bersenang-senang. Jangan-jangan apa yang Gabriel lakukan untuk Bintang membuat gadis itu merasa dicintai olehnya? Dan Risa menolak Gabriel untuk menjaga perasaan Bintang, sahabatnya?


Apa yang Gabriel lakukan untuk Bintang semata-mata hanya karena kasihan saja. Gadis itu terlihat hancur saat menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar. Jika Gabriel melihat Bintang berada di rumah, gadis itu terlihat tidak bernyawa.


“Jujur aja apa yang gue lakuin ke Bintang semata-mata Cuma karena kasihan aja, sih. Nggak lebih.” Teman-temannya menyimak. “Keluarganya udah nggak sehat, dan kebetulan orang tua gue pengen banget punya anak cewek kayak Bintang. Jadinya, gue yang selalu dikorbanin orang tua gue buat jaga Bintang. Jadi kalau di rumah gue, Bintang udah dianggep kayak anak sendiri sama ortu gue. Bahkan anaknya kadang nggak dipeduliin, sialan emang,” keluh Gabriel.


“Jangan-jangan lo anak pungut dan plotwist nya Bintang anak kandung ortu lo!” canda Gevan.


“Lo ngomng gitu lagi, gue jahit itu mulut!”


“Hahaha, iya iya. Lagian, gue kan cuma berteori, siapa tahu bener.”


“Bintang itu nyebelin banget, gue kasih tau. Setiap pagi, gue harus nungguin dia yang kudu drama dulu sama orang tuanya. Terus, habis itu dia kayak nggak merasa bersalah padahal kita hampir telat masuk gerbang. Kalau di sekolah dia nempel terus lagi sama Risa, gue kan juga mau berduaan sama orang yang gue suka. Kalau nggak ngintilin Risa, dia pasti ngintilin gue. Kadang sampai enek, gue liat mukanya.”


“Jahat banget, lo bilang dia kayak begitu.”


“Gue cuma ngomong apa adanya. Dia itu parasit di hidup gue, gue benci dia ada di sekitar gue.”


“Coba lo ngomong gitu di depan Bintang, pasti lo nggak berani kan?”


“Ngapain juga nggak berani? Lagian kalau gue bilang begitu, pada akhirnya dia bakal nempel lagi sama gue. Karena pada dasarnnya bocah itu emang batu.”


Gabriel mengatakannya begitu keras, sampai dia lupa untuk memelankan nada bicaranya. Hatma memandang cewek yang terdiam di sampingnya. Dia jadi tidak enak pada Bintang membawanya ke tempat tongkrongan mereka. Hatma yang kebetulan tahu Gabriel ada di tempat tongkrongan menawarkan Bintang untuk pergi ke asana. Niatnya Hatma nggak mau nganterin Bintang jauh-jauh, kalau ada Gabriel. Tapi mereka malah mendengar percakapan Gabriel yang risih dengan Bintang.


“Kak Bintang, maaf ya Kakak harus denger percakapan konyol mereka. Mau gue panggilin Bang Gabriel langsung?” Bintang menunduk, kemudian menggeleng.


“Lo mau nggak anterin gue pulang?” lirih Bintang. Gadis itu menatap wajah Hatma dengan dingin. “Kalau enggak pesenin gue ojol atau taksi online, HP gue lowbat,” kata Bintang dingin.


“Sini Kak, gue anterin aja. Gue nggak apa-apa, kok.”


“Beneran?”


“Iya.”


“Okey, makasih ya? Nanti uang bensinnya gue ganti.”


Hatma menatap Bintang dengan kasihan. Dia tahu gadis itu tidak ingin merepotkan orang lain. Selama ini, Hatma hanya tahu intang dekat dengan Gabriel dan Risa. Bagaimana hubungan mereka setelahnya?


__ADS_1


__ADS_2